Penyakit & Kelainan

Atrofi Otak: Gejala – Penyebab dan Pengobatan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Tinjauan Medis : dr. Maria Arlene, Sp.Ak
Atrofi otak adalah gejala yang umum dari banyak penyakit yang mengenai otak. Atrofi jaringan berarti adanya kehilangan sel dalam jumlah banyak. Pada jaringan otak, atrofi menggambarkan dimana otak kehilangan

Atrofi otak adalah kehilangan sel otak yang disebut dengan neuron. Nama lain dari penyakit ini adalah atrofi serebral. Atrofi juga menghancurkan hubungan antar sel yang membantu mereka dalam berkomunikasi. Hal ini dapat menyebabkan berbagai macam penyakit lain seperti Alzheimer dan stroke. [1]

Ada 2 tipe utama dari atrofi otak yakni atrofi fokal dan atrofi umum. Atrofi fokal terjadi pada daerah otak tertentu, sedangkan atrofi umum terjadi di seluruh bagian otak. Atrofi otak dapat terjadi sebagai akibat proses penuaan secara alami. [2]

Atrofi otak menyebabkan otak kehilangan massanya dan berujung dengan kehilangan kemampuan neurologisnya. Penyakit ini terjadi secara perlahan-lahan seiring berjalannya waktu. Gejala yang dialami bergantung pada daerah otak yang mengalami atrofi. [3]

Gejala Atrofi Otak

Atrofi otak membuat otak mengalami kematian sel. Area yang sakit tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Gejala yang dirasakan bergantung bagian yang terserang atrofi. Berikut ini beberapa gejala yang dapat terjadi pada atrofi otak progresif yakni: [4]

  • Demensia
  • Perubahan perilaku
  • Kehilangan ingatan
  • Gangguan fungsi berpikir dan mengambil keputusan
  • Kaku otot, gerakan lambat, dan/ atau gemetar seperti ciri-ciri penyakit Parkinson

Sedangkan pada atrofi otak akut, gejala yang dialami oleh penderitanya yaitu: [4]

  • Lemas pada wajah, lengan, dan/ atau tungkai
  • Mati rasa
  • Perubahan penglihatan
  • Masalah pada keseimbangan

Adapun gejala atrofi otak kongenital (bawaan lahir) yaitu: [4]

  • Kejang-kejang
  • Kesulitan berjalan
  • Terlambat bicara
  • Kesulitan belajar

Penyebab Atrofi Otak

Penyebab atrofi otak dapat berupa cedera, penyakit, dan infeksi. Sebab-sebab ini dapat menimbulkan kerusakan sel otak. [1]

Cedera

  • Stroke

Stroke terjadi ketika aliran darah ke bagian otak terganggu. Tanpa pasokan darah kaya oksigen, neuron di area tersebut akan mati. Fungsi yang dikendalikan oleh bagian otak tersebut termasuk bergerak dan berbicara akan menghilang. [1]

  • Cedera Otak Traumatis

Cedera otak traumatis merupakan kerusakan otak yang disebabkan oleh jatuh, kecelakaan kendaraan bermotor atau pukulan/ benturan pada kepala. [1]

Penyakit dan Kelainan

  • Penyakit Alzheimer dan Demensia Jenis Lainnya

Kondisi ini menyebabkan sel otak menjadi rusak secara perlahan-lahan dan kehilangan kemampuannya untuk berkomunikasi dengan sel otak lainnya. Penyakit Alzheimer menyebabkan kehilangan ingatan dan kemampuan berpikir yang cukup parah sehingga mengganggu hidup sehari-hari. [1]

Kondisi ini biasanya mulai terjadi pada umur 60 tahun dan merupakan penyebab utama dari demensia. Penyakit Alzheimer bertanggung jawab sebanyak 60-80% kasus demensia. [1]

  • Palsi Serebral

Palsi serebral adalah kelainan pergerakan akibat perkembangan otak abnormal semenjak masih dalam kandungan. Kondisi ini menimbulkan kekurangan koordinasi otot, kesulitan berjalan, dan kelainan gerak lainnya. [1]

  • Penyakit Huntington

Kondisi ini diwariskan dan secara perlahan merusak neuron. Biasanya penyakit ini mulai terjadi saat paruh baya. Seiring berjalannya waktu, kondisi ini mempengaruhi mental penderitanya dan kemampuan fisiknya termasuk depresi parah dan chorea (pergerakan seluruh tubuh yang tidak terkendali seperti menari). [1]

  • Leukodistrofi

Kondisi ini diwariskan dan langka, otak mengalami kerusakan pada mielin sel saraf – yaitu suatu lapisan pelindung di sekeliling neuron. Biasanya terjadi pada masa awal anak-anak. Kerusakan ini menimbulkan masalah pada ingatan, pergerakan, tingkah laku, penglihatan, dan pendengaran. [1]

Suatu penyakit autoimun yang biasanya dimulai pada masa dewasa muda. Penyakit ini lebih banyak menyerang wanita. Kondisi ini membuat sel kekebalan tubuh menyerang menyerang lapisan pelindung di sekeliling sel saraf. [1]

Seiring bertambahnya waktu, sel saraf menjadi rusak. Akibatnya, timbul masalah pada indera peraba, pergerakan dan keseimbangan tubuh. Penyakit ini dapat berujung pada demensia dan atrofi otak. [1]

Infeksi

Penyakit ini disebabkan oleh virus HIV, yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Walaupun virus ini tidak menyerang sel saraf secara langsung, namun virus ini merusak hubungan antar sel saraf melalui protein dan zat lain yang dilepaskannya. Toksoplasmosis yang dikaitkan dengan AIDS juga dapat merusak sel saraf otak. [1]

  • Ensefalitis

Kondisi ini merujuk pada peradangan otak. Umumnya disebabkan oleh herpes simplex virus. Akan tetapi, virus lain seperti West Nile dan Zika juga dapat menyebabkannya.

Virus ini membuat otak cedera dan menimbulkan beberapa gejala seperti kebingungan, kejang-kejang dan kelumpuhan. Kondisi autoimun juga dapat membuat peradangan pada otak. [1]

  • Neurosifilis

Kondisi ini mengacu pada penyakit yang merusak otak dan lapisan pelindungnya. Penyakit ini dapat terjadi pada orang dengan sifilis yang ditularkan melalui hubungan seksual yang tidak sepenuhnya ditangani. [1]

Diagnosis Atrofi Otak

Ketika dokter akan mendiagnosis atrofi otak, dokter akan melakukan pemeriksaan terhadap riwayat kesehatan secara menyeluruh dan bertanya tentang gejala dialami. Pemeriksaan ini termasuk menanyakan tentang kapan gejala mulai terjadi dan apakah ada kejadian yang dapat memicu. [2]

Dokter juga akan memerintahkan pemeriksaan terhadap ingatan atau bahasa atau tes spesifik lain terhadap fungsi otak. Jika dokter mencurigai adanya atrofi otak maka dokter perlu memastikan letak kerusakan otak dan melakukan penilaian terhadap keparahannya. Uji ini membutuhkan MRI dan pindai CT. [2]

Pengobatan Atrofi Otak

Jika atrofi otak telah terjadi, tidak ada obat yang dapat menyembuhkan. Pengobatan dilakukan untuk menangani gejala dan komplikasi yang telah terjadi. Sebab kerusakan bersifat permanen. [3]

Untuk menangani demensia, diberikan obat yang mengubah kadar bahan kimia otak, terapi fisik, dan konseling psikologis. Sedangkan untuk menangani gejala lain berikut ini beberapa langkah yang dilakukan: [3]

  • diberikan antikolvusan untuk kejang,
  • Terapi kognitif dan perilaku untuk meningkatkan kualitas hidup
  • Terapi fisik untuk memperlambat kehilangan kendali otot
  • Terapi wicara untuk mengurangi dampak aphasia (gangguan fungsi bicara dan pemahaman)
  • Penanganan terhadap infeksi atau cedera yang dapat berujung pada atrofi otak lebih lanjut

Pencegahan Atrofi Otak

Beberapa kondisi seperti AIDS, neurosifilis dan cedera otak traumatis dapat dicegah. Melakukan seks aman dengan mengenakan kondom dapat mencegah infeksi sifilis dan infeksi virus HIV. Menggunakan sabuk pengaman saat berada dalam mobil dan mengenakan helm saat berkendara degan sepeda motor dapat membantu mencegah terjadi cedera otak. [1]

Kondisi lain penyebab atrofi otak seperti penyakit Huntington, leukodistrofi, dan multiple sclerosis tidak dapat dicegah. Bebrapa kondisi dapat tertangani dengan melakukan pengobatan seperti stroke, ensefalitis, multiple sclerosis atau AIDS. [1]

Sedangkan yang lain tidak dapat tertangani walau menjalani pengobatan misalnya pada penyakit Alzheimer atau penyakit Huntington. Pada kedua kondisi ini, baik gejala dan atrofi otak akan memburuk secara perlahan-lahan seiring bertambahnya waktu. [1]

1. Stephanie Watson & Kenneth Gross. Brain Atrophy (Cerebral Atrophy). He;athline; 2019.
2. Aaron Kandola & Seunggu Han. What to know about brain atrophy. Medical News Today; 2020.
3. Anonim. Cerebral Atrophy. Healthgrades; 2021.
4. Esther Hemera & Claudia Chaves. An Overview of Cerebral Atrophy. Very Well Health; 2020.

Share