Daftar isi
Empiema merupakan sebuah kondisi nanah yang terakumulasi di ruang pleura (pada permukaan bagian dalam dinding dada dan berada di antara paru-paru) [1,2,3,9,10].
Kondisi kumpulan nanah ini terbentuk biasanya usai seseorang menderita pneumonia (infeksi jaringan paru-paru).
Istilah lain untuk empiema adalah pyothorax atau pleuritis purulen di mana untuk mengatasinya diperlukan tindakan operasi.
Tinjauan Empiema merupakan kondisi nanah yang terakumulasi dan menimbun pada ruang pleura yang biasanya terjadi akibat infeksi pada jaringan paru.
Normalnya, setiap manusia pada ruang pleura terdapat cairan walau sedikit dan produksi cairan tersebut baru akan lebih banyak saat seseorang mengalami infeksi.
Produksi cairan yang lebih banyak ini tidak diimbangi dengan proses penyerapan cairan yang lebih cepat sehingga penumpukan pun terjadi.
Bila infeksi memengaruhi cairan pleura, hal ini akan membuatnya mengental dan membentuk nanah.
Bahkan lapisan paru dengan rongga dada dapat menempel karenanya sehingga terbentuk kantong-kantong nanah atau empiema.
Terdapat beberapa faktor yang mampu meningkatkan risiko seseorang mengalami pneumonia, yaitu antara lain [1,3,4,5] :
Tinjauan Cairan pleura yang terkena infeksi akan semakin mengental dan membentuk nanah di mana hal ini akan menyebabkan empiema. Namun sejumlah penyakit dapat pula meningkatkan risikonya, seperti pneumonia, abses paru, bronkiektasis, PPOK, cedera, alkoholisme, infeksi di bagian tubuh lain yang menjalar ke rongga dada, dan diabetes.
Empiema terbagi menjadi dua jenis kondisi dengan gejala yang berbeda, yaitu empiema sederhana dan empiema kompleks.
Pada kondisi empiema sederhana, empiema timbul sebagai tahap awal penyakit di mana nanah telah terbentuk namun mengalir secara bebas di dalam tubuh.
Beberapa tanda empiema sederhana meliputi [1,5,6,7] :
Pada jenis kondisi empiema kompleks (tahap akhir penyakit), radang sudah sangat serius.
Pembentukan jaringan parut biasanya telah terjadi dan kemudian membagi ruang pleura menjadi rongga-rongga kecil.
Loculation merupakan sebuah istilah untuk kondisi ini di mana kondisi akan lebih sulit ditangani.
Beberapa gejala yang perlu diwaspadai dari kondisi empiema kompleks adalah [7] :
Ketika empiema kompleks semakin buruk, hal ini dapat memicu lapisan tebal terbentuk pada sekitar ruang pleura.
Karena terdapat lapisan tebal tersebut, proses mengembangnya paru-paru menjadi terhambat dan tak dapat bekerja dengan normal.
Tinjauan Gejala empiema terbagi menjadi dua jenis kondisi, yaitu empiema sederhana (tubuh berkeringat, demam, batuk kering, sesak napas, nafsu makan menurun, disorientasi, sakit kepala, dan nyeri pada dada setiap bernapas) dan empiema kompleks (nyeri dada, sulit bernapas, penurunan suara napas, dan berat badan turun).
Empiema menjadi dugaan utama dokter saat penderita menemui dokter, terutama bila penderita memiliki kondisi pneumonia.
Beberapa metode diagnosa yang akan dokter gunakan antara lain adalah :
Dokter perlu mengetahui riwayat medis dan kesehatan pasien dengan menanyakan riwayat gejala dan riwayat penyakit yang diderita pasien [1,7].
Pasien perlu memberi tahu dokter mengenai gejala apa saja yang dirasakan, sejak kapan dan sudah selama apa gejala timbul, serta memiliki riwayat penyakit apa.
Jika pun memiliki riwayat cedera atau prosedur operasi tertentu, informasikan kepada dokter secara lengkap.
Usai menanyakan riwayat kesehatan, dokter biasanya menggunakan stetoskop untuk memeriksa fisik pasien.
Dokter perlu mengecek keberadaan suara-suara abnormal dari dalam paru pasien dan bila diperlukan akan ada beberapa tes penunjang yang diterapkan.
Pemeriksaan penunjang berupa tes pemindaian kemungkinan dibutuhkan untuk menegakkan diagnosa [1,5,7].
Kedua metode CT scan dan sinar-X (rontgen) digunakan dokter dengan tujuan mengetahui keberadaan penumpukan cairan pada ruang pleura.
Sementara itu, USG adalah metode pemeriksaan yang diterapkan untuk memeriksa bagian dada pasien [1,7].
Dari hasil pemeriksaan akan dapat diketahui seberapa banyak cairan yang terakumulasi dan juga lokasi empiema terjadi.
Tes darah juga kemungkinan dianjurkan oleh dokter agar pasien menempuhnya [1,7].
Pemeriksaan ini bertujuan mengetahui jumlah sel darah putih sekaligus CRP (C-reactive protein).
Sel-sel darah putih dan CRP dapat mengalami peningkatan karena infeksi, maka hal ini perlu diperiksa serta dipastikan.
Pungsi pleura atau prosedur thoracentesis adalah metode diagnosa yang dilakukan dengan memasukkan jarum melalui bagian belakang dada pada sela tulang rusuk [1,7].
Jarum ini diarahkan pada bagian dalam ruang pleura dan dari situ dokter baru dapat mengambil sampel cairannya.
Setelah itu, sampel cairan harus dibawa ke laboratorium untuk proses analisa penyebab.
Tinjauan Metode diagnosa yang umumnya digunakan dokter untuk memastikan kondisi pasien adalah pemeriksaan riwayat gejala dan fisik, rontgen, USG, CT scan, tes darah dan thoracocentesis.
Empiema dapat ditangani dengan mengobati infeksinya sekaligus mengangkat nanah yang terkumpul pada ruang pleura.
Metode-metode pengobatan yang umumnya pasien empiema perlu tempuh antara lain adalah :
1. Antibiotik
Obat antibiotik digunakan untuk mengobati infeksi, namun obat ini akan diberikan sesuai dengan jenis bakteri yang menyebabkannya [1,5,6,7].
Namun bila diperlukan, dokter akan memberikan penanganan lain selain obat antibiotik.
2. Percutaneous Thoracocentesis
Thoracocentesis tidak hanya dapat digunakan sebagai metode diagnosa sebab prosedur ini juga dapat digunakan untuk membuang cairan berlebih pada ruang pleura [5].
Tindakan medis satu ini biasanya dokter rekomendasikan kepada pasien empiema sederhana di mana gejala yang dialami masih tahap awal.
3. Prosedur Bedah
Jika obat-obatan tidak efektif dalam mengobati empiema, prosedur bedah menjadi tindakan medis yang dokter umumnya rekomendasikan pada pasien.
Prosedur operasi hanya akan dianjurkan ketika pasien mengalami empiema kompleks.
Pada prosedur ini, dokter akan memasukkan sebuah pipa karet untuk mengeluarkan nanah yang menumpuk di ruang pleura.
Beberapa jenis operasi yang dapat digunakan antara lain adalah :
Prosedur bedah ini dilakukan dengan dokter membuat lubang terlebih dulu pada antara dua rusuk pasien [1,6,7].
Melalui lubang tersebut, dokter akan memasukkan pipa plastik ke dalam dada dan menghubungkannya dengan alat penyedot khusus pembuang cairan.
Selain itu, akan ada obat-obatan yang dokter suntikkan ke tubuh pasien agar cairan dapat diangkat dan dibuang lebih mudah.
Tindakan medis ini dapat menangani kondisi ketika paru dan ruang pleura tertutupi oleh lapisan berserat yang disebut dengan jaringan fibrosa [1,3,6,7].
Dekortikasi terbuka adalah sebuah prosedur operasi yang bertujuan mengangkat jaringan fibrosa tersebut supaya fungsi paru kembali normal.
Paru yang awalnya sulit mengembang dan mengempis secara normal akibat empiema akan kembali normal usai prosedur ini.
4. VATS (Video-Assisted Thoracic Surgery)
Prosedur ini diperuntukkan bagi pasien empiema yang jaringan sekitar paru-paru telah terkena infeksi [1,6].
Jaringan tersebut perlu diangkat menggunakan prosedur VATS di mana dokter memasukkan selang sekaligus obat-obatan khusus sebagai pengalir cairan dari ruang pleura.
Terdapat sebuah kamera kecil (thoracoscope) yang dokter biasanya gunakan untuk prosedur ini usai membuat tiga sayatan.
Tinjauan Pengobatan untuk kasus empiema umumnya meliputi pemberian obat antibiotik, percutaneous thoracocentesis, operasi, dan VATS (VATS (Video-Assisted Thoracic Surgery).
Walau tampak merupakan kondisi yang serius, empiema pada dasarnya sangat jarang sampai menimbulkan komplikasi.
Hanya saja, tetap waspadai risiko komplikasi berbahaya pada kondisi empiema kompleks yang tak segera mendapatkan penanganan, seperti :
Akumulasi fibrin atau jaringan fibrosa di rongga pleura adalah kondisi yang disebut dengan fibrothorax [1].
Kondisi ini adalah akibat dari cairan pleura berlebih yang masih tersisa dan tidak terkuras saat proses pembuangan.
Pneumotoraks atau paru-paru kolaps adalah sebuah kondisi ketika rasa nyeri terjadi pada bagian dada secara tiba-tiba [8].
Hal ini juga ditandai dengan kondisi sesak napas yang akan semakin buruk ketika penderita bernapas atau batuk.
Bila penanganan yang tepat tidak segera pasien dapatkan, akibat dari pneumotoraks ini bisa sangat fatal bagi kesehatan.
Infeksi serius yang tidak segera mendapatkan penanganan dapat membuat peradangan meluas [7,8].
Tidak hanya itu, organ-organ penting dalam tubuh pun berpotensi mengalami kerusakan.
Jika sepsis terjadi, maka penderita dapat mengalami detak jantung cepat, napas cepat, tubuh demam dan menggigil, hingga tekanan darah rendah.
Apakah empiema dapat berakibat pada kematian?
Empiema sangat jarang dalam mengakibatkan kerusakan paru jangka panjang walau gangguan pernapasan dapat terjadi.
Namun dengan penanganan yang cepat dan tepat, hal ini akan meminimalisir berbagai komplikasi berbahaya.
Obat-obatan resep dokter perlu digunakan dengan baik dan sesuai anjuran dokter.
Pemeriksaan rontgen dada pun dapat dilakukan secara berkala sesuai permintaan dokter untuk mengetahui perkembangan kondisi ruang pleura.
Prevalensi kematian akibat empiema adalah 40%, namun jika sistem imun baik dan kuat, maka sebenarnya pasien empiema dapat sembuh dan terhindar dari komplikasi mengancam jiwa [9].
Tinjauan Komplikasi empiema yang patut diwaspadai adalah fibrothorax, pneumotoraks, dan sepsis.
Untuk mencegah empiema, maka penting untuk mengatasi kondisi infeksi yang menyebabkannya, seperti pneumonia maupun penyakit lainnya [10].
Agar infeksi tidak kembali terjadi, obat antibiotik yang diresepkan dokter perlu digunakan sampai habis dan sesuai anjuran dokter.
Selain itu, pastikan untuk menjalani pola hidup sehat agar imunitas tubuh tetap kuat sehingga infeksi tidak mudah menyerang.
Tinjauan Mengatasi kondisi infeksi penyebab empiema adalah cara terbaik dalam meminimalisir risiko empiema. Selain itu, penggunaan obat resep dokter teratur dan pola hidup sehat dapat mengurangi risiko terulangnya infeksi.
1. Veronica Garvia & Manju Paul. Empyema. National Center for Biotechnology Information; 2020.
2. dr. Ni Made Dwiyathi Utami. Karakteristik Efusi Pleura pada Anak di RSUP Sanglah Denpasar. SIM DOSEN Universitas Udayana; 2015.
3. Hsueh-Yi Lu & Kuang-Ming Liao. Risk of empyema in patients with COPD. International Journal of Chronic Obstructive Pulmonary Disease; 2018.
4. Naresh G Mansharamani & Henry Koziel. Chronic lung sepsis: lung abscess, bronchiectasis, and empyema. Current Opinion in Pulmonary Medicine; 2003.
5. Bhanusivakumar R. Sabbula; Guhan Rammohan & Jagadish Akella. Lung Abscess. National Center for Biotechnology Information; 2020.
6. Francis J. Podbielski, MD,corresponding author Hersh S. Maniar, MD, Heron E. Rodriguez, MD, M. Janeen Hernan, MSN, & Wickii T. Vigneswaran, MD. Surgical Strategy of Complex Empyema Thoracis. Journal of the Society of Laparoscopic & Robotic Surgeons; 2000.
7. Preetam Rajgopal Acharya & Kusum V. Shah. Empyema thoracis: A clinical study. Annals of Thoracic Medicine; 2007.
8. Michele M. Iguina & Mauricio Danckers. Thoracic Empyema. National Center for Biotechnology Information; 2020.
9. Steve A. Sahn. Diagnosis and Management of Parapneumonic Effusions and Empyema. Clinical Infectious Diseases; 2007.
10. Anonim. Empyema. FactDr; 2018.