Penyakit & Kelainan

5 Penyebab Halusinasi Pada Penderita Alzheimer

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Alzheimer adalah jenis penyakit otak yang ditandai dengan kemampuan mengingat dan berpikir yang menurun, begitu pula dengan kemampuan bicara [1,2].

Umumnya, penyakit ini diderita oleh orang-orang yang berusia lebih dari 65 tahun dan mampu mengubah perilaku penderitanya secara perlahan [1,2].

Selain penurunan daya ingat dan kemampuan berpikir, halusinasi menjadi salah satu tanda yang cukup umum dari Alzheimer [1,2].

Sebuah hasil studi di Swedia menunjukkan bahwa dari orang-orang berusia sekitar 85 tahun 7% di antaranya terdapat adalah penderita Alzheimer tanpa demensia yang mengalami halusinasi [2].

Berikut ini adalah beberapa alasan atau penyebab halusinasi dapat terjadi pada penderita Alzheimer untuk lebih dipahami.

1. Gangguan Kesehatan Otak

Otak dapat mengalami gangguan karena beberapa faktor, seperti halnya penyakit stroke hingga kejang [2,3,6].

Cedera atau masalah pada otak ini akan memengaruhi fungsi otak dan meningkatkan risiko terjadinya halusinasi penglihatan maupun pendengaran [2].

Penyakit stroke sendiri adalah sebuah kondisi yang dialami oleh seseorang saat terjadi penurunan suplai darah menuju otak [3].

Hal ini bisa disebabkan oleh pembuluh darah yang pecah—disebut juga dengan istilah stroke hemoragik, maupun sumbatan pada pembuluh darah—disebut juga dengan istilah stroke iskemik [3].

Meski kelumpuhan sebagian tubuh dan kesulitan bicara menjadi tanda utama penyakit stroke, seringkali stroke dapat menjadi salah satu penyebab halusinasi, termasuk pada penderita Alzheimer [2,4,5].

Sementara itu, kejang adalah sebuah kondisi yang dialami seseorang karena aktivitas listrik otak terganggu sehingga gerakan-gerakan tubuh menjadi tak terkontrol [6].

Selain gerakan tubuh terganggu, sering kesemutan hingga pusing, perubahan perilaku, penurunan kesdaran, gangguan pernapasan, hingga halusinasi bisa terjadi [2,7].

Terlebih jika penderita Alzheimer mengalami kejang, biasanya risiko halusinasi pun semakin besar [2,7].

2. Gangguan Psikologis

Beberapa jenis gangguan psikologis atau gangguan mental dapat menjadi penyebab utama halusinasi pada penderita Alzheimer.

Beberapa gangguan psikologis yang dimaksud antara lain sebagai berikut :

  • Keracunan alkohol atau obat-obatan

Keracunan alkohol maupun obat-obatan adalah sebuah kondisi akibat dari penggunaan atau konsumsi alkohol dan obat-obatan secara berlebihan di mana hal ini bisa berakibat kematian karena akan mengganggu saraf, suhu tubuh, detak jantung, dan sistem pernapasan [2,8].

Alkohol dan obat-obatan (khususnya obat terlarang) dalam dosis besar mampu menyebabkan gangguan kesehatan sistem saraf otak [2,8].

  • Penarikan diri dari alkohol atau obat-obatan

Penarikan dari penggunaan alkohol atau alcohol withdrawal syndrome adalah sebuah kondisi ketika gejala psikologis dan fisik mulai timbul saat berniat berhenti dari konsumsi alkohol setelah kecanduan [2,8].

Berhenti dari konsumsi alkohol setelah mengalami kecanduan berat, begitu pula dengan penggunaan obat terlarang secara tiba-tiba akan menyebabkan sejumlah gejala [8].

Mual, muntah dan sakit kepala akan disertai dengan rasa gelisah, tremor, insomnia, linglung, hingga mimpi buruk dan halusinasi [8].

Halusinasi dapat terjadi ketika gejala sudah lebih parah atau disebut dengan istilah delirium tremens [8].

Halusinasi pendengaran maupun penglihatan bisa terjadi yang disertai dengan demam, kebingungan ekstrem, tubuh kejang, hingga agitasi [8].

  • Depresi mayor

Penderita Alzheimer bisa saja mengalami depresi mayor, yakni sebuah kondisi depresi yang menyebabkan penderitanya merasa putus asa kehilangan harapan dan sedih berkepanjangan [2,9].

Suasana hati atau mood penderita akan terus-menerus buruk hingga akhirnya menarik diri dari berbagai aktivitas dan interaksi sosial [2,9].

Depresi mayor meliputi salah satunya depresi psikotik yang akan menyebabkan penderita mengalami halusinasi visual maupun audio [2,9].

  • Skizofrenia

Skizofrenia adalah jenis gangguan kesehatan mental yang ditandai dengan delusi dan halusinasi pada penderitanya [2,10].

Selain itu, penderita skizofrenia juga dapat mengalami perubahan perilaku dan berpiki [10]r.

Walaupun skizofrenia dan Alzheimer merupakan dua jenis penyakit yang berhubungan dengan otak dan berbeda, penderita Alzheimer berkemungkinan mengidap skizofrenia maupun sebaliknya yang kemudian berakibat pada timbulnya kondisi seperti halusinasi.

  • Demensia

Demensia adalah jenis penyakit otak yang ditandai dengan turunnya kemampuan berpikir maupun daya mengingat [1,2,11].

Alzheimer adalah salah satu jenis demensia bersama dengan demensia vaskular dan pada penderita Alzheimer, daya ingat yang terganggu disebabkan oleh protein yang mengalami perubahan di otak [1].

Halusinasi dapat terjadi pada penderita Alzheimer ketika demensia sudah berada pada stadium 4 yang diikuti dengan sikap kasar, penarikan diri dari pergaulan dan interaksi sosial, kesulitan menulis maupun membaca, sering marah, hingga apatis [1].

3. Faktor Lingkungan

Halusinasi pada penderita Alzheimer rata-rata juga dapat disebabkan oleh faktor lingkungan, seperti halnya suara bising dan ruangan dengan pencahayaan yang buruk [2].

Penataan ruangan yang kurang sedap dipandang dan menimbulkan ketidaknyamanan bagi penglihatan juga bisa menjadi pemicu timbulnya kesalahan persepsi [2].

Halusinasi yang sudah dialami oleh penderita Alzheimer bahkan bisa menjadi lebih buruk ketika penderita berada di tempat dengan suasana yang kacau [2].

Halusinasi pendengaran adalah jenis kondisi yang paling sering terjadi pada pasien demensia yang tinggal di panti jompo [2].

4. Masalah Sensorik

Halusinasi penglihatan maupun pendengaran seringkali dapat terjadi pada penderita Alzheimer [1,2].

Jenis kondisi yang paling berpotensi memicu halusinasi adalah Sindrom Charles Bonnet, yakni sebuah kondisi ketika seseorang yang daya penglihatannya menurun atau hilang kemudian melihat hal-hal tak nyata [2,12].

Kehilangan penglihatan di sini kemudian memengaruhi kesehatan mental penderitanya sehingga kemudian menyebabkan halusinasi penglihatan [2,12].

Sementara pada lansia yang sudah mengalami penurunan fungsi pendengaran atau bahkan sudah kehilangan pendengaran lebih berisiko mengalami halusinasi musikal [2].

Halusinasi musikal adalah terdengarnya musik di telinga penderita walau sebenarnya tidak ada suara apapun, termasuk musik yang dimainkan di dekat mereka [2,13].

Untuk halusinasi penglihatan, gambar-gambar dengan pola berwarna kompleks, seperti hewan, tumbuhan dan hewan jauh lebih umum terjadi [2].

5. Efek Obat Tertentu

Pengobatan tertentu mampu menjadi salah satu sebab penderita Alzheimer mengalami halusinasi, seperti misalnya konsumsi obat-obatan untuk retensi urine [2,14].

Selain itu, pengguna obat untuk kondisi penyakit Parkinson dan juga pengonsumsi benzodiazepine memiliki risiko lebih tinggi mengalami halusinasi [2,15,16].

Pada penderita Alzheimer yang mengalami halusinasi, penanganan utama untuk meredakan halusinasi pendengaran maupun penglihatan adalah dengan menempuh terapi perilaku kognitif maupun terapi relaksasi.

1. Anil Kumar; Jaskirat Sidhu; Amandeep Goyal; & Jack W. Tsao. Alzheimer Disease. National Center for Biotechnology Information; 2021.
2. Andrew Rosenzweig, MD & Diana Apetauerova, MD. Possible Causes of Hallucinations in Alzheimer's. Verywell Health; 2020.
3. Prasanna Tadi & Forshing Lui. Acute Stroke. National Center for Biotechnology Information; 2021.
4. E Morenas-Rodríguez, P Camps-Renom, A Pérez-Cordón, A Horta-Barba, M Simón-Talero, E Cortés-Vicente, D Guisado-Alonso, E Vilaplana, C García-Sánchez, A Gironell, C Roig, R Delgado-Mederos & J Martí-Fàbregas. Visual hallucinations in patients with acute stroke: a prospective exploratory study. European Journal of Neurology; 2017.
5. Yair Lampl, Mordechai Lorberboym, Ronit Gilad, Mona Boaz, & Menachem Sadeh. Auditory hallucinations in acute stroke. Behavioural Neurology; 2005.
6. J. Stephen Huff & Najib Murr. Seizure. National Center for Biotechnology Information; 2021.
7. B S Kasper, E M Kasper, E Pauli, & H Stefan. Phenomenology of hallucinations, illusions, and delusions as part of seizure semiology. Epilepsy and Behavior; 2010.
8. Holly A. Stankewicz; John R. Richards; & Philip Salen. Alcohol Related Psychosis. National Center for Biotechnology Information; 2021.
9. W Coryell. Psychotic depression. Journal of Clinical Psychiatry; 1996.
10. Manassa Hany; Baryiah Rehman; Yusra Azhar; & Jennifer Chapman. Schizophrenia. National Center for Biotechnology Information; 2021.
11. Mohamad El Haj, Jean Roche, Renaud Jardri, Dimitrios Kappogianis, Karim Gallouj, & Pascal Antoine. Clinical and neurocognitive aspects of hallucinations in Alzheimer’s disease. HHS Public Access; 2018.
12. Linda Pang. Hallucinations Experienced by Visually Impaired: Charles Bonnet Syndrome. Optometry and Vision Science; 2016.
13. Sukhbinder Kumar, William Sedley, Gareth R. Barnes, Sundeep Teki, Karl J. Friston, & Timothy D. Griffithsa. A brain basis for musical hallucinations. Cortex; 2014.
14. Murat Gulsun, Murat Pinar, & Unal Sabanci. Psychotic disorder induced by oxybutynin: Presentation of two cases. Clinical Drug Investigation; 2006.
15. A. K. Banerjee, P. G. Falkai, & M. Savidge. Visual hallucinations in the elderly associated with the use of levodopa. Postgraduate Medical Journal; 1989.
16. O Lingjaerde. Effect of the benzodiazepine derivative estazolam in patients with auditory hallucinations. A multicentre double-blind, cross-over study. Acta Psychiatrica Scandinavica; 1982.

Share