Penyakit & Kelainan

Parasomnia : Jenis – Gejala dan Penanganan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Apa Itu Parasomnia?

Parasomnia adalah istilah untuk gangguan tidur disebabkan oleh episode abnormal ketika tidur, seperti mimpi buruk (nightmare), berbicara saat tidur, atau juga berjalan saat tidur [1,2,3,5,8,9].

Meski parasomnia adalah kondisi gangguan tidur yang tergolong sangat umum, penderitanya dapat mengalami penurunan kualitas tidur karenanya.

Tak hanya diri penderita yang dirugikan, orang-orang di sekitarnya pun akan ikut terganggu oleh perilaku parasomnia.

Parasomnia adalah gangguan tidur yang membahayakan penderitanya karena saat kondisi ini terjadi, penderita sama sekali tidak dalam keadaan sadar terhadap lingkungan sekitarnya.

Walau berbahaya, parasomnia adalah jenis gangguan tidur yang dapat diatasi.

Tahapan Tidur

Sebelum mengenal jenis-jenis parasomnia, kenali lebih dulu beberapa tingkat tahapan tidur, mulai dari NREM atau gerakan mata lambat atau NREM (non-rapid eye movement) dan tidur gerakan mata cepat atau REM (rapid eye movement).

Sebelum benar-benar memasuki REM (rapid eye movement), seseorang mengalami yang namanya tidur ringan dan tidur nyenyak yang masuk dalam tingkat tahapan NREM.

Dari tidur ringan dan tidur nyenyak tersebut, barulah seseorang masuk ke tahap REM dengan ciri sebagai berikut :

  • Sulit dibangunkan ketika pada tahap tidur nyenyak NREM.
  • Bermimpi aktif.
  • Ketidakteraturan pada gerakan otot perifer.
  • Peningkatan sekresi gaster dan metabolisme disertai dengan tertutup dan terbukanya mata dengan cepat.
  • Pada tahap tidur nyenyak, tonus otot dalam kondisi tertekan.
Tinjauan
Parasomnia adalah jenis gangguan tidur yang meliputi episode-episode yang tak normal selama tidur, mulai dari berbicara atau berjalan hingga mengemudi saat tidur, sampai halusinasi dan gangguan makan.

Jenis-jenis Parasomnia

Parasomnia memiliki beberapa jenis kondisi yang dapat terjadi pada tengah malam atau bahkan ketika tidur dengan gerakan mata yang lambat (non-rapid eye movement).

Berikut ini adalah beberapa jenis kondisi parasomnia yang paling umum terjadi :

Sleep Talking

Somniloquy adalah jenis parasomnia yang tergolong sangat umum dan biasanya terjadi di saat sudah tertidur atau pada waktu transisi dari kondisi terjaga ke proses NREM atau non-rapid eye movement [1,2,4,5].

Pada kondisi sleep talking, seseorang dapat mengigau atau meracau tak jelas hingga bicara secara penuh dan jelas.

Penderita gangguan tidur berupa sleep talking terutama yang terjadi di awal tidur biasanya pembicaraannya jauh lebih mudah dipahami.

Bruxism atau Menggeretakkan Gigi

Bruxism atau menggeretakkan/mengerat gigi selama tidur adalah salah satu bentuk parasomnia yang dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan mulut hingga telinga [3,4].

Ketika seseorang mengalami hal ini, gigi dapat mengalami nyeri dan bahkan tingkat sensitivitasnya akan bertambah.

Selain itu, bruxism mampu berakibat pada timbulnya nyeri pada telinga, leher, rahang, hingga seluruh wajah.

Gangguan Perilaku Tidur REM

Jenis parasomnia lainnya adalah RBD (REM sleep behavior disorder) atau gangguan perilaku tidur REM di mana penderitanya mengalami mimpi yang teramat nyata dan bahkan berperan di dalamnya [1,2,3,4,5].

Hanya saja, RBD ini berbeda dari sleep terror dan tidur berjalan karena penderitanya pada saat itu mengalami kebingungan dan tidak akan ingat terhadap mimpi yang dimilikinya.

Sedangkan pada kasus RBD, biasanya penderita justru mengingat mimpi yang dialami dan bahkan bangun dengan lebih mudah dibandingkan kedua jenis kondisi lainnya.

Beberapa aksi atau perilaku tidur yang dapat dialami seseorang adalah menendang, berteriak, meninju, melompat, hingga mencengkeram.

Gangguan Makan Terkait Tidur

Pada parasomnia jenis ini, seseorang akan mengalami binge eating dan binge drinking selama masa tidur non-REM sehingga kemungkinan penderita masih sadar penuh atau setengah sadar [1,2,3].

Beberapa episode binge eating dapat terjadi berulang dengan beberapa tanda perilaku yang spesifik seperti :

  • Mengonsumsi makanan beracun.
  • Mengonsumsi makanan mentah (termasuk daging mentah)
  • Makan dan minum secara cepat
  • Mengonsumsi makanan pada umumnya seperti mentega atau kombinasi makanan

Confusional Arousal / Kebingungan

Parasomnia jenis ini adalah ketika seseorang berada pada tahap sangat bingung ketika terjaga dan sulit dalam memahami keberadaannya dan apa yang tengah dilakukan [1,2,3,4,5].

Beberapa perilaku spesifik terkait dengan parasomnia ini adalah :

  • Reaksi lambat
  • Menangis
  • Daya ingat yang buruk
  • Bicara sangat lambat

Night Terror / Teror Malam

Teror malam atau teror tidur yang juga dikenal dengan istilah night terror/sleep terror dapat menyebabkan penderitanya terjaga dalam kondisi terkejut sekaligus ngeri [1,2,3,4,5].

Parasomnia jenis ini dapat menyebabkan penderita berteriak dan menangis.

Selain itu, gejala yang dapat terjadi saat teror malam terjadi adalah penderita berkeringat lebih banyak dan detak jantung sangat cepat.

Teror malam atau teror tidur berbeda dari mimpi buruk karena penderita sama sekali tidak bermimpi atau hanya bermimpi sedikit.

Sementara itu, terjadinya teror malam rata-rata adalah pada waktu tidur non-REM.

Mimpi Buruk / Nightmares

Gangguan tidur ini terjadi dalam bentuk mimpi yang intens dan menyebabkan penderita mengalami rasa takut, cemas dan marah di waktu yang sama [1,2,3,4,5].

Bila seseorang mengalampi mimpi buruk yang terlampau sering, maka kondisi ini sudah tergolong sebagai gangguan mimpi buruk atau nightmare disorder.

Jenis parasomnia satu ini membuat penderitanya sulit untuk kembali tidur karena khawatir bahwa nantinya akan timbul mimpi buruk lagi.

Jenis parasomnia ini meliputi beberapa mimpi buruk dalam satu malam sehingga berpotensi membuat penderita enggan melanjutkan tidurnya.

Catathrenia

Catathrenia merupakan sebuah kondisi di mana seseorang mengeluh atau mengerang dengan suara keras ketika tidur [1,3].

Hal ini cenderung lebih mudah timbul ketika penderita mengambil dan mengembuskan napas dalam-dalam.

Erangan yang keluar saat tidur dapat berupa senandung keras, raungan, hingga suara pecah namun dalam nada tinggi.

Kerap disalahartikan sebagai kondisi mendengkur, mengerang adalah jenis kondisi yang berbeda karena tidak ada kaitannya dengan masalah pernapasan.

Sleepwalking / Tidur Berjalan

Somnambulisme atau sleepwalking adalah sebuah kondisi ketika seseorang berjalan ketika tidur [1,2,3,4,5].

Jenis parasomnia ini tergolong umum dan dapat meliputi jenis parasomnia lain seperti tidur berbicara hingga tidur namun sambil melakukan aktivitas normal.

Tidur berjalan biasanya terjadi di awal tidur seseorang, baik itu di malam hari atau ketika sekedar tidur siang.

Enuresis Nokturnal

Jenis parasomnia satu ini juga dikenal dengan istilah mengompol atau buang air kecil secara tak sadar saat sedang tidur [1,2,3].

Meski kondisi ini paling umum terjadi pada anak-anak, khususnya usia balita, orang dewasa pun ada yang mengalami hal serupa.

Pada beberapa kasus enuresis nokturnal, tidak terdapat kondisi medis lain yang menyertai, namun pada sebagian kasus lain, infeksi saluran kencing menjadi salah satu masalah yang berkaitan.

Halusinasi Terkait Tidur

Halusinasi pada jenis parasomnia ini membuat penderitanya mendengar, merasakan, hingga melihat hal-hal yang dianggap nyata padahal tidak nyata [1,2,3,4].

Yang membuat kondisi ini terkait dengan tidur adalah karena halusinasi terjadi saat seseorang baru tertidur atau baru saja terjaga.

Sleep Driving / Tidur Mengemudi

Jenis parasomnia satu ini lebih jarang dijumpai daripada jenis parasomnia lainnya, namun tetap menjadi hal yang mungkin mengemudi saat sedang tidur [1,3].

Parasomnia ini termasuk bentuk tidur berjalan namun dengan tingkat bahaya yang sangat tinggi dan mampu mengancam jiwa [3].

Menggaruk Terkait Tidur

Pada kondisi parasomnia ini, penderita secara tak sadar menggaruk keras-keras kulitnya [6].

Bukan garukan biasa, penderita setiap bangun berpotensi mendapati luka atau goresan di kulit yang ia garuk.

Sleep Texting

Sleep texting adalah sebuah kondisi parasomnia di mana penderitanya secara tak sadar mengirim pesan melalui ponsel [7].

Hal ini dapat terjadi ketika penderita sedang dalam kondisi tidur.

Exploding Head Syndrome

Sindrom ini merupakan jenis parasomnia ketika seseorang baru saja akan terlelap atau baru terjaga namun timbul imajinasi adanya suara yang sangat keras secara tiba-tiba [1,2,3,4].

Ini menjadi alasan mengapa kondisi ini disebut dengan sindrom kepala meledak.

Sexsomnia

Penderita jenis parasomnia ini melakukan perilaku seksual saat sedang tidur [1,2,3,4].

Hal ini sama seperti jenis parasomnia kebanyakan, yaitu dilakukan oleh penderita dalam kondisi tidak sadar.

Risiko sexsomnia jauh lebih tinggi dialami oleh laki-laki usia dewasa muda [1].

Tinjauan
Terdapat beberapa jenis kondisi parasomnia, yaitu meliputi sleep talking, bruxism, gangguan perilaku tidur REM, gangguan makan terkait tidur, confusional arousal, teror malam, mimpi buruk, catathrenia, sleepwalking, enuresis nokturnal, halusinasi, sleep driving, sleep scratching, sleep texting, exploding head syndrome dan sexsomnia.

Penyebab Parasomnia

Berbagai faktor dapat menjadi penyebab parasomnia terjadi dan berikut ini adalah sejumlah kondisi yang mampu menjadi pemicu [1,2,3] :

  • Depresi
  • Stres
  • Penggunaan obat tertentu
  • Penggunaan alkohol atau obat terlarang
  • Gangguan stres pasca trauma
  • Penyakit Parkinson atau kondisi gangguan saraf lainnya
  • Kurang tidur
  • Gangguan tidur lainnya seperti insomnia
  • Jam kerja yang berubah-ubah sehingga menjadikan jadwal tidur tidak teratur
  • Gangguan kecemasan

Gejala Parasomnia

Gejala parasomnia yang terjadi tergantung dari jenis parasomnia yang dialami.

Namun secara umum, berikut ini adalah gejala seseorang yang mengalami parasomnia [1,2,3,4,5,6] :

  • Merasa sangat mengantuk dan lelah di siang hari pada waktunya beraktivitas.
  • Kesulitan untuk bisa tidur nyenyak di malam hari.
  • Terjaga dengan kondisi bingung.
  • Tidak ingat melakukan suatu aktivitas tertentu.
  • Menemukan adanya luka atau goresan pada kulit yang sama sekali tidak diketahui penyebabnya.

Pemeriksaan Parasomnia

Untuk mendiagnosa parasomnia, beberapa metode pemeriksaan di bawah ini akan dilakukan oleh dokter spesialis :

  • Pemeriksaan Fisik dan Riwayat Kesehatan

Dokter perlu mengetahui kondisi kesehatan fisik pasien, termasuk mengecek adanya luka atau tidak pada tubuh pasien [1,2,3].

Selain itu, dokter juga perlu tahu riwayat medis pasien, pernah atau sedang mengidap penyakit apa.

Pasien juga sebaiknya menginformasikan kepada dokter mengenai gaya hidup, penggunaan obat atau penempuhan tindakan medis tertentu bila ada, serta riwayat kesehatan keluarga.

  • Pemeriksaan Riwayat Tidur

Memiliki jurnal tidur sangat penting bagi penderita parasomnia untuk memantau pola perilaku tidur [1,2,3].

Hal ini tentunya tak dapat dilakukan sendiri, sehingga jika tinggal bersama anggota keluarga lain atau teman, minta tolong kepada mereka untuk mengobservasi.

  • Polisomnogram

Pasien akan diminta untuk tidur di laboratorium semalam untuk diobservasi [3].

Petugas medis akan menganalisa perilaku tidur pasien sambil merekam gelombang otak dan mengumpulkan data mengenai detak jantung dan proses pernapasan pasien.

Tinjauan
Metode diagnosa yang biasanya diterapkan oleh dokter dalam memeriksa pasien dengan gejala parasomnia meliputi pemeriksaan fisik, pemeriksaan riwayat kesehatan menyeluruh, pemeriksaan riwayat tidur, dan polisomnogram.

Penanganan Parasomnia

Parasomnia dapat ditangani melalui beberapa metode, seperti pemberian obat-obatan, terapi perilaku kognitif, dan juga perawatan mandiri.

Melalui Obat-obatan

Parasomnia cenderung terjadi secara sering atau bahkan berulang sehingga dibutuhkan penanganan melalui obat-obatan.

Beberapa jenis obat yang umumnya diresepkan antara lain adalah [1,2,3,4,8,9] :

Pasien dianjurkan untuk berkonsultasi dengan dokter lebih dulu sebelum menghentikan penggunaan obat resep.

Jika terjadi keberlanjutan gejala karena efek obat tertentu, konsultasikan dengan dokter mengenai dosis yang bisa diubah atau alternatif obat yang bisa digunakan.

Melalui Terapi Perilaku Kognitif

Terapi perilaku kognitif tak hanya berlaku dan efektif untuk mengatasi depresi dan gangguan kecemasan [9].

Terapi perilaku kognitif juga bermanfaat dalam menangani parasomnia karena jenis gangguan tidur ini juga terkait dengan masalah kesehatan mental seperti stres.

Terapi relaksasi dan hipnosis adalah bentuk terapi perilaku kognitif yang juga tergolong sebagai metode psikoterapi yang tepat untuk penderita parasomnia [10].

Melalui Perawatan Mandiri

Perawatan mandiri di rumah juga diperlukan untuk pemulihan pasien. Beberapa hal yang kemungkinan direkomendasikan oleh dokter adalah :

  • Bangun Tidur Terjadwal

Dalam hal ini, anggota keluarga dapat membangunkan penderita 15-30 menit sebelum terbangun dengan sendirinya [2,8,9].

Hal ini meminimalisir perilaku tidur dengan pola tertentu yang mengarah pada kondisi parasomnia.

Cara ini dapat diterapkan terutama bagi penderita teror malam dan tidur berjalan, khususnya anak-anak.

  • Lingkungan Tidur yang Aman

Bila mengalami RBD atau tidur berjalan, penting untuk tidur dengan lingkungan sekitar yang aman [1,2,3,8,9].

Pindahkan atau simpan barang-barang yang berpotensi membahayakan diri ketika parasomnia terjadi.

Tidur sendiri juga jauh lebih aman untuk meminimalisir risiko merugikan orang lain.

Kunci pintu kamar dan juga rumah dengan benar atau juga sediakan matras di lantai yang kemungkinan dilewati saat sedang tidur berjalan.

Tinjauan
Penanganan parasomnia pada umumnya meliputi pemberian obat-obatan pereda gejala, terapi perilaku kognitif, dan perawatan mandiri (melalui bangun tidur yang terjadwal serta lingkungan tidur yang aman dan nyaman)

Komplikasi Parasomnia

Risiko komplikasi parasomnia tergantung dari jenis parasomnia yang dialami.

Seperti halnya gangguan makan terkait tidur, hal ini secara tak sadar mampu menyebabkan kenaikan berat badan berlebih pada penderita [5].

Sementara pada kasus sleep scratching, sleepwalking dan sleep driving, kedua jenis kondisi ini dapat melukai diri sendiri, terutama ketika tidak ada orang lain yang melihat penderita mengalami parasomnia [2,3].

Selebihnya, parasomnia paling dapat mengakibatkan tubuh lesu dan cepat lelah sepanjang hari karena hampir setiap malam kurang tidur [1,2,3].

Tak hanya itu, beberapa jenis parasomnia juga dapat menimbulkan rasa malu sebagai akibatnya, seperti misalnya pada kasus sleep texting.

Tinjauan
Terdapat sejumlah risiko komplikasi parasomnia tergantung dari jenis parasomnia itu sendiri. Melukai diri sendiri, cedera, tubuh lelah dan lesu sepanjang hari karena kurang tidur, hingga kenaikan berat badan dapat terjadi.

Pencegahan Parasomnia

Berikut ini adalah sejumlah upaya yang bisa dilakukan baik dalam mencegah parasomnia maupun meminimalisir risiko perburukan gejala dan komplikasi [11].

  • Hindari penggunaan alkohol secara berlebihan, begitu pula dengan menghindari penggunaan obat terlarang.
  • Gunakan obat tidur sesuai dengan anjuran dokter atau aturan pakai.
  • Buat jadwal tidur dan praktekkan dengan rutin.
  • Lakukan penyesuaian terhadap jadwal kerja, khususnya jika seorang pekerja shift.
Tinjauan
Perubahan gaya hidup, terutama pola tidur yang lebih teratur serta menghindari asupan-asupan berbahaya bagi tubuh penting dalam upaya pencegahan parasomnia. Jika terjadi sejumlah gejala, penting untuk segera berkonsultasi dengan dokter agar segera tertangani.

1. Pradeep C. Bollu, MD, Munish K Goyal, MD, Mahesh M. Thakkar, PhD, & Pradeep Sahota, MD. Sleep Medicine: Parasomnias. Missouri Medicine; 2018.
2. John A. Fleetham, MB & Jonathan A.E. Fleming, MB. Parasomnias. Canadian Medical Association Journal; 2014.
3. Shantanu Singh, Harleen Kaur, Shivank Singh, & Imran Khawaja. Parasomnias: A Comprehensive Review. Cureus; 2018.
4. Helena Martynowicz, Joanna Smardz, Tomasz Wieczorek, Grzegorz Mazur, Rafal Poreba, Robert Skomro, Marek Zietek, Anna Wojakowska, Monika Michalek, & Mieszko Wieckiewicz. The Co-Occurrence of Sexsomnia, Sleep Bruxism and Other Sleep Disorders. Journal of Clinical Medicine; 2018.
5. Anonim. Parasomnia. University of Michigan Neurosciences; 2020.
6. Gaurav Nigam, Muhammad Riaz, Shelley D Hershner, Cathy A Goldstein & Ronald D Chervin. Sleep Related Scratching: A Distinct Parasomnia? Journal of Clinical Sleep Medicine; 2016.
7. Seithikurippu R. Pandi-Perumal, Ahmed S. Bahammam & Colin M Shapiro. Research Gate; 2015.
8. Dimitri Markov, MD, Fredric Jaffe, DO, & Karl Doghramji, MD. Update on Parasomnias. Psychiatry (Edgmont); 2006.
9. Michael J. Howell. Parasomnias: An Updated Review, Neurotherapeutics; 2012.
10. Beng-Yeong Ng & Tih Shih Lee. Hypnotherapy for sleep disorders. Annals of the Academy of Medicine, Singapore; 2008.
11. Anonim. Parasomnias - Diagnosis & Treatment. Sleep Education - American Academy of Sleep Medicine; 2020.

Share