Penyakit & Kelainan

Sindrom Sweet : Penyebab – Gejala dan Penanganan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Apa Itu Sindrom Sweet?

Sindrom Sweet atau Sweet syndrome juga dikenal dengan istilah dermatosis neutrofilik febril akut di mana kondisi ini bersifat rekuren atau dapat kambuh di kemudian hari [1,2,3,4,5].

Jenis penyakit kulit ini tergolong tidak biasa atau langka yang ditandai dengan ruam kulit pada leher, wajah dan lengan [1,2,3,4,5].

Biasanya, ruam ini terasa sakit dan akan disertai dengan demam [1,2,3,4,5].

Tinjauan
Sindrom Sweet atau dermatosis neutrofilik akut adalah gangguan kesehatan kulit yang ditandai dengan ruam yang terasa sakit dan dapat disertai demam.

Fakta Tentang Sindrom Sweet

  1. Robert Douglas Sweet adalah yang pertama kali mendeskripsikan atau mengenalkan sindrom Sweet di tahun 1964 sebagai dermatosis neutrofilik akut [1,2,3].
  2. Infiltrasi neutrofilik menjadi karakteristik pada sekelompok gangguan non-infeksi dermatosis neutrofilik ini yang dialami pada area hipodermis, dermis dan epidermis tanpa atau dengan vaskulitis [1].
  3. Sindrom Sweet jauh lebih berpotensi terjadi pada wanita daripada pria dengan perbandingan 4:1 [1].
  4. Umumnya, sindrom Sweet terjadi pada orang-orang yang usianya antara 30-60 tahun walaupun tidak menutup kemungkinan anak-anak dapat terkena penyakit ini, begitu pula dengan lansia yang lebih tua [1,2].
  5. Sindrom Sweet dapat terjadi dengan sifat idiopatik atau tanpa penyebab yang diketahui pasti, maupun dapat menjadi efek dari berbagai penyakit lain, baik itu kanker tertentu, gangguan pernafasan, maupun gangguan pencernaan [1].
  6. Pada beberapa literatur medis, dilaporkan bahwa ada ratusan orang yang menderita sindrom Sweet di mana sekitar 80 orang anak adalah diantaranya [5].

Penyebab Sindrom Sweet

Masih belum diketahui secara jelas faktor penyebab utama sindrom Sweet, namun sejumlah kondisi seberpti kanker usus, kanker payudara dan leukemia dihubungkan dengan sindrom ini.

Ketiga kondisi tersebut disebut menjadi peningkat risiko seseorang mengalami sindrom Sweet.

Berikut ini adalah beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko sindrom Sweet pada seseorang.

  • Faktor Kanker : Beberapa jenis kanker dikaitkan dengan timbulnya kondisi sindrom Sweet, namun diantara kanker usus, kanker payudara, dan leukemia (kanker darah), leukemia adalah yang paling umum dijumpai pada penderita sindrom Sweet [2,4,5].
  • Faktor Jenis Kelamin : Secara umum, sindrom Sweet lebih banyak diderita oleh wanita daripada pria [1,2,3,4,5].
  • Faktor Kehamilan : Pada beberapa kasus, sindrom Sweet terjadi pada wanita yang sedang hamil [1,2,3,4,5].
  • Faktor Usia : Bayi, anak-anak dan lansia dapat mengalami sindrom Sweet, namun usia 30-60 tahun jauh lebih berpeluang menderita sindrom ini [1,2,3,4,5].
  • Faktor Pengaruh Obat : Tidak hanya kanker, pengaruh penggunaan obat seperti antibiotik, antiradang nonsteroid, dan azathioprine mampu meningkatkan risiko seseorang dalam menderita sindrom Sweet, terutama jika sensitivitas terhadap obat-obat ini tergolong tinggi [1,2,3,4].
  • Faktor Gangguan Kesehatan Lain : Infeksi saluran nafas atas, penyakit radang usus, dan berbagai kondisi dengan gejala yang mirip dengan penyakit flu mampu meningkatkan risiko sindrom Sweet. Ruam biasanya dapat timbul usai mengalami beberapa kondisi tersebut [1,2,3,5].
Tinjauan
Belum diketahui pasti penyebab sindrom Sweet, namun kanker, kehamilan, jenis kelamin, usia, sensitivitas terhadap obat tertentu serta faktor gangguan kesehatan tertentu dapat menjadi peningkat risiko terjadinya sindrom Sweet.

Gejala Sindrom Sweet

Sejumlah gejala yang ditimbulkan oleh sindrom Sweet antara lain adalah [1,2,4,5] :

  • Bintik-bintik atau ruam yang timbul pada area punggung, leher, wajah dan/atau lengan.
  • Bintik-bintik atau ruam yang timbul berukuran kecil-kecil namun disertai dengan rasa sakit.
  • Meski awalnya timbul dalam ukuran kecil, bintik-bintik ini dapat menjadi semakin besar dan menyebar.
  • Perubahan warna pada kulit (diskolorisasi kulit)
  • Nyeri pada otot dan sendi
  • Tubuh kelelahan
  • Sakit kepala
  • Demam
  • Tubuh secara menyeluruh tidak nyaman

Segera periksakan diri ke dokter apabila ruam tidak gatal dan justru menimbulkan rasa sakit dan ketidaknyamanan ditambah dengan ukurannya yang bisa semakin besar diameternya.

Tinjauan
Ruam atau bintik-bintik yang timbul di area leher, punggung, wajah dan/atau lengan dan terasa sakit biasanya merupakan gejala utama dari Sindrom Sweet. Namun, kondisi ini biasanya juga disertai dengan perubahan warna kulit, demam, hingga nyeri otot sendi serta sakit kepala.

Pemeriksaan Sindrom Sweet

Seperti pada pemeriksaan gejala gangguan kesehatan pada umumnya, keluhan-keluhan yang mengarah pada sindrom Sweet perlu dipastikan dengan beberapa metode diagnosa berikut.

  • Pemeriksaan Fisik dan Riwayat Kesehatan

Hal pertama yang dokter akan lakukan adalah memeriksa kondisi fisik pasien dan mengidentifikasi keluhan fisik apa saja yang terjadi [1,2,3,4].

Pasien perlu datang kepada dokter yang tepat, yakni dokter spesialis kulit agar diagnosa dan penanganan yang diberikan tepat.

Dokter juga akan menanyakan kepada pasien tentang riwayat medis pasien serta keluarga pasien agar mampu menegakkan diagnosa, terutama karena sindrom Sweet berhubungan dengan sejumlah penyakit tertentu [1,2,3,4].

  • Tes Darah

Untuk mengetahui dan memastikan penyebab sindrom Sweet, dokter akan menyarankan kepada pasien agar menempuh pemeriksaan darah [1,2,3].

Dokter akan mengambil sampel darah pasien untuk kemudian dianalisa di laboratorium [1,2,3].

Pemeriksaan darah meliputi penghitungan jumlah sel darah putih dan gangguan darah tertentu [1,2,3].

Untuk memastikan apakah ruam yang sakit pada kulit merupakan tanda sindrom Sweet, dokter perlu menerapkan prosedur biopsi kulit [1,2,3,4].

Biopsi kulit dilakukan dengan mengambil sampel jaringan kulit pasien (khususnya pada area tubuh yang terpengaruh) [1,2,3,4].

Sampel ini akan diteliti di laboratorium di bawah mikroskop agar ahli medis dapat menentukan apakah terdapat tanda-tanda kelainan sindrom Sweet [1,2,3,4].

Tinjauan
Pemeriksaan fisik, pemeriksaan riwayat kesehatan, pemeriksaan darah, dan biopsi kulit adalah metode-metode diagnosa yang digunakan untuk memastikan sindrom Sweet pada pasien.

Penanganan Sindrom Sweet

Sindrom Sweet pada dasarnya tidak memerlukan penanganan medis secara khusus dari sejumlah besar kasus yang pernah dijumpai.

Gejala berupa ruam yang terasa sakit dapat hilang dengan sendirinya dan tidak membahayakan tubuh walau bersifat rekuren.

Hanya saja, seringkali penanganan medis tetap diperlukan agar mampu mempercepat kondisi penyembuhan dan pemulihan penderita.

Berikut ini adalah sejumlah perawatan sindrom Sweet yang dapat pasien tempuh atau gunakan :

Prednisone adalah kortikosteroid oral atau obat minum yang dapat memberikan efek positif untuk lesi pada kulit [1,2,3].

Jika lesi atau ruam tak begitu banyak, maka biasanya menggunakan kortikosteroid dapat sangat efektif dalam mengatasinya [6].

Namun pastikan untuk berkonsultasi detail dengan dokter mengenai dosis karena penggunaan jangka panjang akan menyebabkan sejumlah efek samping.

Kelemahan tulang, insomnia atau sulit tidur serta kenaikan berat badan dapat terjadi bila kortikosteroid oral digunakan jangka panjang [7].

  • Kortikosteroid Suntik

Pemberian kortikosteroid injeksi juga dapat dilakukan bagi pasien sindrom Sweet dengan dosis kecil.

Biasanya pemberian suntikan dilakukan langsung pada setiap lesi, namun akan lebih efektif untuk pasien dengan lesi yang lebih sedikit [1,2,3,6].

  • Kortikosteroid Krim

Selain suntik dan oral, kortikosteroid krim dapat juga diberikan oleh dokter kepada pasien sindrom Sweet [2].

Kortikosteroid diyakini mampu secara efektif mengurangi risiko kerusakan jaringan kulit [4].

  • Obat Lainnya

Jika penggunaan kortikosteroid memang harus dalam jangka panjang namun tidak terlalu memberikan hasil, konsultasikan dengan dokter untuk obat alternatif.

Sejumlah obat alternatif terbaik yang umumnya dapat menggantikan kortikosteroid adalah colchicine, dapsone, dan potassium iodide [2,6].

Bagaimana prognosis sindrom Sweet?

Prognosis sindrom Sweet sangat bervariasi karena hal ini tergantung dari penyebabnya.

Pada rata-rata kasus sindrom Sweet, kondisi dapat sembuh dan hilang melalui penanganan yang tepat, namun juga ada yang menetap dan sulit ditangani.

Tingkat keparahan kondisi penyakit yang memicu sindrom Sweet dapat memengaruhi kondisi komplikasi apa yang dapat timbul dan seberapa baik prognosis sindrom ini.

Karena sindrom Sweet bersifat rekuren, maka risiko kambuh pada pasien adalah sekitar 50% walau sudah sempat memperoleh penanganan medis.

Biasanya, tingkat risiko kekambuhan semakin tinggi ketika sindrom Sweet ini berkaitan dengan penyakit radang maupun keganasan hematologi.

Tinjauan
Penanganan sindrom Sweet umumnya adalah dengan pemberian obat kortikosteroid (baik itu dalam bentuk suntik, oral atau krim) sesuai dengan kondisi pasien dan penyebabnya.

Komplikasi Sindrom Sweet

Risiko komplikasi sindrom Sweet yang kemungkinan terjadi tergantung dari penyebab sindrom ini.

Namun pada kasus kondisi sindrom Sweet yang bertahan dan cenderung sulit ditangani, maka biasanya kulit dapat semakin buruk kondisinya disertai dengan rasa sakit kronis.

Tanpa penanganan yang tepat, lesi bisa menjadi lebih serius, namun bila penanganan diberikan secara tepat, lesi dapat teratasi tanpa menimbulkan bekas pada kulit.

Tinjauan
Risiko komplikasi seperti perburukan gejala dan rasa sakit yang semakin hebat pada ruam kulit dapat terjadi apabila penanganan tidak segera diberikan ketika gejala tidak kunjung hilang.

Pencegahan Sindrom Sweet

Sindrom Sweet tidak diketahui penyebab pastinya, sehingga tidak mudah untuk melakukan upaya pencegahan. Hingga kini, belum terdapat cara pasti dalam mencegah sindrom Sweet [4].

Namun agar risiko komplikasi tidak terjadi atau setidaknya ruam tidak semakin besar dan menyebar, segera periksakan diri ke dokter.

Tidak memungkinkan untuk mencegah, namun penderita gejala sindrom Sweet tetap dapat menangani secara dini agar gejala tidak memburuk dan membahayakan kesehatan kulit.

Tinjauan
Belum terdapat cara mencegah sindrom Sweet, namun pemeriksaan dan penanganan dini sangat dianjurkan agar setidaknya mampu meminimalisir risiko gejala yang memburuk di kemudian hari sekalipun pada banyak kasus sindrom Sweet tidak berbahaya.

1. Priyanka Vashisht; Pankaj Bansal; Amandeep Goyal; & Michelene P. Hearth Holmes. Sweet Syndrome. National Center for Biotechnology Information; 2020.
2. Philip R Cohen. Sweet's syndrome – a comprehensive review of an acute febrile neutrophilic dermatosis. Orphanet Journal of Rare Diseases; 2007.
3. Arash Mollaeian, MD, Hadi Roudsari, MD, & Ebrahim Talebi, MD. Sweet’s Syndrome: A Classical Presentation of a Rare Disease. Journal of Investigative Medicine High Impact Case Reports; 2019.
4. Cleveland Clinic medical professional. Sweet Syndrome. Cleveland Clinic; 2018.
5. National Organization for Rare Disorders (NORD). Sweet Syndrome. National Organization for Rare Disorders (NORD); 2021.
6. Philip R Cohen & Razelle Kurzrock. Sweet's syndrome: a review of current treatment options. American Journal of Clinical Dermatology; 2002.
7. Yana Puckett; Aishah Gabbar; & Abdullah A. Bokhari. Prednisone. National Center for Biotechnology Information; 2021.

Share