Penyakit & Kelainan

8 Penyebab Mulut Kering Saat Bangun Tidur

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Bangun tidur dengan kondisi mulut kering mungkin terasa normal dan banyak orang akan mengabaikannya.

Namun pada beberapa kasus, mulut kering saat bangun tidur bisa terasa begitu mengganggu, terutama bila ternyata kondisi ini merupakan tanda adanya kondisi medis tertentu.

Xerostomia adalah istilah medis untuk menyebut mulut kering di mana kondisi ini walau kerap dianggap wajar tetap dapat menjadi pertanda adanya gangguan kesehatan serius [3].

Mulut kering terus-menerus menandakan tubuh sedang tidak dalam kondisi terbaik, sebab air liur atau saliva memiliki fungsi sebagai pembersih mulut alami, pembunuh bakteri di dalam mulut, dan pembersih makanan yang masuk ke dalam mulut [4].

Mulut kering pun mampu menjadi tanda dari berbagai kondisi tubuh yang serius, seperti [1,2,3] :

Selain itu, mulut kering juga seringkali disertai dengan beberapa keluhan di bawah ini yang artinya kondisi perlu segera mendapatkan penanganan [2,3] :

Mengenali berbagai penyebab mulut kering saat bangun tidur sebagai berikut akan membantu dalam memperoleh penanganan yang tepat nantinya.

1. Penuaan

Semakin usia bertambah tua, mulut kering akan semakin sering dialami pada beberapa orang [2,3].

30% dari lansia berusia 65 tahun ke atas serta 40% dari lansia berusia 80 tahun ke atas kerap mengalami mulut kering [5].

Seringkali hal ini juga berhubungan dengan jenis-jenis obat yang selama ini digunakan karena kondisi medis tertentu [2].

Seperti diketahui, semakin tua biasanya seseorang memiliki penyakit-penyakit tertentu yang membutuhkan pengobatan teratur [2].

Pengobatan ini berpotensi menjadi pemicu mulut kering pada beberapa lansia, bukan sekadar karena faktor penuaan [2,3].

2. Bernapas Melalui Mulut

Bernafas melalui mulut pada beberapa orang merupakan sebuah kebiasaan yang sulit untuk dihentikan [1,2].

Namun pada sebagian lainnya, bernafas melalui mulut disebabkan oleh kondisi kesehatan tertentu, termasuk ketika hidung sedang tersumbat [1,2].

Salah satu kondisi medis yang mampu menyebabkan pernapasan lewat mulut adalah sleep apnea [1,2].

Menurut sebuah hasil studi tahun 2020, orang-orang yang didiagnosa dengan sindrom sleep apnea hypopnea mengalami mulut kering [6].

Penderita sindrom ini umumnya diketahui memiliki indeks massa tubuh lebih tinggi, mengalami sleep apnea yang sudah parah, serta menggunakan mesin CPAP sebagai solusi penanganan kondisinya [6].

3. Pengobatan Tertentu

Efek pengobatan tertentu dapat menyebabkan mulut kering dan beberapa pengobatan yang dimaksud antara lain adalah [1,2,3] :

Untuk mengatasi mulut kering karena pengobatan tertentu, konsultasi dengan dokter akan sangat membantu.

Dokter dapat mempertimbangkan pengganti obat yang sedang dikonsumsi oleh pasien jika memang diperlukan.

4. Terapi untuk Kanker

Perawatan kanker pun menjadi salah satu penyebab mulut kering pada pasiennya [1,2,3].

Efek samping ini tidak berbahaya karena biasanya mulut kering akan kembali normal usai pasien selesai menempuh pengobatan kanker [1,2,3].

Mulut kering biasanya terjadi pada pasien terapi radiasi (radioterapi) untuk kanker yang menyerang area leher dan kepala [1,2,3,7].

Terapi radiasi yang ditargetkan pada area leher dan kepala mampu memengaruhi kelenjar air liur sehingga fungsinya dalam memroduksi air liur terganggu [7].

Selain radioterapi, kemoterapi adalah jenis perawatan kanker yang juga mengakibatkan mulut kering, namun efek mulut kering ini berjangka lebih pendek daripada efek samping radioterapi [7].

5. Kebiasaan Merokok dan Minum Alkohol

Merokok adalah kebiasaan tidak sehat yang tidak hanya meningkatkan risiko penyakit pernapasan [2,3].

Merokok dapat meningkatkan risiko mulut kering karena kandungan tembakau akan menurunkan kadar produksi air liur [2,3].

Jika tidak segera membatasi dan menghentikan kebiasaan ini, gangguan kesehatan mulut, hingga kanker bisa saja terjadi [2,3].

Selain merokok, mengonsumsi minuman beralkohol dapat menyebabkan dehidrasi yang kemudian membuat mulut kering [2,3].

Pada beberapa kasus, konsumsi alkohol berlebihan dan terlalu sering mampu  menyebabkan gangguan kesehatan gigi [2,3].

Tidak selalu konsumsi minuman beralkohol, penggunaan cairan pembersih mulut dengan kandungan alkohol pun lama-kelamaan akan meningkatkan risiko mulut kering [2,3].

Menurut sebuah hasil studi tahun 2010 yang melibatkan 200 orang partisipan terdiri dari 100 orang non-perokok dan 100 orang perokok menunjukkan bahwa mulut kering dialami oleh 39% partisipan perokok dibandingkan 12% partisipan non-perokok [8].

Para perokok juga sebaiknya berhati-hati karena kebiasaan ini mampu mengakibatkan penyakit gusi dan kehilangan gigi [8].

6. Penggunaan Obat Terlarang

Efek penggunaan obat terlarang atau narkoba seperti methamphetamine, heroin dan ekstasi mampu menyebabkan mulut lebih kering daripada normalnya [2,9,10].

Seperti halnya merokok tembakau, efek yang akan dialami sama karena obat-obat tersebut akan menghambat aliran air liur di dalam mulut [2].

Pemberian obat-obatan sekaligus psikoterapi menjadi penanganan untuk membuat otak pasien lebih baik dan meredakan gejala saja [2].

7. Penyakit Alzheimer

Alzheimer adalah penyakit otak yang ditandai dengan turunnya kemampuan bicara, kemampuan mengingat dan kemampuan berpikir [2,11].

Penyakit ini lebih rentan dialami oleh lansia, khususnya yang berusia lebih dari 65 tahun di mana kondisi penderita pun bisa saja mengalami perubahan pada perilakunya [11].

Penyakit ini bisa berkaitan pula dengan dehidrasi dan mulut kering karena kesulitan dalam berbicara dan merawat diri sendiri [11].

Jika pun mulut kering terjadi setiap bangun tidur, hal ini akan disertai dengan delirium, detak jantung meningkat dan pusing pada penderita Alzheimer [11].

8. Penyakit Sjogren

Jenis penyakit autoimun ini memengaruhi kelenjar yang terletak dekat mata dan mulut sekaligus jaringan ikat sehingga memengaruhi produksi air mata dan air liur [2,12].

Ketika terjadi mulut kering, maka biasanya hal ini ditandai pula dengan kemerahan pada lidah, sering haus, sulit menelan, suara serak, penyakit mulut dan gusi, hingga bibir kering serta pecah-pecah [2,12].

Penyakit Sjogren rentan terjadi pada wanita yang sudah melewati masa menopause dan kondisi ini belum ditemukan pengobatannya [2,12].

Bila mulut terasa kering setiap bangun tidur dan perubahan pola hidup tak mampu membantu, segera periksakan diri ke dokter karena bisa jadi mulut kering adalah pertanda penyakit serius.

1. Lakeshore. Morning Dry Mouth: Is it Sleep Apnea or Something Else?. Lakeshore; 2021.
2. Angelica Balingit, MD & Natalie Silver. Why Do I Wake Up with Dry Mouth? 9 Causes. Healthline; 2021.
3. Bilal Talha & Suman A. Swarnkar. Xerostomia. National Center for Biotechnology Information; 2021.
4. Manjul Tiwari. Science behind human saliva. Journal of Natural Science, Biology and Medicine; 2011.
5. American Dental Association. Xerostomia (Dry Mouth). American Dental Association; 2021.
6. José Pico-Orozco, Marina Carrasco-Llatas, Francisco-Javier Silvestre, & Javier Silvestre-Rangil. Xerostomia in patients with sleep apnea-hypopnea syndrome: A prospective case-control study. Journal of Clinical and Experimental Dentistry; 2020.
7. Philip Riley, Anne-Marie Glenny, Fang Hua, & Helen V Worthington. Pharmacological interventions for preventing dry mouth and salivary gland dysfunction following radiotherapy. The Cochrane Database of Systematic Reviews; 2017.
8. Maryam Rad, Shahla Kakoie, Fateme Niliye Brojeni, & Nasim Pourdamghan. Effect of Long-term Smoking on Whole-mouth Salivary Flow Rate and Oral Health. Dental Research Dental Clinics Dental Prospects; 2010.
9. A Milosevic, N Agrawal, P Redfearn, & L Mair. The occurrence of toothwear in users of Ecstasy (3,4-methylenedioxymethamphetamine). Community Dentistry and Oral Epidemiology; 1999.
10. Jason Clague, MS, Thomas R. Belin, PhD, & Vivek Shetty, DDS, Dr Med Dent. Mechanisms underlying methamphetamine-related dental disease. HHS Public Access; 2018.
11. Mohammed Alsakran Altamimi. Update knowledge of dry mouth- A guideline for dentists. African Health Sciences; 2014.
12. Steven E. Carsons & Bhupendra C. Patel. Sjogren Syndrome. National Center for Biotechnology Information; 2021.

Share