Penyakit & Kelainan

7 Jenis Gangguan Pada Sistem Gerak

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Sistem gerak manusia dapat mengalami gangguan yang menyebabkan gerakan terjadi secara tak terkendali.

Ketika gerakan tubuh menjadi sulit untuk dikendalikan karena sering bergerak sendiri baik itu pada wajah, leher, hingga tubuh bagian bawah, hal ini bisa saja menandakan adanya gangguan sistem gerak.

Gangguan sistem gerak tubuh sendiri bermacam-macam, berikut ini adalah jenis-jenis gangguan yang dimaksud untuk lebih dikenali dan diwaspadai.

1. Tremor

Tremor merupakan kondisi yang paling kerap dijumpai, baik pada dewasa muda maupun pada lansia [4].

Tremor sendiri adalah gerakan tak terkendali namun beritme yang dapat terjadi pada beberapa bagian tubuh karena kontraksi otot sporadis [1,2,3,4].

Orang-orang dengan kondisi tubuh yang sangat kelelahan dan kadar gula darah yang rendah memiliki risiko lebih tinggi dalam mengalami tremor [1,2,3,4].

Begitu pula dengan orang-orang pecandu alkohol yang berhenti alkohol secara tiba-tiba; tremor juga rentan terjadi pada mereka [1,2,3,4].

Meski begitu, penderita penyakit serius seperti Parkinson, cedera kepala, hipertiroidisme, stroke hingga multiple sclerosis juga paling umum ditandai dengan tremor [1,2,3,4].

Tremor disebabkan oleh bagian otak tertentu yang mengalami gangguan, terutama bagian otak pengendali gerakan otot [1,2,3,4].

Berikut ini adalah sejumlah tanda adanya gangguan pada sistem gerak jenis tremor [1,4] :

  • Lengan, tangan, kepala dan tungkai mengalami gerakan gemetar yang tiba-tiba dan tak terkontrol.
  • Sulit memegang atau menggenggam suatu benda karena gemetar.
  • Sulit untuk melakukan kegiatan menggunakan tangan, kaki atau kepala karena gemetar.
  • Setiap bicara suara akan disertai getaran.

Ketika tremor ini dialami oleh orang-orang dengan usia yang belum mencapai 50 tahun dan tremor terjadi berulang, segera periksakan diri [1,2,3,4].

Umumnya, tremor dapat semakin buruk yang disertai dengan kesulitan berjalan dan bicara, detak jantung lebih cepat, dan kelemahan pada otot [1,2,3,4].

2. Atetosis

Atetosis adalah gerakan bergantian dalam bentuk menggeliat dan diam pada bagian tubuh tertentu [1,5,6].

Hanya saja, kaki dan tangan adalah bagian-bagian tubuh yang paling sering mengalami atetosis [1].

Disfungsi gerakan pada athetosis dapat berkelanjutan atau berulang dan lambat [1,5,6].

Selain kaki, lengan dan tangan, bagian tubuh lain yang juga bisa mengalaminya adalah wajah, leher dan lidah [1,5].

Gejala-gejala yang menunjukkan bahwa atetosis sedang terjadi antara lain adalah [5,6] :

  • Gerakan otot menggeliat yang lambat dan tak bisa dikendalikan
  • Ketidakmampuan untuk berdiri
  • Perubahan pada gerakan otot yang acak dan tak bisa diperkirakan
  • Ketidakmampuan untuk berjalan
  • Gerakan tubuh yang tidak terkendali akan semakin buruk
  • Postur yang coba diperbaiki dapat semakin buruk

Pada beberapa kasus, penderita atetosis yang misalnya mencoba untuk bicara dapat kemudian mengalami pergerakan otot berlebih di bagian lengan [1,6].

Atetosis adalah gejala dari penyakit tertentu di mana biasanya penderita stroke, keracunan obat, cerebral Palsy, jaundice, hingga penyakit Basal ganglia akan mengalaminya [6].

3. Tic

Tic adalah sebuah kondisi yang umumnya menjadi tanda penyakit sindrom Tourette [1,7].

Tic sendiri merupakan gerakan berulang yang tiba-tiba dan dapat terjadi pada sekelompok kecil maupun besar otot dalam tubuh [1,7].

Tic juga terbagi menjadi dua jenis kondisi, yakni kompleks dan sederhana [1].

Ketika seseorang menderita tic kompleks, salah satu contoh gerakan otot yang terjadi adalah lengan atau tangan yang dapat terkepak secara tiba-tiba dan berulang tanpa bisa dikendalikan [1].

Sementara pada kasus tic sederhana, gerakan jari terangkat atau bahu yang mengedik tiba-tiba dan berulang adalah contohnya [1].

Bila sindrom Tourette merupakan jenis penyakit yang ditandai dengan tic dan lebih rentan terjadi pada anak-anak, orang dewasa dapat mengalami tic sebagai tanda penyakit Parkinson [1,7].

Selain penyakit Parkinson, orang dewasa dengan keluhan tic dapat disebabkan oleh penggunaan methamphetamine atau karena cedera [1,7]

4. Mioklonus

Mioklonus adalah jenis gangguan sistem gerak berupa kelainan kontraksi otot [1,8].

Gerakan kontraksi otot pada mioklonus umumnya bersifat acak, singkat dan tidak akan disadari oleh penderitanya [1,8].

Kontraksi otot ini pun tampak seperti otot yang terkejut dan seringkali terjadi saat sedang terkejut atau selama sedang tidur [1,8].

Penderita dengan penyakit Alzheimer dan epilepsi parah akan mengalami mioklonus [1,8].

5. Tardive Dyskinesia

Tardive dyskinesia adalah gangguan sistem gerak yang tergolong sebagai gangguan saraf otak akibat penggunaan obat neuroleptik [1,9].

Neuroleptik adalah jenis obat yang diberikan kepada penderita sistem saraf dan gangguan mental [1,9].

Tardive dyskinesia biasanya menimbulkan gejala berupa gerakan tak terkontrol di beberapa bagian tubuh, khususnya mata, mulut, lidah, namun bagian tubuh lain juga bisa mengalaminya [1,9].

Secara tak sadar, gerakan-gerakan di bawah ini dialami pada kasus tardive dyskinesia [1,9] :

  • Menggoyang-goyangkan panggul
  • Mengedip-kedipkan mata
  • Menjulurkan lidah
  • Meringis
  • Menyeringai
  • Mengunyah
  • Mengecapkan bibir
  • Menggerakkan bahu
  • Memutar leher
  • Mengetukkan jari

Gejala berkembang secara bertahap menjadi semakin serius hingga penderitanya sulit menelan, sulit makan, dan sulit bicara.

Ketika stres, gejala yang dialami penderita akan semakin berat namun akan mereda sewaktu tidur [9].

6. Ataksia

Ataksia merupakan kondisi gangguan saraf di mana otak serta sistem koordinasi dan keseimbangan tubuh mengalami masalah sehingga penderita akan sulit berjalan, menelan, berbicara, dan sulit mengontrol gerakan sadar apapun [2,10].

Penderita dalam hal ini rentan mengalami gerakan tubuh yang tidak terkoordinasi dengan baik hingga gangguan emosi dan cara berpikir [2,10].

7. Distonia

Distonia merupakan sebuah gangguan sistem gerak berupa pergerakan otot tak terkendali tanpa sadar [2,11,12].

Penderitanya memiliki tanda postur tubuh yang tak biasa dan sering tremor [2,12].

Salah satu bagian tubuh atau seluruh tubuh mampu mengalami gerakan otot tak normal ini [2,12].

Gejala-gejala yang ditimbulkan oleh distonia adalah [2,11,12 :

  • Otot kram
  • Kedutan
  • Mata berkedip secara tak terkendali
  • Kesulitan menelan
  • Kesulitan bicara
  • Postur tubuh yang tidak biasa, salah satu contohnya adalah tortikolis (leher miring)

Jenis gangguan sistem gerak sangat bervariasi dan penanganannya akan disesuaikan dengan jenis dan tingkat keparahan gejala.

Pemberian obat agar gerakan otot terkontrol serta aktivitas fisik untuk meningkatkan koordinasi tubuh adalah penanganan umum untuk gangguan sistem gerak.

Namun jika sudah tergolong parah, ada kalanya penderita perlu menempuh operasi tertentu sesuai penyebab gangguan.

1. Seunggu Han, M.D. & Krista O'Connell. What You Should Know About Involuntary Movements. Healthline; 2019.
2. Johns Hopkins Medicine. Types of Movement Disorders We Treat. Johns Hopkins Medicine; 2021.
3. Andreas Puschmann, M.D. & Zbigniew K. Wszolek, M.D. Diagnosis and Treatment of Common Forms of Tremor. HHS Public Access; 2012.
4. Shashank Agarwal & Milton C. Biagioni. Essential Tremor. National Center for Biotechnology Information; 2021.
5. Douglas J. Lanska. Early Controversies over Athetosis: I. Clinical Features, Differentiation from other Movement Disorders, Associated Conditions, and Pathology. Tremor and Other Hyperkinetic Movements; 2013.
6. T Yokoyama & H Ryu, K Uemura. Athetosis. Nihon Rinsho; 1993.
7. Shivam Om Mittal, MD. Tics and Tourette’s syndrome. Drugs in Context; 2020.
8. Wael Ibrahim; Nowera Zafar; & Sandeep Sharma. Myoclonus. National Center for Biotechnology Information; 2021.
9. Sarayu Vasan & Ranjit K. Padhy. Tardive Dyskinesia. National Center for Biotechnology Information; 2021.
10. Sumaiya Hafiz & Orlando De Jesus. Ataxia. National Center for Biotechnology Information; 2021.
11. H. A. Jinnah, M.D., Ph.D. Diagnosis & Treatment of Dystonia. HHS Public Access; 2016.
12. Angela Pana & Babar M. Saggu. Dystonia. National Center for Biotechnology Information; 2020.

Share