Penyakit & Kelainan

Syok Septik: Gejala, Penyebab dan Pengobatan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Apa itu Syok Septik ?

Syok septik, merupakan salah satu komplikasi dari sepsis yang memiliki tingkat kematian yang tinggi. Mengingat, Syok Sepsis ini berkaitan dengan tekanan darah yang sangat rendah, kondisi mental yang berubah dan bahkan disfungsi organ [1, 2].

Semakin cepat sepsis didiagnosis dan diberikan perawatan yang tepat maka akan semakin besar pencegahan terhadap terjadinya Syok Sepsis [2].

Gejala Syok Septik

Gejala yang ditunjukkan oleh Syok Sepsis mungkin akan berbeda beda pada setiap orang. Namun, secara umum gejala yang paling awal dari Syok Sepsis mungkin akan meliputi [3]:

  • Sesak napas
  • Demam, menggigil, atau merasa sangat dingin
  • Rasa sakit atau ketidaknyamanan yang luar biasa
  • Detak jantung yang cepat
  • Kebingungan atau disorientasi yang tidak dapat dijelaskan
  • Kulit lebih cenderung mudah berkeringat atau lembap

Selain itu, gejala lain mungkin juga dapat ditimbulkan oleh Syok Sepsis, termasuk [3]:

  • Tanda-tanda umum infeksi, seperti demam, diare, muntah, atau sakit tenggorokan
  • Frekuensi buang air kecil berkurang
  • Kulit menjadi terlihat pucat atau berubah warna
  • Ruam di kulit

Penyebab Syok Septik

Syok Sepsis merupakan komplikasi sepsis, yang umumnya disebabkan oleh infeksi, baik dari bakteri, jamur atau virus. Infeksi tersebut dapat terjadi di berbagai tempat dan kesempatan, termasuk di rumah maupun di rumah sakit [2].

Adapun sepsis sendiri lebih seringnya berasal dari infeksi berikut ini [2]:

Syok Septik dapat terjadi ketika sepsis tidak segera di diagnosis dan mendapatkan perawatan yang tepat [2].

Faktor Risiko Syok Septik

Syok Sepsis sendiri mungkin risikonya akan meningkat jika seseorang memiliki beberapa faktor berikut ini [2]:

  • Usia

Syok Sepsis biasanya lebih berisiko pada orang ayang lebih tua maupun bayi yang baru lahir. Mengingat, pada usia itu, sistem kekebalan tubuhnya cenderung lebih rentan.

  • Kehamilan

Syok Sepsis mungkin juga lebih berisiko pada perempuan yang sedang hamil.

  • Kondisi Medis yang Melemahkan Sistem Kekebalan Tubuh

Jika seseorang memiliki kondisi medis seperti HIV, kondisi autoimun, sirosis hati, penyakit ginjal maupun kanker maka orang tersebut akan lebih berisiko mengalami Syok Sepsis.

Mengingat, kondisi medis tersebut dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh seseorang, sehingga infeksi lebih mungkin terjadi.

  • Riwayat Tinggal di Rumah Sakit

Jika seseorang baru saja pulih dari operasi, maupun pernah berada di rumah sakit dalam waktu yang lama, maka orang tersebut mungkin lebih berisiko mengalami Syok Sepsis

Orang orang yang hidup dengan diabetes mungkin lebih berisiko mengembangkan Syok Sepsis daripada yang tidak memiliki kondisi medis diabetes.

  • Menggunakan Perangkat Bantu

Menggunakan perangkat bantu seperti berikut ini diketahui dapat meningkatkan risiko masuknya bakteri ke dalam tubuh [2]:

  1. Kateter intravena
  2. Kateter urin
  3. Tabung pernapasan
  • Mengonsumsi Obat Imunosupresan

Mengonsumsi obat imunosupresan diketahui dapat menekan sistem kekebalan tubuh sehingga Syok Sepsis mungkin lebih berisiko terjadi.

Komplikasi Syok Septik

Syok Sepsis termasuk kondisi medis yang berbahaya karena dapat menyebabkan berbagai komplikasi yang membahanyakan jiwa penderitanya. Adapun komplikasi Syok Sepsis tersebut antara lain [2]:

Perlu juga diketahui bahwa, terjadinya komplikasi Syok Sepsis tersebut mungkin akan bergantung pada beberapa faktor penting berikut ini [2]:

  • Usia
  • Seberapa cepat pengobatan dimulai
  • Penyebab dan asal mula sepsis di dalam tubuh
  • Kondisi medis yang sudah ada sebelumnya

Kapan Harus Kedokter ?

Mengingat Syok Sepsis merupakan kondisi medis yang serius, dan bentuk dari komplikasi sepsi maka ketika mengalami gejala sepsis sebaiknya langsung memeriksakan diri kedokter [4].

Semakin cepat sepsis menggunakan penanganan maka akan risiko terjadinya Syok Sepsis dapat dicegah [2].

Diagnosis Syok Septik

Diagnosis Syok Sepsis ini mungkin akan dilakukan jika seseorang sudah terdiagnosis sepsis. Selain itu, faktor lain berikut ini juga termasuk kriteria yang harus dipenuhi untuk melakukan diangnosis [3]:

  • Tekanan darah sangat rendah (hipotensi)
  • Kadar laktat darah lebih dari 2 milimol per liter

Mengingat gejala Syok Sepsis ini mirip dengan gejala kondisi medis lain seperti kegagalan organ, maka diagnosis Syok Sepsis akan dilakukan dengan hati hati oleh ahli medis yang profesional [3].

Adapun ahli medis profesional tersebut mungkin akan melakukan beberapa tes untuk mendiagnosis Syok Sepsis, termasuk [3]:

  • Kultur Darah

Kultur darah untuk mendiagnosis sepsis dilakukan dengan mengambil sampel darah dari dua tempat berbeda di dalam tubuh.

Hasil dari kultur darah ini akan digunakan untuk menemukan tanda tanda infeksi yang terjadi di dalam tubuh.

  • Tes Urin

Jika Syok Sepsis berhubungan dengan infeksi saluran kemih, atau dokter juga menemukan indikasi gejala infeksi saluran kemih maka tes urin mungkin akan dilakukan dalam terhadap diagnosis Syok Sepsis.

Tes urin ini akan digunakan untuk memeriksa infeksi maupun bakteri yang ada di dalam tubuh.

  • Sekresi Luka

Sekresi luka, atau pengambilan sampel berupa cairan kecil dari luka akan dapat membantu menentukan antibiotik yang paling tepat untuk pengobatan Syok Sepsis nantinya.

  • Sekresi Pernapasan

Jika orang yang diduga menderita Syok Sepsis juga mengalami batuk berlendir, maka dokter mungkin juga akan melakukan uji sekresi pernapasan untuk memastikan penyebab infeksi.

  • Pemindaian Pencitraan

Jika pasien yang diduga menderita Syok Sepsis tidak menunjukkan lokasi infeksi yang tepat maka dokter mungkin akan menggunakan pemindaian pencitraan dalam mendiagnosisnya.

Adapun pemindaian pencitraan yang mungkin digunakan antara lain [3]:

  1. Sinar-X
  2. Pemindaian CT
  3. Pemindaian MRI
  4. Ultrasound

Pengobatan Syok Septik

Pengobatan terhadap Syok Sepsis harus segera dilakukan dengan tepat dan segera. Mengingat, sepsis yang parah maupun Syok Sepsis diketahui dapat lebih berisiko mengakibatkan kematian jika proses pengobatan tertunda [3].

Orang orang yang didiagnosis Syok Sepsis umumnya membutuhkan perawatan khusus dan rawat inap dalam proses pengobatannya. Adapun metode pengobatan Syok Sepsis yang mungkin disarankan oleh dokter antara lain [3]:

  • Antibiotik

Mengingat, Syok Sepsis disebabkan oleh infeksi, maka antibiotik adalah metode pengobatan yang umumnya digunakan. Setelah seseorang didiagnosis dengan Syok Sepsis maka, satu jam setelahnya pengobatan antibiotik harus dimulai.

Adapun antibiotik ini akan diberikan secara langsung ke pembuluh darah. Untuk pemilihan antibiotiknya umumnya akan digunakan antibiotik spekstrum luas.

Dengan demikian, antibiotik tersebut dapat bekerja melawan sebagaian besar bakteri yang dapat menyebabkan infeksi Syok Sepsis. Selanjutnya, jika dokter telah mengetahui bakteri penyebab infeksi Syok Sepsis secara spesifik maka antibiotiknya pun akan beralih ke antibiotik yang lebih spesifik, khusus melawan bakteri tersebut.

  • Vasopresor

Obat obatan vasopressor mungkin juga akan direkomendasikan oleh dokter dalam mengobati Syok Sepsis. Mengingat, obat vasopressor ini dapat membantu mempertahankan tekanan darah.

Fungsi obat vasopressor sendiri adalah mengencangkan pembuluh darah pasien. Jika pembuluh darah kencang, maka tekanan darah seseorang akan meningkat.

Adapun obat vasopressor ini umumnya baru akan digunakan jika tekanan darah seseorang masih sangat rendah bahkan setelah memperoleh cairan tambahan.

Kortikosteroid merupakan obat antinflamasi yang dapat membantu mengelola tekanan darah dan detak jantung yang tidak stabil, khususnya setelah pasien mendapatkan cairan maupun obat vasopressor.

Kortikosteroid ini lebih dinilai lebih bermanfaat pada Syok Sepsis yang lebih parah. Namun, penelitian lebih lanjut mungkin masih dibutuhkan untuk memperjalas manfaat tersebut.

  • Obat Tambahan

Obat tambahan seperti insulin mungkin akan direkomendasikan oleh dokter dalam pengobatan Syok Sepsis. Khususnya pada pasien yang membutuhkan penstabil kadar gula darah. Selain itu, insulin mungkin juga dibutuhkan untuk mencegah berkembangnya hiperglikemia.

Pencegahan Syok Septik

Berikut ini merupakan beberapa langkah yang mungkin dapat bermanfaat dalam membantu mengurangi risiko sepsis maupun Syok Sepsis [3]:

  • Dapatkan vaksinasi rutin terhadap infeksi virus yang dapat menyebabkan sepsis
  • Praktikkan kebiasaan hidup bersih yang baik
  • Segera dapatkan perawatan dan bersihkan luka terbuka atau menganga
  • Ikuti saran medis tentang penanganan infeksi bakteri
  • Obati infeksi jamur dan parasit segera setelah gejala muncul, jangan pernah ditunda
  • Kendalikan atau kelola dengan baik kondisi medis seperti diabetes
  • Hindari merokok maupun terpapar asap rokok
  • Selalu mencuci tangan setelah berhubungan dengan orang yang memiliki kondisi medis (sistem kekebalan rendah)
  • Jika memiliki kondisi medis dengan fungsi kekebalan yang terganggu maka harus lebih berhati-hati saat mencuci tangan

Adapun, sebagai tambahan berikut ini merupakan beberapa langkah untuk mencucui tangan yang benar agar bisa dipraktikkan [3]:

  • Lepaskan aksesoris tangan, seperti cincin, jam tangan dan gelang ketika mencuci tangan agar semua area kulit dapat dibersihkan menyeluruh
  • Gunakan air hangat dan alirkan ke area kulit tangan maupun pergelangan tangan
  • Gunakan sabun cair yang tepat
  • Bersihkan juga area kulit di antara jari jari
  • Mencuci tangan setidaknya 10 hingga 15 detik
  • Hindari menyentuh barang secara langsung setelah mencuci tangan, termasuk ketika akan mematikan keran (gunakan handuk untuk menghindari kontaminasi)
  • Keringkan kulit tangan setelah mencuci bersih menggunakan handuk

1. Sidharth Mahapatra & Alan C. Heffner. Septic Shock. National Center for Biotechnology Information, U.S. National Library of Medicine; 2022.
2. Jessica DiGiacinto, Shannon Johnson & Meredith Goodwin, MD, FAAF. Septic Shock. Healthline; 2021.
3. Adam Felman & Megan Soliman, MD. How to avoid septic shock. Medical News Today; 2021.
4. Anonim. Septic shock. Medlineplus; 2022.

Share