Penyakit & Kelainan

Henti Jantung : Penyebab – Gejala dan Penanganan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Tinjauan Medis : dr. Fithriani Salma
Henti jantung, atau biasa dikenal Henti jantung mendadak/Sudden cardiac arrest (SCA) merupakan keadaan gawat darurat dimana jantung secara tiba-tiba berhenti berdenyut. Pada henti jantung, terjadi gangguan

Apa Itu Henti Jantung?

Henti jantung atau yang juga disebut dengan sudden cardiac arrest merupakan suatu keadaan detak jantung yang berhenti tiba-tiba karena jantung kehilangan fungsinya [1,2,3,4,5,6,7].

Kondisi henti jantung adalah efek dampak dari gangguan listrik jantung yang memicu masalah pada proses pemompaan darah.

Hal ini kemudian membuat aliran darah menuju seluruh tubuh terhambat dan cenderung terhenti.

Pada kasus henti jantung, penderitanya mengalami henti nafas dan kehilangan kesadaran.

Umumnya, kerusakan otak permanen dapat menjadi akibat dari henti jantung mendadak. Namun, dampak paling mengerikan dari kondisi ini adalah penderitanya dapat kehilangan nyawa.

Tinjauan
Henti jantung mendadak atau sudden cardiact arrest adalah berhentinya detak jantung tiba-tiba karena gangguan listrik jantung sehingga memengaruhi proses pemompaan darah dan aliran darah. Henti jantung umumnya ditandai dengan henti nafas dan hilangnya kesadaran penderita.

Fakta Tentang Henti Jantung

  1. Di Amerika Serikat, kurang lebih 400.000 orang mengalami henti jantung mendadak per tahunnya [1].
  2. Para penderita henti jantung di Amerika Serikat beberapa telah didiagnosa dengan penyakit jantung, ada pula yang tidak memiliki riwayat jantung [1].
  3. Di Amerika Serikat, 70% kasus henti jantung disebabkan oleh penyakit jantung koroner [1].
  4. Pada usia dewasa muda, risiko henti jantung tetap paling tinggi adalah pada pria daripada wanita [1].
  5. Di Indonesia, prevalensi henti jantung belum diketahui jelas, namun pada tahun 2013 prevalensi penyakit jantung koroner adalah sekitar 0,5% menurut diagnosis dokter, sedangkan untuk gejalanya adalah 1,5% [2].
  6. Potensi kelangsungan hidup pasien henti jantung di luar rumah sakit adalah kurang lebih 7% secara keseluruhan [4]

Perbedaan Henti Jantung dan Serangan Jantung

Perbedaan Henti Jantung dan Serangan Jantung ( img : PlusTrac )

Henti jantung adalah kondisi yang terjadi karena aktivitas listrik jantung mengalami gangguan dan kehilangan fungsi [5].

Aritmia pun terjadi sehingga detak jantung mulai tidak teratur.

Proses pemompaan darah oleh jantung yang membawa oksigen ke seluruh tubuh menjadi terhambat.

Hal inilah yang kemudian memicu penderita tak lama mengalami kehilangan denyut nadi dan kehilangan kesadaran.

Henti jantung dapat sangat cepat merenggut nyawa penderitanya (hanya dalam beberapa menit) bila penderita tak segera ditangani.

Pada kasus serangan jantung, penyakit ini terjadi ketika arteri mengalami sumbatan ataupun penyempitan sehingga darah yang membawa oksigen terhambat menuju jantung.

Bila sumbatan arteri tak segera ditangani dan pembuluh darah tak mampu mengalirkan darah secara normal kembali, bagian jantung dapat kehilangan fungsinya.

Henti jantung dan serangan jantung adalah dua kondisi berbeda di mana keduanya saling berkaitan.

Serangan jantung dapat menjadi pemicu henti jantung walaupun tidak secara langsung menyebabkan henti jantung.

Untuk dapat menyelamatkan penderitanya, penanganan medis harus segera diberikan.

Tinjauan
Henti jantung adalah kondisi detak jantung yang bisa berhenti secara mendadak karena aktivitas listrik jantung terganggu maupun karena terjadinya aritmia.
Sedangkan pada kasus serangan jantung, aliran darah tak lancar karena sumbatan pada pembuluh arteri oleh plak yang membuat jantung tak mendapat oksigen cukup untuk bekerja.
Pada penderita serangan jantung, risiko mengalami henti jantung sangat besar.

Penyebab Henti Jantung

Masalah pada irama jantung atau aritmia biasanya kemudian dapat berpengaruh buruk pada sistem listrik jantung yang bila sampai terjadi kerusakan maka akan menyebabkan henti jantung mendadak.

Irama detak jantung pada dasarnya dikendalikan oleh sistem listrik jantung ini, maka bila gangguan terjadi, otomatis irama jantung bisa jadi jauh lebih lambat, cepat atau bahkan tidak teratur.

Aritmia penyebab henti jantung terjadi karena ventrikel fibrilasi, yakni kondisi ventrikel jantung tidak berdenyut untuk proses pemompaan darah melainkan hanya bergetar.

Karena hal ini, jantung dapat berhenti secara tiba-tiba karena aliran darah yang seharusnya terpompa ke seluruh tubuh menjadi tidak dapat mengalir normal.

Beberapa kondisi penyakit jantung berikut ini pun sangat mampu meningkatkan risiko henti jantung mendadak [1,4,5,6,7] :

Penyakit jantung kongenital atau bawaan lebih berisiko terjadi pada anak-anak maupun remaja yang kemudian meningkatkan potensi henti jantung.

Kelainan jantung bawaan yang sudah ditangani dengan operasi pun tetap dapat memicu henti jantung, khususnya pada orang dewasa.

  • Penyakit Arteri Koroner

Pada penderita arteri koroner, risiko terserang henti jantung jauh lebih besar.

Hal ini disebabkan sumbatan pada arteri oleh penumpukan lemak dan koleserol sehingga aliran darah yang seharusnya menuju jantung berkurang.

  • Masalah Listrik Jantung

Pada beberapa kasus, henti jantung bisa dipicu oleh listrik jantung yang bermasalah, yang disebut juga dengan kelainan irama jantung primer.

Sindrom QT panjang atau kondisi repolarisasi jantung usai jantung berdetak serta sindrom Brugada atau irama jantung yang terganggu sebagai dampak dari kelainan genetik dapat menjadi pemicu henti jantung.

  • Penyakit Jantung Valvular/Penyakit Katup Jantung

Kebocoran katup jantung atau penyempitan katup jantung adalah dua kondisi yang dapat membuat otot jantung makin tebal atau bahkan meregang.

Aritmia dapat dengan mudah terjadi ketika bilik jantung melemah atau membesar karena tekanan yang berasal dari kebocoran/penyempitan katup jantung.

Aritmia yang terjadi kemudian memicu henti jantung pada penderitanya.

Pembesaran atau penebalan dinding otot jantung maupun peregangan yang terjadi pada bagian tersebut mampu menyebabkan kardiomiopati.

Otot jantung yang tak lagi bisa bekerja secara maksimal kemudian berakibat pada aritmia dan henti jantung pun terpicu untuk terjadi.

  • Serangan Jantung

Serangan jantung berbeda dari henti jantung dan bahkan kondisi ini menjadi pemicu henti jantung secara tiba-tiba.

Pada penderita penyakit arteri koroner, serangan jantung adalah risiko komplikasi yang berpotensi terjadi di mana jaringan parut pun dapat timbul pada jantung sehingga memicu kelainan irama jantung.

Faktor Risiko Henti Jantung

Henti jantung pun dapat dipicu oleh berbagai faktor lainnya seperti :

  • Obesitas
  • Tekanan darah tinggi
  • Aktivitas merokok yang menjadi kebiasaan
  • Kadar kolesterol tinggi
  • Riwayat serangan jantung
  • Riwayat episode henti jantung
  • Faktor usia (usia 60 tahun ke atas)
  • Faktor jenis kelamin (henti jantung lebih banyak terjadi pada pria)
  • Penyakit ginjal kronik
  • Apnea tidur obstruktif
  • Nutrisi dalam tubuh yang tidak seimbang (khususnya kadar magnesium dan kalium yang terlalu rendah)
  • Penggunaan amfetamin atau kokain (obat-obatan terlarang)
Tinjauan
Irama detak jantung yang tidak beraturan atau aritmia dapat menjadi penyebab utama terjadinya henti jantung. Namun beberapa faktor penyakit jantung lain, faktor usia lanjut, jenis kelamin (pria), penyakit ginjal, darah tinggi, pola hidup tidak sehat, maupun penggunaan narkotika mampu menjadi pemicu henti jantung.

Gejala Henti Jantung

Gejala henti jantung pada beberapa penderita tidak serta-merta langsung terjadi parah.

Beberapa keluhan dapat dialami sebelum henti jantung mendadak yang berakibat fatal, seperti [1,4,6] :

  • Nyeri pada dada
  • Pusing
  • Sesak nafas
  • Tubuh lemah
  • Tubuh cepat lelah walau tidak beraktivitas berat
  • Palpitasi atau detak jantung sangat cepat lebih dari normalnya

Namun, rata-rata kasus henti jantung dapat menimbulkan sejumlah gejala yang fatal bagi penderitanya seperti di bawah ini.

  • Denyut jantung tak dapat dirasakan
  • Kehilangan kesadaran
  • Tidak dapat bernafas

Bahkan gejala-gejala tersebut seringkali terjadi begitu tiba-tiba tanpa adanya gejala awal sehingga berakibat pada kematian.

Kapan sebaiknya memeriksakan diri ke dokter?

Ketika mulai merasakan ketidaknyamanan pada area dada, sesak nafas, hampir pingsan, detak jantung tidak teratur serta cenderung terlalu cepat, hingga disertai mengi, segera ke dokter.

Henti jantung secara mendadak dapat menyebabkan aliran darah yang membawa dan mengirimkan oksigen ke seluruh tubuh terhambat.

Hal ini bila dibiarkan dalam beberapa menit saja akan menyebabkan kerusakan otak hingga kematian.

Tinjauan
Gejala utama henti jantung adalah pada saat penderitanya mengalami henti nafas dan hilang kesadaran/pingsan. Namun pada beberapa kasus, gejala awal seperti pusing, cepat lelah, tubuh lemah, dan palpitasi dapat terjadi sebelum henti jantung terjadi.

Pemeriksaan Henti Jantung

Bila penderita gejala henti jantung masih dapat diselamatkan dan mendapatkan bantuan medis, biasanya pemeriksaan yang segera dilakukan dokter adalah sebagai berikut [1,6] :

  • Tes Darah : Pemeriksaan darah perlu pasien tempuh agar dokter mampu mengetahui adanya riwayat cedera jantung, kadar hormon, mineal magnesium, kalium dan kadar senyawa lain di dalam tubuh pasien yang berpengaruh pada fungsi kinerja jantung.
  • Elektrokardiogram : Dokter perlu melakukan tes ini untuk mendeteksi aktivitas listrik jantung. Dengan metode ini, dokter dapat mendeteksi pola listrik jantung yang terganggu ataupun kelainan irama jantung.
  • Angiogram : Metode pemeriksaan dengan menginjeksikan cairan khusus ke arteri jantung pasien melalui kateter ini akan membantu dokter dalam mengetahui letak sumbatan atau hambatan pada arteri ataupun aliran darah.
  • Nuclear Scan : Metode pemeriksaan ini bertujuan supaya dokter dapat mendeteksi gangguan fungsi jantung maupun aliran darah dengan memanfaatkan bahan radioaktif.
  • Rontgen Dada : Dokter perlu memeriksa bentuk jantung, ukuran jantung, serta kondisi pembuluh darah untuk juga mengetahui apakah pasien memiliki penyakit gagal jantung.
  • Ekokardiografi : USG jantung adalah pemeriksaan dengan memanfaatkan gelomang suara yang dokter lakukan supaya bagian jantung yang mengalami kehilangan fungsi dapat terdeteksi.
Tinjauan
Pemeriksaan riwayat kesehatan, elektrokardiogram, ekokardiografi, rontgen dada, tes darah, nuclear scan, dan angiogram adalah metode-metode pemeriksaan yang dilakukan dalam mendeteksi dan mengonfirmasi henti jantung.

Penanganan Henti Jantung

Ketika menjumpai pasien dengan gejala henti jantung yang mengalami kehilangan kesadaran, penting untuk memeriksa apakah masih bernafas atau tidak dengan melihat gerakan dada.

Selain itu, orang-orang di sekitarnya perlu segera memeriksa denyut nadi pada bagian leher karena gejala henti jantung yang berbahaya adalah ketika pasien tak memiliki denyut nadi serta tidak bernafas.

Setelah memeriksa gejala pada fisik pasien, beberapa pertolongan dan bentuk perawatan inilah yang biasanya diberikan oleh tim medis :

1. CPR

Orang awam dengan pengetahuan CPR yang baik dapat turut membantu memberikan pertolongan kepada pasien henti jantung [1,3,4,5,6].

Namun apabila tidak ada orang di sekitar pasien yang sanggup melakukan CPR, sebaiknya tunggu bantuan medis.

Bahkan bila tersedia alat kejut jantung otomatis, orang awam dapat mencoba menggunakannya untuk menolong pasien sampai tim medis datang.

2. Obat-obatan

Dokter dapat pula memberikan obat-obatan kepada pasien baik untuk jangka pendek ataupun jangka panjang [3].

Tingkat keparahan dan kondisi kesehatan menyeluruh pasien menentukan jenis obat apa yang harus diresepkan oleh dokter.

Pada kasus pasien henti jantung dengan riwayat aritmia, obat antiaritmia akan diberikan sebagai penanganan bagi irama jantung yang tidak teratur.

3. Operasi

Prosedur operasi akan direkomendasikan oleh dokter sesuai dengan kondisi yang dialami pasien.

Umumnya operasi dilakukan dengan tujuan menormalkan kembali aliran darah menuju jantung dan seluruh tubuh serta mengatasi aritmia [1,6].

  • Operasi Perbaikan Jantung : Pada kondisi pasien dengan kelainan jantung bawaan, prosedur ini dibutuhkan atau bila katup jantung mengalami kerusakan.
  • Operasi Bypass Jantung : Pemasangan pembuluh darah baru khususnya di bagian jantung ini adalah langkah alternatif dan solusi bagi sumbatan pembuluh darah.
  • Ablasi Jantung : Jalur arus listrik jantung yang mengalami gangguan dan menjadi penyebab aritmia akan dihambat melalui prosedur ablasi jantung.
  • Angioplasti Koroner : Metode ini adalah metode pemasangan ring jantung dengan membuka lebih dulu sumbatan pada pembuluh darah arteri jantung dengan tujuan aliran darah lancar kembali karena pembuluh darah telah terbuka.

4. Defibrilasi

Pada pasien dengan kondisi yang sudah cukup stabil, biasanya dokter dapat merekomendasikan ICD atau implantable cardioverter-defibrillator [1,3,4,5,6].

Alat ini dilengkapi dengan baterai yang dokter pasangkan pada bagian tulang selangka sisi kiri.

Alat ini digunakan untuk mengawasi fungsi irama jantung sehingga saat terlalu cepat atau lambat maka akan segera terdeteksi.

5. Perubahan Pola Hidup

Selain pengobatan medis, dokter juga akan menganjurkan perubahan pola hidup kepada setiap pasien henti jantung.

Menjaga pola hidup tetap sehat adalah cara pemulihan terbaik, yaitu dengan melakukan beberapa hal ini [1] :

  • Olahraga rutin, di mana jenis olahraga dapat disesuaikan dengan kondisi fisik.
  • Hindari mengonsumsi alkohol terlalu berlebihan; untuk pria usia di atas 65 tahun dianjurkan tidak lebih dari 2 gelas sehari dan wanita tidak lebih dari 1 gelas sehari.
  • Namun, usahakan menghindari minuman beralkohol sama sekali untuk kesehatan jantung dan tubuh lebih baik.
  • Hindari kebiasaan merokok maupun asap rokok dengan tidak menjadi perokok pasif terlalu sering.
  • Kelola stres dengan baik dan cara yang positif.
  • Diet rendah kalori, lemak dan kolesterol namun tinggi vitamin mineral dan serat, terlebih konsumsi makanan-makanan ramah jantung.
  • Jaga berat badan di angka ideal dan hindari obesitas.
Tinjauan
CPR dan kejut jantung dapat menjadi pertolongan pertama bagi penderita henti jantung yang bisa dilakukan oleh orang awam. Namun untuk penanganan secara medis, pemasangan defibrilator, pemberian obat-obatan, hingga operasi adalah penanganan medis yang umumnya dilakukan oleh dokter. Dokter juga biasanya menyarankan pasien untuk mengubah pola hidup dan kebiasaan menjadi lebih sehat.

Komplikasi Henti Jantung

Bentuk kondisi yang dapat terjadi sebagai komplikasi dari henti jantung adalah kerusakan otak permanen [1,2,3,4,5].

Hal ini dapat disebabkan oleh aliran darah yang tak lagi mampu mencapai otak sehingga otak tak memperoleh cukup oksigen.

Ketika irama detak jantung tak kembali normal secepatnya, risiko kerusakan otak sangat tinggi dan dapat dengan cepat terjadi.

Komplikasi lain untuk diwaspadai adalah kematian yang diakibatkan oleh organ-organ vital dalam tubuh yang tak lagi berfungsi maksimal.

Pencegahan Henti Jantung

Pencegahan henti jantung yang paling tepat adalah dengan menjaga pola makan, tidur dan olahraga secara seimbang [.

Tak hanya mengonsumsi makanan-makanan sehat, cukup istirahat, olahraga rutin, maupun mengelola stres dengan baik, penting juga untuk mengecek kesehatan ke dokter secara teratur.

Rekam jantung, pengecekan kadar tekanan darah, pengecekan kadar kolesterol, serta melakukan tes lain dapat membantu mencegah masalah jantung yang serius dan mendadak.

Tinjauan
Menjalani pola hidup sehat dapat menjaga kesehatan jantung dan melakukan pemeriksaan kesehatan rutin dapat mendeteksi dini adanya masalah pada jantung.

1) Kevin Patel & John E. Hipskind. 2020. National Center for Biotechnology Information. Cardiac Arrest.
2) Anonim. 2014. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Pusat Data dan Informasi. Situasi Kesehatan Jantung.
3) Kaustubha Patil, Henry R. Halperin, & Lance B. Becker. 2018. HHS Public Access. Cardiac Arrest: Resuscitation and Reperfusion.
4) Allison G. Yow; Venkat Rajasurya; & Sandeep Sharma. 2020. National Center for Biotechnology Information. Sudden Cardiac Death.
5) Anonim. 2015. American Heart Association. Heart Attack or Sudden Cardiac Arrest: How Are They Different?
6) Anonim. 2016. National Heart, Lung, and Blood Institute. Sudden Cardiac Arrest.
7) Philip J Podrid, MD, FACC; Brian Olshansky, MD; Scott Manaker, MD, PhD; & Brian C Downey, MD, FACC. 2019. UpToDate. Overview of sudden cardiac arrest and sudden cardiac death.

Share