Penyakit & Kelainan

Perbedaan Hipersomnia dan Narkolepsi

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Tidur adalah salah satu kebutuhan tubuh yang sangat penting. Kita membutuhkannya untuk regenerasi fisik maupun mental. Bila kebiasaan tidur terganggu, maka akan timbul berbagai masalah mulai dari kelelahan hingga kesulitan berpikir.

Kita sering mendengar orang mengalami masalah tidur seperti insomnia, yang membuat seseorang sulit untuk tertidur. Kebalikan dari kondisi ini, dan jarang diketahui orang, adalah hipersomnia atau tidur berlebihan.

Orang yang menderita hipersomnia selalu merasa tidak mendapat cukup tidur. Bahkan setelah beberapa jam tidur tambahan pun, orang dengan gangguan tidur ini masih tetap merasa lelah dan lemas.

Kondisi lain yang termasuk gangguan tidur adalah narkolepsi. Orang dengan gangguan ini bisa jatuh tertidur tiba-tiba dan tanpa tanda-tanda peringatan sebelumnya.

Ada beberapa perbedaan mendasar antara hipersomnia dengan narkolepsi meskipun keduanya sama-sama berhubungan dengan berlebihnya waktu tidur di siang hari.

Perbedaan Gejala

Hipersomnia dan narkolepsi memiliki karakter yang mirip dan mungkin pada awalnya terlihat sama. Namun, jelas bahwa narkolepsi adalah kondisi yang lebih berat dan juga langka. [1]

Hipersomnia membuat seseorang merasa mengantuk terus menerus di siang hari dan tidur lebih banyak daripada orang normal. Kondisi ini menyebabkan penderitanya terus kelelahan, yang akibatnya membuat mereka tidur lebih lama di malam hari atau tidur siang yang cukup panjang.

Gejala-gejala hipersomnia lainnya termasuk: [1, 4]

Gejala narkolepsi lebih berat dan berhubungan dengan fungsi syaraf yang lebih banyak daripada hipersomnia. Orang yang menderita narkolepsi akan mengalami: [1, 3]

  • Rasa kantuk berlebihan di siang hari
  • Tidur malam yang tidak nyenyak (terjadi pada 50% penderita narkolepsi)
  • Sleep paralysis, atau tubuh terasa lumpuh ketika bangun dari tidur
  • Kesulitan mengingat
  • Halusinasi

Gejala lainnya dalah katapleksi, dimana kemampuan kerja otot tiba-tiba hilang saat penderita narkolepi mengalami emosi yang kuat (terlalu senang, cemas, sedih, dsb.)

Perbedaan Penyebab

Penyebab narkolepsi baru-baru ini saja diketahui penyebabnya, sementara penyebab hipersomnia masih belum diketahui dan membutuhkan penelitian yang lebih banyak.

Narkolepsi adalah gangguan syaraf, dan baru saja diketahui bahwa sistem neurotransmitter di otak yang menggunakan hipokretin sebagai penyampai pesan secara selektif menurun fungsinya pada pasien narkolepsi.

Biasanya, neuron hipokretin yang terletak di hipotalamus bekerja membantu otak tetap terjaga. Untuk beberapa alasan yang masih belum jelas, penelitian menunjukkan bahwa pada penderita narkolepsi, neuron yang mengandung hipokretin menurun fungsinya dan akhirnya mati. [3]

Tidak ada neuron lain di otak yang terpengaruh oleh kondisi ini. Akibat dari hilangnya neuron hipokretin adalah menurunnya kewaspadaan dan meningkatnya rasa kantuk di siang hari.

Begitu narkolepsi sudah berkembang di tubuh seseorang, tingkat rasa kantuknya cenderung stabil selama sisa hidupnya. Jika kemudian rasa kantuk ini menjadi semakin parah, maka biasanya disebabkan oleh masalah lain seperti gaya hidup atau sleep apnea.

Hipersomnia juga dipercaya disebabkan oleh patologi dalam otak, namun penyebabnya masih belum diketahui. Meskipun tingkat rasa kantuk pada penderita hipersomnia cukup signifikan, tetapi secara umum tidak seberat pada penderita narkolepsi. [3, 4]

Perbedaan Diagnosa

Diagnosa untuk hipersomnia bisa ditegakkan dengan cukup sederhana, karena kriteria dari kondisi ini cukup jelas. Kriteria ini bisa ditemukan dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, edisi ke-5 (DSM-5), yaitu: [1, 2, 4]

  • Rasa kantuk yang berlebih di siang hari walau sudah tidur cukup di malam hari
  • Kesulitan untuk bangun, bahkan ketika dibangunkan secara tiba-tiba
  • Tidur berulang-ulang dalam satu hari

Ada beberapa syarat tambahan untuk mendiagnosa hipersomnia, yaitu: [1, 4]

  • Gejala-gejala harus timbul minimal selama tiga bulan, setidaknya tiga kali dalam seminggu
  • Gejala-gejala menyebabkan gangguan pada aktivitas penting harian, seperti tidak bisa bekerja, mengurus rumah, menjaga anak, dsb.
  • Gejala-gejala tidak bisa dihubungkan dengan gangguan tidur lainnya, tidak diakibatkan gangguan kesehatan lainnya atau bukan akibat konsumsi obat atau zat lainnya.

Untuk pemeriksaan, dokter mungkin akan melakukan beberapa hal berikut:

  • Membuat jurnal tidur: pasien akan diminta untuk mencatat waktu tidur dan bangun sepanjang malam untuk melacak pola tidurnya.
  • Epworth Sleepiness Scale: pasien diminta membuat skala rasa kantuk untuk menentukan seberapa berat kondisinya.
  • Tes latensi tidur berganda: pasien akan tidur siang dibawah pengawasan. Tes ini akan mengukur seperti apa tipe tidur yang dialami pasien.
  • Polysomnogram: pasien akan tidur di tempat pemeriksaan selama satu malam. Selama itu, mesin akan memonitor aktivitas otak, gerakan mata, detak jantung, kadar oksigen, serta fungsi pernafasan.

Untuk diagnosa narkolepsi, kriteria yang dibutuhkan melibatkan lebih banyak tes fisiologis sebagai tambahan dari observasi atas gejala-gejala yang dialami pasien. Kriteria DSM-5 untuk narkolepsi termasuk: [1]

  • Keinginan untuk tidur yang tidak bisa ditahan dan terjadi berulang dalam satu hari
  • Mengalami gejala-gejala selama minimal tiga bulan, setidaknya tidak kali semingu
  • Katapleksi (hilangnya kontrol otot) yang terjadi beberapa kali dalam satu bulan yang berhubungan dengan tertawa, wajah yang cemberut atau menjulurkan lidah.
  • Kekurangan hipokretin
  • Berubahnya periode REM saat tidur

Dokter bisa mencoret sebab-sebab organik yang mengakibatkan kantuk berlebih melalui tes darah, CT scan atau pemeriksaan lain untuk memastikan seseorang memang benar menderita hipersomnia atau narkolepsi.

Tes medis dan pemeriksaan sangat penting untuk mendeteksi dua gangguan tidur ini.

Pengobatan

Metode pengobatan untuk narkolepsi dan hipersomnia sebagian besar tergantung dari keparahan kondisi, durasi gejala, dan pengaruhnya terhadap kualitas hidup penderita.

Perawatan untuk narkolepsi tidak bisa mengobati kondisi ini. Namun, obat-obatan bisa meringankan gejala seperti katapleksi dan rasa kantuk berlebih di siang hari. Stimulan, antidepresan, dan perubahan gaya hidup adalah jenis perawatan yang disarankan bagi narkolepsi.

Perubahan gaya hidup sederhana seperti menghindari kafein dan nikotin, tidur siang dalam waktu singkat, menghindari alkohol, serta berolahraga teratur bisa membantu penderita narkolepsi hidup lebih baik.

Perawatan untuk hipersomnia mirip dengan yang disarankan untuk narkolepsi, tetapi jenis obat yang diresepkan berbeda. Obat-obatan untuk kondisi ini bisa termasuk amphetamine, antidepresan tricyclic dan bahkan obat-obatan yang umumnya diresepkan untuk gangguan kesehatan lain seperti diabetes. [1, 4]

Perubahan gaya hidup juga sangat disarankan, termasuk membatasi asupan kafein dan alkohol, makan makanan yang sehat, serta menghindari aktivitas tertentu menjelang waktu tidur. [1, 4]

Gangguan tidur adalah kondisi yang bisa diatasi dan dirawat. Banyak orang yang mengalami kondisi ini bisa hidup normal dengan bantuan obat-obatan dan perubahan gaya hidup. Terapi juga bisa digunakan untuk mengatasi gangguan depresi yang biasanya muncul bersamaan dengan kedua kondisi ini.

1. Jonathan Strum, Paula Cookson, LCSW. Hypersomnia vs. Narcolepsy. The Recovery Village; 2020.
2. David T. Plante, M.D. Narcolepsy vs Idiopathic Hypersomnia: What’s the Difference? Hypersomnia Foundation; 2017.
3. The American Academy of Sleep Medicine. Narcolepsy and Idiopathic Hypersomnia. Ohio Sleep Medicine Institute.
4. Heaven Stubblefield, University of Illinois-Chicago, College of Medicine. Hypersomnia. Healthline; 2019.

Share