Penyakit & Kelainan

Kanker Hipofaring : Penyebab – Gejala dan Pengobatan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Apa Itu Kanker Hipofaring?

Kanker hipofaring adalah salah satu jenis kanker kepala leher di mana kanker menyerang bagian bawah tenggorokan [1,2,3,7,8].

Kanker hipofaring adalah sebuah kondisi ketika sel-sel ganas dan bersifat abnormal timbul dan tumbuh di jaringan hipofaring.

Apa itu hipofaring?

Hipofaring sendiri adalah bagian bawah tenggorokan yang lebih tepatnya terletak di bawah orofaring dan di belakang laring [8].

Pada hipofaring, terdapat tabung berongga sepanjang 12 cm atau sekitar 5 inci dan berstruktur memanjang dari tulang hioid hingga kartilago krikoid.

Faring ini sendiri memiliki fungsi sebagai saluran tempat dilaluinya makanan dan juga udara menuju esofagus atau kotak suara.

Hipofaring juga merupakan sebuah kombinasi antara tiga sub-bagian, yaitu dinding posterior, sinus piriformis, dan area krikoid posterior.

Tinjauan
Kanker hipofaring adalah sebuah kondisi kanker yang menyerang bagian bawah tenggorokan. Kanker hipofaring juga diketahui tergolong sebagai jenis kanker kepala leher.

Fakta Tentang Kanker Hipofaring

  1. Kanker hipofaring adalah jenis kanker leher dan kepala yang sangat langka karena di Amerika Serikat sendiri saja per tahunnya hanya terdapat sekitar 2.500 kasus [1].
  2. Risiko metastasis atau penyebaran kanker ke organ tubuh lainnya cukup tinggi dengan persentase kasus sebesar 50-70% [2].
  3. Rata-rata pasien dengan kanker hipofaring pada saat diagnosa sudah berada pada stadium 3 [2].
  4. Prevalensi penderita kanker hipofaring yang mampu bertahan hidup selama 5 tahun adalah 32% [3].
  5. Untuk kasus kanker hipofaring yang terdiagnosis masih dalam stadium awal, persentase pasien dapat bertahan hidup selama 5 tahun adalah sebesar 59% [3].
  6. Pada kasus kanker yang telah menyebar hingga jaringan sekitar dan kelenjar getah bening, persentase pasien dapat bertahan hidup selama 5 tahun adalah 33% [3].
  7. Di Indonesia, tumor atau kanker kepala leher di mana kanker hipofaring adalah salah satunya merupakan gangguan kesehatan yang persentase kematiannya tinggi [4].
  8. Menurut hasil penelitian deskriptif dari rekam medis penderita tumor ganas kepala leher tahun 2010-2014 di Departemen THT-KL, Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung, pengambilan sampling total menunjukkan bahwa persentase kasus kanker hipofaring adalah sebesar 2,5% [4].

Penyebab Kanker Hipofaring

Penyebab kanker hipofaring hingga kini belum diketahui pasti penyebab utamanya, namun terdapat sejumlah faktor yang mampu meningkatkan risiko kanker ini, yaitu :

  • Kebiasaan Merokok

Kebiasaan merokok atau bahkan sekedar mengunyah tembakau dapat menjadi salah satu faktor yang menyebabkan terbentuknya sel-sel abnormal pada jaringan hipofaring [2,3,5].

Tidak hanya kanker hipofaring, kebiasaan merokok pun berbahaya karena mampu meningkatkan risiko kanker tenggorokan, kanker mulut, kanker lidah, hingga kanker paru-paru.

Konsumsi alkohol berlebihan dapat menjadi salah satu sebab seseorang mudah mengalami kanker hipofaring [2,5].

  • Kondisi Medis Tertentu

Pada beberapa kasus kanker hipofaring, sindrom Plummer-Vinson perlu diwaspadai sebagai faktor pemicu [2,6].

Sindrom Plummer-Vinson adalah kondisi yang ditandai dengan disfagia dan anemia jangka panjang sehingga penderitanya rentan mengalami cepat lelah, tubuh lemah, dan kulit pucat.

  • Kurangnya Nutrisi

Diet yang tidak sehat sehingga menimbulkan kurangnya nutrisi mampu berdampak pada timbulnya kanker, khususnya kanker hipofaring [2,7].

Oleh sebab itu, pemenuhan nutrisi yang seimbang adalah suatu cara meminimalisir risiko kanker hipofaring.

Tinjauan
Penyebab utama kanker hipofaring belum jelas diketahui, namun beberapa faktor peningkat risikonya antara lain adalah kebiasaan merokok, penyalahgunaan alkohol / konsumsi alkohol secara berlebihan, sindrom Plummer-Vinson, dan kurangnya nutrisi.

Gejala Kanker Hipofaring

Gejala-gejala yang ditimbulkan oleh kondisi kanker hipofaring umumnya meliputi [2,7] :

  • Perubahan suara
  • Tenggorokan terasa sakit dan rasa sakitnya tak kunjung membaik
  • Sulit menelan
  • Ketika digunakan menelan akan terasa sakit
  • Benjolan pada bagian leher
  • Nyeri pada telinga

Kapan sebaiknya memeriksakan diri ke dokter?

Bila timbul benjolan mencurigakan di area bawah leher ditambah dengan beberapa gejala lain yang telah disebutkan di atas, segera ke dokter.

Sakit tenggorokan yang tidak kunjung sembuh kemungkinan bukan sakit tenggorokan biasa sehingga perlu dideteksi penyebabnya.

Semakin dini terdeteksi, tumor akan semakin cepat dan mudah ditangani, terutama karena ukurannya yang belum terlalu besar.

Pemeriksaan Kanker Hipofaring

Ketika memeriksakan diri ke dokter, terdapat beberapa metode diagnosa yang umumnya dokter terapkan, yakni :

  • Pemeriksaan Fisik

Seperti pada umumnya, dokter akan mengawali pemeriksaan dengan pemeriksaan fisik, terutama di bagian tenggorokan [2,7,8].

Dokter perlu menyentuh bagian leher pasien untuk mengetahui apakah kelenjar getah bening membengkak.

Setelah itu, dokter juga berkemungkinan menggunakan cermin kecil dengan gagang panjang agar dapat mengecek bagian dalam tenggorokan.

Dari pemeriksaan menggunakan cermin tersebut akan lebih mudah mendeteksi keberadaan area abnormal di dalam tenggorokan pasien.

  • Endoskopi

Endoskopi adalah sebuah tindakan pemeriksaan untuk dokter mengecek kondisi organ tubuh pasien menggunakan endoskop [2,7,8].

Endoskop sendiri adalah alat menyerupai selang namun telah dilengkapi kamera kecil di bagian ujung.

Karena fleksibel atau lentur, selang yang sudah terhubung dengan monitor dapat dimasukkan ke dalam tubuh pasien untuk memeriksanya.

Dokter memasukkan endoskop ke dalam tubuh pasien lewat rongga-rongga tubuh seperti anus, hidung atau mulut.

Selain itu, kemungkinan dokter akan melakukan insisi atau membuat sayatan pada kulit pasien untuk jalan masuknya endoskopi.

Hasil gambar kondisi organ pasien terproyeksikan ke monitor sehingga dokter mampu melihat secara jelas.

Prosedur MRI scan adalah jenis metode tes pemindaian dengan memanfaatkan energi gelombang radio dan medan magnet supaya gambar organ dapat dihasilkan dengan jelas [2,7,8].

Pasien gejala kanker hipofaring selama prosedur ini diminta untuk berbaring di atas sebuah mesin yang dilengkapi dengan magnet kuat.

Ketika pemeriksaan dilakukan, gambar organ tubuh pasien yang terpindai akan keluar dalam bentuk foto digital sehingga dokter bisa menyimpannya di komputer.

Gambar hasil pemeriksaan juga dapat dicetak supaya dokter bisa menganalisanya lebih jauh.

CT scan merupakan jenis tes pemindaian lainnya di mana prosedur ini mengombinasikan sistem komputer khusus dengan teknologi rontgen [2,7,8].

Tujuan CT scan adalah supaya dokter dapat mengetahui kondisi dalam tubuh pasien secara detail karena pemeriksaan dilakukan dari berbagai potongan dan sudut.

Dibandingkan dengan foto rontgen biasa, kualitas hasil pemeriksaan CT scan lebih baik.

CT scan untuk diagnosa kanker hipofaring juga merupakan prosedur yang cepat sekaligus aman tanpa menimbulkan rasa tidak nyaman atau sakit pada pasiennya.

  • Esofagoskopi

Esofagoskopi adalah prosedur pemeriksaan untuk mendeteksi adanya kondisi abnormal pada esofagus (kerongkongan) [7,8].

Dokter dalam hal ini akan menggunakan esofagoskop atau selang ringan tipis yang dimasukkan ke mulut pasien lebih dulu lalu turun ke tenggorokan menuju esofagus.

  • PET Scan

Prosedur pemeriksaan ini juga merupakan bentuk tes pemindaian yang bertujuan memeriksa tingkat aktivitas metabolisme jaringan tubuh pasien [2,7,8].

PET scan biasanya direkomendasikan oleh dokter agar seluruh bagian tubuh pasien dapat diperiksa, khususnya jaringan hipermetabolik yang kerap berkaitan dengan infeksi maupun kanker.

Pada prosedur esofagoskopi, biasanya sampel jaringan juga akan diambil (biopsi) oleh dokter untuk analisa lebih lanjut [2,7,8].

Dokter membutuhkan sampel jaringan hipofaring atau esofagus pada tubuh pasien untuk diperiksa di bawah mikroskop untuk mengidentifikasi keberadaan tumor.

Tinjauan
Pemeriksaan fisik, endoskopi, tes pemindaian (MRI scan, CT scan, dan PET scan), esofagoskopi dan biopsi adalah beberapa metode diagnosa yang umumnya digunakan oleh dokter untuk mengonfirmasi kanker hipofaring serta menentukan pengobatan yang sesuai.

Stadium Kanker Hipofaring

Tahap atau stadium kanker hipofaring terdiri dari lima jenis kondisi, yaitu [2,7,8] :

Stadium 0

Pada tahap ini, kanker hanya berada di lapisan hipofaring namun belum menyebar sampai ke kelenjar getah bening.

Stadium 1

Terbentuknya tumor adalah di hipofaring dengan ukuran ½ inci atau sekitar 2 cm kurang; tumbuhnya tumor juga belum menyebar hingga ke kelenjar getah bening.

Stadium 2

Tumor berukuran lebih dari 2 cm namun tidak sampai 4 cm.

Tumor pada stadium ini juga belum menyebar luas hingga ke laring.

Hanya saja, ada kemungkinan bahwa tumor di tahap ini sudah ada di lebih dari satu area hipofaring maupun jaringan terdekat meski belum menyerang kelenjar getah bening.

Stadium 3

Tumor pada stadium ini dapat berukuran berapapun namun tetap berada di area tenggorokan.

Meski demikian, di stadium lanjut ini kanker kemungkinan besar telah menyebar hingga kelenjar getah bening tunggal di sisi leher yang sama.

Stadium 4

Stadium 4 kanker hipofaring terbagi menjadi tiga jenis kondisi lainnya, yaitu :

Stadium 4A dan 4B

Pada kedua stadium ini, tumor telah semakin besar ukurannya dan menyebar hingga kelenjar getah bening, faring dan juga jaringan lunak di sekitarnya.

Pada tahap ini, kelenjar tiroid, laring, atau arteri karotid adalah jaringan lunak di sekitar faring yang dimaksud.

Stadium 4C

Pada stadium ini, kanker hipofaring sudah tergolong sangat parah dan menyebar secara lebih luas.

Kanker sudah tidak lagi hanya berada di hipofaring, tapi telah menyebar sampai di luar hipofaring dan juga organ-organ penting lainnya.

Tinjauan
Terdapat lima tahap atau stadium kondisi kanker hipofaring menurut perkembangan tumor dan tingkat penyebarannya ke organ lain, yaitu stadium 0, stadium 1, stadium 2, stadium 3, dan stadium 4. Stadium 4 masih terbagi lagi menjadi tiga kondisi, yaitu stadium 4A, stadium 4B, dan stadium 4C.

Pengobatan Kanker Hipofaring

Penanganan kanker hipofaring tergantung dari stadium kanker yang dialami oleh pasien.

Menurut stadium atau tahap kondisi, berikut ini adalah metode-metode pengobatan yang diperlukan oleh pasien.

  • Pengobatan Kanker Hipofaring Stadium 1

Faringektomi adalah penanganan kanker hipofaring yang masih berada pada tahap awal [2,7,8].

Prosedur bedah ini adalah untuk mengangkat sebagian area faring.

Operasi ini juga bertujuan mengangkat kelenjar getah bening serta jaringan-jaringan lain pada bagian leher yang sudah terkena pertumbuhan tumor.

Selain faringektomi, terapi radiasi adalah metode penanganan yang juga dibutuhkan oleh pasien bila kanker sudah sampai pada kelenjar getah bening [2,8,10].

  • Pengobatan Kanker Hipofaring Stadium 2

Kanker hipofaring stadium 2 memerlukan penanganan berupa laringofaringektomi [2,7,8,11].

Prosedur bedah ini bertujuan untuk mengangkat faring dan laring.

Prosedur bedah juga dilakukan untuk mengangkat kelenjar getah bening maupun jaringan pada leher yang telah terserang tumor.

Terapi radiasi adalah metode penanganan lainnya yang diperlukan pasca operasi untuk membasmi sisa-sisa kanker terutama pada kelenjar getah bening [8,10].

Kemoterapi juga diperlukan selama pasien menjalani terapi radiasi dengan tujuan yang sama dengan terapi radiasi [2,7,8,12].

  • Pengobatan Kanker Hipofaring Stadium 3 dan 4

Operasi pengangkatan kanker hingga jaringan organ yang telah terkena kanker adalah pengobatan utama yang biasanya dokter rekomendasikan kepada pasien [2,7,8,9,10,11].

Namun setelah operasi, terdapat berbagai pilihan penanganan yang disesuaikan dengan kebutuhan kondisi pasien.

Terapi radiasi dapat ditempuh oleh pasien baik sebelum maupun sesudah operasi, baik disertai kemoterapi maupun tidak [8,10].

Bahkan kemoterapi adalah bentuk penanganan kanker hipofaring yang bisa diikuti dengan prosedur bedah dan/atau terapi radiasi [8].

Pasien bahkan dapat menjalani terapi radiasi dan kemoterapi di saat yang sama, termasuk setelah operasi.

Pada kasus kanker hipofaring stadium 3 dan 4, operasi rekonstruktif dapat dilakukan jika pasien membutuhkannya [2,7,8,9].

Prosedur bedah ini direkomendasikan oleh dokter apabila sebagian atau seluruh hipofaring pasien telah diangkat.

Operasi rekonstruktif ini dapat ditempuh oleh pasien untuk membantu aktivitas berbicara, bernapas dan juga makan [8].

Tinjauan
Penanganan kanker hipofaring akan disesuaikan dengan tahap atau stadium kanker yang dialami pasien. Operasi pengangkatan laring dan/atau faring sebagian atau menyeluruh akan direkomendasikan oleh dokter sesuai kondisi pasien. Terapi radiasi, kemoterapi dan operasi rekonstruktif adalah metode penanganan lainnya untuk kanker hipofaring.

Komplikasi Kanker Hipofaring

Risiko komplikasi kanker hipofaring adalah metastasis atau penyebaran kanker secara luas hingga ke organ-organ tubuh lainnya [2,4,7].

Tumbuh kembalinya kanker bahkan usai pasien menjalani operasi juga merupakan salah satu risiko komplikasi yang perlu diwaspadai.

Untuk itu, pasien diharapkan tetap berkonsultasi rutin ke dokter agar pemantauan kondisi tetap bisa dilakukan oleh dokter.

Bila kanker hipofaring tidak mendapatkan penanganan yang tepat dan cepat, metastasis kanker ganas dapat terjadi dan mengakibatkan kematian [13].

Pencegahan Kanker Hipofaring

Pencegahan kanker hipofaring dapat dilakukan dengan menjaga gaya hidup tetap baik, sehat dan seimbang.

Menghindari faktor-faktor risikonya adalah cara meminimalisir kanker hipofaring yang sangat dianjurkan, seperti [14] :

  • Berhenti dari kebiasaan merokok dan tidak menjadi perokok pasif (menghindari asap rokok).
  • Menjalani pola diet sehat dengan memenuhi kebutuhan tubuh terhadap nutrisi lengkap dan seimbang.
  • Menghindari konsumsi alkohol secara berlebihan.
  • Mengatasi penyakit tertentu yang mampu meningkatkan risiko kanker hipofaring, seperti halnya menangani sindrom Plummer-Vinson.
  • Mengecek kesehatan menyeluruh secara rutin ke dokter adalah upaya meminimalisir risiko tumbuhnya tumor tanpa disadari.
Tinjauan
Upaya pencegahan untuk kasus kanker hipofaring dapat dilakukan dengan menghindari berbagai faktor pemicunya, yaitu melalui gaya hidup sehat dan pengecekan kesehatan secara rutin.

1. Anonim. Laryngeal and Hypopharyngeal Cancer. Brigham and Women's Faulkner Hospital; 2020.
2. Harry Quon, MD, FRCPC, David Goldenberg, MD, FACS, Francisco Talavera, PharmD, PhD, & Arlen D Meyers, MD, MBA. Hypopharyngeal Cancer. Medscape; 2019.
3. Anonim. Laryngeal and Hypopharyngeal Cancer: Statistics. Cancer.Net; 2020.
4. Muhammad Syah Mirza Sabirin, Agung Dinasti Permana & Bogi Soeseno. Epidemiologi Penderita Tumor Ganas Kepala Leher di Departemen Telinga Hidung Tenggorokan - Kepala Leher Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung, Indonesia, Periode 2010–2014. CORE; 2020.
5. G Menvielle, D Luce, P Goldberg, I Bugel, & A Leclerc. Smoking, alcohol drinking and cancer risk for various sites of the larynx and hypopharynx. A case-control study in France. European Journal of Cancer Prevention; 2004.
6. Gottfried Novacek. Plummer-Vinson syndrome. Orphanet Journal of Rare Diseases; 2006.
7. P Pracy, S Loughran, J Good, S Parmar, & R Goranova. Hypopharyngeal cancer: United Kingdom National Multidisciplinary Guidelines. The Journal of Laryngology and Otology; 2016.
8. Cleveland Clinic medical professional. Hypopharyngeal Cancer: Diagnosis and Tests. Cleveland Clinic; 2017.
9. F. Mura, G. Bertino, A. Occhini, & M. Benazzo. Surgical treatment of hypopharyngeal cancer: a review of the literature and proposal for a decisional flow-chart. Acta Otorhinolaryngologica Italica; 2013.
10. Yi‐Jun Kim & Rena Lee. Surgery vs. radiotherapy for locally advanced hypopharyngeal cancer in the contemporary era: A population‐based study. Cancer Medicine; 2018.
11. Robert P Takes, Primož Strojan, Carl E Silver, Patrick J Bradley, Missak Haigentz Jr, Gregory T Wolf, Ashok R Shaha, Dana M Hartl, Jan Olofsson, Johannes A Langendijk, Alessandra Rinaldo, Alfio Ferlito, & International Head and Neck Scientific Group. Current trends in initial management of hypopharyngeal cancer: the declining use of open surgery. Head & Neck; 2012.
12. Naoyuki Kohno. The role of chemotherapy for advanced oro and hypopharyngeal cancer. Auris, Nasus, Larynx; 2004.
13. Masaru Tateda, Kiyoto Shiga, Humiaki Yoshida, Shigeru Saijo, Jyunkichi Yokoyama, Hitoshi Nishikawa, Yukinori Asada, Kazuto Matsuura, & Toshimitu Kobayashi. Management of the patients with hypopharyngeal cancer: eight-year experience of Miyagi Cancer Center in Japan. The Tohoku Journal of Experimental Medicine; 2005.
14. Manuela Marron, Paolo Boffetta, Zuo-Feng Zhang, David Zaridze, Victor Wünsch-Filho, Deborah M Winn, Qingyi Wei, Renato Talamini, Neonila Szeszenia-Dabrowska, Erich M Sturgis, Elaine Smith, Stephen M Schwartz, Peter Rudnai, Mark P Purdue, Andrew F Olshan, Jose Eluf-Neto, Joshua Muscat, Hal Morgenstern, Ana Menezes, Michael McClean, Elena Matos, Ioan Nicolae Mates, Jolanta Lissowska, Fabio Levi, Philip Lazarus, Carlo La Vecchia, Sergio Koifman, Karl Kelsey, Rolando Herrero, Richard B Hayes, Silvia Franceschi, Leticia Fernandez, Eleonora Fabianova, Alexander W Daudt, Luigino Dal Maso, Maria Paula Curado, Gabriella Cadoni, Chu Chen, Xavier Castellsague, Stefania Boccia, Simone Benhamou, Gilles Ferro, Julien Berthiller, Paul Brennan, Henrik Møller, & Mia Hashibe. Cessation of alcohol drinking, tobacco smoking and the reversal of head and neck cancer risk. International Journal of Epidemiology; 2010.

Share