Obat

Penghambat Protease : Manfaat – Cara Kerja, dan Efek Samping

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Virus yang dapat merusak sistem kekebalan tubuh disebut dengan HIV. Apabila penyakit ini tidak di obati, maka akan dapat mempengaruhi dan membunuh sel CD4. Sel ini adalah jenis sel kekebalan yang disebut dengan sel T[1].

Tubuh akan lebih mungkin akan terkena berbagai jenis kondisi dan kanker, karena HIV akan membunuh lebih banyak sel CD4 dengan berjalannya waktu[1].

Fungsi Penghambat Protease

Penghambat protease merupakan sekelompok obat yang membuat kerja protease HIV -1 menjadi terhambat, merupakan enzim yang membelah dua protein prekursor menjadi fragmen yang lebih kecil[2].

Untuk pertumbuhan virus, infektivitas dan replikasi fragmen ini dibutuhkan. Selain mencegah pematangan terhadap virion yang baru di produksi membuat agar tetap tidak menular, penghambat protease juga mengikat situs aktif enzim protease[2].

Penghambat protease digunakan untuk mengobati human immunodeficiency virus (infeksi HIV) dan sindrom defisiensi imun didapat (AIDS)[2].

Sebagai obat antivirus, penghambat protease merupakan perancang pertama yang berhasil. Dengan dikembangkan berdasarkan pemahaman yang jelas tentang struktur molekul dan aktivitas katalitik protease[3].

Penghambat protease yaitu merupakan turunan dari peptida kecil. Terdapat 8 penghambat protease yang telah disetujui. Dengan adanya obat ini, virion tidak menular diproduksi dari sel yang berisi salinan terintegrasi genom HIV[3].

Penghambat protease bila digunakan dengan NRTI akan sangat efektif, itu karena mereka menargetkan langkah yang berbeda dalam siklus replikasi virus[3].

Penyakit yang Diatasi dengan Penghambat Protease

Beberapa penyakit yang diatasi dengan penghambat protease, meliputi[2]:

Hepatitis C merupakan penyakit hati yang akan menyebabkan kerusakan pada hati yang serius. Penyakit ini disebabkan oleh virus hepatitis C. Dengan melalui darah atau cairan yang terinfeksi virus ini menyebar[9].

Virus yang dapat merusak sistem kekebalan tubuh disebut dengan HIV. Penyakit ini ditularkan melalui cairan tubuh, meliputi darah, air mani, cairan pada vagina dan rektal serta ASI. Dan virus ini tidak menyebar melalui kontak biasa, udara juga air[1].

Paparan Non-Kerja Berisiko tinggi terhadap agen infeksi seperti HIV, virus hepatitis B (HBV), atau virus hepatitis C (HCV). Paparan Non-Kerja mengarah pada paparan agen penular yang terjadi diluar pekerjaan. Contohnya saja saat berhubungan seks atau saat orang berbagi jarum suntik[10].

Paparan Kerja berisiko terhadap agen fisik, kimia, atau biologis yang berpotensi membahayakan akibat dari pekerjaan seseorang. Contohnya saja seprang profesional perawatan kesehatan terinfeksi HIV atau agen penular lainnya melalui luka akibat tertusuk jarum[11].

Cara Kerja Penghambat Protease

Penghambat protease merupakan sekelompok obat yang membuat kerja protease HIV -1 menjadi terhambat, merupakan enzim yang membelah dua protein prekursor menjadi fragmen yang lebih kecil[2].

Melalui obat boceprevir sebagai penghambat protease selektif virus hepatitis C (HCV) non-struktural 3 / 4A (NS3 / 4A). Bekerja dengan mengikat secara reversibel pada serine situs aktif protease NS3 melalui kelompok fungsional alfa-ketoamide dalam membuat replikasi virus dalam sel inang yang terinfeksi HVC menjadi terhambat[4].

Dengan baik obat ini diserap melalui saluran gastrointestinal. Penyerapan akan meningkat dengan makanan hingga kisaran 65% dengan plasma puncaknya mencapai kurang lebih 2 jam[4].

Boceprevir berdistribusi dengan volume kira-kira 772 L dengan pengikatan terhadap protein plasma kisaran 75%[4].

Melalui jalur yang diperantarai aldo-ketoreduktase (AKR), obat ini bermetabolisme di hati menuju metabolit yang tidak aktif, dan pada tingkat yang rendah, metabolisme oksidatif oleh enzim yang terdapat pada hati[4].

Pengeluaran obat ini melalui feses kisaran 79% dan dengan paruh waktu rata-rata yaitu sekitar 3-4 jam[4].

Contoh Obat Penghambat Protease

Penghambat protease tersedia dalam bentuk tablet, kapsul, suspensi, cairan, bubuk, dan larutan oral. Beberapa jenis obat ini hanya bisa didapatkan dengan resep dokter, sementara yang lainnya dihentikan.

Beberapa contoh penghambat proteas dengan resep dokter dan dihentikan termasuk[2]:

Amprenavir lebih sedikit mengandung pusat kiral daripada protease inhibitor HIV sebelumnya. Perbaikan ini meningkatkan ketersediaan oral dan membuat sintesis kimia disederhanakan. Dosisnya 1.200 mg secara oral, obat ini kurang efektif pada protease HIV-2 dibandingkan pada protease HIV-1[12].

Tipranavir berbeda dengan penghambat protease lainnya, obat ini bertemu dengan HIV- 1 profil resistensi protease. Tipranavir akan membuat protease HIV-1 menjadi terhambat, yang telah mengembangkan resistansi terhadap protease inhibitor lain[12].

Ritonavir dapat memnuat konsentrasi penghambat protease HIV lain menjadi meningkat dalam sirkulasi dengan menghambat sitokrom P450 3A4. Obat ini digunakan dalam meningkatkan konsentrasi plasma PI generasi kedua, karena PI dimetabolisme secara ekstensif oleh sitokrom P450 3A4[12].

Efek Samping Penghambat Protease

Penghambat protease dapat menyebabkan beberapa efek samping yang tidak di inginkan. Beberapa efek samping umum dari penghambat protease termasuk[5,6,7,8]:

  • Kotoran berwarna hitam
  • Panas dingin
  • Batuk
  • Kesulitan bernapas
  • Demam
  • Nyeri punggung bawah atau samping
  • Nyeri atau sulit buang air kecil
  • Kulit pucat
  • Sakit tenggorokan
  • Sesak di dada
  • Bisul, luka, atau bintik putih di mulut
  • Perdarahan atau memar
  • Kelelahan atau kelemahan
  • Kulit melepuh, mengeras, iritasi, gatal, atau kemerahan
  • Kulit pecah-pecah, kering, atau bersisik
  • Peningkatan kepekaan kulit terhadap sinar matahari
  • Ruam dengan lesi datar atau lesi kecil yang menonjol
  • Sengatan matahari parah
  • Tanda infeksi lainnya
  • Mual
  • Muntah
  • Diare
  • Sakit kepala
  • Perubahan bentuk atau lokasi lemak tubuh pada lengan, kaki, wajah, leher, payudara, dan pinggang
  • Kolesterol tinggi

Untuk sementara waktu, menggunakan boceprevir dapat membuat jumlah sel darah putih dalam darah menurun, dan memungkinkan untuk terkena infeksi. Juga dapat membuat trombosit dalam darah menurun jumlahnya, trombosit ini diperlukan dalam pembekuan darah yang tepat[5].

Hindari sinar matahari langsung selama menggunakan simeprevir. Simeprevir dapat menyebabkan ruam juga reaksi kulit jika terkena matahari langsung, akan menjadi parah dan harus mendapatkan perawatan di rumah sakit[6].

Gunakanlah tabir surya saat harus berada di luar ruangan. Pakailah pakaian yang melindungi dari sinar matahari[6].

Jangan melakukan hubungan seks tanpa kondom, juga jangan berbagi pisau cukur ataupun sikat gigi. Menggunakan fosamprenavir tidak akan membuat penyebaran penyakit menjadi tercegah. Untuk mencegah penularan HIV, tanyakanlah dengan dokter cara yang aman[7].

Jika memiliki detak jantung yang cepat atau berdebar, dada berdebar kencang, sesak napas, dan pusing dengan tiba-tiba, segera kunjungi dokter. Lopinavir dan ritonavir dapat menyebabkan masalah pada jantung yang serius[8].

1) Anonim. cdc.gov. About HIV/AIDS. 2020
2) Anonim. Drugs.com. Protease inhibitors. 2021
3) Anonim. ScienceDirect.com Proteinase Inhibitor. 2012
4) Anonim. Mims.com. Boceprevir. 2015
5) Anonim. Drugs.com. Boceprevir (Oral). 2020
6) Anonim. Drugs.com. Simeprevir (Oral). 2021
7) Cerner Multum. Drugs.com. Fosamprenavir. 2020
8) Cerner Multum. Drugs.com. Lopinavir and ritonavir. 2020
9) Anonim. WebMD.com. Hepatitis C and the Hep C Virus. 2019
10) Anonim. clinicalinfo.hiv.gov. Non-Occupational Post-Exposure Prophylaxis (nPEP). 2021
11) Anonim. clinicalinfo.hiv.gov. Occupational Exposure. 2021
12) Zhengtong Lv, Yuan Chu, and Yong Wang. ncbi.nlm.nih.gov. HIV protease inhibitors: a review of molecular selectivity and toxicity. 2015

Share