Penyakit & Kelainan

Depresi Atipikal : Penyebab – Gejala dan Pengobatan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Tinjauan Medis : dr. Maria Arlene, Sp.Ak
Segala jenis dan bentuk depresi dapat menyebabkan penderitanya merasa sedih berkepanjangan dan tidak dapat menikmati hidup. Namun depresi yang disebut depresi atipikal, adalah depresi dengan gejala yang

Apa Itu Depresi Atipikal?

Depresi atipikal adalah sebuah kondisi gangguan mental di mana penderitanya mengalami rasa sedih yang dalam dan konstan sehingga tak mampu menikmati hidup [1,2,4,5].

Depresi atipikal sempat dianggap termasuk dalam bentuk depresi, namun kemudian American Psychiatric Association menentukan bahwa depresi atipikal ini adalah gangguan mental yang berbeda dari depresi.

Kini, depresi atipikal lebih dikenal dengan gangguan depresi mayor dengan karakteristik atipikal di mana itu artinya depresi atipikal memengaruhi perasaan, perilaku dan pikiran penderitanya [6].

Bila tergolong sebagai depresi mayor, suasana hati yang terlampau buruk dapat kembali baik ketika berada pada situasi atau keadaan yang positif.

Tinjauan
Depresi atipikal adalah jenis gangguan depresi mayor di mana penderita mengalami kesedihan dan rasa putus asa yang konstan sehingga tak mampu menjalani hidupnya dengan normal dan bahagia.

Fakta Tentang Depresi Atipikal

  1. Prevalensi depresi atipikal adalah sekitar 40% berdasarkan kriteria DSM-IV di antara sampel laporan kasus gangguan depresi mayor [1].
  2. Dari sejumlah hasil studi menunjukkan bahwa prevalensi depresi atipikal lebih tinggi terjadi pada wanita dengan risiko empat kali lipat dibandingkan pria [1].
  3. Atipikal depresi lebih banyak dijumpai pada remaja maupun pasien dengan usia sekitar 20 tahun; hal ini diketahui dari berdasarkan gejala depresi yang dialami mereka [1].
  4. Di Indonesia prevalensi kasus depresi atipikal sendiri belum diketahui jelas, namun banyak orang dengan gangguan depresi ini mengalami gangguan tidur, kelelahan siang hari dan iritabilitas [2].
  5. Menurut hasil penelitian Peltzer dan Pengpid, 21,8% orang menderita gejala depresi sedang atau berat saat terlibat dalam survei yang diadakan dalam studi ini [3].
  6. Tingkat prevalensi kasus depresi sedang atau berat pada wanita jauh lebih tinggi daripada pria dengan persentase 22,3% dan 21,4% [3].
  7. Prevalensi gejala depresi paling tinggi adalah pada kelompok remaja dengan rentang usia 15-19 tahun di mana remaja perempuan adalah yang terbukti paling banyak mengalami gejala depresi sedang hingga berat [3].
  8. Menurut survei yang sama, prevalensi gejala depresi sedang atau berat paling tinggi (29%) pada laki-laki adalah pada kelompok usia 20-29 tahun [3].
  9. Prevalensi gejala depresi sedang atau berat paling tinggi kedua pada laki[-laki adalah kelompok usia remaja dengan persentase sebesar 26,6% [3].

Penyebab Depresi Atipikal

Belum diketahui jelas penyebab depresi atipikal, namun umumnya jenis depresi atipikal adalah kondisi gangguan mental yang dialami berawal dari usia remaja.

Beberapa faktor di bawah ini diduga kuat menjadi alasan seseorang dapat mengalami depresi atipikal :

  • Faktor Keturunan atau Genetik – Seseorang yang mempunyai anggota keluarga dekat yang memiliki riwayat depresi dapat lebih berpotensi mengalami kondisi gangguan mental yang sama [1].
  • Kelainan Fungsi Otak – Gangguan atau kelainan fungsi pada otak (neurotransmiter yang mengalami masalah) dapat menjadi alasan utama perubahan pada sistem saraf dan fungsi reseptor saraf sehingga memicu depresi untuk timbul [5].
  • Faktor Riwayat Gangguan Mental Tertentu – Memiliki riwayat gangguan mental lain seperti gangguan bipolar dapat dengan mudah meningkatkan risiko seseorang mengalami depresi atipikal [1,2,4].
  • Faktor Pengalaman Masa Kecil – Pengalaman masa kecil yang traumatis atau tidak menyenangkan dapat menjadi pemicu seseorang mengalami depresi atipikal ataupun jenis gangguan mental lainnya [1].
  • Penyalahgunaan Alkohol atau Narkoba – Alkohol dan narkotika terdiri dari zat-zat berbahaya yang mampu merusak kesehatan sistem saraf otak. Penyalahgunaan alkohol dan obat terlarang dalam jangka panjang dapat menjadi pemicu depresi atipikal dan gangguan mental lainnya [6].
  • Faktor Lingkungan – Berbagai hal dari luar dapat menjadi alasan seseorang tertekan dan stres berkepanjangan yang kemudian mampu berakibat pada depresi berat atau bahkan depresi atipikal [7].
  • Pengalaman Menyedihkan – Seseorang yang mengalami perpisahan (perceraian atau anggota keluarga dekat meninggal dunia) dapat mengalami rasa sedih dan putus asa berkepanjangan yang kemudian memicu kondisi depresi atipikal [8].
Tinjauan
Penyebab pasti depresi atipikal belum diketahui, namun faktor genetik, pengalaman masa kecil, pengalaman menyedihkan, pengalaman tak menyenangkan, gangguan fungsi otak, faktor gangguan mental tertentu, faktor riwayat kesehatan keluarga, faktor lingkungan, serta penyalahgunaan alkohol serta narkoba mampu memicu depresi kondisi ini.

Gejala Depresi Atipikal

Depresi atipikal dapat menimbulkan gejala yang berbeda-beda pada tiap penderitanya.

Namun, beberapa gejala utama yang dapat dikenali dan diwaspadai antara lain adalah [1,2,4,5] :

  • Menghabiskan banyak waktu untuk tidur (tidur terlalu sering) namun masih merasa mengantuk juga, terutama di siang hari.
  • Sensitif terhadap kritik atau komentar orang lain sehingga memengaruhi kualitas pekerjaan dan hubungan sosial dengan orang lain.
  • Perubahan selera makan (menurun atau meningkat) sehingga dapat mengalami berat badan turun atau naik secara berlebihan.
  • Depresi akan hilang sementara ketika penderita mendapat kabar baik atau mengalami peristiwa menyenangkan.
  • Kaki dan lengan terasa berat dan sensasi seperti ini dapat dirasakan berjam-jam dalam sehari.

Depresi atipikal dapat terjadi pada orang-orang dengan tanda-tanda yang lebih parah, seperti timbulnya keinginan untuk bunuh diri [1,4].

Selain itu, pada kondisi depresi atipikal dengan gejala lebih berat, penderita akan terhambat dalam menjalani aktivitas sehari-hari sekalipun kegiatan tersebut tergolong ringan.

Kapan sebaiknya memeriksakan diri ke dokter?

Ketika merasa depresi, penting untuk segera menemui dokter dan memeriksakan diri, khususnya jika beberapa tanda di atas mulai dirasakan.

Depresi atipikal adalah jenis gangguan mental yang dapat memburuk dengan cukup cepat apabila tak segera diatasi dengan tepat.

Mencoba berbicara lebih dulu dengan orang terdekat (anggota keluarga atau sahabat) sangat dianjurkan, lalu cobalah berkonsultasi dengan ahli kesehatan jiwa dan mental profesional.

Tinjauan
Gejala utama pada kondisi depresi atipikal meliputi tidur berlebihan, mengantuk terus-menerus (khususnya siang hari), gampang tersinggung, peningkatan atau penurunan nafsu makan, bertambah atau menurunnya berat badan, sensasi berat pada lengan dan kaki berjam-jam, serta terhambatnya kualitas pekerjaan dan kehidupan sosial.

Pemeriksaan Depresi Atipikal

Ketika memeriksakan diri, berikut ini adalah beberapa metode diagnosa yang umumnya dokter gunakan untuk memastikan depresi atipikal dan mengidentifikasi penyebabnya.

1. Pemeriksaan Fisik

Dokter lebih dulu memeriksa fisik pasien untuk mengetahui apakah ada kondisi fisik pasien yang memicu gejala depresi atipikal timbul [9].

Pada beberapa kasus, seseorang dapat mengalami depresi atipikal karena tengah menderita kondisi medis tertentu.

2. Tes Laboratorium

Tes laboratorium yang biasanya dokter rekomendasikan meliputi tes darah lengkap [1,4].

Tes tiroid juga tergolong tes laboratorium yang membantu dokter dalam mengetahui apakah fungsi tiroid bekerja dengan normal [10].

3. Evaluasi Psikologis

Untuk memastikan bahwa kondisi gejala yang dialami pasien adalah kondisi depresi atipikal, evaluasi psikologis perlu diterapkan.

Pada pemeriksaan ini, dokter akan memberikan beberapa pertanyaan mengenai [1,4] :

  • Riwayat gejala yang dialami pasien.
  • Pengalaman masa lalu pasien
  • Kehidupan pribadi pasien
  • Riwayat kondisi medis dan pengobatan pasien
  • Riwayat kesehatan keluarga pasien

Dokter dapat mendiagnosa pasien dengan depresi atipikal apabila dipastikan pasien tidak memiliki kondisi medis apapun yang mampu menyebabkan gejala depresi atipikal.

Selain itu, dokter ahli kesehatan mental dan jiwa akan berpacu pada kriteria diagnosa DSM-5 yang umumnya selalu digunakan untuk mendiagnosa pasien dengan kondisi gangguan mental [11].

Bila pasien memenuhi kriteria diagnosa yang dipublikasikan oleh American Psychiatric Association tersebut, maka sudah dapat dipastikan bahwa pasien menderita depresi mayor, khususnya depresi atipikal.

Tinjauan
Metode diagnosa depresi atipikal meliputi pemeriksaan fisik, pemeriksaan riwayat kesehatan, tes laboratorium, dan evaluasi psikologis.

Pengobatan Depresi Atipikal

Depresi atipikal dapat ditangani melalui beberapa metode pengobatan, yaitu melalui pemberian obat-obatan, psikoterapi, dan juga perubahan gaya hidup.

Melalui Psikoterapi

Psikoterapi adalah penanganan depresi paling umum di mana pasien akan didampingi oleh terapis profesional dalam menangani kondisi mental dan jiwa.

Terapi perilaku kognitif adalah salah satu bentuk psikoterapi yang perlu pasien tempuh agar pasien dapat mengalami kemajuan dalam beberapa hal berikut [4,9] :

  • Mengidentifikas dan memahami perilaku dan cara berpikir yang negatif.
  • Mencari cara terbaik untuk mengatasi masalah yang memicu cara pikir serta perilaku tersebut.
  • Membuat tujuan realistis untuk hidup.
  • Mengembalikan rasa puas dan bahagia dalam hidup.
  • Mengendalikan kembali kehidupan pribadi dengan lebih baik,
  • Mengatasi rasa marah, sedih dan putus asa yang selama ini dirasakan oleh pasien sebagai gejala.
  • Mengatasi kondisi-kondisi tertentu pemicu depresi atipikal, seperti penyalahgunaan alkohol dan narkoba hingga kondisi gangguan kecemasan tertentu.

Konsultasikan segala hal dengan terapis, karena dengan terbuka maka terapis dapat membantu pasien mengalami pemulihan.

Tak jarang terapi eksposur menjadi salah satu bentuk psikoterapi yang juga diterapkan pada pasien [1,7].

Mengekspos hal-hal yang menjadi faktor penyebab pasien depresi menjadi cara yang diyakini efektif membuat pasien mampu melawannya.

Melalui Obat-obatan

Selain psikoterapi, pasien kemungkinan besar harus menjalani terapi obat.

Berikut ini adalah jenis-jenis obat yang umumnya diresepkan untuk meredakan gejala depresi atipikal :

  • MAOI (Monoamine Oxidase Inhibitors)

Antidepresan ini jenis obat yang telah lama digunakan untuk pengobatan depresi di mana phenelzine adalah salah satu jenis MAOI yang efektif untuk kondisi depresi atipikal [1,4].

Namun meski baik untuk meredakan gejala panik, kecemasan dan kondisi depresi atipikal lainnya, efek samping yang ditimbulkan dari obat ini tergolong serius.

Penggunaan obat ini harus ekstra hati-hati dan diimbangi dengan diet ketat karena interaksi obat ini dengan beberapa jenis makanan dan obat lain bisa berbahaya.

MAOI adalah golongan obat antidepresan yang akan berbahaya bila berinteraksi dengan suplemen herbal tertentu dan juga obat dekongestan.

Bahkan SSRI (selective serotonin reuptake inhibitors) yang biasanya digunakan untuk mengatasi depresi juga tidak dapat dikombinasi dengan MAOI karena efeknya yang membahayakan kesehatan pasien.

  • SSRI (Selective Serotonin Reuptake Inhibitors)

Fluoxetine dan sertraline adalah obat golongan SSRI yang umumnya menjadi alternatif dari MAOI [1,4,5,7].

SSRI juga menjadi obat yang paling kerap diresepkan oleh dokter untuk penderita depresi, termasuk depresi atipikal.

  • Antidepresan Trisiklik

Dokter kemungkinan juga meresepkan obat ini walaupun bila dibandingkan dengan kedua jenis obat antidepresan lainnya, antidepresan trisiklik memiliki tingkat efektivitas yang lebih rendah [4].

Namun sebagai alternatif dari MAOI dan SSRI, antidepresan trisiklik tetap dapat diandalkan untuk mengurangi gejala depresi atipikal.

Melalui Perubahan Gaya Hidup

Selain menjalani psikoterapi dan terapi obat, penting bagi pasien untuk menjaga diri sendiri melalui perubahan gaya hidup.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dilakukan oleh pasien antara lain adalah [12,13] :

  • Mengonsumsi obat resep dokter secara teratur.
  • Berkonsultasi dengan dokter dan menempuh psikoterapi secara rutin.
  • Aktif berolahraga, namun tidak sampai berlebihan. Lakukan jogging, renang atau bahwan sekedar berjalan kaki.
  • Makan makanan dan minuman yang bergizi seimbang dan menyehatkan bagi fisik maupun mental.
  • Aktif bergerak, seperti berkebun misalnya atau kegiatan lain yang lebih dapat dinikmati.
  • Memperoleh kualitas tidur yang baik dengan tidur 8-9 jam per hari.
  • Melakukan meditasi dan latihan pernapasan untuk ketenangan diri.
  • Menghindari obat-obatan terlarang dan alkohol agar tidak memperburuk kondisi gejala.
Tinjauan
Pengobatan depresi atipikal umumnya melalui psikoterapi (terapi eksposur dan terapi perilaku kognitif), pemberian obat-obatan antidepresan, dan perubahan gaya hidup menjadi lebih sehat.

Komplikasi Depresi Atipikal

Depresi atipikal yang diabaikan atau terlambat memperoleh penanganan dapat mengakibatkan sejumlah kondisi komplikasi, yaitu [1,4,14] :

  • Sensitivitas yang tinggi terhadap perkataan orang lain akan menyebabkan timbulnya masalah dalam pekerjaan maupun kehidupan sosial.
  • Obesitas karena peningkatan nafsu makan yang tak terkendali.
  • Timbul gangguan mental lainnya.
  • Penyalahgunaan alkohol dan penggunaan narkoba sebagai pelarian.
  • Aksi bunuh diri karena depresi yang berkepanjangan.

Pencegahan Depresi Atipikal

Belum terdapat cara pasti dalam mencegah agar depresi atipikal tidak terjadi sama sekali.

Namun, beberapa hal di bawah ini dapat dilakukan untuk meminimalisir risiko depresi atipikal :

  • Pilih orang terdekat (anggota keluarga atau teman) yang terpercaya untuk menjadi sahabat berbagi cerita ketika sedang mengalami masa-masa berat dan stres.
  • Cari hal-hal positif untuk mengalihkan sekaligus meredakan stres.
  • Segera cari penanganan untuk mengatasi tanda-tanda awal depresi atipikal yang mulai dirasakan; hal ini dapat mencegah perburukan gejala.
  • Pertimbangkan perawatan depresi atipikal jangka panjang supaya meminimalisir risiko gejala untuk kambuh.
Tinjauan
Belum ada cara mencegah depresi atipikal, namun untuk mencegah stres yang berujung pada depresi berat, kelola stres dengan positif, berbagilah beban dengan orang-orang terdekat yang dapat dipercaya, dan segera berkonsultasi dengan ahli kesehatan mental bila tanda-tanda depresi atipikal mulai dialami.

1. Tanvir Singh, MD & Kristi Williams, MD. Atypical Depression. Psychiatry; 2006.
2. dr. Anak Ayu Sri Wahyuni, SpKJ. Diagnosis dan Patofisiologi Gangguan Depresi Mayor. SIM DOSEN Universitas Udayana; 2018.
3. Peltzer, K. & Pengpid, S. High prevalence of depressive symptoms in a national sample of adults in Indonesia: childhood adversity, sociodemographic factors and health risk behaviour. Asian Journal of Psychiatry; 2018.
4. Dorota Łojko & Janusz K Rybakowski. Atypical depression: current perspectives. Neuropsychiatric Disease and Treatment; 2017.
5. Brett Silverstein & Jules Angst. Evidence for Broadening Criteria for Atypical Depression Which May Define a Reactive Depressive Disorder. Psychiatry Journal; 2015.
6. Naomi R. Marmorstein. Associations between subtypes of major depressive episodes and substance use disorders. HHS Public Access; 2012.
7. Phillip W. Gold, Rodrigo Machado-Vieira, & Maria G. Pavlatou. Clinical and Biochemical Manifestations of Depression: Relation to the Neurobiology of Stress. Hindawi; 2015.
8. K Pahkala, S L Kivelä, & P Laippala. Social and environmental factors and atypical depression in old age. Zeitschrift fur Gerontologie; 1990.
9. Suma P. Chand & Hasan Arif. Depression. National Center for Biotechnology Information; 2020.
10. Konstantinos N Fountoulakis, Apostolos Iacovides, Philippos Grammaticos, George St Kaprinis, & Per Bech. Thyroid function in clinical subtypes of major depression: an exploratory study. BioMed Central Psychiatry; 2004.
11. Navneet Bains & Sara Abdijadid. Major Depressive Disorder. National Center for Biotechnology Information; 2020.
12. Qingyi Huang, Huan Liu, Katsuhiko Suzuki, Sihui Ma, & Chunhong Liu. Linking What We Eat to Our Mood: A Review of Diet, Dietary Antioxidants, and Depression. Antioxidants (Basel); 2019.
13. Felipe A. Jain, M.D., Roger N. Walsh, M.D., Ph.D., Stuart J. Eisendrath, M.D., Scott Christensen, B.A., & B. Rael Cahn, M.D., Ph.D. Critical Analysis of the Efficacy of Meditation Therapies for Acute and Subacute Phase Treatment of Depressive Disorders: A Systematic Review. HHS Public Access; 2015.
14. Beatriz Villagrasa Blasco, Jesús García-Jiménez, Isabel Bodoano, & Luis Gutiérrez-Rojas. Obesity and Depression: Its Prevalence and Influence as a Prognostic Factor: A Systematic Review. Psychiatry Investigation; 2020.

Share