Makanan, Minuman dan Herbal

Jelantir : Manfaat – Efek Samping dan Cara Penggunaan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Jelantir atau sering juga disebut dengan jalantir adalah salah satu jenis tanaman liar atau gulma yang tersebar di Indonesia dan telah digunakan sebagai pengobatan tradisional.

Tanaman ini berasal dari Amerika Selatan dan telah tersebar di wilayah tropis serta sub tropis mulai dari Asia Tenggara seperti Afganistan, Eropa, Afrika, serta wilayah Australia[1].

Fakta Tentang Jelantir

Jelantir berasal dari keluarga tanaman Asteraceae dan memiliki nama ilmiah yaitu Conyza sumatrensis[1,2].

Tanaman ini memiliki sebutan lain seperti dalam bahasa Inggris yaitu tall fleabane, Guernsey fleabane, Sumatran fleabane, broad-leaved fleabane, white horseweed, dan fleabane[1].

Karakteristik Jelantir

Jelantir merupakan tanaman tahunan serta memiliki umur yang pendek. Tanaman ini dapat tumbuh di lahan terbuka pada wilayah tropis dan sub tropis seperti hutan, perkebunan, pinggir jalan, serta lahan pertanian[1,2].

Jelantir memiliki tinggi sekitar 0.5-2 meter dan memiliki beberapa ciri-ciri fisik yaitu sebagai berikut:

  • Memiliki batang yang bercabang, cabang tidak tumpang tindih, dan ditutupi oleh dua jenis rambut yaitu rambut pendek serta rambut yang mengarah ke atas;
  • Memiliki daun yang banyak, berbentuk lonjong memanjang seperti daun dandelion, tipis, berjarak antara satu daun ke daun lain, serta berwarna kehijauan;
  • Memiliki bunga yang berwarna putih, berkelompok dengan bentuk seperti belah ketupat serta berbulu yang tebal, dan kelopak bunga berbulu.
Tanaman Jelantir

Kandungan Jelantir

Kandungan gizi dan senyawa aktif dari ekstrak tanaman jelantir adalah sebagai berikut[9]:

NamaJumlahUnit
Kadar air10.69persen
Kadar serat12.66persen
Kadar abu14.34persen
Kadar protein17.45persen
Karbohidrat53.35persen
Kalsium12.46persen
Natrium4.75persen
Kalium13.37persen
Zat besi1.68persen
Magnesium16.24persen
Fosfor38.28persen
Vitamin B1 (tiamina)0.13persen
Vitamin B2 (riboflavin)0.16persen
Vitamin B3 (Niasin)0.08persen
Vitamin C (Asam askorbat)26.87persen
Senyawa tannin1.95persen
Senyawa fenol0.83persen
Senyawa sterol0.69persen
Senyawa saponin1.64persen
Senyawa flavonoid1.50persen
Senyawa alkaloid1.78persen
Kandungan gizi dan senyawa aktif tanaman jelantir

Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa tanaman jelantir mengandung vitamin B dan C serta senyawa flavonoid, sterol, dan tannin yang bermanfaat untuk kesehatan tubuh seperti berperan sebagai antioksidan serta anti mikroba[3].

Beberapa senyawa aktif lain yang dimiliki oleh tanaman ini yang berguna untuk kesehatan tubuh adalah sebagai berikut:

  • Bagian batang serta getah memiliki kandungan senyawa yaitu antrakuinon, glikosida, steroid, limonene, beta farnesene, germacrene D, beta caryophyllene dan terpenoid[3,4,6];
  • Bagian akar mengandung komponen triterpenoid yang terdiri dari alfa amyrin, beta amyrin, taraxerol, glutinol, epifriedelinol, friedelin, simiarenol, stigmasterol, sitosterol, spinasterol, schottenol, sesquiterpenoid, poliasetilenat, serta siklopentenon[3,5].

Manfaat Jelantir

Beberapa manfaat dari tanaman jelantir adalah sebagai berikut:

Kandungan flavonoid, tannin, fenol, dan alkaloid dari tanaman jelantir memiliki peranan penting dalam mengatasi penyakit malaria[4].

Ekstrak tanaman ini dapat melawan parasit Plasmodium berghei yang sejenis dengan Plasmodium falciparum. Parasit ini dapat menyebabkan penyakit malaria pada manusia[4].

Sehingga, daun dari jelantir dapat digunakan untuk mengatasi penyakit malaria dan gejala yang ditimbulkan oleh penyakit ini.

  • Mengandung antioksidan

Kandungan vitamin C dalam ekstrak jelantir memberikan aktivitas antioksidan alami yang cukup baik untuk kesehatan tubuh. Aktivitas antioksidan ini mampu mencegah berbagai radikal bebas masuk ke dalam tubuh[3,7].

Selain itu, antioksidan yang terdapat dalam tanaman ini berperan dalam mencegah kerusakan sel dalam tubuh, meningkatkan stamina tubuh, menjaga kesehatan kulit dan mata, serta mencegah penuaan dini[3].

  • Mengatasi gangguan pencernaan

Ekstrak jelantir mampu melawan berbagai bakteri yang dapat menyebabkan keracunan makan dan gangguan pencernaan antara lain E. coli dan S. typhi[3].

Beberapa gangguan pencernaan yang ditimbulkan dari bakteri tersebut adalah keracunan makanan, diare, nyeri perut, mual, muntah, penyakit lambung, serta penyakit tipus[3].

Selain itu, jelantir telah digunakan sebagai pengobatan tradisional di Pakistan dan Nigeria untuk mengatasi disentri, gangguan pada perut, serta lambung[7,10].

  • Mengatasi infeksi dan radang yang disebabkan oleh bakteri

Tanaman jelantir memiliki aktivitas anti bakteri yang cukup kuat dan dapat melawan berbagai bakteri yang dapat menyebabkan infeksi serta radang seperti B. subtilis, Enterococcus faecalis, serta Proteus mirabilis[3,8].

Beberapa jenis infeksi atau radang yang disebabkan oleh bakteri tersebut adalah sebagai berikut infeksi saluran kemih atau saluran kencing, infeksi mata, radang selaput otak, meningitis, serta infeksi darah[3].

Tanaman ini telah digunakan sebagai pengobatan tradisional di Afrika Barat untuk mengobati infeksi mata yang disebabkan oleh bakteri[3].

  • Mengatasi gangguan pernapasan

Ekstrak tanaman jelantir dapat mengobati beberapa gangguan pernapasan karena kemampuannya untuk melawan bakteri yang dapat menyebabkan infeksi serta radang pada saluran pernapasan.

Salah satu contoh bakteri adalah K. pneumoniae yang dapat menyebabkan infeksi pernapasan serta pneumonia[3].

Tanaman ini juga telah digunakan di beberapa negara seperti Pakistan serta Nigeria untuk mengatasi penyakit asma, sakit tenggorokan, serta penyakit paru-paru[3,9].

  • Mengobati infeksi dan gangguan kulit

Kandungan saponin, flavonoid, serta tannin yang terdapat dalam tanaman jelantir dapat melawan jamur dan bakteri yang menyebabkan gangguan pada kulit, diantaranya adalah jamur candida albicans dan bakteri P. aeruginosa serta S. aureus[3].

Gangguan kulit yang dapat diatas oleh jelantir adalah bisul, jerawat, gatal-gatal atau pruritus, dermatitis, kulit bernanah, radang pada kulit, serta infeksi kulit[3].

Di beberapa negara pada kawasan Afrika Barat, tanaman ini telah digunakan sebagai pengobatan tradisional untuk mengatasi infeksi kulit, cacar air, kurap, serta jerawat[3,7].

  • Menyembuhkan luka dan gigitan serangga

Ekstrak daun jelantir dapat menghentikan pendarahan pada luka di kulit dan membantu untuk mengeringkan luka. Tanaman ini juga mencegah infeksi pada luka serta mengurangi nyeri[3,10].

Bukan hanya luka luar, tanaman ini juga dapat menyembuhkan perdarahan internal yang terjadi di dalam tubuh seperti pada usus dan juga bekas gigitan dari serangga[3].

Jelantir telah digunakan di Afrika Barat dan Indonesia untuk menyembuhkan serta mengeringkan luka terbuka pada kulit dan untuk mengatasi bekas gigitan dari serangga[3,10,11].

  • Mencegah pertumbuhan sel kanker dan tumor

Komponen flavonoid dan fenol yang terdapat pada daun jelantir dapat menghambat dan merusak pertumbuhan dari sel kanker serta tumor, salah satunya adalah sel kanker payudara dan kanker paru-paru[12,13].

Ini menunjukkan bahwa daun jelantir dapat digunakan sebagai pengobatan herbal untuk mencegah pertumbuhan dari sel kanker serta sel tumor dalam tubuh[12,13].

  • Meredakan nyeri dan demam pada tubuh

Tanaman jelantir membantu untuk mengurangi rasa nyeri pada tubuh baik karena disebabkan oleh luka, infeksi atau radang. Beberapa nyeri yang dapat diatasi oleh tanaman ini adalah nyeri pasca melahirkan, nyeri saat menstruasi, sakit punggung, serta sakit gigi[14].

Tanaman ini juga telah digunakan sebagai pengobatan tradisional untuk menurunkan demam[3].

  • Mengatasi berbagai penyakit lain

Tanaman jelantir telah digunakan di beberapa negara pada wilayah Afrika untuk mengatasi kejang atau epilepsi, sakit kepala, seriawan pada bayi, mengatasi menstruasi yang tidak teratur, dan digunakan sebagai diuretik untuk meningkatkan buang air kecil dan buang air besar[3,15].

Air dari tanaman jelantir juga telah digunakan di beberapa negara seperti Nigeria sebagai pengobatan tradisional untuk mengatasi mabuk yang disebabkan oleh alkohol atau bir serta mengatasi kencing nanah[3].

Efek Samping Jelantir

Efek samping dari tanaman jelantir belum banyak ditemukan pada pengguna dari tanaman ini. Sejauh ini, tanaman jelantir aman untuk digunakan sebagai pengobatan tradisional[3].

Efek samping dari tanaman jelantir bila digunakan secara berlebihan dapat Menyebabkan reaksi keracunan ringan. Penggunaan tanaman jelantir yang melebihi dosis 3000 mg/ kg berat badan dapat menyebabkan reaksi keracunan ringan. Beberapa gejala dari reaksi ini adalah mual, muntah, pusing, serta diare[16].

Cara Penggunaan Jelantir

Beberapa cara penggunaan dari tanaman jelantir adalah sebagai berikut:

  • Membuat seduhan daun jelantir

Daun jelantir dicuci bersih dan direbus dengan air hingga mendidih. Lalu, daun disaring dan didinginkan. Seduhan ini juga dapat dibuat dari daun yang sudah dikeringkan terlebih dahulu[17].

Seduhan ini diminum untuk mengatasi diare, gangguan pencernaan, infeksi atau radang, gangguan pernapasan, mengurangi mabuk yang disebabkan oleh alkohol, dan mencegah pertumbuhan dari kanker atau tumor[17].

Seduhan daun jelantir juga dapat dibuat dengan cara yaitu daun dan ranting jelantir direbus dengan air dan merica hingga mendidih. Ini digunakan sebagai obat seriawan khususnya untuk bayi[18].

  • Membuat infused water daun jelantir

Daun jelantir dicuci dan direndam dengan air matang yang sudah dingin. Ini didiamkan selama 3 hingga 6 jam dalam wadah tertutup dan disimpan di suhu ruangan atau dapat disimpan di kulkas[19].

Air ini diminum untuk mengatasi gigitan serangga dan digunakan sebagai obat kumur untuk menjaga kesehatan gigi[19].

  • Membuat teh tanaman jelantir

Tanaman jelantir (daun, batang, dan akar) dicuci bersih dan direbus dengan air hingga mendidih. Lalu, teh ini disaring dan diminum untuk mengatasi diare, gangguan perut, perdarahan internal, serta mengatasi berbagai penyakit lainnya[3].

  • Membuat pasta daun jelantir

Daun jelantir ditumbuk hingga halus dan mengeluarkan air. Lalu, tanaman ini ditambahkan sedikit air dan dioleskan pada luka, jerawat, bisul, radang, infeksi, serta gangguan kulit lainnya[18].

  • Membuat minyak daun jelantir

Daun jelantir dihancurkan hingga halus dan ditambahkan minyak (dapat menggunakan minyak atsiri atau minyak gosok). Minyak ini digunakan untuk mengatasi jamur pada kulit, masalah kulit, dan radang[18].

  • Membuat obat tetes dari getah jelantir

Getah jelantir diambil dari batang dan daunnya. Lalu, getah ini diteteskan pada lubang hidung untuk mengatasi gangguan pernapasan[18].

  • Membuat serbuk daun jelantir

Daun jelantir dicuci bersih dan dikeringkan pada sinar matahari selama 2-3 hari hingga daun benar-benar kering. Daun ini dihancurkan dengan mesin penggiling atau blender hingga menjadi serbuk[10].

Serbuk ini diminum untuk digunakan sebagai obat pencahar, menurunkan demam dan meredakan nyeri[10].

Cara Penyimpanan Jelantir

Jelantir biasanya ditanam sendiri di pekarangan karena tanaman ini dapat tumbuh di berbagai jenis tanah dan tidak memerlukan perlakuan atau perawatan khusus[1].

Penyimpanan jelantir yang sudah diambil dari pohon dilakukan dengan meletakkan pada wadah terbuka dan disimpan di suhu ruangan. Tanaman ini tidak disarankan untuk disimpan di bawah sinar matahari langsung, karena dapat menjadi layu[1].

Jelantir adalah tanaman liar yang memiliki berbagai kandungan dan manfaat yang baik untuk kesehatan tubuh. Namun, belum banyak efek samping yang ditemukan dari tanaman ini sehingga penderita penyakit kronis disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter.

1) Anonim. Conyza sumatrensis (tall fleabane). CAB International Invasive Species Compendium. Diakses 2020.
2) Paulina Anastasiu & Daniyar Memedemin. Conyza sumatrensis: a new alien plant in Romania. Belgrade : Institute of Botany and Botanical Garden Jevremovac. 2012.
3) Olapeju O. Aiyelaagbe, Stephen O. Oguntoye, Abdulmumeen A. Hamid, Adebola M. Ogundare, David B. Ojo, Ajibola Ajao & Nurudeen O. Owolabi. GC-MS Analysis, Antimicrobial and Antioxidant Activities of Extracts of the Aerial Parts of Conyza sumatrensis. Journa Applied of Science Environmental Management. 2016.
4) Pone Kamdem Boniface & Anirban Pal. Substantiation of the ethnopharmacological use of Conyza sumatrensis (Retz.) E.H.Walker in the treatment of malaria through in-vivo evaluation in Plasmodium berghei infected mice. Elsevier. 2013.
5) Xin Chai, Yan-Fang Su, Li-Ping Guo, Di Wu, Jian-Feng Zhang, Chuan-Ling Si, Jin-Kyu Kim & Young-Soo Bae. Phenolic constituents from Conyza sumatrensis. Elsevier. 2008.
6) Boti Jean Brice, Gérard Koukoua, Thomas Yao N'Guessan & Joseph Casanova. Chemical variability of Conyza sumatrensis and Microglossa pyrifolia from Côte d'Ivoire. Flavour and Fragrance Journal. 2006.
7) Nisar Zamin Shaha, Naveed Muhammad, Sadia Azeem & Abdur Rauf. Preliminary Phytochemical and Anti-Radical Profile of Conyza sumatrensis. Pakistan : Middle-East Journal of Medicinal Plants Research. 2012.
8) Samia Mabrouk, Karima Bel Hadj Salah, Ameur Elaissi, Lobna Jlaiel, Hichem Ben Jannet, Mahjoub Aouni & Fethia Harzallah-Skhiri. Chemical composition and antimicrobial and allelopathic activity of Tunisian Conyza sumatrensis (Retz.) E.WALKER essential oils. National Institute of Health. 2013.
9) Nduche, M. U., Edeoga, H. O., Omosun, G & Nwankwo, D .Evaluation of the Chemical Composition of Five Nigerian Medicinal Plants. Nigeria : Journal of Pharmacy and Biological Sciences. 2015.
10) Adebayo Muritala Ayofe, Adedokun Oluwasegun, Ayinde Bunyaminu Adesina & Ume Ogochukwu. Comparative studies on In-vitro radical scavenging potential of methanol extracts of Garcinia kola heck (Clusiaceae) seeds, Conyza sumatrensis retz (Asteraceae) and Mitracarpus scaber zucc (Rubiaceae) leaves. American Journal of Essential Oils and Natural Products. 2017.
11) H Nuraeni & N Y Rustaman. Traditional knowledge of medicinal plants for health of women in Cibodas Village Lembang Subdistrict West Bandung Regency and their potency to development of biodiversity education. Indonesia : International Conference on Mathematics and Science Education. 2018.
12) Ikpefan E.O, Ayinde B. A, Mudassar B. A. & Ahsana Dar Farooq. Anticancer and antioxidant studies of the methanol extract and fractions of Conyza sumatrensis (retz.) E. H. Walker (asteraceae). Nigerian Journal of Natural Products and Medicine. 2020.
13) Ikpefan Emmanuel O, Ayinde B A, Omeje E O and Choudhary M I. Isolation and characterization of anticancer bioactive compounds from leaves of Conyza sumatrensis, a plant reputed for anticancer activities. American Journal of Ethnomedicine. 2018.
14) Mutiara Fauziana & Ratna Susandarini. Species Diversity and Potential Use of Asteraceae in Tawangmangu, Karanganyar Regency, Central Java. Journal of Tropical Biodiversity and Biotechnology. 2019.
15) Focho, D. A, Ndam, W. T. & Fonge, B.A. Medicinal plants of Aguambu – Bamumbu in the Lebialem highlands, southwest province of Cameroon. African Journal of Pharmacy and Pharmacology. 2009.
16) Pone Kamdem Boniface, Manju Singh, Anil Kumar Maurya & Anirban Pal. Acute and sub-chronic toxicity of HPLC fingerprinted extract of Conyza sumatrensis (Retz.) E.H. Walker in rodents. National Institute of Health. 2013.
17) T.S.A. Thring & F.M. Weitz. Medicinal plant use in the Bredasdorp/Elim region of the Southern Overberg in the Western Cape Province of South Africa. Elsevier. 2005.
18) J.R.S. Tabuti, K.A. Lye & S.S. Dhillion. Traditional herbal drugs of Bulamogi, Uganda: plants, use and administration. Elsevier. 2003.
19) Focho, D. A, Ndam, W. T & Fonge, B. A. Medicinal plants of Aguambu – Bamumbu in the Lebialem highlands, southwest province of Cameroon. African Journal of Pharmacy and Pharmacology. 2009.

Share