Kentut merupakan cara pengeluaran gas yang dihasilkan saat bakteri memecah karbohidrat di dalam usus besar. Orang sehat biasanya mengeluarkan kentut sekitar 12-25 kali per hari[1].
Kentut atau gas pada usus biasanya tidak menimbulkan rasa sakit. Meski demikian, terkadang gas berlebihan dapat mengakibatkan perut kembung dan sakit hingga ke bagian pinggang[1, 2].
Jumlah gas berlebihan menyebabkan perut terlihat lebih besar dan terasa kencang atau keras ketika disentuh, serta dapat menimbulkan kram perut. Kondisi ini dapat disertai rasa sakit pada pinggang[3, 4].
Kedua gejala saling berkaitan karena pinggang berperan untuk menyokong dan menstabilkan tubuh. Perut kembung mengakibatkan tekanan dan rasa sakit pada area di sekitarnya yang mana dapat menjalar ke pinggang. Sakit yang dirasakan dapat berbeda-beda dalam tingkat keparahan dan jenis bentuk sensasi sakit, mulai dari berdenyut tumpul hingga tajam dan nyeri cubit[3, 4].
Jika kedua gejala dialami secara terpisah, biasanya merupakan kondisi yang sangat umum dan tidak perlu dikhawatirkan. Namun jika sering kentut atau perut kembung terjadi bersamaan dengan sakit pinggang , maka dapat mengindikasikan suatu kondisi yang lebih serius[4].
Daftar isi
Sering kentut disertai dengan sakit pinggang dapat disebabkan oleh kondisi berikut:
Batu empedu ialah deposit pada di dalam kandung kemih, yang mana terbentuk dari cairan pencernaan yang diproduksi hati. Kebanyakan pasien batu empedu tidak mengalami gejala atau asimptomatik.
Namun beberapa pasien mengalami gejala seperti perut kembung dan sakit perut. Biasanya kedua gejala terjadi bersamaan saat batu empedu berpindah dari kendung kemih ke saluran yang mengarah keluar kandung kemih[3, 4].
Sindrom iritasi usus merupakan gangguan umum yang mempengaruhi usus besar. Kondisi ini ditandai dengan gejala seperti perut kembung, kram, sering kentut, diare, dan konstipasi. Pada kasus yang lebih berat, pasien dapat mengalami sakit pada punggung bagian bawah[1, 4].
Sindrom iritasi usus bukan kondisi yang berakibat fatal, tapi gejala dapat berlangsung lama (kronis) atau disertai masalah lain seperti penurunan berat badan dan anemia[4].
Penyebab pasti sindrom iritasi usus belum diketahui, namun diduga melibatkan faktor seperti[1]:
Ketidakmampuan tubuh untuk menoleransi makanan atau substansi tertentu dapat memicu sakit perut atau masalah gas ketika sistem pencernaan mengalami kesulitan mencerna. Saat bakteri di dalam usus besar tidak dapat mencerna makanan tersebut dengan baik, bahan makanan dirombak dan difermentasikan sehingga menghasilkan gas[5].
Penyakit Celiac ialah gangguan autoimun yang menyebabkan inflamasi di dalam usus halus setiap kali penderita mengkonsumsi gluten. Penyakit ini dapat mengakibatkan usus halus menyerap lebih sedikit nutrisi dari makanan[1, 5].
Gejala penyakit Celiac meliputi diare berat, feses abnormal (tebal, pucat, atau bau tidak biasa), dan penurunan berat badan. Reaksi imun akibat penyakit ini mengarah pada terjadinya perubahan dalam dinding dalam usus yang berperan dalam penyerapan nutrisi dari makanan.
Karbohidrat akan menjadi tidak tidak tercerna saat berpindah ke usus besar, di mana selanjutnya terjadi fermentasi yang menghasilkan gas berlebihan[5].
Fruktosa ialah jenis gula yang terkandung dalam kebanyakan buah dan beberapa sayuran. Orang dengan intoleransi fruktosa dapat mengalami gejala seperti sering kentut, perut kembung, diare, dan sakit perut[6].
Intoleransi fruktosa dapat dibedakan menjadi dua, yaitu intoleransi fruktosa dietary dan intoleransi fruktosa turunan. Sel pada tubuh orang dengan intoleransi fruktosa dietary tidak dapat menyerap fruktosa secara normal. Sedangkan pada intoleransi fruktosa turunan, penderita terlahir tanpa memiliki enzim yang dapat memecah fruktosa[6].
Penderita intoleransi laktosa tidak dapat mencerna gula laktosa di dalam susu dengan baik. Intoleransi laktosa terjadi ketika usus halus tidak memproduksi cukup enzim laktase yang diperlukan untuk mencerna laktosa[7].
Akibatnya mereka akan mengalami diare, sering kentut, dan perut kembung setelah makan atau minum produk susu. Kondisi ini biasanya tidak berakibat fatal, namun gejala dapat mengakibatkan gangguan bagi penderita[7].
Pertumbuhan berlebihan bakteri di dalam usus halus menyebabkan asam lambung rendah dan mengurangi kontraksi otot atau koordinasi di dalam usus halus[1].
Gejala pertumbuhan berlebih bakteri pada usus halus dapat berbeda-beda antara satu pasien dengan pasien lain. Gejala biasanya meliputi[1]:
Penyakit refluks gastroesofagus ialah kondisi di mana asam lambung sering kali naik dari lambung ke esofagus. Esofagus merupakan saluran yang menghubungkan mulut ke lambung[1].
Penyakit penyakit refluks gastroesofagus umumnya ditandai gejala seperti mulas dan refluks asam, namun dapat disertai gejala seperti[1]:
Pada kasus yang lebih serius, sakit pinggang dan perut kembung yang terjadi bersamaan dapat merupakan indikasi kanker ovarium. Jika penyebab perut kembung tidak dapat dilacak pada faktor tertentu atau jika sering terjadi tanpa alasan yang jelas, sebaiknya kondisi lebih diwaspadai[4].
Perut kembung terus menerus dan sakit pinggang merupakan salah satu gejala umum yang dilaporkan oleh wanita yang didiagnosis dengan kanker ovarium. Pada kebanyakan kasus, kedua gejala mulai terjadi secara tiba-tiba dan dapat disertai dengan keletihan ekstrim dan kelesuan[4].
Radang dinding lambung ditandai suatu luka atau sobekan pada dinding dalam lambung atau bagian atas usus halus. Radang dinding lambung biasanya disebabkan oleh infeksi H. pylori[4].
Radang dinding lambung menimbulkan rasa sakit atau sensasi terbakar di dalam perut yang dapat terjadi secara kambuhan, berlangsung beberapa menit atau jam dan biasanya dirasakan ketika perut kosong. Gejala lain dapat meliputi muntah, perut kembung, sakit saat kentut, dan penurunan berat badan[5].
Kondisi ini dapat bertambah buruk dengan penggunaan berlanjut pereda rasa sakit seperti ibuprofen atau naproxen[4].
Pancreatitis ialah inflamasi atau peradangan pancreas. Pancretitis dapat mengarah pada pembentukan kista pada pancreas[4].
Gejala seperti sering kentut yang disertai perut kembung, demam, mual, dan muntah dapat menjadi indikasi penting pancreatitis. Jika tidak ditangani, progres dari inflamasi dapat menyebabkan infeksi berkembang di area sekitar mengarah pada kerusakan jaringan dan pendarahan[4, 5].
Mengeluarkan kentut dengan terlalu seringa tau berlebihan dapat menimbulkan masalah bagi penderita dan mengganggu aktivitas. Pada kebanyakan kasus, sering kentut dapat diatasi dengan mudah dengan mengubah diet dan gaya hidup[8].
Pada beberapa kasus, sering kentut dapat memerlukan pertolongan medis. Sebaiknya pasien memeriksakan diri ke dokter jika sering kentut disertai dengan gejala seperti[8, 9]:
Untuk mendiagnosis pasien biasanya dokter perlu mengecek catatan kesehatan dan melakukan pemeriksaan fisik. Jika diperlukan, dokter dapat meminta pasien melakukan beberapa tes tertentu untuk mencari tahu penyebab kondisi, seperti[1, 2]:
Selain itu, dokter dapat melakukan seri gastrointestinal atas. Jenis pemeriksaan ini dapat membantu mengidentifikasi penyebab utama gas berlebih. Jika diperlukan, dokter akan melakukan tes alergi makanan untuk mematikan apakah pasien mengalami alergi pada makanan tertentu[2].
Pengobatan sering kentut dan sakit pinggang bergantung pada penyebab gejala. Jika gejala disebabkan oleh kondisi medis tertentu, maka dilakukan pengobatan spesifik untuk mengatasi kondisi tersebut[1, 2, 3].
Penanganan sering kentut dan sakit pinggang dapat penggunaan obat, perubahan gaya hidup, dan perawatan mandiri.
Berikut beberapa obat yang dapat membantu meringankan masalah gas berlebih[1]:
Beberapa perawatan mandiri dapat membantu meringankan sakit pinggang[1, 3]:
Untuk mengatasi sering kentut dan sakit pinggang dapat diterapkan beberapa gaya hidup sehat dapat membantu mengatasi, antara lain[1]:
Sering kentut dan sakit pinggang biasanya berkaitan dengan masalah gas berlebih atau perut kembung. berikut beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan untuk mencegah masalah gas berlebih[8, 9]:
1. Danielle Dresden, reviewed by Cynthia Taylor Chavoustie, MPAS, PA-C. Painful Gas: Causes, Remedies, and Prevention. Medical News Today; 2020.
2. Dr. Ryan Russell. Can Gas Cause Back Pain? Integrative Chiro Center; 2021.
3. Rachel Nall, MSN, CRNA, reviewed by Stacy Sampson, DO. What’s Causing My Abdominal Bloating and Back Pain? Healthline; 2020.
4. Anonim. Red Flags for Swollen Stomach and Back Pain. All Star Pain Management & Regenerative Medicine; 2017.
5. Diana Rodriguez, reviewed by Kareem Sassi, MD. Here’s What May Be Causing Your Digestive Gas Pain. Every Day Health; 2021.
6. Anonim. What Is Fructose Intolerance? Health Essentials Cleveland Clinic; 2021.
7. Anonim. Lactose Intolerance. Mayo Clinic; 2020.
8. Erica Cirino, reviewed by Cynthia Taylor Chavoustie, MPAS, PA-C. Why Do I Keep Farting? Healthline; 2019.
9. Anonim. Flatulence. NHS inform; 2020.