Tindakan Medis

Endoskopi : Jenis – Prosedur – Risiko

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Apa Itu Endoskopi?

Endoskopi merupakan tindakan medis yang dilakukan untuk memeriksa organ tubuh tertentu pasien menggunakan alat berbentuk selang kecil lentur dengan kamera kecil di ujungnya bernama endoskop [1,2].

Kamera ini berfungsi sebagai penghasil gambar kondisi organ tubuh pasien; dokter dapat melihat hasil gambar karena kamera sudah disambungkan ke monitor [1,2].

Dalam prosesnya, endoskop akan dokter masukkan melalui mulut, anus, vagina, atau hidung pasien sehingga bisa masuk ke dalam tubuh untuk memeriksa organ tertentu [1,2].

Pada beberapa kasus, dokter harus membuat sayatan pada kulit atau insisi lebih dulu supaya bisa memasukkan endoskop sesuai kebutuhan kondisi pasien [1,2].

Jenis dan Prosedur Endoskopi

Endoskopi terdiri dari berbagai macam jenis pemeriksaan, tergantung dari organ tubuh pasien yang hendak diperiksa dan diidentifikasi penyebab gejalanya.

Berikut ini merupakan deretan jenis endoskopi yang perlu diketahui sesuai kondisi pasien.

Torakoskopi

Torakoskopi merupakan tindakan pemeriksaan yang dikhususkan pada bagian rongga pleura pasien [3].

Rongga pleura sendiri merupakan ruang antara lapisan dalam tulang rusuk dengan lapisan paru-paru bagian luar [3].

Bila pasien memiliki gejala gangguan paru-paru, maka salah satu cara memastikannya adalah dengan menempuh torakoskopi [3].

Torakoskopi adalah metode diagnosa yang akan dokter terapkan apabila hasil rontgen dada dan CT scan dada kurang membantu [3].

Selang tipis berlampu dan berkamera bernama torakoskop akan dokter masukkan ke dalam tubuh pasien melalui lubang sayatan yang dokter buat pada ujung bawah tulang belikat antara tulang rusuk [3].

Proktoskopi

Proktoskopi adalah prosedur pemeriksaan rektum dan anus apabila pasien mengalami gejala masalah kesehatan di bagian tubuh tersebut [4].

Selang elastis yang sudah dilengkapi lampu kecil dan kamera bernama proktoskop akan dokter masukkan ke dalam tubuh pasien melalui anus untuk pengambilan sampel jaringan [4].

Pengambilan sampel jaringan ini disebut dengan biopsi dan tujuan pemeriksaan adalah untuk mengidentifikasi penyebab gejala, terutama bila berkaitan dengan kanker [4].

Laringoskopi

Laringoskopi adalah prosedur endoskopi lainnya yang dilakukan untuk memeriksa kondisi laring pada tenggorokan pasien [5].

Alat berukuran kecil disebut laringoskop akan dokter gunakan dengan memasukkannya ke tenggorokan pasien setelah memberi obat bius [5].

Melalui alat ini, dokter dapat mendiagnosa keluhan pasien yang biasanya berupa sakit tenggorokan, suara serak, batuk lama, batuk berdarah, sulit menelan, benjolan pada leher, dan gangguan saluran nafas [5].

Gastroskopi

Gastroskopi merupakan prosedur pemeriksaan bagian tenggorokan, perut serta daerah awal usus dua belas jari menggunakan endoskop (selang tipis yang sudah dilengkapi kamera dan pencahayaan berukuran kecil) [6].

Jika pasien memiliki keluhan pada pencernaannya (radang lambung atau perdarahan lambung), maka untuk mengidentifikasi penyebab, gastroskopi adalah prosedur yang tepat [6].

Endoskop akan dokter masukkan ke dalam tubuh pasien melalui mulut menuju area lambung untuk memulai pemeriksaan [6].

Sistoskopi

Sistoskopi merupakan prosedur pemeriksaan maupun pengobatan untuk gangguan kandung kemih dan saluran urine [7].

Alat bernama sistoskop berupa selang tipis fleksibel yang telah dilengkapi kamera dan lampu pada bagian ujungnya akan dokter gunakan untuk mengidentifikasi sebabnya [7].

Untuk proses pemeriksaan identifikasi penyebab, sistoskop fleksibel adalah yang digunakan; sementara untuk pengobatan penyakit saluran kemih, dokter memakai sistoskop kaku [7].

Kolonoskopi

Kolonoskopi merupakan tindakan pemeriksaan yang berfungsi sebagai pendeteksi luka, kanker dan polip di bagian rektum maupun usus besar [8].

Dokter akan mengawali prosedur dengan memberi obat bius ke tubuh pasien sebelum memasukkan kolonoskop (selang tipis fleksibel berkamera dan berlampu) melalui anus pasien [8].

Prosedur ini juga bisa dilakukan untuk mengambil sampel jaringan usus besar agar sampel segera dianalisa di laboratorium [8].

Artroskopi

Artroskopi merupakan prosedur pemeriksaan dengan memasukkan artroskop (alat berupa selang topis dilengkapi lampu dan kamera) setelah dokter membuat lubang sayatan pada bagian tubuh tertentu pasien [9].

Tujuan artroskopi adalah untuk mengidentifikasi kondisi gangguan sendi yang dialami pasien dan dapat pula mengatasi masalah sendi tersebut [9].

Sigmoidoskopi

Sigmoidoskopi adalah proses pemeriksaan untuk bagian kolon sigmoid, yakni bagian akhir usus yang berhubungan dengan anus serta rektum [10].

Sigmoidoskop (selang kecil dilengkapi lampu dan kamera) akan dokter gunakan dengan memasukkannya melalui bagian belakang anus pasien [10].

Alat ini kemudian dokter dorong supaya mencapai rektum serta kolon sigmoid pasien [10].

Metode pemeriksaan ini umumnya sebagai pendeteksi adanya gangguan pencernaan sekaligus pengidentifikasi sebabnya [10].

Prosedur ini tidak menyebabkan rasa sakit yang terlalu serius, namun pasien selama prosedur akan merasakan ketidaknyamanan [10].

Neuroendoskopi

Neuroendoskopi merupakan jenis endoskopi di mana dokter memasukkan endoskop ke bagian dalam tengkorak pasien lewat lubang kecil pada tulang tengkorak, mulut atau hidung pasien [2,11].

Tujuan neuroendoskopi adalah untuk memeriksa kondisi otak yang tak terdiagnosa melalui kraniotomi [11].

Keluhan pasien yang menunjukkan tanda-tanda tumor otak dapat diidentifikasi melalui neuroendoskopi dengan dokter mengambil sampel jaringan otak [11].

Neuroendoskopi juga dapat digunakan oleh dokter sebagai tindakan pengangkatan tumor apabila memang pasien terdiagnosis tumor otak [11].

Laparoskopi

Laparoskopi merupakan prosedur bedah yang dilakukan dokter dengan membuat sayatan kecil pada dinding perut pasien [12].

Dalam prosesnya, laparoskop adalah alat yang digunakan oleh dokter, yakni tabung tipis dilengkapi cahaya sekaligus kamera di ujungnya [12].

Laparoskopi adalah prosedur pemeriksaan dan pengobatan yang dokter akan terapkan tergantung kondisi pasien [12].

Pemeriksaan dengan laparoskopi biasanya bertujuan mengidentifikasi kelainan dalam organ perut maupun panggul pasien, termasuk juga untuk proses biopsi [12].

Esofagoskopi

Esofagoskopi adalah proses pemeriksaan yang menggunakan endoskop untuk memeriksa esofagus atau kerongkongan pasien [2,13].

Dokter baru dapat menemukan kelainan apa yang terjadi pada kerongkongan pasien dan mengidentifikasi penyebabnya [13].

Esofagoskopi pada kondisi tertentu juga dapat dokter gunakan untuk mengobati gangguan esofagus [13].

Kolposkopi

Kolposkopi merupakan metode pemeriksaan endoskopi pada bagian mulut rahim (serviks) atau vagina untuk mendeteksi adanya tumor atau kanker [2,14].

Selain kanker, pemeriksaan ini sering ditempuh oleh wanita apabila hasil pap smear kurang baik [14].

Tujuan kolposkopi juga adalah sebagai pendeteksi peradangan serviks dan kutil kelamin [14].

Dokter menggunakan kolposkop atau tabung/selang tipis berkamera dan dilengkapi cahaya melalui vagina yang terlebih dulu sudah diberi gel pelumas [14].

Untuk pengambilan gambar yang lebih jelas, dokter juga kemungkinan besar memberi asam asetat sehingga bagian abnormal pada tubuh pasien yang diperiksa bisa kelihatan detail [14].

Bronkoskopi

Bronkoskopi merupakan tindakan pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui dan memastikan adanya gangguan pada saluran nafas dan paru-paru pasien [15].

Dokter menggunakan bronkoskop (selang fleksibel tipis yang memiliki kamera serta lampu pada bagian ujung) dengan memasukkannya melalui hidung atau mulut pasien setelah pasien diberi obat bius [15].

Pemeriksaan ini dapat mendeteksi kanker paru, sumbatan paru, infeksi paru, dan kelainan lainnya [15].

Anoskopi

Anoskopi adalah jenis endoskopi yang dilakukan dokter untuk memeriksa gangguan di bagian saluran pencernaan, seperti anus dan rektum [2,16].

Selang tipis yang lentur dan berkamera akan dokter masukkan ke dalam tubuh pasien melalui anus menuju saluran pencernaan [16].

Dari pemeriksaan ini, dokter dapat mendeteksi berbagai masalah kesehatan seperti polip rektum, wasir, fisura ani, hingga tumor [16].

Persiapan Endoskopi

Karena endoskopi merupakan tindakan pemeriksaan dengan memasukkan alat khusus ke dalam tubuh pasien, pasien perlu mempersiapkan tubuh dengan baik [1,2].

Beberapa hal yang menjadi bagian dari persiapan endoskopi sesuai instruksi dokter antara lain adalah [1,2] :

  • Beberapa jam sebelum menjalani prosedur endoskopi, pasien tidak boleh makan atau minum apapun.
  • Beberapa hari sebelum menjalani prosedur endoskopi, pasien tidak boleh mengonsumsi obat apapun, terutama obat pengencer darah. Dengan demikian, risiko perdarahan internal bisa diminimalisir; tanyakan lebih detail kepada dokter mengenai obat apa saja yang sebaiknya tidak dikonsumsi sebelum endoskopi dan kapan obat tersebut boleh kembali dikonsumsi.
  • Untuk beberapa jenis endoskopi, perut harus dalam kondisi kosong sehingga pasien memerlukan laksatif atau obat pencahar sebagai bantuan dalam membersihkan isi usus. Konsultasikan mengenai hal ini lebih detail dengan dokter jika diperlukan.
  • Untuk beberapa jenis endoskopi, pasien perlu ke rumah sakit ditemani anggota keluarga atau teman. Ini karena beberapa metode endoskopi memerlukan obat bius dan pasien perlu diantar dan dijemput oleh kerabat atau teman setelah selesai endoskopi.

Prosedur Endoskopi

Berikut ini merupakan langkah prosedur endoskopi setelah dokter memberi obat bius atau obat penenang kepada pasien [1,2] :

  • Pasien perlu berbaring atau berada pada posisi tertentu sesuai dengan jenis endoskopi yang harus ditempuh.
  • Ketika pasien sudah rileks atau tertidur karena efek obat bius, dokter akan memasukkan endoskop melalui bagian tubuh tertentu pasien atau melalui sayatan yang dokter harus buat sesuai dengan jenis endoskopi yang ditempuh. Dokter akan secara perlahan memasukkan alat khusus berupa endoskop ini.
  • Setelah berada di dalam tubuh pasien, terutama di sekitar area organ yang diperiksa, dokter bisa melihat kondisi organ tersebut melalui gambar yang terekam kamera endoskop dan muncul pada monitor.
  • Pada proses endoskopi, dokter juga terkadang akan melakukan biopsi pada organ tubuh yang sedang diperiksa agar sampel jaringan bisa dianalisa di laboratorium dan hasil pemeriksaan lebih akurat.
  • Apabila sebelumnya dokter harus membuat sayatan pada kulit pasien, maka dokter akan menjahit saat sudah menyelesaikan proses endoskopi.
  • Secara keseluruhan, endoskopi hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit hingga 30 menit; ada pula yang lebih lama dan durasi pemeriksaan tergantung jenis endoskopi yang pasien jalani.

Perawatan Pasca Endoskopi

Jika dokter membuat sayatan untuk proses endoskopi tertentu lalu menjahitnya di akhir, pasien akan diminta menjaga luka bekas sayatan tetap bersih dan kering agar tidak kena infeksi [1,2].

Namun secara umum, usai endoskopi dokter meminta pasien beristirahat beberapa jam dan boleh pulang jika efek obat penenang atau obat bius sudah benar-benar hilang [1,2].

Untuk proses endoskopi yang dilakukan dengan memasukkan alat melalui kerongkongan, pasien sebaiknya mengonsumsi makanan bertekstur lembut sementara waktu agar meminimalisir rasa nyeri [1,2].

Ketika selesai menjalani sistoskopi buang air kecil masih disertai darah selama 24 jam kemudian, konsultasikan segera dengan dokter [1,2].

Risiko Endoskopi

Endoskopi sebenarnya adalah prosedur medis yang aman, baik sebagai prosedur pemeriksaan maupun pengobatan [1].

Namun, tetap terdapat beberapa risiko komplikasi atau efek samping yang berpotensi terjadi pada pasien sekalipun sangat jarang [1,2].

  • Nyeri dan tidak nyaman pada area organ yang diperiksa dengan endoskopi
  • Organ mengalami robekan
  • Infeksi (diikuti dengan demam)
  • Perdarahan
  • Bengkak dan kemerahan di bagian kulit yang disayat oleh dokter

1. Elaine K. Luo, M.D. & Brian Krans. Endoscopy. Healthline; 2018.
2. Cancer.Net Editorial Board. Types of Endoscopy. Cancer.Net; 2019.
3. The American Cancer Society medical and editorial content team. Thoracoscopy. American Cancer Society; 2019.
4. Cleveland Clinic medical professional. Proctoscopy (Rigid Sigmoidoscopy). Cleveland Clinic; 2020.
5. The American Cancer Society medical and editorial content team. Laryngoscopy. American Cancer Society; 2019.
6. National Health Service. Gastroscopy. National Health Service; 2021.
7. Joshua S. Engelsgjerd & Christopher M. Deibert. Cystoscopy. National Center for Biotechnology Information; 2021.
8. Clyde M. Stauffer & Christopher Pfeifer. Colonoscopy. National Center for Biotechnology Information; 2021.
9. R. N. Villar. Arthroscopy. British Medical Journal; 1994.
10. Cancer.Net Editorial Board. Sigmoidoscopy. Cancer.Net; 2020.
11. Kyu Won Shim, M.D., Ph.D., Eun Kyung Park, M.D., Dong-Seok Kim, M.D., Ph.D., & Joong-Uhn Choi, M.D., Ph.D.. Neuroendoscopy: Current and Future Perspectives. Journal of Korean Neurosurgical Society; 2017.
12. National Health Service. Laparoscopy (keyhole surgery). National Health Service; 2018.
13. Saurabh Sethi, M.D., MPH & Tim Jewell. Esophagoscopy. Healthline; 2018.
14. Danielle B. Cooper & Manjeet Goyal. Colposcopy. National Center for Biotechnology Information; 2021.
15. Naser Mahmoud; Rishik Vashisht; Devang Sanghavi; & Satish Kalanjeri. Bronchoscopy. National Center for Biotechnology Information; 2021.
16. Shawn London; Gilles J. Hoilat; & Matthew B. Tichauer. Anoscopy. National Center for Biotechnology Information; 2021.
17.

Share