Penyakit & Kelainan

Penyakit Cytomegalovirus : Penyebab – Gejala dan Pengobatan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Apa Itu Penyakit Cytomegalovirus?

Penyakit Cytomegalovirus ( img : MedicineNet )

Penyakit Cytomegalovirus (CMV) merupakan virus yang tergolong umum di mana seseorang yang terkena infeksi virus ini maka virus ini pun akan bertahan di dalam tubuh penderita seumur hidup [1,2,3].

Walau umumnya infeksi CMV ini tak mengancam nyawa penderitanya bila si penderita memiliki sistem daya tahan tubuh yang kuat, sayangnya virus tetap ada di dalam tubuh.

Justru gangguan kesehatan serius baru akan timbul jika penderita infeksi CMV ini memiliki daya tahan tubuh yang melemah.

Penderita infeksi CMV yang menderita HIV maupun pasca operasi transplantasi organ akan sangat mudah mengalami masalah kesehatan serius, termasuk juga bayi yang masih menyusui dan terkena paparannya dari ASI.

Tinjauan
Penyakit Cytomegalovirus adalah penyakit infeksi oleh virus golongan Cytomegalovirus yang sekalinya terkena (walau tidak menimbulkan gejala) virus dapat bertahan di dalam tubuh orang tersebut. Virus akan aktif dan menyebabkan gejala ketika sistem daya tahan tubuh melemah.

Fakta Tentang Penyakit Cytomegalovirus

  1. Prevalensi penyakit Cytomegalovirus adalah 59% pada orang-orang yang usianya lebih dari 6 tahun [1].
  2. Di Indonesia prevalensi infeksi CMV tergolong tinggi di mana pada beberapa negara berkembang lainnya pun sama tingginya [2].
  3. Menurut anjuran WHO (World Health Organization/Badan Kesehatan Dunia), uji saring terhadap CMV pada darah donor agar risiko penularan CMV yang terjadi melalui prosedur transfusi darah dapat diturunkan, namun Indonesia hingga pada tahun 2017 diketahui belum menerapkan uji saring tersebut [2].
  4. Prevalensi infeksi CMVpada orang dewasa dari berbagai kelompok ekonomi sosial dan letak geografis adalah sekitar 40-90% [2].
  5. Prevalensi infeksi Cytomegalovirus pada penderita kolitis akut parah adalah antara 21-34% [3].
  6. Prevalensi reaktivasi Cytomegalovirus pada pasien kolitis ulseratif parah adalah antara 4,5-25% [3].
  7. Prevalensi infeksi Cytomegalovirus pada penderita kolitis ulseratif steroid refrakter berat adalah antara 20-40% [3].
  8. Prevalensi infeksi CMV kongenital atau bawaan di Amerika Serikat adalah antara 0,5-1,5% dengan risiko paling tinggi terjadi pada bayi dari keluarga berkondisi ekonomi-sosial rendah dan bayi keturunan Afrika-Amerika [8].

Jenis Penyakit Cytomegalovirus

Terdapat tiga jenis kondisi penyakit Cytomegalovirus yang terdiri dari faktor bawaan, faktor berulang/kambuh, atau faktor didapat (acquired).

Infeksi Cytomegalovirus Bawaan

Infeksi CMV bawaan atau kongenital adalah jenis kondisi infeksi yang terjadi selama seorang wanita sedang hamil [4].

Virus ini kemudian dapat memengaruhi kondisi anak yang masih berada di dalam kandungan dan berpotensi besar tertular ketika anak lahir.

Infeksi Cytomegalovirus Berulang/Kambuh

Pada kasus ini, seseorang sudah pernah terpapar infeksi Cytomegalovirus dan kemudian virus ini menjadi tidak aktif namun tetap bertahan di dalam tubuh orang tersebut [5].

Ketika sistem daya tahan tubuh orang ini melemah, maka saat itulah kemudian virus akan teraktivasi dan menimbulkan gejala.

Infeksi Cytomegalovirus Didapat/Acquired

Jenis penyakit infeksi Cytomegalovirus ini adalah ketika pertama kalinya seseorang terpapar CMV [6].

Usai terpapar, ada kalanya gejala tidak kunjung timbul, namun ada pula yang mengalami gejala tak lama setelah terpapar.

Tinjauan
Infeksi Cytomegalovirus terdiri dari tiga jenis kondisi, yaitu didapat/acquired, berulang/recurring, dan bawaan/kongenital.

Penyebab Penyakit Cytomegalovirus

Cytomegalovirus adalah golongan virus herpes sehingga termasuk jenis virus penyebab herpes simpleks dan cacar air [1].

Walau mampu bertahan di dalam tubuh seseorang seumur hidup, status virus ini tidak aktif namun tidak menutup kemungkinan untuk kembali aktif.

Seseorang yang membawa virus ini di dalam tubuhnya dapat menyebabkan penularan CMV jika virus aktif di mana penulara terjadi saat [1,2] :

  • Persalinan, yaitu seorang ibu yang sudah terkena infeksi akan menularkannya ke bayi yang akan dilahirkan.
  • Proses menyusui, yaitu seorang ibu yang sudah terkena infeksi mampu menularkannya ke bayi yang tengah menyusu.
  • Proses transfusi darah atau proses organ transplantasi.
  • Hubungan seksual, yaitu ketika berhubungan intim dengan pasangan yang telah terkena infeksi CMV.
  • Kontak dengan cairan tubuh secara langsung dari tubuh penderita infeksi CMV, seperti menyentuh cairan mulut, hidung atau mata.
Tinjauan
Penyebab utama penyakit Cytomegalovirus adalah virus Cytomegalovirus (CMV) di mana virus ini adalah virus penyebab herpes simpleks dan cacar air.

Gejala Penyakit Cytomegalovirus

Tidak ada gejala yang timbul apabila seseorang yang terpapar infeksi CMV adalah orang yang sehat dengan imun yang kuat.

Namun usia bayi dan anak serta orang-orang dewasa dengan imun lemah berpotensi mengalami sejumlah gejala.

Gejala pada Orang Dewasa Sehat

Meski daya tahan tubuh tergolong kuat dan kondisi seseorang dikatakan sehat, kasus infeksi awal atau pertama tetap memungkinkan menimbulkan gejala.

Beberapa gejala yang kemungkinan dapat muncul antara lain adalah [1,2,3] :

Gejala pada Orang dengan Imun Lemah

Sistem imun yang lemah pada seseorang dapat menyebabkan timbulnya gejala yang cukup serius bila terpapar infeksi CMV [1,3].

Beberapa area tubuh yang terancam mengalami gejala infeksi antara lain adalah otak, usus, perut, tenggorokan, hati, paru, dan mata.

Gejala pada Bayi

Bila seorang bayi lahir dengan kondisi kongenital CMV atau kondisi bawaan, tubuhnya akan tampak sehat namun dari tubuhnya mampu menimbulkan gejala.

Munculnya gejala dapat berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun sejak kelahirannya.

Beberapa tanda bahwa seorang bayi lahir dengan kondisi CMV bawaan adalah [7,8] :

  • Lahir prematur.
  • Pembesaran limpa.
  • Mikroensefali (kepala berukuran kecil secara abnormal).
  • Pada kulit timbul ruam keunguan.
  • Pembesaran hati di mana fungsi hati juga tidak maksimal.
  • Jaundice (kulit dan bagian putih mata menguning).
  • Tubuh kejang.
  • Pneumonia
  • Berat badan rendah saat lahir.
Tinjauan
- Pada kasus infeksi Cytomegalovirus pada orang sehat atau berimun lebih kuat, maka biasanya gejala ringan yang timbul meliputi sakit tenggorokan, nyeri otot, tubuh lelah hingga demam yang akan jauh lebih cepat sembuh.
- Pada masa kehamilan, wanita yang terkena infeksi Cytomegalovirus dapat menyebabkan bayi lahir prematur atau lahir dengan berat yang rendah. Jaundice, pembesaran hati, ruam keunguan, mikroensefali, hingga pneumonia dapat pula terjadi sebagai gejalanya.

Pemeriksaan Penyakit Cytomegalovirus

Pemeriksaan untuk penyakit Cytomegalovirus pada orang-orang (anak-anak maupun orang dewasa) yang sistem daya tahan tubuhnya baik biasanya tidak terlalu dibutuhkan [1].

Jika gejala yang timbul cukup mengkhawatirkan, khususnya yang terjadi pada anak-anak balita, maka beberapa pemeriksaan sangat diperlukan.

Pada beberapa kasus, khususnya pada ibu hamil dan pasca melahirkan, dokter perlu melakukan pemeriksaan selama kehamilan dan juga pasca persalinan.

  • Tes Darah / Tes Antibodi / Serologi

Tes darah biasanya akan direkomendasikan oleh dokter supaya dokter dapat menganalisa sampel darah pasien di laboratorium [1,2,3].

Melalui pemeriksaan darah, dokter akan dapat mendeteksi jumlah virus yang berada di dalam tubuh pasien.

Tes ini juga diketahui dengan istilah seperti pemeriksaan serologi atau antibodi yang akan menentukan apakah infeksi Cytomegalovirus ada atau tidak di waktu sebelum ini.

Jika hasil IgG CMV diketahui positif, hal ini menandakan bahwa riwayat infeksi CMV dialami pasien baik sebelumnya sudah diketahui maupun belum diketahui [9].

Sementara itu, pemeriksaan IgM adalah untuk kasus infeksi akut di mana pemeriksaan ini juga merupakan pemeriksaan untuk infeksi yang sedang berlangsung (bukan untuk pemeriksaan adanya riwayat infeksi) [9].

Namun dari segi tingkat korelasinya, IgM tergolong kurang, terutama pada kondisi pasien karena hasil berpotensi tetap positif selama beberapa bulan bahkan usai infeksi primer terjadi [9].

Ada kemungkinan pula hasil positif IgM terus berlanjut dan berulang pada infeksi CMV [9].

Selain IgM dan IgG, pemeriksaan aviditas IgG menjadi salah satu metode diagnosa yang terpenting dan bertujuan sebagai pembeda antara infeksi CMV primer dan sekundernya [9].

Pada jaringan yang terkena infeksi, dokter akan mengambil sampel jaringannya di mana prosedur ini disebut dengan biopsi [3].

Biopsi adalah tindakan pemeriksaan yang akan diterapkan oleh dokter apabila CMV tidak terbukti aktif dari hasil deteksi antibodi pada tubuh pasien dengan sistem imun lemah.

  • Pemeriksaan Mata

Dokter juga kemungkinan akan meminta pasien menjalani oftalmoskopi atau pemeriksaan struktur mata jika memang dicurigai adanya kondisi retinitis [11].

Bila dokter mendapati adanya kelainan pada mata atau keadaan yang dianggap tidak wajar di area mata, pemeriksaan ini perlu dilakukan.

  • Tes Air Ketuban

Amniosentesis atau pemeriksaan air ketuban pada wanita hamil yang diduga terkena infeksi CMV juga perlu dilakukan bila pasien ingin memastikan apakah di dalam tubuhnya terdapat CMV [10].

  • Tes Urine

Jika tes darah, tes air ketuban, biopsi dan pemeriksaan mata dapat diterapkan pada kondisi kehamilan sekalipun, maka untuk bayi yang baru lahir diperlukan tes urine untuk mendiagnosa penyakit Cytomegalovirus [9].

Dalam mendeteksi apakah bayi terlahir dengan CMV bawaan atau tertular dari sang ibu, setidaknya 3 minggu dari bayi lahir pemeriksaan urine bayi perlu dilakukan.

Tinjauan
Untuk mendiagnosa infeksi Cytomegalovirus, umumnya dokter perlu menerapkan metode pemeriksaan darah (tes serologi / tes antibodi), biopsi, tes urine, pemeriksaan mata, hingga tes air ketuban.

Pengobatan Penyakit Cytomegalovirus

Pada kasus gejala penyakit Cytomegalovirus yang tergolong ringan, biasanya penderita hanya membutuhkan waktu sekitar 3-4 minggu untuk benar-benar sembuh dan pulih.

Namun bagi yang memiliki imun lemah atau masih berusia balita, beberapa jenis obat akan diberikan oleh dokter.

Pemberian obat antivirus adalah penanganan utama yang dilakukan untuk mengobati penyakit Cytomegalovirus.

Beberapa obat antivirus yang telah disetujui dan terbukti mampu meredakan gejala penyakit CMV antara lain adalah [1] :

Pada penderita penyakit Cytomegalovirus yang merupakan pasien transplantasi organ, maka biasanya dokter akan meresepkan ganciclovir atau valganciclovir.

Kedua jenis obat ini pun diketahui mampu mencegah infeksi CMV pada pasien pasca transplantasi organ.

Tinjauan
Pengobatan yang diberikan pada penderita infeksi Cytomegalovirus adalah obat antivirus (cidofovir, ganciclovir, valganciclovir, dan foscarnet).

Komplikasi Penyakit Cytomegalovirus

Siapapun dapat mengalami komplikasi Cytomegalovirus sebab riwayat medis pasien menentukan seberapa parah gejala dan seberapa tinggi risiko komplikasinya.

Ketika imun penderita penyakit CMV sangat lemah, relaps adalah bentuk komplikasi yang umumnya akan terjadi terutama pada pasien transplantasi organ.

Namun selain relaps, beberapa bentuk komplikasi yang perlu dikenali dan diwaspadai antara lain adalah [1,3] :

  • Perforasi usus besar.
  • Berkembangnya kolitis iskemik.
  • Megakolon toksik atau kondisi ketika bakteri Clostridium difficile menginfeksi (seperti halnya kolitis ulseratif dan penyakit Crohn). Pada kondisi ini, terjadi pelebaran usus besar yang lama-kelamaan dapat pecah.
  • Radang usus yang berpotensi berakibat pada timbulnya perdarahan hebat dan kolitis fulminan yang juga berpotensi meningkatkan risiko kematian.

Pencegahan Penyakit Cytomegalovirus

Transfusi darah diketahui menjadi salah satu sumber atau cara penularan CMV, maka sebagai pencegahannya, produk darah leukodepleted perlu digunakan [2].

Telah terbukti bahwa efektivitas dari metode filtrasi leukodepleted adalah 99,99% yang juga memiliki sisi praktis dan efisien tinggi.

Cara menghilangkan leukosit dan masa hidup komponen darah lebih panjang ini adalah cara pencegahan yang umumnya digunakan di Amerika Serikat.

Namun pada umumnya, beberapa cara pencegahan penyakit Cytomegalovirus dapat dilakukan secara lebih mudah, yaitu seperti berikut [12] :

  • Mencuci tangan lebih sering, terutama sebelum dan sesudah makan, sebelum dan sesudah memasak/mengolah makanan, sesudah memakai toilet, dan sesudah menyentuh permukaan benda apapun (terutama di tempat umum).
  • Melakukan hubungan seksual yang aman, yaitu dengan mengenakan kondom agar tidak terjadi penularan CMV.
  • Menghindari aktivitas berbagi minuman atau makanan dari wadah dan dengan peralatan makan yang sama.
  • Para orang tua perlu membersihkan permukaan benda atau mainan anak.
  • Para orang tua wajib mencuci tangan dengan air dan sabun hingga bersih usai mengganti popok anak atau membersihkan tubuh anak.
Tinjauan
Pencegahan terbaik agar infeksi Cytomegalovirus tidak mudah menyerang adalah rajin mencuci tangan, menjaga kebersihan diri dan lingkungan, mengawasi anak-anak, melakukan hubungan seksual dengan menggunakan kondom, serta tidak berbagi makanan/minuman dari peralatan/wadah yang sama.

1. Mohit Gupta & Mahmoud Shorman. Cytomegalovirus. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2020.
2. Ganjar Noviar, Ni Ken Ritchie, Budiman Bela, & Yuyun SM Soedarmono. Prevalensi Antibodi IgG dan DNA Cytomegalovirus
Pada Darah Donor Di Unit Transfusi Darah Provinsi DKI Jakarta. Journal of Health Epidemiology and Communicable Diseases; 2017.
3. Samy A. Azer & Faten Limaiem. Cytomegalovirus Colitis. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2020.
4. Uduak S. Akpan; Leela Sharath Pillarisetty. Congenital Cytomegalovirus Infection (Congenital CMV Infection). Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2020.
5. Jan Styczynski. Who Is the Patient at Risk of CMV Recurrence: A Review of the Current Scientific Evidence with a Focus on Hematopoietic Cell Transplantation. Infectious Diseases and Therapy; 2018.
6. B A Forbes. Acquisition of cytomegalovirus infection: an update. Clinical Microbiology Reviews; 1989.
7. Mitchell M Pitlick, Kristin Orr, Allison M Momany, Erin L McDonald, Jeffrey C Murray, & Kelli K Ryckman. Determining the prevalence of cytomegalovirus infection in a cohort of preterm infants. Journal of Neonatal-Perinatal Medicine; 2015.
8. Kristen M. Turner, MD, Henry C. Lee, MD, Suresh B. Boppana, MD, Waldemar A. Carlo, MD, & David A. Randolph, MD, PhD. Incidence and Impact of CMV Infection in Very Low Birth Weight Infants. Pediatrics; 2014.
9. S.A. Ross, Z. Novak, S. Pati, & S.B. Boppana. Diagnosis of Cytomegalovirus Infections. HHS Public Access; 2013.
10. M Enders, A Daiminger, S Exler, K Ertan, G Enders, & R Bald. Prenatal diagnosis of congenital cytomegalovirus infection in 115 cases: a 5 years' single center experience. Prenatal Diagnosis; 2017.
11. Somsanguan Ausayakhun, Jeremy D Keenan, Sakarin Ausayakhun, Choeng Jirawison, Claire M Khouri, Alison H Skalet, David Heiden, Gary N Holland, & Todd P Margolis. Clinical Features of Newly Diagnosed Cytomegalovirus Retinitis in Northern Thailand. HHS Public Access; 2013.
12. Wendy J van Zuylen, Stuart T Hamilton, Zin Naing, Beverly Hall, Antonia Shand, & William D Rawlinson. Congenital cytomegalovirus infection: Clinical presentation, epidemiology, diagnosis and prevention. Obstetric Medicine; 2014.

Share