Aritmia : Penyebab – Gejala dan Penanganan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by redaction team, read our quality control guidelance for more info

Tinjauan Medis : dr. Christine Verina
Aritmia adalah kondisi dimana detak jantung tidak terlalu cepat, bisa terlalu cepat maupun lambat. Aritmia sendiri bisa berupa beberapa jenis seperti atrial flutter, ventrikel fibrilasi, bradikardia, takikardia,... serta long QT syndrome, dimana jenis - jenis aritmia dapat dibedakan melalui pemeriksaan dokter dan alat EKG (alat rekam jantung). Penanganan aritmia sendiri dapat berupa obat - obatan maupun operasi seperti operasi ablasi, pemasangan alat berupa ICD (implantable cardioverter defibrilator), operasi bypass koroner. Komplikasi aritmia yang paling sering ditemukan adalah henti jantung, stroke, serta gagal jantung Namun kondisi aritmia ini dapat dicegah dengan melakukan beberapa langkah seperti menjalankan pola hidup sehat, olahraga rutin, mengurangi berat badan segera apabila obesitas, serta kontrol rutin ke dokter jantung Anda. Read more

Apa Itu Aritmia?

Aritmia adalah salah satu masalah jantung di mana detak jantung tidak beraturan, dapat terlalu lambat, terlalu cepat, atau keduanya secara beraturan maupun tidak [2,3,5,6,7,8].

Aritmia biasanya dapat timbul sebagai gejala penyakit jantung yang menyertai beberapa keluhan lain.

Walau pada umumnya aritmia tak membahayakan, kondisi ini tetap tak dapat dianggap normal atau wajar apabila berkaitan dengan jantung lemah dan rusak.

Bila aritmia merupakan gejala dari kerusakan pada jantung, maka kondisi ini bisa menimbulkan masalah serius dan berakibat pada efek yang fatal.

Tinjauan
Aritmia merupakan gangguan irama jantung yang seringkali dapat terlalu cepat, lambat, atau keduanya baik beraturan atau tidak beraturan. Aritmia dapat berakibat fatal bila hal ini terjadi karena jantung telah mengalami kerusakan.

Fakta Tentang Aritmia

  1. Dari laporan statistik American Heart Association (AHA) menunjukkan bahwa kasus jenis aritmia atrial fibrilasi adalah 20,6 per 100.000 jiwa pada laki-laki dengan rentang usia antara 15-44 tahun sampai dengan 1077,4 per 100.000 jiwa dengan usia 85 tahun ke atas [1].
  2. Sementara itu, data statistik AHA juga menunjukkan bahwa insidensi atrial fibrilasi oada perempuan adalah 6,6 per 100.000 jiwa yang rentang usianya 15-44 tahun sampai 1203,7 per 100.000 jiwa di atas usia 85 tahun [1].
  3. Di Amerika Serikat, sebuah hasil studi menunjukkan bahwa jumlah penderita jenis aritmia atrial fibrilasi dapat mencapai lebih dari 10 juta jiwa pada tahun 2050 [3].
  4. Namun di Indonesia,  untuk data epidemiologi aritmia belum tersedia dan belum diketahui jelas.

Jenis-jenis Aritmia

Aritmia terdiri dari beberapa jenis kondisi yang perlu dikenali dan diwaspadai, yaitu sebagai berikut [2,3,4,5,7] :

Long QT Syndrome

Sindrom ini adalah kondisi kelainan ritme jantung di mana detaknya seringkali tidak terkendali dan cenderung tidak teratur.

Kondisi ini terkadang ditandai dengan detak jantung yang sangat cepat dan bahkan mampu menyebabkan penderitanya kehilangan kesadaran atau pingsan.

Sindrom satu ini umumnya dapat terjadi karena genetik yang rentan atau penggunaan obat tertentu yang jika dibiarkan dapat mengancam jiwa penderitanya.

Ventrikel Fibrilasi

Ritme jantung pada kondisi jenis aritmia ini pun tidak teratur dan cenderung sering tergolong sangat cepat.

Kontraksi dan getaran dari ventrikel pun menjadi tandanya di mana proses pemompaan jadi tak dapat bekerja secara maksimal karena terus bergetar.

Ventrikular fibrilasi seringkali dikaitkan dengan penyakit jantung, karena kondisi ini umumnya terjadi ketika serangan jantung terjadi.

Serangan jantung dapat memicu ventrikular fibrilasi yang juga dapat mengancam jiwa penderitanya.

Supraventrikular Takikardi

Supraventrikular takikardi atau SVT adalah kondisi ketika ritme atau detak jantung lebih cepat namun masih tergolong teratur.

Pada kondisi jenis aritmia ini, detak jantung dapat menjadi sangat cepat dengan durasi beberapa detik hingga beberapa jam walaupun detaknya teratur.

Atrial Fibrilasi

Atrial fibrilasi adalah kondisi detak jantung yang tidak teratur pada bilik atrium dan lebih berkaitan dengan takikardia.

Atrial fibrilasi adalah jenis aritmia yang umumnya dialami oleh orang-orang dengan usia di atas 65 tahun.

Pada kasus atrial fibrilasi, getaran terjadi terus-menerus sehingga detak jantung menjadi lebih cepat, padahal kontraksi normalnya terjadi secara kuat dan sekali.

Ventrikular Takikardi

Kondisi aritmia jenis ini berkaitan dengan impuls listrik yang tidak normal di mana semua berawal pada ventrikel.

Pada kondisi aritmia ini, kecepatan detak jantung tergolong tidak wajar.

Umumnya, ventrikular takikardi terjadi pada orang-orang yang memiliki riwayat serangan jantung.

Jika terdapat luka pada jantung akibat serangan jantung sebelumnya, maka risiko ventrikular takikardi ini lebih besar.

Atrial Flutter

Pada jenis kondisi aritmia satu ini, getaran pada atrium terjadi secara berbeda pada tiap getaran dan bahkan dialami secara acak.

Terdapat konsistensi pada pola konduksi jantung abnormal yang dihasilkan oleh atrium di mana hal ini menjadikan penderita mengalami fibrilasi maupun getaran di saat bersamaan.

Bradikardia

Bradikardia adalah salah satu jenis aritmia berdasarkan kecepatan detak jantung di mana pada kondisi ini, detak jantung berjalan sangat lambat.

Pada kondisi ini, detak jantung tidak sampai 60 detak per menitnya.

Takikardia

Takikardia adalah salah satu jenis aritmia berdasarkan kecepatan detak jantung di mana pada kondisi ini, detak jantung justru sangat cepat.

Umumnya, kecepatan bisa sampai 100 detak lebih per menitnya.

Tinjauan
Long QT syndrome, takikardia, bradikardia, artrial flutter, ventrikular takikardi, atrial fibrilasi, ventrikel fibrilasi, dan supraventrikular takikardi adalah jenis-jenis kondisi aritmia. 

Penyebab Aritmia

Aritmia terjadi utamanya karena impuls listrik yang merangsang kontraksi jantung mengalami gangguan di mana faktor-faktor yang menyebabkan gangguan tersebut antara lain adalah [2,3,4,5,6,7,8] :

  • Aktivitas merokok
  • Serangan jantung yang menimbulkan luka pada jantung
  • Hipertiroid atau kelenjar tiroid yang overaktif atau menghasilkan hormon tiroid secara berlebihan
  • Penyakit gagal jantung kongestif
  • Tekanan darah tinggi
  • Gangguan yang terjadi karena penggunaan narkoba atau obat-obatan terlarang
  • Penyakit diabetes
  • Penyalahgunaan alkohol atau konsumsi minuman keras dalam jangka panjang
  • Efek pengobatan tertentu
  • Perubahan struktur jantung
  • Suplemen herbal
  • Suplemen atau obat diet
  • Stres

Orang-orang dengan kondisi jantung sehat biasanya memiliki kemungkinan kecil mengalami aritmia jangka panjang.

Namun, gangguan karena penggunaan obat terlarang dapat memicu aritmia, termasuk juga sengatan listrik.

Tinjauan
- Gangguan impuls listrik jantung adalah salah satu penyebab aritmia terjadi, namun berbagai faktor lain pun dapat memicunya.
- Stres, penggunaan obat tertentu dan juga obat terlarang, darah tinggi, diabetes, penyalahgunaan alkohol, gangguan tiroid, aktivitas merokok, dan/atau riwayat serangan jantung mampu memicu aritmia.

Gejala Aritmia

Gejala aritmia pada umumnya tak terlalu nampak dan terasa, namun ketika gejala dialami, hal ini tidak selalu menandakan bahwa seseorang menderita aritmia parah.

Bahkan pada kondisi aritmia yang sudah sangat serius seringkali hal ini terjadi tanpa gejala.

Namun bila aritmia terjadi dengan gejala, beberapa keluhan inilah yang umumnya terjadi [3,4,5,6,7,8] :

  • Dada bergetar
  • Sesak nafas atau nafas menjadi lebih pendek
  • Nyeri pada dada
  • Bradikardia atau detak jantung lambat
  • Takikardia atau detak jantung cepat
  • Berkeringat lebih banyak dari biasanya
  • Kepala terasa ringan melayang
  • Pusing
  • Kelelahan
  • Cemas berlebihan
  • Kehilangan kesadaran atau hampir pingsan
  • Angina

Pada kondisi jantung yang sehat, jantung berdetak 60-100 kali per menitnya di mana hal ini adalah kondisi normal jantung pada saat tubuh beristirahat.

Maka ketika detak jantung tak sampai 60 atau bahkan lebih dari 100 detak per menit, hal ini bukanlah kondisi sewajarnya sehingga perlu diperiksakan.

Tinjauan
Rata-rata aritmia tergolong ringan dan bahkan tanpa gejala. Namun bila aritmia terjadi dengan gejala, biasanya keluhan utama adalah takikardia atau bradikardia, pusing, gampang lelah, mudah cemas berlebihan, nyeri dada, sesak nafas, berkeringat lebih banyak hingga hampir pingsan.

Pemeriksaan Aritmia

Untuk mengonfirmasi bahwa gejala yang dialami oleh pasien mengarah pada aritmia, pemeriksaan fisik dan riwayat kesehatan pasien serta keluarganya adalah hal utama yang dokter lakukan.

Namun beberapa hal lain yang perlu dilakukan dokter dalam memastikan hasil diagnosa adalah sebagai berikut [4,5,6,7,8] :

  • Ekokardiogram : Tes ini bertujuan utama untuk memeriksa bagian dada menggunakan gelombang suara. Dari alat yang ditempelkan pada dada dan melalui gelombang suara akan terhasilkan gambar gerakan jantung, strukturnya, serta ukurannya normal atau tidak.
  • Elektrokardiogram : Tes ini digunakan ketika dokter memeriksa dan mendeteksi aktivitas listrik jantung pasien, dan hal ini meliputi fase listrik pada detak jantung pasien, khususnya waktu dan durasinya.
  • Holter Monitor : Prosedur pemeriksaan ini adalah supaya detak jantung pasien dapat direkam 24-48 jam setiap hari apapun aktivitas yang dilakukan pasien. Alat berupa holter monitor bersifat portabel dan akan merekam kondisi jantung selama kegiatan harian pasien.
  • Tes Stres : Dokter menguji aritmia pada pasien dengan meminta pasien melakukan latihan fisik atau olahraga di atas treadmill atau sepeda statis dan mengawasinya. Olahraga seringkali menjadi pemicu perburukan kondisi aritmia.

Penanganan Aritmia

Dalam mengobati aritmia, berbagai metode dapat diterapkan, seperti pemberian obat-obatan oleh dokter hingga prosedur operasi.

Penanganan khususnya diberikan bagi penderita aritmia yang mengalami gejala dan memiliki risiko komplikasi cukup besar [5,6,7,8].

  • Pemberian Obat-obatan

Dokter akan meresepkan jenis obat khusus yang mampu mencegah aritmia, menghentikan gejala aritmia, maupun mengendalikan agar detak jantung abnormal dapat kembali normal serta tidak memburuk.

Obat antiaritmia adalah yang dimaksud di sini, di mana warfarin adalah yang paling umum diresepkan supaya darah tidak mudah menggumpal.

  • Operasi Bypass Koroner

Operasi ini berfokus pada proses pencangkokkan arteri atau vena yang diambil oleh dokter bedah dari area lain tubuh pasien ke arteri koroner.

Tujuan prosedur bedah ini adalah pembuluh darah yang mengalami sumbatan atau penyempitan dapat diatasi supaya aliran darah dan suplai darah meningkat menuju otot jantung.

Aneurisma atau tonjolan yang ada pada pembuluh darah mampu memicu masalah jantung di mana salah satunya adalah aritmia.

Ketika obat saja tidak cukup memengaruhi kondisi aritmia, maka dokter bedah perlu mengangkat tonjolan tersebut sebagai cara mengatasi aneurisma.

  • ICD (Implantable Cardioverter-Defibrillator)

ICD merupakan alat berukuran kecil yang pemasangannya dilakukan pada dada pasien aritmia, terutama di dekat tulang selangka sisi kiri.

ICD bermanfaat sebagai alat monitor irama jantung untuk mengetahui kecepatannya.

Jika kecepatan di atas normal, maka alat ini akan merangsang jantung supaya detaknya berada pada kecepatan normal kembali.

Pada prosedur ini, dokter bedah akan memasang kateter satu atau lebih ke bagian dalam jantung yang diduga sebagai letak atau sumber aritmia terjadi.

Bagian kecil dari jaringan jantung yang diketahui mengalami kerusakan akan dihancurkan oleh dokter bedah sehingga gejala aritmia dapat diatasi.

Tinjauan
Pemberian obat-obatan pereda gejala seperti antiaritmia diberikan oleh dokter kepada pasien. Namun bila sudah cukup parah dan pasien mengalami aneurisma atau sumbatan pada arteri, prosedur operasi perlu dilakukan.

Komplikasi Aritmia

Aritmia dengan gejala yang cukup intens yang tidak ditangani dengan tepat dan cepat mampu menimbulkan risiko beberapa komplikasi seperti berikut [2,4] :

  • Gagal Jantung : Bradikardia atau takikardia yang dibiarkan terlalu lama tanpa adanya penanganan yang tepat mampu memicu gagal jantung kongestif. Gagal jantung menandakan darah yang dipompa oleh jantung tak akan cukup untuk disuplai ke seluruh tubuh di mana hal ini membahayakan bagi nyawa penderitanya.
  • Penyakit Stroke : Penggumpalan darah sangat rentan terjadi pada penderita aritmia yang jika dibiarkan maka risiko penyakit stroke pun semakin tinggi karena kerusakan otak yang tidak memperoleh cukup darah serta oksigen.
  • Henti Jantung : Henti jantung atau jantung yang berhenti berdetak mendadak ketika gangguan listrik pada jantung terjadi adalah salah satu risiko komplikasi dari aritmia.

Pencegahan Aritmia

Aritmia dapat dicegah dengan menerapkan pola hidup sehat seperti di bawah ini [6,7,8] :

  • Menggunakan obat sesuai resep dokter dan setelah berkonsultasi dengan dokter; khususnya obat-obatan yang memicu detak jantung cepat sebagai efek sampingnya.
  • Mengurangi stres karena kemarahan dan stres adalah pemicu gangguan pada detak jantung.
  • Menghindari alkohol dan kafein; setidaknya membatasi asupan agar tidak berlebihan.
  • Menghindari aktivitas merokok; bagi para perokok, berhenti dari kebiasaan ini akan menyelamatkan jantung.
  • Beraktivitas fisik atau berolahraga secara teratur.
  • Menjaga berat badan tetap pada angka ideal yang sehat.
  • Segera menurunkan berat badan bila memiliki masalah dengan obesitas.
  • Mengonsumsi makanan-makanan yang baik dan sehat untuk jantung, yaitu memperbanyak buah dan sayur, mengurangi asupan sodium/garam, mengonsumsi gandum utuh, serta mengurangi asupan gula, lemak dan kolesterol tinggi.
Tinjauan
Pencegahan aritmia terbaik adalah dengan menempuh pola hidup sehat. Menjaga berat badan tetap ideal, tidak merokok, membatasi kafein dan alkohol, mengonsumsi makanan rendah lemak, kolesterol, gula dan sodium, menghindari stres, serta berolahraga rutin.
fbWhatsappTwitterLinkedIn

Add Comment