Penyakit & Kelainan

Penyebab Munculnya Bulu Di Wajah Wanita

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Kehadiran bulu di area wajah seperti bulu kumis dan bulu jenggot biasanya terjadi pada pria, namun tak menutup kemungkinan bahwa bulu tersebut juga dapat tumbuh pada wajah wanita. Kehadiran bulu tersebut biasanya dipengaruhi oleh adanya hormon.

Umumnya, wanita memiliki hormon-hormon tertentu yang dimiliki oleh pria seperti contohnya hormon androgen. Hal ini disebabkan hormon androgen merupakan penyebab tumbuhnya bulu yang lebih tebal dan lebih gelap pada area wajah [1].

Normalnya jumlah hormon ini lebih banyak pada pria dan hanya terdapat dalam jumlah sedikit pada tubuh wanita. Pada beberapa kondisi, wanita mungkin memiliki lebih banyak jumlah hormon androgen dalam tubuhnya sehingga tumbuhlah bulu disekitar wajahnya [1].

Keadaan tersebut umumya lebih dikenal dengan nama hirsutisme [1,2].

Berikut merupakan beberapa hal yang dapat menyebabkan tumbuhnya bulu di wajah wanita:

  • Genetika

Banyak faktor penyebab terjadinya hirsutisme dan salah satunya penyebabnya adalah faktor genetika. Biasanya jika seorang ibu mengalami hirsutisme maka kemungkinan besar sang anak juga akan mengalaminya.

Perbedaan utama antara hirsutisme yang disebabkan oleh genetika dan penyebab lainnya terletak pada pola atau siklus menstruasi. Hal ini dikarenakan faktor genetika biasanya memiliki pola atau siklus menstruasi yang normal [1,2].

  • Polycystic Ovary Syndrome (PCOS)

Salah satu penyebab terjadinya ketidakseimbangan hormon dalam tubuh wanita adalah Polycystic Ovary Syndrome atau biasa disebut sindrom ovarium polikistik (PCOS). PCOS sendiri merupakan kondisi hormonal yang menyebabkan seorang wanita memproduksi terlalu banyak androgen.

Banyaknya androgen pada penderita PCOS inilah yang memicu terjadinya hirsutisme. Selain itu, sindrom ini juga dapat menyebabkan kenaikan berat badan dan menstruasi yang tak teratur [1,2].

Tumbuh bulu pada wajah wanita juga dapat disebabkan oleh sindrom cushing. Kondisi ini bisa terjadi ketika tubuh wanita memproduksi terlalu banyak hormon kortisol atau hormon stres.

Sindrom ini juga dapat disebabkan oleh penggunaan steroid yang dapat mengurangi peradangan untuk jangka waktu yang lama [1,2].

Insulin merupakan hormon yang membentuk dan mengolah gula menjadi energi. Jika seseorang sedang mengalami resistensi insulin maka gula darahnya pasti juga meningkat dan hal ini dapat menyebabkan diabetes.

Resistensi insulin juga dapat meningkatkan kadar hormon testosteron dalam tubuh sehingga hal ini dapat memicu tumbuhnya bulu pada area wajah. Namun hal ini tak akan berlangsung selamanya karena jika insulin tubuh mulai terkendali, kemungkinan pertumbuhan bulu pada area wajah juga akan kembali normal[1,2].

  • Tumor

Pertumbuhan bulu berlebih pada wanita juga dapat disebabkan oleh tumor. Kondisi ini bisa timbul akibat keberadaan tumor pada indung telur atau pada kelenjar adrenal.

Hal ini dapat terjadi karena pertumbuhan pada indung telur dapat meningkatkan produksi hormon androgen yang menyebabkan tumbuhnya bulu pada wajah. Biasanya tumor ini dapat menyebabkan penderita mengalami nyeri atau tekanan pada panggul atau pendarahan vagina yang tak teratur [1,2].

  • Efek Samping Obat

Beberapa obat dapat mengubah kadar hormon sistem tubuh sehingga bisa memicu pertumbuhan rambut berlebih pada wajah. Adapun obat-obat tersebut antara lain obat kortikosteroid, obat yang berisi hormon testosteron (minoxidil), obat untuk mengatasi endometriosis (danocrine), obat anti kejang (fenitoin) dan obat cyclosporin [1,2].

Banyak macam penyebab terjadinnya hirsutisme. Namun tak perlu sedih karena tumbuhnya bulu pada wajah wanita dapat diatasi dengan berbagai macam cara bergantung pada penyebabnya.

Berikut adalah beberapa cara untuk mengatasi hirsutisme:

  • Mengonsumsi Obat

Beberapa jenis obat dapat berguna untuk mengatasi hirsutisme, namun hasil dari mengonsumsi obat ini baru terlihat setelah digunakan selama 6 bulan. Obat yang dapat digunakan antara lain: [3,4]

  1. Obat antiandrogen, obat ini berguna untuk menghentikan androgen agar tidak menempel pada reseptor di tubuh. Namun akan ada efek samping yang timbul jika mengonsumsi obat ini dalam jangka waktu yang panjang, yaitu siklus menstruasi menjadi tak teratur.
  2. Pil KB, obat yang mengandung estrogen dan progesti ini dapat mengobati hirsutisme yang disebabkan adanya produksi androgen yang berlebih. Kemungkinan efek samping yang dapat terjadi dari penggunaan obat ini adalah mual dan sakit kepala.
  • Prosedur Medis Dan Terapi

Selain dengan mengonsumsi obat, ada pula jenis pengobatan lain yang dapat menghilangkan bulu untuk waktu yang lama, yaitu: [3,4]

  1. Terapi laser, yaitu metode laser yang dilewatkan melalui kulit untuk merusak folikel rambut dan mencegah pertumbuhan rambut atau biasa disebut photoepilation. Terapi ini butuh setidaknya dilakukan beberapa kali bergantung dengan kondisi pertumbuhan bulu rambut pasien.
  2. Elektrolisis, yaitu perawatan yang dilakukan dengan memasukkan jarum kecil ke dalam setiap folikel rambut. Jarum tersebut memancarkan arus listrik untuk merusak dan akhirnya menghancurkan folikel rambut. Elektrolisis bisa dikatakan cukup efektif namun bisa menyakitkan. Walaupun menyakitkan, hal ini tak akan terasa karena sebelum perawatan akan diberi krim mati rasa yang dioleskan pada kulit yang dapat membantu mengurangi kesakitan.
  • Perawatan Diri

Cara lain yang paling mudah dan dapat dilakukan sendiri di rumah adalah dengan mencukur atau melakukan waxing pada area yang tumbuh bulu tak diinginkan. Namun kegiatan ini perlu dilakukan secara rutin minimal dua hari sekali untuk menghindari pertumbuhan bulu kembali [3,4].

1. Silonie Sachdeva. Hirsutism: Evaluation and Treatment. 55(1), 3-7. Indian Journal of Dermatology; 2010.
2. Atmaca, M., Seven, I, Üçler, R., Alay, M., Barut, V., Dirik, Y., & Sezgin, Y. An Interesting Cause of Hyperandrogenemic Hirsutism. 1-4. Case Reports in Endocrinology; 2014.
3. Loriaux, D. L. An Approach to the Patient with Hirsutism. 97(9), 2957-2968. The Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism; 2012.
4. Mihailidis, J., Dermesropian, R., Taxel, P., Luthra, P., & Grant-Kels, J. M. Endocrine evaluation of hirsutism. 1(2), 90-94. International Journal of Women's Dermatology; 2015.

Share