Penyakit & Kelainan

Servisitis: Penyebab – Gejala dan Cara Mengobati

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Servisitis adalah salah satu penyakit yang tergolong ke dalam infeksi menular seksual. [2]

Menurut CDC, diperkirakan bahwa terdapat lebih dari 19 juta infeksi menular seksual baru (IMS) terjadi setiap tahun, hampir setengahnya berusia 15-24 tahun. [2]

Di Indonesia, belum terdapat data mengenai kejadian servisitis secara nasional. Penelitian pernah dilakukan di di rumah sakit Kota Semarang dari tahun 2005 sampai 2010 dari beberapa penyakit IMS angka kejadian servisitis tertinggi (sekitar 5111 jiwa). [6]

Apa itu Servisitis?

Servisitis adalah peradangan pada serviks atau leher rahim yang sering terjadi karena infeksi menular seksual, seperti klamidia atau gonore. Servisitis juga dapat berkembang dari penyebab non-infeksi seperti iritasi atau alergi. [1, 3]

Peradangan serviks ini dapat ditandai dengan pendarahan  pada alat kelamin di luar masa menstruasi, nyeri atau rasa sakit saat berhubungan seksual, serta keluarnya keputihan yang abnormal. [1]

Servisitis sering terjadi dan hanya dapat dialami oleh wanita. [2, 4]

Tinjauan umum
Servisitis adalah penyakit infeksi menular seksual pada wanita yang ditandai peradangan serviks.

Jenis Servisitis

Menurut jenisnya servisitis diklasifikasikan menjadi dua yaitu servisitis akut dan servisitis kronis. Berikut adalah penjelasannya: [5]

  • Servisitis akut

Servisitis akut sering disebabkan oleh infeksi, walaupun infeksi spesifik dari penyakit ini tidak dapat ditentukan pada sebagian besar kasus.

Servisitis akut biasanya disebabkan oleh infeksi menular seksual (IMS), seperti; herpes simpleks atau herpes genital, klamidia, trikomoniasis atau gonorea. Gejala dari servisitis jenis ini dapat muncul secara tiba-tiba. Untuk mengobati servisitis ini akan lebih baik jika dilakukan secara medis.

  • Servisitis Kronis

Servisitis kronis terjadi jika servisitis tidak diobati dengan tepat waktu menyebabkan peradangan leher rahim pada kondisi kronis. Servisitis kronis biasanya memiliki sumber yang tidak menular atau noninfeksi.

Gejala servisitis kronis lebih ringan daripada servisitis akut tetapi gejalaya berlangsung lebih lama. Beberapa orang dapat mengobati servisitis kronis di rumah, menggunakan pengobatan alami yang akan melengkapi perawatan medis.

Fakta Servisitis

Dibawah ini disajikan sejumlah fakta menarik tentang servisitis yang penting untuk Anda ketahui: [3, 4, 5]

  • Serviks adalah saluran sempit yang menghubungkan anatara rahim dan vagina. Jika serviks mengalami iritasi dan timbul peradangan, maka kondisi ini disebut servisitis.
  • Servicitis sering disebabkan oleh infeksi menular seksual seperti: klamidia, gonore, herpes dan infeksi menular seksual lainnya.
  • Kasus servisitis bervariasi mulai dari ringan hingga berat.
  • Servisitis dapat bersifat akut atau kronis.

Siapa yang paling berisiko mengalami Servisitis?

Anda dapat berisiko lebih tinggi mengalami servisitis jika Anda: [1, 2, 3, 4]

  • Melakukan hubungan seksual yang tidak aman seperti seks tanpa kondom, dan seks dengan banyak pasangan.
  • Melakukan hubungan seksual pada usia dini.
  • Pernah menderita servisitis atau infeksi menular seksual sebelumnya.
  • Memiliki status sosial ekonomi rendah.
  • Pengguna alkohol.

Jika Anda pernah menderita servisitis sebelumnya, maka risiko servisitis akan kambuh kembali adalah sebesar 8% hingga 25%.

Penyebab Servisitis

Ada beberapa penyebab timbulnya servisitis. Sebagian besar disebabkan oleh infeksi-infeksi yang ditularkan melalui kontak seksual.

Penyakit infeksi menular seksual yang dapat menyebabkan servisitis meliputi: [1, 2, 4]

  • Gonorea; infeksi yang disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae.
  • Chlamydia; infeksi yang disebabkan oleh bakteri Chlamydia trachomatis.
  • Herpes genital; infeksi yang disebabkan oleh virus herpes simplex (HSV).
  • Trikomoniasis; infeksi yang disebabkan oleh parasit Trichomonas vaginalis.
  • Mikoplasma; infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycoplasma.
  • Ureaplasma; infeksi yang disebabkan oleh bakteri Ureaplasma.

Tetapi banyak wanita pengidap servisitis saat dites tidak ada jenis infeksi yang menunjukkan hasil positif. Penyebab lain dari peradangan mungkin termasuk: [4]

  • Alergi;  terhadap bahan kimia dalam spermisida (zat yang dapat mematikan sperma), douche, deodoran feminin, atau karet lateks pada kondom.
  • Iritasi atau cedera; akibat tampon, alat pencegah kehamilan , atau dari alat kontrasepsi seperti intrauterin, pessari, atau diafragma.
  • Pertumbuhan bakteri yang berlebihan; pertumbuhan tidak terkendali dari beberapa bakteri yang biasanya ada di vagina (bakteri vaginosis) dapat menyebabkan servisitis.
  • Ketidakseimbangan hormon; kadar estrogen yang relatif rendah atau kadar progesteron yang tinggi dapat mengganggu kemampuan tubuh untuk mempertahankan kesehatan jaringan serviks.
  • Kanker atau efek samping pengobatan kanker; terapi radiasi atau kanker dapat menyebabkan servisitis.

Gejala Servisitis

Dalam banyak kasus, wanita yang menderita servisitis tidak memiliki tanda dan gejala. Kondisi ini baru dapat diketahui setelah melakukan pemeriksaan panggul oleh dokter untuk alasan lain. [1, 3, 4]

Sebagian kasus penderita juga dapat mengalami tanda dan gejala yang meliputi: [1, 3, 4]

  • Keputihan yang tidak biasa dan dalam jumlah banyak.
  • Keputihan berwarna kekuningan atau kuning pucat.
  • Pendarahan vagina yang tidak normal , seperti pendarahan setelah berhubungan seksual yang tidak terkait dengan menstruasi.
  • Rasa sakit atau nyeri saat berhubungan seks.
  • Buang air kecil yang sering dan terasa menyakitkan.
  • Sakit punggung.
  • Dalam kasus yang jarang terjadi, demam dan nyeri di bagian panggul atau perut.

Kapan Anda harus periksa ke dokter?

Temuilah segera dokter Anda jika Anda memiliki tanda dan gejala seperti: [1]

Jika tidak segera diperiksa servisitis dapat berkembang menjadi parah, yang ditandai dengan terbentuknya luka terbuka atau keluarnya cairan dari vagina berupa nanah.

Komplikasi Servisitis

Penting untuk mengetahui penyebab servisitis. Karena jika penyebab utamanya adalah infeksi (infeksi menular seksual seperti gonore atau klamidia), maka dapat menyebar ke lapisan rahim dan saluran tuba yang mengakibatkan penyakit radang panggul (PID) dan infeksi pada organ reproduksi wanita.

Kemudian jika tidak ditangani kondisi ini dapat menyebabkan masalah kesuburan atau masalah dengan bayi yang belum lahir jika Anda sedang hamil . [1, 4]

Servisitis juga dapat meningkatkan risiko seorang wanita terkena HIV dari pasangan seksual yang terinfeksi dan kanker serviks. [1]

Diagnosa Servisitis

Dalam mendiagnosis servisitis, dokter Anda akan mengajukan sejumlah pertanyaan tentang kondisi Anda, seperti: [1]

  • Apasaja gejala yang Anda alami?
  • Apakah Anda mengalami masalah kemih, seperti rasa sakit saat buang air kecil?
  • Berapa lama Anda memiliki gejala?
  • Apakah Anda aktif secara seksual?
  • Pernahkah Anda atau pasangan mengalami infeksi menular seksual?
  • Apakah Anda mengalami sakit atau pendarahan saat berhubungan intim?
  • Apakah Anda melakukan douche atau menggunakan produk-produk kesehatan wanita?
  • Apakah Anda hamil?
  • Sudahkah Anda mencoba produk bebas untuk mengobati gejala Anda?

Selain mengajukan pertanyaan, dokter Anda juga akan melakukan pemeriksaan fisik yang meliputi: [3]

  • Pemeriksaan panggul

Pada tes ini, dokter akan memasukkan dua jarinya yang bersarung tangan ke dalam vagina Anda secara bersamaan dokter juga menekan perut Anda. Melalui cara ini, dokter dapat mendeteksi kelainan pada organ panggul, termasuk serviks.

Untuk tes ini, juga disebut Pap smear, dokter akan mengambil swab sel dari vagina dan leher rahim. Sel-sel ini kemudian akan diteliti lebih lanjut dilaboratorium untuk menemukan adanya kelainan. [3]

Tes ini biasanya dilakukan hanya jika Pap smear Anda mendeteksi adanya kelainan. Tes ini disebut juga colposcopy, dokter Anda akan memasukkan spekulum ke dalam vagina Anda. Lalu dokter kemudian akan mengambil kapas dan dengan lembut membersihkan vagina dan serviks dari residu lendir. 

Kemudian, dokter akan menggunakan colposcope (sejenis mikroskop) untuk memeriksa kondisi vagina Anda. Dokter kemudian akan mengambil sampel jaringan dari area yang terlihat tidak normal. [3]

  • Pemeriksaan Mikroskopis

Dokter Anda juga dapat memutuskan untuk mengambil sampel cairan dari serviks Anda. Kemudian sampel tersebut akan ditempatkan di bawah mikroskop. 

Tes ini dapat menentukan penyebap servisitis apakah akibat infeksi jamur (kandidiasis), vaginosis bakteri, trikomoniasis, atau kondisi lainnya. Selain itu, tes untuk penyakit infeksi menular seksual (IMS) juga dapat dilakukan. [3]

Pengobatan Servisitis

Pengobatan Servisitis tergantung pada penyebab yang mendasarinya. Jika penyebabnya bukan infeksi menular seksual Anda biasanya tidak memerlukan perawatan. [3]

Jika disebabkan oleh infeksi, maka perlu diberikan pengobatan untuk menghilangkan infeksi dan mencegahnya menyebar ke rahim dan saluran tuba, atau jika Anda sedang hamil, dapat menimbulkan masalah pada bayi Anda. [4]

Dokter Anda akan meresepkan obat tergantung pada organisme apa yang menyebabkan infeksi yaitu: [3, 4]

  • Antibiotik, diresepkan jika penyebab servisitis kronis akibat infeksi bakteri, seperti gonore, chlamydia, dan vaginosis bakterialis.
  • Obat antijamur, diresepkan jika penyebab servisitis kronis akibat infeksi jamur.
  • Obat antivirus, diresepkan jika penyebab servisitis kronis akibat infeksi virus,  seperti herpes genital atau kutil kelamin.

Dokter Anda juga dapat menyarankan agar pasangan Anda dirawat untuk memastikan Anda tidak lagi terinfeksi. Anda harus menghindari berhubungan seks sampai Anda dan pasangan Anda menyelesaikan perawatan dan sampai servisitis dapat sepenuhnya teratasi.

Sangat penting untuk melakukan perawatan jika Anda positif HIV. Hal ini karena servisitis bisa meningkatkan jumlah virus yang dikeluarkan dari serviks, sehingga akan meningkatkan risiko Anda menularkan infeksi kepada pasangan Anda. Selain itu, servisitis juga dapat membuat Anda lebih mudah terkena HIV dari pasangan yang positif HIV. [4]

Jika gejala servisitis tetap ada meskipun Anda telah dirawat, Anda harus dievaluasi kembali oleh dokter Anda. Metode pengobatan lainnya yang dapat dokter rekomendasikan ialah cryotherapy dan terapi laser.

Cryotherapy adalah pengobatan menggunakan media khusus yang dapat membekukan jaringan yang terkena servisitis. Sementara terapi laser adalah pengobatan menggunakan alat khusus yang dapat mengeluarkan gelombang cahaya kuat untuk menghancurkan jaringan yang terkena servisitis.

Perawatan menggunakan produk kesehatan (nonobat) seperti douche atau terapi berbasis yogurt tidak direkomendasikan karena perawatan tersebut tidak bisa mengobati servisitis dan justru dapat memperburuk gejala.[4]

Cara Mencegah Servisitis

Hal-hal yang dapat Anda lakukan untuk mengurangi risiko terkena servisitis adalah sebagai berikut: [3, 4]

  • Mintalah pasangan Anda selalu menggunakan kondom saat berhubungan seks untuk menurunkan risiko terkena IMS (infeksi menular seksual). Kondom tersedia untuk pria dan wanita tetapi paling sering dipakai oleh pria. Kondom harus digunakan dengan benar setiap saat berhubungan seksual.
  • Batasi jumlah orang yang berhubungan seksual dengan Anda dan pastikan ia terbebas dari IMS apapun.
  • Jangan berhubungan seksual dengan pasangan yang memiliki luka kelamin atau keputihan.
  • Jika Anda sedang mendapatkan perawatan untuk penyakit infeksi menular seksual, tanyakan kepada dokter Anda apakah pasangan Anda juga harus dirawat.
  • Jangan gunakan produk-produk kesehatan wanita seperti douche dan tampon deodoran karena dapat menyebabkan iritasi pada vagina dan leher rahim Anda.
  • Jika Anda adalah penderita diabetes, cobalah untuk menjaga kontrol gula darah Anda dengan baik.

1. Anonim. 2019. mayo clinic. Servisitis
2. Arthur T Ollendorff, MD. 2017. Medscape. Servisitis
3. Anonim. 2020. diseasesdic. Cervicitis- Definition, Types, Causes, and Treatment
4. Anonim. 2019. WebMD. Cervicitis: Symptoms, Causes, and Treatment
5. Lana Burgess. 2018. Medical news today. What is cervicitis and what causes it?
6. Freya Nazera Iskandar, Dewi Puspitaningrum, Lia Mulyanti. 2013. Jurnal Universitas Muhammadiyah Semarang. Hubungan Antara Sikap Wanita Usia Subur (Usia 20-35 Tahun) Terhadap Perilaku Pencegahan Servisitis Dengan Pemeriksaan Skrining Di Kelurahan Kalibanteng Kulon Lebdosari Semarang Tahun 2013

Share