Bronkiektasis : Penyebab – Gejala dan Penanganan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by redaction team, read our quality control guidelance for more info

Apa Itu Bronkiektasis?

Bronkiektasis
Bronkiektasis ( img : Bronchiectasis News Today )

Bronkiektasis merupakan sebuah kondisi ketika saluran nafas dan bronkus melebar secara permanen dan mengalami kerusakan [1,2,3,4,7,8].

Sistem pernapasan memiliki bronkus, yaitu jalan aliran udara yang membawa udara menuju paru-paru.

Jika bronkus rusak lalu saluran nafas juga mengalami masalah, lendir di paru-paru akan menumpuk sehingga hal ini menyebabkan sesak nafas dan batuk berdahak yang tak kunjung membaik.

Walau hingga kini belum terdapat cara menyembuhkan penyakit ini, beberapa penanganan umumnya diberikan sebagai pengendali gejala yang efektif.

Tinjauan
Bronkiektasis adalah kondisi kerusakan atau pelebaran bronkus serta saluran nafas sehingga menyebabkan penderitanya mengalami batuk berdahak terus-menerus disertai sesak nafas.

Fakta Tentang Bronkiektasis

  1. Bronkiektasis merupakan penyakit yang pertama kali diperkenalkan oleh Laennec pada abad ke-19 yang dikenal sebagai penyakit yang menyebabkan penderitanya kehilangan fungsi paru serta mengakibatkan kematian dini [1].
  2. Prevalensi global bronkiektasis menurut European Respiratory Society sangat bervariasi, namun berada di antara 53 hingga 566 kasus per 100.000 jiwa yang akan semakin terus bertambah ketika usia populasi bertambah, terutama pada wanita [2].
  3. Di Amerika Serikat, prevalensi bronkiektasis diketahui lebih tinggi pada populasi dengan tingkat sosial ekonomi yang rendah walau penyakit ini tergolong langka di sana [3].
  4. Sementara di Indonesia, data prevalensi bronkiektasis belum diketahui secara jelas dan spesifik [3].

Penyebab Bronkiektasis

Dinding bronkus yang mengalami kerusakan adalah penyebab bronkiektasis, begitu juga ketika saluran pernapasan melebar atau rusak.

Faktor yang menyebabkan terjadinya gangguan, kerusakan, dan pelebaran pada bronkus serta saluran napas pada sebagian kecil kasus tidak diketahui pasti.

Hanya saja secara umum, faktor-faktor berikut ini adalah penyebab bronkus rusak [1,4,5,6] :

  • Cystic fibrosis
  • Gangguan sistem imun
  • Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK)
  • Tuberkulosis (TBC)
  • Batuk rejan
  • Aspergillosis alergi
  • HIV
  • Penyakit autoimun
  • Tumor yang menyebabkan sumbatan di saluran pernapasan
  • Penyakit Crohn
  • Rheumatoid arthritis
  • Campak
  • Sindrom Sjogren
  • Aspirasi
  • Pneumonia
  • Primary ciliary dyskinesia atau kondisi kelainan pada rambut halus di saluran nafas yang disebut silia.
  • Gangguan perkembangan paru sejak berada di dalam kandungan.
Tinjauan
Rusaknya dinding bronkus dan saluran nafas menjadi penyebab utama bronkiektasis terjadi, namun beberapa kondisi medis lain pun dapat menjadi faktor risikonya. Gangguan pencernaan, campak, gangguan pernafasan lain, hingga HIV mampu meningkatkan risiko bronkiektasis.

Gejala Bronkiektasis

Timbulnya gejala dapat dapat terjadi setelah berbulan-bulan hingga bertahun-tahun karena keluhan yang awalnya ringan akan terus mengalami perkembangan.

Kemunculan gejala pun biasanya terjadi setelah penderita berulang kali mengalami infeksi saluran nafas (kambuh terus-menerus).

Beberapa gejala bronkiektasis yang umumnya terjadi antara lain adalah [1,5,6] :

  • Sesak nafas.
  • Batuk berdahak.
  • Dahak yang keluar umumnya berwarna kuning kehijauan, kuning pucat, atau bening.
  • Dahak akan keluar setiap hari selama batuk masih dialami.
  • Mengi
  • Berat badan turun.
  • Dada terasa nyeri.
  • Infeksi saluran nafas yang terjadi berulang kali.
  • Batuk berdarah.
  • Ujung kuku jari mengalami perubahan bentuk; disebut juga dengan clubbing fingers.
  • Tubuh mudah lelah.

Kapan sebaiknya memeriksakan diri ke dokter?

Ketika batuk berdahak tak kunjung mereda dan diikuti dengan sejumlah keluhan yang telah disebutkan, sebaiknya segera temui dokter.

Ketika beberapa kondisi di bawah ini terjadi, periksakan diri secepatnya agar kondisi dapat segera ditangani dengan tepat [1,6] :

  • Demam
  • Batuk berdahak semakin buruk yang ditandai dengan dahak berwarna kehijauan ditambah bau tak sedap.
  • Nafas sangat cepat.
  • Kulit serta bibir kebiruan.
  • Tubuh terasa sangat mudah lelah setiap waktu.
Tinjauan
Gejala utama bronkiektasis meliputi sesak nafas, batuk berdahak, dahak berwarna kuning kehijauan, kuning pucat, atau bening, mengi, berat badan turun, dada terasa nyeri, infeksi saluran nafas yang terjadi berulang kali, batuk berdarah, clubbing fingers, dan kelelahan.

Pemeriksaan Bronkiektasis

Untuk memastikan bahwa kondisi gejala yang dialami oleh pasien merupakan bronkiektasis dan mendeteksi apa penyebabnya, pemeriksaan perlu dilakukan.

Dari hasil diagnosa, hal ini pun akan memudahkan dokter dalam menentukan jenis pengobatan sesuai faktor penyebab.

Sejumlah metode diagnosa yang paling kerap diterapkan oleh dokter dalam memeriksa pasien adalah :

  • Pemeriksaan Riwayat Gejala

Dokter akan mengawali pemeriksaan dengan menanyakan apa saja gejala yang pasien alami [1,7,8].

Sejak kapan gejala terjadi dan sudah berapa lama gejala dirasakan merupakan hal-hal lain yang dokter umumnya tanyakan.

Dokter biasanya pun ingin tahu seberapa sering pasien mengalami batuk dan apakah batuk tersebut berdahak serta apa warna dahaknya.

  • Pemeriksaan Riwayat Medis

Selain riwayat gejala, dokter juga akan memastikan apakah pasien memiliki kondisi medis tertentu [1,7,8].

Jika terdapat kondisi medis tertentu, maka dokter juga ingin mengetahui apa saja obat yang tengah dikonsumsi.

  • Pemeriksaan Fisik

Dokter juga akan menggunakan stetoskop untuk memeriksa fisik pasien dan mendengarkan suara dari paru-paru pasien [1,8].

Dokter dapat menangkap adanya gangguan pada pernapasan pasien ketika suara nafas tidak normal.

  • Kultur Dahak

Untuk mengetahui keberadaan jamur, bakteri ataupun virus pada tubuh pasien, dokter perlu melakukan prosedur ini [1,4,5,6,8].

Kultur dahak dilakukan dengan mengambil sampel dahak pasien untuk dibawa ke laboratorium dan dianalisa.

  • Tes Darah

Untuk mengetahui apakah pasien mengalami infeksi, maka dokter perlu memastikannya dengan meminta pasien menempuh tes darah [8].

Salah satu dari tes pemindaian ini akan direkomendasikan oleh dokter untuk dapat mengetahui apakah paru-paru pasien bermasalah [1,6,8].

Dokter dapat mengecek kondisi saluran pernafasan sekaligus paru pasien melalui tes pemindaian ini.

Untuk mengetahui apakah pasien mengalami perdarahan di saluran nafas atau justru mengalami sumbatan, maka bronkoskopi adalah metode diagnosa yang dibutuhkan [6,8].

Tanyakan kepada dokter mengenai apa saja yang perlu dilakukan sebelum menempuh prosedur bronkoskopi ini.

  • Tes Keringat Klorida

Tes ini juga perlu diterapkan oleh dokter dengan memanfaatkan bahan kimia khusus yang akan memicu keringat keluar dari kulit saat arus listrik berdaya rendah dan lemah memicunya [1,7].

Keringat pasien ini kemudian dokter kumpulkan pada sebuah kertas untuk kemudian menganalisanya.

Biasanya, tes ini diperlukan untuk mengidentifikasi adanya penyakit cystic fibrosis.

Jika keringat diketahui lebih asin dari normalnya, maka itu artinya pasien positif mengidap cystic fibrosis.

  • Tes Fungsi Paru

Dokter kemungkinan juga akan merekomendasikan tes fungsi paru bagi pasien untuk mengidentifikasi sejumlah masalah pada paru-paru [6,7,8].

Pada prosedur ini, dokter menggunakan spirometri untuk memeriksa paru pasien.

  • Pemeriksaan Skrining Autoimun

Dokter kemungkinan meminta pasien menempuh pemeriksaan skrining autoimun [7,8].

Tujuan pemeriksaan ini adalah untuk mengonfirmasi apakah pasien menderita penyakit autoimun dan penyakit inilah yang menyebabkan terjadinya bronkiektasis.

Tinjauan
Metode-metode diagnosa yang digunakan untuk mendiagnosa bronkiektasis antara lain adalah pemeriksaan riwayat gejala dan medis, pemeriksaan fisik, tes fungsi paru, pemeriksaan skrining autoimun, tes darah, kultur dahak, tes pemindaian, dan tes keringat klorida.

Pengobatan Bronkiektasis

Pengobatan yang diberikan kepada penderita bronkiektasis akan disesuaikan dengan faktor penyebabnya dan tujuan pengobatan hanya untuk membantu meredakan gejala.

Bentuk perawatan yang diberikan kepada pasien ada tiga, yaitu obat-obatan, terapi dan prosedur bedah.

Tujuan pengobatan juga adalah sebagai penurun risiko komplikasi berbahaya bagi pasien.

Jika semakin awal kondisi pasien terdeteksi, maka akan semakin cepat penanganan diberikan.

Dengan begitu, semakin besar pula potensi pasien untuk pulih dan mencegah komplikasi terjadi.

Beberapa metode pengobatan bronkiektasis yang dimaksud antara lain adalah :

Melalui Obat-obatan

Sejumlah jenis obat di bawah ini dokter akan resepkan untuk membantu mengurangi gejala serta menangani infeksi [1,3,4,5,6,7,8,9] :

  • Ekspektoran yang efektif sebagai pengencer dahak, namun terkadang jika memang perlu dokter akan mengombinasikannya dengan dekongestan sesuai dengan kebutuhan kondisi pasien.
  • Antibiotik, obat ini akan diberikan dalam bentuk suntikan atau oral (obat minum) supaya infeksi karena bakteri dapat diatasi.
  • Tiotropium dan albuterol merupakan obat-obatan golongan bronkidilator yang juga kemungkinan besar dokter berikan sebagai pembuka jalan aliran udara pada saluran pernafasan.

Melalui Terapi Khusus

Selain obat-obatan, dokter juga akan merekomendasikan sejumlah terapi yang dapat pasien tempuh supaya gejala-gejala yang dialami dapat mereda, seperti [1,3,4,7,9] :

  • Chest clapping atau terapi tepuk dada.
  • Pemakaian alat bantu bernafas.
  • Penggunaan rompi khusus.
  • ACBT atau active cycle of breathing technique yang masih termasuk terapi pernapasan
  • Vaksin pneumococcal yang bertujuan mencegah supaya pasien tidak menderita pneumonia setelah ini.

Melalui Perubahan Gaya Hidup

Tidak hanya obat dan terapi, pasien sendiri perlu memiliki niat untuk berubah lebih baik dalam gaya hidupnya, seperti [7] :

  • Rutin melakukan olahraga.
  • Tidak merokok (tidak menjadi perokok aktif maupun pasif).
  • Mengonsumsi makanan sehat bernutrisi tinggi.
  • Mengonsumsi banyak air putih untuk menghidrasi tubuh.

Melalui Operasi

Tindakan operasi baru akan dianjurkan oleh dokter ketika satu lobus paru-paru telah terpengaruh oleh bronkiektasis [1,3,6,7,8,9].

Operasi juga menjadi pilihan akhir bagi pasien apabila obat-obatan, perubahan gaya hidup dan terapi tidak mampu memberikan efek apapun terhadap gejala.

Biasanya, tujuan prosedur bedah utamanya adalah mengangkat lobus yang sudah terkena dampak bronkiektasis.

Hanya saja dari keempat metode pengobatan bronkiektasis, tidak ada yang benar-benar ampuh menyembuhkan bronkiektasis.

Bronkiektasis menyebabkan kerusakan paru yang permanen sehingga metode apapun belum diketahui mampu menyembuhkannya dan hanya sekedar mengurangi gejala saja.

Tinjauan
Pengobatan bronkiektasis hanya bertujuan meredakan gejala dan mencegah komplikasi, yaitu melalui pemberian obat-obatan sesuai penyebab penyakit, melalui terapi, melalui perubahan gaya hidup, hingga melalui prosedur bedah.

Komplikasi Bronkiektasis

Ketika terlambat memperoleh penanganan, sejumlah komplikasi dapat terjadi karena bronkiektasis menjadi semakin parah [1].

Pencegahan Bronkiektasis

Belum terdapat cara spesifik untuk mencegah atau menghindari bronkiektasis karena dari 50% kasus penyakit ini, penyebabnya tidak diketahui pasti.

Jika bronkiektasis terjadi kelainan genetik, maka hal ini akan lebih sulit untuk dicegah.

Namun beberapa hal yang dapat dilakukan untuk meminimalisir risiko terkena bronkiektasis antara lain adalah [1,10] :

  • Hindari paparan zat-zat yang berbahaya bagi paru.
  • Hindari polusi udara.
  • Hindari aktivitas merokok, begitu juga asap rokok.
  • Terima vaksin yang mencegah penyakit campak, batuk rejan dan flu.
  • Segera ke dokter ketika gejala awal yang mengarah pada bronkiektasis (batuk berdahak tak kunjung sembuh) untuk mendeteksinya secara dini dan mendapat penanganan secepatnya sebelum kerusakan paru terjadi.
Tinjauan
Untuk meminimalisir risiko terkena bronkiektasis, menghindari polusi udara, asap rokok dan kegiatan merokok, dan mendapatkan vaksin penting dilakukan.
fbWhatsappTwitterLinkedIn

Add Comment