Penyakit & Kelainan

Keracunan Merkuri: Gejala – Penyebab dan Pengobatan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Apa Itu Keracunan Merkuri?

Merkuri telah lama menjadi salah satu bahan yang digunakan dalam beberapa industry termasuk penggunaan obat [1].

Oleh karena itu, merkuri ini hingga kini telah menjadi bahan kimia yang paling umum ditemukan mencemari lingkungan [1].

Mengingat, merkuri merupakan logam berat beracun yang dapat meracuni manusia melalui konsumsi ikan yang hidup dilingkungan tercemar merkuri, amalgam gigi, atau paparan pekerjaan [2].

Keracunan merkuri sendiri mengacu pada toksisitas dari seberapa banyak paparan merkuri yang masuk dalam tubuh manusia [3].

Lalu, apakah keracunan merkuri berbahaya bagi kesehatan? Simak penjelasan selengkapnya berikut ini.

Fakta Keracunan Merkuri

Berikut ini merupakan beberapa fakta terkait merkuri yang perlu untuk diketahui [1] :

  • Merkuri dapat dijumpai dalam dua bentuk yaitu dalam bentuk merkuri organik atau anorganik
  • Untuk merkuri organik, dapat ditemukan dalam bentuk unsur merkuri atau quiclsilver maupun dalam bentuk garam merkuri
  • Keracunan merkuri anorganik berupa unsur merkuri dapat terjadi melalui perangkat yang mengandung unsur merkuri seperti thermometer
  • Keracunan merkuri organik berupa garam merkuri dapat terjadi salah satunya melalui penyalahgunaan pencahar
  • Merkuri organik dapat ditemukan berupa senyawa rantai pendek dan rantai panjang
  • Keracunan merkuri organik umumnya dapat terjadi melalui konsumsi makanan laut yang hidup dilingkungan yang tercemar merkuri, cat yang mengandung merkuri atau konsumsi suntikan thimerasol

Gejala Keracunan Merkuri

Menurut U.S. Food and Drug Administration gejala keracunan merkuri antara lain [3]:

  • Merasa gelisah
  • Merasakan depresi
  • Menjadi lebih mudah marah daripada biasanya
  • Mengalami gangguan dalam mengingat
  • Mengalami mati rasa
  • Mengalami rasa malu patologis
  • Mengalami tremor

Dan gejala ini umumnya tidak langsung terjadi seketika setelah mengalami paparan merkuri pertama kali, melainkan akan muncuk ketika merkuri sudah menumpuk seiring waktu [3].

Gejala gejala tersebut akan muncul secara tiba tiba yang menandakan bahwa saat itu paparan merkuri telah dalam kondisi toksisitas akut [3].

Adapun gejala keracunan merkuri dengan toksisitas akut ini dapat berbeda antara orang dewasa dan anak anak atau bayi [3].

Gejala keracunan merkuri dengan toksisitas akut pada orang dewasa antara lain [3] :

  • Mengalami gangguan pada fungsi pendengaran
  • Mengalami kesulitasn berbicara
  • Mengalami kurang koordinasi
  • Mengalami kelemahan otot
  • Kehilangan kendali saraf khususnya di tangan dan wajah
  • Mengalami kesulitan berjalan
  • Mengalami perubahan penglihatan

Sedangkan gejala keracunan merkuri dengan toksisitas aku pada anak-anak dan bayi antara lain [3]:

  • Mengalami keterlambatan dalam perkembangan kognitif
  • Keterampilan motorik mengalami hambatan berkembang
  • Mengalami keterlambatan dalam perkembangan bicara dan bahasa
  • Mengalami keterlambatan dalam perkembangan kesadaran visual-spasial

Penyebab Keracunan Merkuri

Penyebab keracunan merkuri dapat dikategorikan berdasarkan bentuk merkurinya, yaitu dalam bentuk anorganik maupun dalam bentuk merkuri organik [2].

Berikut ini merupakan penyebab keracunan merkuri melalui paparan merkuri dalam bentuk anorganik :

  • Paparan Elemental atau Logam HgO Merkuri

Amalgam diketahui mengeluarkan uap merkuri yang 80% diantaranya diserap manusia melalui penghirupan [2].

Persentase tersebut jauh lebih besar jika dibandingkan dengan paparan logam merkuri yang tertelan ( 7-10%), paparan logam merkuri melalui kontak kulit (1%) [2].

Adapun penyebab lain keracunan merkuri melalui paparan logam termasuk [3] :

  1. Terpapar logam merkuri melalui kontak atau pemakaian termometer demam yang rusak
  2. Terpapar logam merkuri yang terdapat dalam tambalan gigi “perak”
  3. Terpapar logam merkuri yang terdapat pada jenis perhiasan tertentu
  4. Terpapar logam merkuri melalui aktivitas menambang emas, dan ekstraksi emas rumah tangga
  5. Terpapar logam merkuri dari penggunaan produk perawatan kulit yang mengandung merkuri
  6. Mengalami paparan logam merkuri dari udara beracun di lingkungan industri
  7. Terpapar logam merkuri melalui kerusakan bohlam CFL
  • Paparan Mercuric (Hg ++) Merkuri

Merkuri klorida (HgCl2) diketahui telah banyak digunakan dalam bahan pengawet hingga komponen krim pencerah kulit.

Paparan merkuri klorida ini dapat terjadi melalui penelanan baik yang secara sengaja maupun tidak sengaja tertelan.

Adapun keracunan merkuri melalui paparan merkuri dalam bentuk organik (seperti Methylmercury) umumnya paling banyak disebabkan oleh konsumsi makanan laut khususnya ikan yang terpapar merkuri [3].

Dalam hal ini, keracunan merkuri dapat terjadi karena terlalu banyak mengonsumsi ikan yang banyak mengandung merkuri maupun karena mengonsumsi jenis ikan tertentu yang mengandung merkuri [3].

Ikan diketahui merupakan hewan laut yang umumnya terpapar oleh merkuri dari lingkungan air tempat tinggalnya [3].

Meskipun semua jenis ikan diketahui mengandung sejumlah merkuri, namun jenis ikan yang lebih besarlah yang memiliki jumlah merkuri yang lebih tinggi karena memangsa ikan lain yang juga mengandung merkuri [3].

Adapun ikan ikan yang mengandung merkuri tingkat tinggi antara lain [3] :

Adapun ikan yang mengandung jumlah kecil merkuri namun dapat menimbulkan keracunan merkuri jika dikonsumsi terlelu banya antara lain [3] :

Kapan Harus Kedokter ?

Jika terjadi gejala gejala yang menandakan toksisitas akut keracunan merkuri sebagaimana yang disebutkan pada sub bab penyebab merkuri, maka sangat disarankan untuk segera memeriksakan diri kedokter [3].

Selain itu, jika dirasa tidak nyaman dan khawatir keracunan merkuri, maka hubungi dokter dengan segera adalah pilihan tepat [3].

Komplikasi Keracunan Merkuri

Berikut ini merupakan beberapa komplikasi yang dapat ditimbulkan oleh adanya keracunan merkuri [4] :

  • Kerusakan DNA

Keracunan merkuri dikeahui berkaitan dengan perubahan permeabilitas membran, perubahan struktul makromolekul dan kerusakan DNA.

Mengingat, afinitasnya terhadao gugus sulfihidril dan tiol yang dapat menyebabkan stress oksidatif dan disfungsi mitokondria.

Keracunan merkuri yang terakumulasi di jantung, diketahui dapat berkontribusi dalam kardiomiopati.

Mengingat, kadar merkuri telah ditemukan sekitar 22000 kali lebih tinggi pada individu yang meninggal karena kardioiopati dibandingkan dengan individu yang meninggal karena penyakit jantung lainnya.

Selain itu, dalam studi invitro ditemukan bahwa MeHg dapat menghambat aktivitas kardioprotektif paraosonase.

  • Anemia, Leukimia dan Penyakit Hodgkin

Keracunan merkuri dapat dikaitan dengan anemia, karena merkuri dianggap bersaing dengan besi untuk mengikat hemoglobin.

Akibatnya, terjadi gangguan pembentukan hemoglobin yang menyebabkan anemia.

Selain itu, keracunan merkuri juga dapat menjadi faktor penyebab mononukleosis dan  terlibat dalam leukimia maupun penyakik Hodgkin.

  • Sindrom Young, Bronkitis dan Fibrosis Paru Paru

Keracunan merkuri melalui paparan merkuri yang dihirup dari uap merkuri beracun diketahui dapat memasuki sistem pernapasan dan masuk ke sirkulasi.

Pada paparan konsentrasi merkuri rendah, akan mengakibatkan seseorang mengalami tremor, gangguan tidur hingga gangguan kemampuan kognitif.

Lebih lanjut, keracunan merkuri pada pernapasan khususnya paru paru dapat berkaitan dengan sindrom Young, bronchitis dan fibrosis paru paru.

  • Gangguan Pencernaan

Merkuri yang terserap saat tertelan dapat mengakibatkan terjadinya gangguan perncernaan  seperti sakit perut, penyakit radang usus, bisul dan diare berdarah.

Hal ini dapat terjadi karena paparan merkuri dapat menghambat produksi tripsin pencernaan, kimotripsi dan pepsin bersama dengan fungsi xantin oksidase dan dipeptyl peptidase IV.

  • Kerusakan Ginjal

Keracunan merkuri diketahui dapat menyebabkan kerusakan ginjal, termasuk:

  1. Sindrom nefrotik onset subakut
  2. Disfungsi tubular
  3. Glomerulosklerosis segmental fokal sekunder
  4. Sindrom nefrotik sinkretik
  5. Sindrom nefritik
  6. Proteinuria kisaran nefrotik
  7. Penyakit glomerulus
  8. Glomerulonefritis membranosa
  • Kerusakan Sistim Syaraf

Akumulasi merkuri di jaringan syaraf di seluruh tubuh diketahui dapat merusak sistim syaraf khususnya dengan mengganggu produksi energi yang menganggu proses detoksifikasi sel.

Hal ini dapat mengakibatkan sel mati atau hidup dalam keadaan kekurangan gizi kronis.

Selain itu, merkuri juga dapat menyebabkan disfungsi kekebalan, sensorik, neurologis, motorik, dan perilaku yang mirip autisme.

  • Mempengaruhi Kesuburan

Peningkatan kadar merkuri diketahui berkaitan dengan infertilitas pada laki laki maupun perempuan.

Kadar merkuri yang tinggi dapat mengakibatkan efek buruk pada spermatogenesis dan bahkan disfungsi ereksi.

Kadar merkuri yang tinggi diketahui juga dapat mengakibatkan disfungsi ovarium, neri haid, haid tidak teratur menopause dini dan pendarahan abnormal.

Diagnosis Keracunan Merkuri

Diagnosis keracunan merkuri merupakan hal yang penting, agar penanganan juga dapat segera dilakukan dengan tepat.

Keracunan merkuri didiagnosis dengan melakukan beberapa tes pemeriksaan termasuk [3] :

  • Pemeriksaan fisik
  • Tes darah
  • Tes urin

Adapun tes darah dan urin ini akan dapat digunakan dokter untuk mengukur kadar merkuri dalam tubuh [3].

Selain melakukan pemeriksaan tersebut, diagnosis merkuri juga dilakukan dengan menjawab beberapa pertanyaan dokter terkait gejala, kapan gejala itu dimulai, pilihan makanan dan kebiasaan gaya hidup [3].

Pengobatan Keracunan Merkuri

Pengobatan keracunan merkuri umumnya dilakukan dengan pengangkatan paparan dan dekontaminasi pasien [1].

Gangguan pernapasan, perdarahan gastrointestinal, gagal ginjal, dan perforasi usus yang merupakan komplikasi keracunan merkuri yang dialami pasien juga harus dipertimbangkan dalam pengobatan [1].

Untuk pengobatan keracunan merkuri anorganik dapat dilakukan dengan kursus awal dimerkaprol intramuskular dan kemudian diikuti dengan succimer oral [1].

Adapun regimen dosis untuk dimerkaprol dapat mengikuti aturan bertingkat dan berurutan sebagai berikut [1] :

  • Dimulai dari, 5 mg / kg per dosis setiap 4 jam selama 48 jam,
  • Diikuti dengan, 2,5 mg / kg per dosis setiap 6 jam selama 48 jam,
  • Kemudian, 2,5 mg / kg per dosis setiap 12 jam selama 7 hari.

Dan pengobatan dengan succimer oral mengikuti dosis yang dimulai dari 10 mg / kg per dosis secara oral 3 kali sehari selama 5 hari kemudian dua kali sehari selama 14 hari [1].

Sedangkan keracunan merkuri organik tidak boleh diobati dengan dimercaprol karena terbukti dapat memperburuk toksisitas neurologis [1].

Pengobatan keracunan merkuri organik dapat dilakukan menggunakan succimer [1].

Pencegahan Keracunan Merkuri

Berikut ini merupakan beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah keracunan merkuri [3] :

  • Jangan mengonsumsi ikan yang mengandung merkuri tingkat tinggi khususnya jika sedang hamil
  • Selalu mengikuti pedoman penyajian ikan dan makanan laut untuk anak-anak:
  • anak-anak di bawah 3 tahun dapat makan 1 ons ikan
  • anak-anak usia 4 sampai 7 dapat makan 2 ons
  • Kenali lingkungan air di mana ikan berasal
  • Sebelum dan ketika sedang menjalani program untuk hamil, lakukan tes merkuri darah atau urin
  • Jika telah mengalami paparan merkuri maka segera cuci tangan segera
  • Selalu hati hati dalam mengelola tumpahan merkuri di rumah (seperti dari kerusakan lampu CFL)
  • Pastikan untuk menghindari aktivitas dengan risiko paparan merkuri seperti ekstraksi emas rumah

1. Shawn L. Posin, Erwin L. Kong & Sandeep Sharma. Mercury Toxicity. National Center for Biotechnology Information, US. National Library of Medicine, National Institutes of Health; 2020.
2. Bernhoft, Robin A. Mercury Toxicity and Treatment: A Review of the Literature. Journal of Environmental and Public Health; 2012.
3. Kristeen Cherney & Daniel Murrell. Understanding Mercury Poisoning. Healthline; 2018.
4. Kevin M. Rice, Ernest M. Walker Jr, Miaozong Wu, Chris Gillette, & Eric R. Blough. Environmental Mercury and Its Toxic Effects. Journal of Preventive Medicine & Public Health; 2014.

Share