Penyakit & Kelainan

14 Bahaya Obesitas bagi Kesehatan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Obesitas adalah penyakit kompleks yang disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya adalah kombinasi antara faktor genetik dan faktor lingkungan. [1] Prevalensi atau jumlah kasus obesitas melebihi 30% pada orang dewasa dan dikaitkan dengan peningkatan risiko masalah kesehatan yang serius seperti kardiovaskular, diabetes tipe 2, dan berbagai jenis kanker. [2] Menurut WHO, secara global, obesitas telah mencapai epidemik, dengan lebih dari 1 miliar orang dewasa overweight (kelebihan berat badan), dan 300 juta diantaranya mengalami obesitas. [3]

Prevalensi dari overweight dan obesitas pada umumnya dinilai dengan menggunakan body mass index (BMI) yaitu berat badan dalam kilogram dibagi dengan tinggi badan dalam meter kuadrat (kg/m2). Untuk overweight didefinisikan dengan BMI lebih dari 25 kg/m2, sedangkan obesitas didefinisikan dengan BMI lebih dari 30 kg/m2. Jika seseorang memiliki BMI sekitar 40 kg/m2, maka termasuk obesitas berat atau tidak sehat. [3,4] Perhitungan ini dapat memberikan tolak ukur untuk penilaian, tetapi untuk risiko terjadinya penyakit lain pada semua populasi dapat terjadi dan meningkat secara progresif dari tingkat BMI yang lebih rendah. [3]

Obesitas bisa terjadi disebabkan oleh banyak faktor diantaranya adalah faktor genetik, perilaku dan gaya hidup, faktor makanan, terdapat penyakit lain atau sedang mengkonsumsi obat-obat khusus yang bisa menaikkan berat badan.

Pada umumnya, pada awal penyakit obesitas, tidak ada gejala khusus. Pada awal, pemeriksaan dapat dilakukan dengan menghitung BMI seseorang. BMI 30 kg/m2 sudah dapat dikatakan obesitas. Untuk gejala memang tidak memiliki gejala banyak, namun pada penderita obesitas akan merasakan efek atau komplikasi dari obesitas bagi kesehatan. [3] Diantaranya adalah:

1. Sistem pernapasan

Komplikasi yang bisa terjadi adalah apnea tidur obstruktif (berhentinya napas saat tidur), peningkatan kejadian asma bronkial, lebih mudah terkena infeksi pernapasan dan sindrom Pickwickian (sindrom hipoventilasi pada obesitas). [4]

2. Maligna (penyakit keganasan)

Obesitas telah dikaitkan dengan adanya laporan penyakit kanker pada endometrium (perimenopause), prostat, usus besar (pada pria), rectum (pada pria), payudara (pasca-menopause), kandung empedu, kardiak pada lambung, sistem saluran empedu, pankreas, ovarium, ginjal dan kemungkinan paru-paru serta dengan adanya adenokarsinoma esofagus (terjadi pada sel yang menghasilkan lendir) dan multiple myeloma (kanker yang menyerang sel plasma). [4]

3. Psikologis

Pada penderita obesitas dapat dikaitkan dengan adanya stigmatisasi sosial dan diskriminasi dari masyarakat sehingga menyebabkan depresi. [1,4]

4. Kardiovaskular

Penyakit obesitas sering kali dikaitkan atau menjadi penyebab terjadinya penyakit kardiovaskular. Diantaranya adalah arteri coroner, hipertensi, hipertrofi, kardiomiopati, gagal jantung, serangan jantung, dan penyakit jantung lainnya. [1,4]

5. Sistem saraf pusat (SSP)

Penyakit yang bisa terjadi pada sistem saraf pusat antaranya adalah stroke, hipertensi intracranial idiopatik, meralgia paresthetica (gangguan sensorik pada sekitar paha ditandai dengan kesemutan, mati rasa, dan nyeri). [4]

6. Obstetri dan perinatal

Obesitas juga dapat meningkatkan risiko terkait kehamilan diantaranya adalah hipertensi pada kehamilan, makrosomia janin (bayi lahir dengan berat badan diatas rata-rata), dan distosia panggul (ibu hamil akan susah melahirkan). [4]

7. Pembedahan

Pada pasien obesitas akan terjadi peningkatan risiko pembedahan dan komplikasi paska operasi, termasuk infeksi luka, pneumonia paska operasi, trombosis vena dalam, dan emboli paru. [4]

8. Saluran pencernaan (gastrointestinal)

Pada penderita obesitas kemungkinan bisa mengalami komplikasi penyakit kandung empedu, stetohepatitis non-alkohol (adanya penumpukan lemak yang tersimpan di dalam hati), fatty liver (perlemakan hati), dan esofagitis refluks. [4]

9. Ortopedi (tulang)

Bagian ortopedi termasuk bagian yang terkena dampak dari penyakit obesitas diantaranya dalah osteoarthritis (radang sendi), deformitas pada pinggul, nyeri pada bagian punggung bawah (low back pain), slipped capital femoral epiphysis (pergeseran dari tulang paha). [4]

10. Metabolik

Penderita obesitas sebagian besar banyak mengalami komplikasi pada bagian metabolic diantaranya adalah diabetes mellitus tipe 2, sindrom metabolic, dan dislipidemia (kandungan kadar lemak yang terlalu tinggi). [4]

11. Sistem reproduksi

Obesitas bisa mempengaruhi sistem reproduksi wanita dan pria. Pada wanita, umumnya akan terjadi anovulasi (sel telur wanita gagal matang), pubertas dini, infertilitas, hiperandrogen (kadar hormon androgen atau testosterone tinggi dalam tubuh wanita), polycystic ovarian syndrome (PCOS) adalah kondisi ovum atau sel telur tidak berkembang karena ketidakseimbangan hormon. Jika pada pria, bisa terjadi hipogonadotropik hipogonadisme (kelenjar seksual memproduksi hormone sangat sedikit atau tidak sama sekali). [4]

12. Kulit

Penderita obesitas dapat juga mengalami komplikasi pada kulit diantaranya adalah intertrigo (peradangan yang disebabkan oleh gesekan kulit ke kulit atau pada lipatan kulit dan terinfeksi oleh bakteri dan jamur), akantosis nigrikans (perubahan kondisi kulit yang semakin gelap dan seperti beludru di lipatan kulit dan lipatan tubuh), hirsutisme (tumbuhnya rambut tebal pada wanita di bagian yang biasanya tumbuh hanya pada pria), dan peningkatan risiko selulitis dan karbunkel (bisul yang berhubungan pada bagian bawah lipatan kulit). [4]

13. Ekstremitas (anggota gerak)

Penyakit yang biasa timbul terkait obesitas diantaranya adalah varises vena, gangguan ekstremitas bawah (pinggul, lutut, tumit, dan kaki) dan edema limfatik (pembengkakan pada tangan atau kaki). [4]

14. Bagian lainnya

Obesitas juga dapat mempengaruhi bagian panggul. Selain itu, obesitas dapat membuat seseorang susah untuk bergerak sehingga mengurangi mobilitas dan kesulitan untuk menjaga kebersihan tubuh. [4] Obesitas juga dapat meningkatkan risiko dari penyakit Covid-19. [6]

Perawatan pada pasien obesitas

Pengobatan obesitas dapat dimulai dengan mengatur gaya hidup yaitu dengan mengatur diet, aktivitas fisik, dan perilaku. Kemudian lakukan program penurunan berat badan, jika memungkinkan didampingi oleh ahli. Jika sudah dilakukan hal tersebut dan belum ada perubahan yang signifikan, mungkin dokter akan memberikan obat-obatan untuk mengontrol obesitas seperti obat yang dapat mengganggu asupan makanan atau meningkatkan pengeluaran energi. Kemudian pilihan terakhir untuk pengobatan obesitas adalah dengan melakukan pembedahan atau operasi. Konsultasikan terlebih dahulu kepada dokter. [4]

1. National Institue of Health. www.nhlbi.nih.gov. The Practical Guide Identification, Evaluation, and Treatment of Overweight and Obesity in Adults. 2000
2. American Academy of Family Physicians. www.aafp.org. Diagnosis and Management of Obesity. 2013
3. WHO. www.who.int. Obesity and Overweight. 2003.
4. Osama Hamdy, et al. emedicine.medscape.com. Obesity. 2013
5. CDC. www.cdc.gov. Overweight and obesity. 2021
6. Naveed Sattar, et al. www.ahajournals.org. Obesity Is a Risk Factor for Severe COVID-19 Infection. 2020.

Share