Penyakit & Kelainan

Malaria: Penyebab – Gejala dan Pengobatan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Tinjauan Medis : dr. Hadian Widyatmojo, SpPK
Malaria adalah salah satu penyakit infeksi yang sering terjadi pada daerah tropis. Malaria disebabkan oleh parasit plasmodium melalui perantara gigitan nyamuk anopheles betina. Gejala yang ditimbulkan

Apa Itu Malaria?

Malaria adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh parasit Plasmodium di mana penyebarannya terjadi melalui gigitan nyamuk Anopheles betina yang telah terinfeksi lebih dulu [2,4,5,6,7,8,9].

Walau parasit dapat menyebar hingga mengancam jiwa penderitanya, malaria adalah jenis penyakit yang dapat dicegah serta disembuhkan.

Tinjauan
Malaria bukan semata-mata disebabkan langsung oleh gigitan nyamuk, melainkan disebabkan oleh parasit Plasmodium yang telah menginfeksi nyamuk Anopheles betina yang menggigit manusia dan menyebarkan infeksi ke manusia.

Fakta Tentang Malaria

  1. Menurut data Kementerian Kesehatan RI, terdapat kasus malaria di Indonesia sebanyak 261.671 buah pada tahun 2017 dan memakan korban jiwa hingga 100 orang karena kehilangan nyawa [1].
  2. Ada 10,7% masyarakat Indonesia yang masih tinggal di daerah endemik menengah serta tinggi sehingga lebih mudah terkena penyakit semacam malaria, sementara 72% masyarakat Indonesia diketahui bertempat tinggal di daerah yang sudah bebas dari malaria [1].
  3. Menurut WHO (World Health Organization/Badan Kesehatan Dunia), diperkirakan mencapai 228 juta kasus malaria pada tahun 2018 yang ada di seluruh dunia [2].
  4. Dari 228 juta kasus malaria di seluruh dunia pada tahun 2018, 405.000 diantaranya diperkirakan adalah jumlah kematian akibat penyakit tersebut [2].
  5. Total ada 5 jenis spesies parasit yang mampu menjadi penyebab malaria pada manusia dan 2 diantaranya adalah spesies Plasmodium vivax dan Plasmodium falciparum [2].
  6. Di Amerika Serikat, setiap tahunnya terdapat laporan 1.500 kasus malaria [3].
  7. Malaria paling mudah menyebar pada iklim hangat atau panas karena curah hujan dan tingkat kelembaban yang tinggi [3].
  8. Anak balita dan wanita hamil adalah yang paling rentan terkena malaria [2,3].
  9. Wanita hamil yang sampai terkena malaria, dapat berdampak pada janin yang lahir dengan berat badan rendah atau menurunkan peluang bayi untuk bertahan hidup [3].
  10. Malaria bukanlah jenis penyakit yang menular karena kontak dengan penderita malaria dalam bentuk apapun tidak akan menularkan penyakit ini [3].

Penyebab Malaria

Parasit Plasmodium adalah sumber dari penyakit malaria. Ketika seekor nyamuk Anopheles betina sudah terkena infeksi dari parasit ini, lalu sang nyamuk menggigit manusia, maka manusia dapat dengan mudah terinfeksi parasit tersebut.

Plasmodium falciparum adalah jenis parasit yang mampu menjadi penyebab malaria dalam bentuk yang lebih serius di mana ada akibat kematian bagi penderitanya.

Siapapun dapat terkena malaria, namun berikut ini adalah faktor-faktor yang mampu memperbesar potensi seseorang untuk terkena malaria [2,3,4,5,6,7,8,9] :

  • Tinggal di negara atau wilayah dengan tingkat penyebaran malaria tinggi.
  • Berwisata ke daerah yang sedang terkena wabah malaria.
  • Seorang ibu yang terkena malaria dan memengaruhi janin sehingga ikut terkena malaria (kondisi ini disebut juga dengan malaria kongenital).
  • Melakukan transfusi darah di mana pendonor darah telah terkena malaria sehingga resipien donor darah ikut terkena.
  • Melakukan transplantasi organ di mana pendonor organ sudah terkena malaria sehingga pasien yang menerima donor organ pun ikut terkena.
  • Melakukan tato dengan peralatan tato yang sebelumnya sudah dipakai ke orang yang mengidap malaria. Tanpa dibersihkan, penggunaan jarum atau peralatan tato bisa menyebarkan infeksi malaria ke orang lain.
  • Anak-anak (umumnya anak usia bawah 5 tahun), penderita HIV AIDS dan wanita hamil jauh lebih berisiko terkena malaria karena tingkat kekebalan tubuh yang cenderung rendah atau lemah.
Tinjauan
Penyebab utama malaria adalah parasit Plasmodium di mana infeksi dari parasit ini dapat menyebar ke manusia melalui gigitan nyamuk Anopheles betina yang sudah lebih dulu terkena infeksi parasit tersebut.

Gejala Malaria

Pada banyak kasus malaria, gejala baru akan timbul sekitar 10 hari hingga 4 minggu sejak infeksi menyerang tubuh penderita.

Untuk infeksi yang disebabkan oleh parasit Plasmodium ovale dan Plasmodium vivax, risiko gejala timbul kembali atau kambuh sangat besar.

Ini karena parasit-parasit tersebut dapat bertahan di organ hati penderita selama beberapa bulan hingga 4 tahun dari sejak pasien digigit nyamuk yang terinfeksi.

Namun tak semua kasus malaria dapat kembali berulang, sebab ada pula gejala yang tidak sampai berkembang.

Kenali lebih lanjut apa saja gejala-gejala umum malaria yang perlu diwaspadai [2,6,7,8] :

  • Demam tinggi
  • Tubuh menggigil dari yang sedang hingga parah
  • Mual dan muntah
  • Nyeri pada perut
  • Sakit kepala
  • Berkeringat lebih banyak dari normalnya
  • BAB (buang air besar) berdarah
  • Nyeri pada otot
  • Anemia
  • Diare
  • Koma

Tingkat keparahan gejala dapat ditentukan dari kondisi kesehatan penderita secara menyeluruh, jenis parasit yang menginfeksi, serta faktor usia.

Tinjauan
Gejala utama malaria adalah demam dan menggigil yang kerap disertai dengan sakit kepala, mual, dan nyeri perut. Pada kondisi yang lebih serius, diare, anemia, hingga koma dapat terjadi.

Pemeriksaan Malaria

Saat gejala sudah mulai nampak, maka perlu untuk memeriksakan diri segera ke dokter supaya penanganan malaria tidak terlambat.

Berikut ini adalah langkah-langkah pemeriksaan yang biasanya ditempuh pasien dengan gejala malaria [6,7,8,9] :

  • Pemeriksaan Fisik : Dokter akan memeriksa fisik pasien terkait demam, pegal-pegal pada tubuh serta nyeri pada perut.
  • Pemeriksaan Riwayat Kesehatan : Dokter perlu tahu kapan terakhir kali pasien berwisata dan ke daerah mana, begitu juga ada tidaknya riwayat medis lain yang pernah dialami.
  • Pemeriksaan Darah : Tes darah adalah bentuk tes lanjutan yang digunakan dokter supaya dapat mengonfirmasi diagnosa dan untuk mengetahui jenis parasit apa yang sudah menginfeksi pasien. Tes darah pun dapat menentukan apakah infeksi disebabkan oleh parasit yang tahan pada jenis obat tertentu, apakah malaria memengaruhi area vital tubuh pasien serta apakah malaria menyebabkan anemia.
  • Tes Gula Darah : Tes ini dilakukan guna mengukur kadar glukosa dalam darah pasien.
Tinjauan
Pemeriksaan fisik, riwayat kesehatan, dan tes darah lengkap adalah cara mengonfirmasi gejala yang terjadi pada pasien adalah positif mengarah pada malaria.

Pengobatan Malaria

Walau pasien telah terdiagnosa positif menderita malaria, ada beberapa pertimbangan dokter sebelum memberikan perawatan tertentu, yaitu [8] :

  • Usia pasien
  • Pasien dalam kondisi hamil atau tidak
  • Kondisi kesehatan pasien keseluruhan
  • Obat digunakan untuk mengatasi atau mencegah malaria
  • Apakah parasit penyebab malaria kemungkinan akan tahan dengan obat yang diberikan
  • Tingkat keparahan kondisi pasien
  • Apa saja efek samping dari obat yang akan diberikan kepada pasien

Ada beberapa jenis obat yang umumnya diberikan kepada pasien oleh dokter mempertimbangkan kondisi pasien tersebut, antara lain adalah [7] :

  • Klorokuin Fosfat : Dokter seringkali memilih obat ini untuk kasus parasit yang sensitif terhadap obat, namun di banyak negara kini obat ini jarang atau sudah tidak digunakan karena parasit penyebab malaria justru resisten atau tahan terhadap obat jenis ini.
  • ACT / Artemisinin-based Combination Therapies : Untuk malaria, beberapa jenis obat ACT (biasanya dua atau lebih) akan diberikan oleh dokter sebagai pengobatan yang dianggap efektif, yaitu artesunate-amodiaquine dan artemether-lumefantrine.
  • Obat Anti Malaria Lain : Ada beberapa jenis obat anti-malaria yang umumnya dokter gunakan untuk mengobati malaria pasien, yaitu seperti primakuin fosfat, meflokuin, doksisiklin yang dikombinasi dengan quinine sulfate, atau kombinasi proguanil dan atovaquone.

Kemunculan obat-obat anti-malaria baru pun terus terjadi seiring berjalannya penelitian dan pengembangan obat untuk melawan penyakit ini.

Karena mulai banyak parasit yang dapat bertahan dan tak mempan terhadap obat anti-malaria jenis tertentu, formula obat baru perlu diciptakan.

Obat Anti-Malaria untuk Anak

Untuk obat anti-malaria bagi anak, pastikan untuk mengonsultasikan hal ini dengan dokter lebih dulu.

Ini karena tidak semua obat anti-malaria dapat diberikan kepada anak secara aman.

Beberapa jenis obat yang umumnya dapat mengobati malaria pada anak antara lain adalah sebagai berikut [10] :

Hanya saja, pemberian obat yang aman sekalipun dosisnya harus diatur dokter dan disesuaikan lebih dulu dengan berat badan anak [9].

Obat Anti-Malaria untuk Ibu Hamil dan Menyusui

Pengobatan anti-malaria sebetulnya dapat digunakan oleh para ibu hamil yang ingin mencegah malaria atau mengatasinya, seperti [11] :

Namun bagi para ibu hamil muda (khususnya trimester pertama) umumnya tidak dianjurkan mengonsumsi obat-obatan tersebut.

Alangkah baiknya untuk dosis dan penggunaan obat malaria sudah melalui konsultasi dengan dokter lebih dulu agar tidak terjadi kesalahan atau efek samping yang tidak diinginkan.

Tinjauan
Obat anti-malaria adalah yang paling umum diberikan oleh dokter kepada penderita malaria, namun dengan beberapa pertimbangan ketentuan. Usia, kondisi hamil atau tidak, serta kondisi kesehatan secara menyeluruh pasien akan menjadi bahan pertimbangan dokter sebelum memeberikan obat.

Komplikasi Malaria

Walau dapat diobati dan dicegah, malaria adalah jenis penyakit yang berpotensi berkembang dan mengakibatkan hal fatal bagi kondisi kesehatan penderitanya.

Tak jarang malaria berakibat kematian, khususnya pada penderita usia anak-anak balita.

Kenali apa saja kondisi komplikasi yang perlu diwaspadai karena mengancam jiwa penderita [2,6,7] :

  • Malaria Kambuh : Beberapa jenis parasit yang menyebabkan malaria khususnya malaria yang tak seberapa parah justru berpotensi besar parasit dapat bertahan selama bertahun-tahun di dalam tubuh penderita dan menyebabkan kekambuhan sewaktu-waktu.
  • Anemia : Penyakit malaria dapat menyebabkan sel-sel darah merah rusak sehingga hal ini berdampak pada timbulnya kondisi anemia atau kekurangan sel darah merah.
  • Cerebral Malaria : Ketika pembuluh darah kecil tersumbat atau terhambat oleh sel-sel darah yang mengandung parasit, pembuluh darah yang seharusnya mengalirkan darah ke otak ini menjadi bengkak dan berisiko rusak. Sebagai akibatnya, cerebral malaria dapat terjadi ditandai dengan tubuh kejang dan penderita alami koma.
  • Gangguan Pernafasan : Kesulitan bernafas dapat terjadi pada penderita karena di bagian paru-paru terjadi penumpukan cairan sehingga saluran pernafasan terhambat.
  • Hipoglikemia : Kadar gula dalam darah yang sangat rendah atau hipoglikemia dapat terjadi pada kondisi malaria yang sudah sangat parah. Bila tak cepat ditangani, hipoglikemia dapat mengakibatkan kematian atau penderita dapat mengalami koma karenanya.
  • Gagal Organ : Organ penting seperti liver (hati) dan ginjal dapat mengalami gagal fungsi karena malaria dan hal ini pun dapat berakibat pada kematian.
Tinjauan
Malaria dapat menyebabkan beberapa komplikasi jika terlambat penanganannya, seperti berulangnya malaria, gagal organ, hipoglikemia, gangguan pernafasan, anemia hingga cerebral malaria.

Cara Pencegahan Malaria

Vaksin untuk malaria belumlah tersedia hingga kini karena para ilmuwan pun tengah berusaha mengembangkan vaksinasi yang paling tepat serta aman untuk para penderitanya.

Namun, beberapa langkah ini dapat diupayakan untuk dapat meminimalisir risiko terkena malaria [5,6,7,8] :

  • Para wisatawan yang mengunjungi wilayah dengan risiko malaria tinggi perlu membatasi waktu yang dihabiskan di tempat tersebut.
  • Olesi kulit dengan obat nyamuk untuk menghindarkan diri dari risiko gigitan nyamuk Anopheles betina.
  • Gunakan kelambu saat tidur untuk mencegah gigitan nyamuk (ini juga menjadi cara pencegahan utama dan umum dalam meminimalisir risiko DBD atau demam berdarah dengue}.
  • Tidak beraktivitas di luar ruangan apalagi saat sudah sore atau menjelang malam hari karena nyamuk Anopheles dapat berkeliaran justru pada waktu-waktu tersebut.
  • Pakailah kemeja serta celana lengan panjang saat bepergian atau beraktivitas di sore hari menjelang malam supaya kulit terhindar dari gigitan nyamuk.
  • Minum obat anti-malaria sebelum berwisata, selama berwisata dan bahkan sesudah berwisata dari daerah tertentu.
  • Semprotkan obat anti-nyamuk di ruangan yang sedang digunakan, bahkan termasuk ruang tidur.
  • Konsultasikan dengan dokter mengenai obat apa yang aman sebagai penurun risiko terkena malaria.
Tinjauan
Malaria adalah jenis penyakit yang menyebar dengan mudah karena gigitan nyamuk, namun juga sangat mudah untuk dicegah. Gunakan obat antimalaria sebelum, selama dan sesudah berwisata, gunakan semprotan obat anti-nyamuk serta obat nyamuk oles, dan hindari aktivitas sore menjelang malam untuk menjauhkan diri dari gigitan nyamuk.

1) Widiya Wiyanti. 2018. detikHealth. Infografis: Fakta Seputar Malaria di Indonesia.
2) Anonim. 2020. World Health Organization. Malaria.
3) Anonim. DoSomething. 11 Facts about Malaria.
4) Anonim. European Centre for Disease Prevention and Control. Factsheet about malaria.
5) Cari Nierenberg. 2019. Live Science. Malaria: Causes, Symptoms & Treatment.
6) Darla Burke & Elaine K. Luo, MD. 2017. Healthline. Malaria.
7) Anonim. Stanford Health Care. What is malaria?
8) Mayo Clinic Staff. 2018. Mayo Clinic. Malaria.
9) Anonim. 2020. Centers for Disease Control and Prevention. About Malaria.
10) Emley Pine. 2019. Nomad Travel. Malaria Tablets for Children.
11) Thomas E Herchline, MD, Ryan Q Simon, MD, Michael Stuart Bronze, MD, Emilio V Perez-Jorge, MD, FACP, Joseph Richard Masci, MD & Francisco Talavera, PharmD, PhD. 2019. Medscape. Which medications are used to treat malaria during pregnancy?

Share