Amniosentesis: Fungsi – Prosedur – Risiko

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by redaction team, read our quality control guidelance for more info

Tinjauan Medis : dr. Shinta Pradyasti
Amniosentesis adalah prosedur untuk menguji cairan ketuban (cairan amnion) di dalam rahim wanita hamil. Prosedur ini dilakukan oleh dokter menggunakan jarum khusus untuk mengambil sampel air ketuban,... dengan cara menusuk jarum ke dalam rahim perut ibu. Cairan ini kemudian akan diperiksa apakah janin memiliki kelainan genetik, kromosom, atau cacat bawaan. Dilakukan pada usia kehamilan 15 hingga 20 minggu, amniosisntesis adalah prosedur invasif yang berisiko, sehingga hanya disarankan pada ibu hamil dengan risiko tinggi kelainan janin (misal ibu hamil berusia diatas 35 tahun, atau memiliki riwayat keluarga yang lahir dengan cacat bawaan atau kelainan genetik). Selain itu, amniosentesis juga dapat digunakan untuk mendeteksi perkembangan paru janin, mengetahui adanya infeksi pada rahim, maupun sebagai prosedur terapi pada kasus cairan ketuban yang berlebihan (polihidramnion). Read more

Apa itu Amniosentesis?

Kehamilan adalah masa yang menyenangkan sekaligus menegangkan bagi kebanyakan wanita.

Semua ibu hamil pasti berharap bayi dalam kandungannya sehat, tumbuh sempurna di dalam perut, dan lahir dengan selamat. Ini sebabnya, kontrol rutin ke dokter kandungan tidak boleh terlewat selama masa kehamilan.

Beberapa pemeriksaan akan dijalani ibu hamil dari waktu ke waktu untuk melihat perkembangan janin dan kesehatannya. Yang paling umum adalah USG. Namun, ada pula prosedur pilihan yang bisa dilakukan ataupun tidak, tergantung dari kondisi ibu serta anjuran dokter.

Salah satu pemeriksaan yang disarankan untuk ibu hamil adalah amniosentesis (sering juga disebut amnio), yaitu pemeriksaan cairan ketuban untuk mengetahui kesehatan janin secara lebih jelas dan pasti. [2, 3]

Amniosentesis adalah tes pra kelahiran (prenatal) dimana dokter akan mengambil sedikit cairan ketuban (amniotic fluid) dari rahim untuk diperiksa. Jumlahnya biasanya tidak lebih dari 29.5 mililiter. [1]

Cairan ketuban mengandung sel-sel janin yang bisa memberikan informasi mengenai kesehatannya dan apakah ia memiliki kelainan genetik atau tidak. [1]

Biasanya, amniosentesis dilakukan ketika usia kandungan memasuki trimester kedua, atau setelah minggu ke-15. Cairan ketuban diambil menggunakan jarum tipis dan panjang yang dimasukkan melalui perut menuju rahim dengan panduan USG. [1, 2]

Pemeriksaan amniosentesis bisa membantu dokter untuk melihat hal-hal berikut: [1]

  • Perkembangan paru-paru janin; apakah sudah cukup matang untuk bernafas di luar kandungan
  • Apakah janin mengalami Down syndrome, spina bifida, atau cystic fibrosis
  • Apakah ada komplikasi dalam kandungan yang menyebabkan bayi harus dilahirkan lebih awal

Beberapa pasien juga bisa menggunakan pemeriksaan amniosentesis untuk mengetahui jenis kelamin bayi dengan lebih pasti atau melakukan pemeriksaan DNA untuk mengetahui siapa ayah dari si bayi, jika diperlukan. [3]

Kondisi Kehamilan yang Membutuhkan Amniosentesis

Umumnya, amniosentesis akan disarankan pada ibu hamil setelah hasil pemeriksaan USG menunjukkan hasil yang dianggap tidak normal. Amnio bisa memastikan secara lebih akurat mengenai penyebab ketidaknormalan tersebut. [1,3]

Pemeriksaan ini juga disarankan untuk: [1,2,3]

  • Ibu hamil yang sudah berusia di atas 35 tahun, karena janin memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan kromosom yang bisa mengakibatkan Down syndrome.
  • Ibu hamil yang anak sebelumnya mengalami cacat lahir atau ketidaknormalan pada otak atau tulang belakang yang disebut neural tube defect. Amniosentesis bisa memastikan apakah bayi yang sedang dalam kandungan juga memiliki kelainan tersebut atau tidak.
  • Ibu hamil atau suaminya memiliki kelainan genetik, seperti cystic fibrosis (kelainan paru-paru dan organ pencernaan), kelainan jantung, thalassemia, dan sebagainya.
  • Kehamilan yang diduga mengalami infeksi dalam rahim atau janin mengalami anemia atau infeksi.
  • Mengobati polyhydramnios, yaitu kelebihan cairan ketuban. Kondisi ini bisa meningkatkan risiko terjadinya komplikasi pada kehamilan, seperti bayi lahir prematur (lahir sebelum usia kandungan 37 minggu). Amniosentesis bisa mengeluarkan kelebihan cairan ini dari rahim.

Prosedur Amniosentesis

Amnio biasanya dilakukan ketika usia kandungan antara 15 hingga 20 minggu. Tidak disarankan untuk menjalani pemeriksaan ketika usia kandungan masih dalam trimester pertama karena bisa menyebabkan keguguran dan komplikasi lainnya. [3]

Persiapan

Prosedur amniosentesis adalah pemeriksaan rawat jalan, jadi pasien tidak perlu menginap di rumah sakit sebelum atau sesudahnya. Pasien sebaiknya ditemani ketika datang untuk melakukan amnio untuk dukungan moral, karena bisa cukup membuat takut dan khawatir.

Dokter akan menjelaskan bagaimana amnio dilakukan, kemudian meminta pasien untuk menandatangani surat persetujuan. Jika sudah, maka prosedur bisa dilaksanakan.

Jika usia kandungan kurang dari 20 minggu, maka pasien biasanya akan diminta untuk minum banyak air putih sebelum pemeriksaan agar rahim bisa lebih terlindungi dan tersangga. [1, 4]

Jika lebih dari 20 minggu, maka kandung kemih sebaiknya dalam keadaan kosong untuk mencegahnya tertusuk dan berlubang. [1, 4]

Langkah-Langkah Amniosentesis

Secara umum, ini yang akan terjadi di ruang praktek dokter kandungan ketika ibu menjalani prosedur amniosentesis: [4]

  1. Pasien akan diminta untuk berbaring di meja periksa, kemudian dokter akan mengoleskan gel tipis ke permukaan perut.
  2. Dokter akan menggerakkan transducer (tongkat ultrasound/USG) memutari perut untuk menemukan posisi janin dan plasenta. Plasenta tumbuh di dalam rahim dan bertugas memberi suplai makanan dan oksigen pada janin melalui tali pusar. USG menggunakan gelombang suara dan layar untuk menunjukkan keadaan bayi di dalam rahim.
  3. Dokter kemudian akan membersihkan perut pasien dengan cairan antiseptik untuk membunuh kuman yang mungkin menempel pada kulit.
  4. Sambil menggunakan USG sebagai pemandu, dokter akan memasukkan jarum yang tipis dan berongga (seperti jarum suntik) melalui perut dan rahim pasien hingga sampai ke kantung ketuban.
  5. Dokter akan menggunakan jarum tadi untuk mengambil sedikit cairan ketuban yang mengandung sel-sel janin.
  6. Setelah contoh cairan berhasil diambil, dokter akan kembali menggunakan USG untuk memeriksa detak jantung bayi untuk memastikannya dalam keadaan baik.
  7. Pemeriksaan pun selesai.

Pemeriksaan amnio tidak membutuhkan obat bius. Ketika jarum dimasukkan, rasanya mirip seperti pengambilan darah di lengan, namun akan mengakibatkan sedikit kram dan rasa tidak nyaman seperti waktu haid. Kebanyakan wanita tidak membutuhkan penghilang nyeri untuk prosedur ini. [4]

Pasca Prosedur

Pasien mungkin akan merasakan sedikit kram atau rasa tidak nyaman di seputar panggul setelah prosedur selesai. Pasien bisa langsung pulang setelah pemeriksaan. Di rumah, aktivitas berat dan hubungan seksual sebaiknya dihindari dulu selama satu atau dua hari. [4]

Jika di rumah terjadi hal-hal berikut, maka dokter harus segera dihubungi: [3, 4]

  • Pendarahan dari vagina atau air ketuban keluar
  • Kram dari rahim yang berlangsung lebih dari dua jam
  • Demam
  • Kemerahan dan radang di bagian masuknya jarum
  • Gerakan janin yang tidak biasa atau jauh berkurang

Hasil Pemeriksaan dan Akurasinya

Contoh air ketuban akan dikirim ke laboratorium, dimana sel-sel janin akan dipisahkan dari cairan ketuban. Sel akan dibiarkan tumbuh di lab selama 10 hingga 12 hari, kemudian dites untuk melihat kemungkinan cacat lahir dan kondisi genetiknya. [3]

Laboratorium juga akan memeriksa kadar protein dalam cairan ketuban. Pada janin yang memiliki kelainan neural tube, kadar protein dalam air ketuban akan tinggi. [3]

Hasil pemeriksaan biasanya bisa didapatkan dalam 2 minggu.

  • Jika hasil amniosentesis normal, berarti kemungkinan besarnya adalah janin tidak memiliki kelainan genetik maupun kromosom. [1]
  • Jika amnio dilakukan untuk melihat kematangan pertumbuhan janin dan hasilnya normal, maka bisa dipastikan ia sudah siap lahir dengan kemampuan bertahan hidup yang tinggi. [1]
  • Jika hasil amniosentesis menunjukkan bahwa janin memiliki gangguan kesehatan, maka ibu harus berkonsultasi dengan dokter mengenai pengobatan dan tindakan lanjutan yang bisa dilakukan. [1. 2]

Mengetahui sejak awal mengenai cacat lahir yang akan dialami bayi ketika lahir bisa membantu orangtuanya untuk mempersiapkan perawatan yang tepat dan layak untuk sang bayi nantinya.

Ibu juga bisa membuat rencana pasca bersalin untuk memastikan bayinya mendapatkan perawatan khusus yang perlu dan dibutuhkan.

Akurasi hasil pemeriksaan amniosentesis adalah sekitar 99.4% – sangat tinggi. [2]

Ada kalanya amnio tidak berhasil dilakukan karena masalah teknis, seperti gagalnya pengambilan cairan ketuban dalam jumlah yang cukup atau sel gagal bertumbuh ketika berada di dalam laboratorium. [2]

Risiko yang Mungkin Terjadi

Komplikasi serius akibat prosedur amnio jarang terjadi. Meskipun demikian, ada sedikit risiko keguguran (kurang dari 1%, atau sekitar 1 dari 1000 hingga 1 dari 43.000 prosedur). [2]

Risiko lain yang amat sangat jarang terjadi termasuk: [1, 3, 4]

  • Infeksi pada rahim
  • Kram, keluar flek atau air ketuban bocor melalui vagina. Sekitar 1 hingga 2 wanita dari 100 prosedur (setara 1-2%) mengalami masalah ini setelah pemeriksaan amnio
  • Menularkan infeksi pada janin. Jika ibu memiliki infeksi, seperti HIV atau toxoplasmosis, maka bisa menular pada bayi ketika prosedur amnio berlangsung.
  • Gangguan rhesus. Amnio bisa menyebabkan sedikit dari darah bayi bercampur dengan darah ibu. Jika rhesus ibu negatif sementara milik bayi positif, maka tubuh ibu akan memproduksi antibodi Rh dan ini bisa melintasi plasenta dan merusak sel darah merah janin. Untuk itu, dokter akan memberikan suntikan Rh immune globulin untuk mencegah hal ini terjadi.
  • Cedera akibat jarum. Ketika pemeriksaan berlangsung, janin mungkin menggerakkan kaki atau atau lengan ke arah ujung jarum, sehingga tergores. Namun, cedera serius akibat jarum ini jarang terjadi.

Amniosentesis Sebagai Prosedur Pilihan

Tidak seperti prosedur pemeriksaan rutin dan USG, amnio adalah prosedur yang boleh dilakukan ataupun tidak. Pasien akan mendapatkan konseling genetik sebelum prosedur dilaksanakan.

Setelah semua risiko dan manfaat dari amniosentesis dijelaskan secara detail dan lengkap oleh dokter kandungan, pasien boleh memilih apakah ia mau atau tidak menjalankan pemeriksaan tersebut. [2]

Yang perlu dicatat juga adalah perbedaan antara USG dengan amniosentesis. Ada beberapa kelainan pada janin yang bisa dideteksi oleh prosedur yang satu, namun tidak oleh yang lainnya. [1,2]

Inilah mengapa jika ibu hamil ingin tahu dengan pasti kondisi kesehatan bayi dalam kandungannya, kedua metode pemeriksaan ini sebaiknya dilakukan. [3, 4]

USG adalah pemeriksaan screening, sementara amniosentesis termasuk diagnostik. USG bisa mendeteksi kelainan fisik pada janin, termasuk bibir sumbing. Namun untuk kelainan yang lebih mendalam seperti pada DNA, kromosom, dan syaraf, harus melalui amniosentesis. [2, 3]

fbWhatsappTwitterLinkedIn

Add Comment