Penyakit & Kelainan

Batuk Berdarah : Penyebab – Gejala dan Pengobatan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Apa Itu Batuk Berdarah?

Batuk berdarah atau yang juga disebut dengan istilah hemoptisis merupakan kondisi ketika seseorang mengalami batuk berdahak namun terdapat darah pada dahak tersebut [2,3,4,5,6,7].

Walau mungkin batuk berdarah kerap dianggap sebagai penyakit yang biasa, sebenarnya kondisi ini dapat menjadi tanda pembuluh darah saluran pernafasan yang rusak.

Darah pada batuk berdahak tersebut bisa saja berasal dari paru-paru, batang tenggorokan, tenggorokan, atau dari hidung.

Tanpa disadari, saluran pernafasan mungkin saja sedang mengalami masalah dan telah berada pada tahap yang parah.

Contoh penyakit pernafasan serius yang mampu menimbulkan batuk darah adalah bronkiektasis dan TBC.

Tinjauan
Batuk berdarah adalah kondisi batuk berdahak yang pada dahaknya terdapat darah jika dikeluarkan. Batuk berdahak pun dapat menjadi indikasi penyakit serius khususnya di bagian tenggorokan dan paru-paru.

Fakta Tentang Batuk Berdaraha

  1. Prevalensi batuk berdarah di Indonesia belum terdapat jelas datanya, namun prevalensi TBC sempat mencapai 297 per 100.000 penduduk pada tahun 2014 [1].
  2. Sementara itu, di tahun 2017, prevalensi TBC di Indonesia mengalami penurunan menjadi 254 per 100.000 [1].
  3. Batuk berdarah berpotensi 3 kali lebih besar terjadi pada pria daripada wanita, khususnya jika penyebabnya adalah TBC [1].
  4. Per tahunnya secara global, terdapat sekitar 0,1% pasien rawat jalan dan 0,2% pasien rawat inap dengan kasus batuk berdarah dengan kondisi keluarnya darah bersama dahak dari saluran pernafasan bawah [3].

Penyebab Batuk Berdarah

Sejumlah faktor dapat menjadi penyebab utama batuk berdarah dan di bawah ini merupakan sejumlah kondisi medis terkait gangguan saluran pernafasan yang memicu batuk berdarah [1,2,3,4,5,6,7] :

  • Bronkitis atau kondisi radang di bagian bronkus (saluran utama pernafasan).
  • Aspergillosis atau infeksi pada sistem pernafasan yang disebabkan utamanya oleh jamur Aspergillus.
  • TBC atau tuberkulosis, yaitu infeksi yang menyerang paru-paru dan umumnya disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis.
  • Pneumonia atau infeksi jamur, bakteri atau virus di bagian kantung udara maupun jaringan paru-paru.
  • Kanker paru.
  • Cedera di bagian dada.
  • Abses paru atau penumpukan nanah di paru-paru.
  • Bronkiektasis, yaitu kerusakan, pelebaran, atau dapat juga berupa penebalan saluran bronkus dalam paru-paru yang bahkan dapat menyerang bagian cabang bronkus.
  • Emboli paru atau kondisi ketika salah satu arteri paru mengalami penyumbatan akibat darah beku atau menggumpal.
  • Edema paru atau kondisi ketika cairan menumpuk di bagian alveoli (kantong paru) sehingga menyebabkan juga sesak nafas pada penderitanya.
  • Varises bronkial atau pembuluh darah yang pecah pada saluran pernafasan.
  • Benda asing yang masuk ke saluran nafas dan terjebak di sana.

Batuk berdarah pada umumnya berkemungkinan besar disebabkan oleh TBC, namun selain dari TBC serta beberapa faktor yang telah disebutkan, ada beberapa faktor risiko lain yang perlu diwaspadai :

  • Sindrom Churg-Strauss, granulomatosis Wegener, atau Lupus (jenis-jenis penyakit autoimun).
  • Batuk kronis.
  • Efek samping penggunaan obat pengencer darah.
  • Penyakit gagal jantung.
  • Efek samping pemakaian obat terlarang/narkoba.
  • Penyakit HIV AIDS.
  • Efek obat imunosupresan.
  • Memiliki kebiasaan merokok.
  • Anggota keluarga ada yang memiliki riwayat kelainan pembekuan darah.
  • Pernah menempuh prosedur pemeriksaan atau operasi tertentu, seperti biopsi saluran pernafasan atas, operasi hidung, operasi amandel, laringoskopi, spirometri, dan/atau bronkoskopi.
Tinjauan
Penyebab batuk berdarah dapat bervariasi, mulai dari penyakit paru-paru, riwayat kelainan pembekuan darah, batuk kronis, akibat tindakan medis tertentu, hingga efek penggunaan obat tertentu.

Gejala Batuk Berdarah

Gejala utama pada batuk berdarah adalah keluarnya darah berwarna merah terang saat batuk, namun banyaknya darah yang keluar tergantung dari tingkat keparahan kondisi.

Banyak dan sedikitnya darah yang keluar pun ditentukan oleh penyebab dari batuk berdarah.

Berikut ini adalah beberapa gejala yang perlu dikenali, termasuk seperti apa darah yang keluar [2,3,4,5,6] :

  • Darah yang keluar juga kerap tercampur dengan udara sehingga menghasilkan buih.
  • Keluarnya darah dapat dalam bentuk bercak-bercak atau justru dalam jumlah besar karena keluar bersama dahak.
  • Dada terasa nyeri.
  • Batuk tidak kunjung sembuh dan dapat dialami selama beberapa minggu.
  • Selalu berkeringat lebih banyak di malam hari.,
  • Nafsu makan turun.
  • Berat badan turun.
  • Tubuh lebih lemah.
  • Tubuh lebih cepat lelah.
  • Demam
  • Sesak nafas ditambah mengi.

Kapan sebaiknya memeriksakan diri ke dokter?

Ketika mengalami batuk berdahak dan darah keluar bersama dahak, maka saat itu juga perlu segera diperiksakan ke dokter.

Ini karena batuk berdahak kerap kali berkaitan erat dengan gangguan pada saluran pernafasan.

Pemeriksaan sedini mungkin akan membantu mendeteksi penyebab secara jelas dan memperoleh penanganan yang tepat.

Bila beberapa keluhan berikut terjadi, maka penting untuk segera ke IGD (instalasi gawat darurat) :

  • Urine berdarah saat buang air kecil.
  • Buang air besar berdarah.
  • Baru saja mengalami cedera pada bagian dada, lalu kemudian batuk berdarah terjadi.
  • Mengalami sesak nafas, pusing, keringat dingin dan pandangan menjadi gelap (tanda-tanda syok).
  • Darah keluar terus-menerus dan terlalu banyak.
Tinjauan
Gejala utama batuk berdarah adalah terdapatnya darah pada saat mengeluarkan dahak. Seringkali, hal ini juga disertai dengan dada nyeri, nafsu makan turun, berat badan turun, berkeringat lebih banyak di malam hari, demam dan tubuh kelelahan.

Pemeriksaan Batuk Berdarah

Pemeriksaan gejala batuk berdarah pada pasien oleh dokter bertujuan utama mengetahui secara jelas apa penyebab yang mendasari.

Beberapa metode pemeriksaan di bawah ini adalah yang umumnya diterapkan oleh dokter untuk mengukur berapa banyak darah yang keluar serta mendeteksi apakah pasien mengalami gangguan pernafasan [2,3,4,5,6,7].

  • Pemeriksaan Fisik : Pemeriksaan fisik menjadi hal pertama yang dokter lakukan dilanjutkan dengan menanyakan kepada pasien riwayat gejala yang selama ini dialami.
  • Tes Darah : Sebagai tes penunjang, tes darah kemungkinan diperlukan agar dokter dapat mengetahui apakah pasien mengalami kelainan pembekuan darah sehingga batuk berdarah tak kunjung sembuh.
  • Tes Dahak : Pemeriksaan sampel dahak pada pasien diperlukan agar dokter mengetahui lebih jelas penyebab batuk yang disertai darah.
  • CT Scan atau Rontgen : Salah satu dari metode tes pemindaian ini berguna bagi dokter untuk mengidentifikasi organ paru pasien.
  • Bronkoskopi : Bronkoskopi adalah metode pemeriksaan yang juga umumnya digunakan dokter untuk mengecek bagian dalam saluran pernafasan pasien dan mendeteksi kondisi area tersebut.
Tinjauan
Pemeriksaan fisik, tes darah, tes dahak, rontgen atau CT scan, serta bronkoskopi adalah metode-metode pemeriksaan yang digunakan oleh dokter dalam mendiagnosa penyebab batuk berdarah agar dapat memberikan pengobatan yang sesuai dengan kondisi pasien.

Pengobatan Batuk Berdarah

Dokter biasanya memastikan lebih dulu penyebab batuk berdarah sebelum memberikan pengobatan atau perawatan dalam bentuk apapun.

Kondisi pasien akan ditangani menurut penyebabnya dan berikut ini adalah sejumlah langkah penanganan umum bagi pasien batuk berdarah [2,3,4,5,6,7].

  • Obat Antituberkulosis

Untuk pasien batuk berdarah disebabkan oleh tuberkulosis (TBC), maka dokter akan langsung meresepkan obat antituberkulosis kombinasi.

Pada kasus batuk berdarah karena TBC, pengobatan berjalan cukup lama bagi pasien yang bahkan dapat sampai berbulan-bulan.

Agar tidak terjai resistensi bakteri TBC, maka seluruh anjuran dokter mengenai penggunaan obat dan lainnya benar-benar perlu diikuti.

  • Operasi

Pada kasus batuk berdarah yang disebabkan kanker, operasi adalah pengobatan yang biasanya dokter anjurkan.

Melalui operasi, dokter akan mengangkat jaringan kanker penyebab gejala batuk berdarah tidak kunjung sembuh.

  • Kemoterapi

Selain operasi, pasien kemungkinan perlu mengatasi kanker paru dengan menempuh kemoterapi.

Kemoterapi bertujuan untuk membasmi jaringan kanker yang belum tuntas diangkat melalui jalur operasi.

Seringkali, kemoterapi dan radioterapi adalah dua metode penanganan kanker yang pasien tempuh di saat yang sama supaya lebih efektif dalam membunuh sel-sel kanker.

  • Radioterapi

Radioterapi atau terapi radiasi adalah penanganan penyakit kanker yang memanfaatkan energi sinar-X.

Energi sinar-X inilah yang akan membunuh jaringan kanker sekaligus mencegah sel kanker menyebar dan berkembang biak semakin banyak di dalam tubuh.

  • Cairan Infus

Pemberian cairan infus biasanya dilakukan dokter pada pasien yang mengalami kondisi darurat seperti syok hipovolemik.

Cairan infus diberikan dalam jumlah banyak yang tujuan utamanya adalah demi membuat aliran darah tetap baik ke seluruh tubuh.

Tinjauan
- Tergantung dari kondisi penyebab batuk berdarah, umumnya obat antituberkulosis diberikan oleh dokter bagi penderita TBC.
- Sedangkan batuk berdarah yang dikarenakan kanker, dokter perlu mengangkat kanker tersebut melalui prosedur operasi, kemoterapi, dan/atau radioterapi.
- Pada pasien dengan syok hipovolemik, cairan infus adalah bentuk penanganan yang diberikan.

Komplikasi Batuk Berdarah

Batuk berdarah dalam bentuk bercak dan hanya sedikit-sedikit nampaknya bukanlah kondisi yang serta-merta akan memicu komplikasi [2,3,4,5].

Hanya saja bila batuk berdarah menyebabkan keluarnya dahak bersama darah yang terlalu banyak, penderitanya dapat mengalami kehilangan banyak darah serta memicu syok.

Tanda umum bahwa seseorang penderita batuk berdarah mengalami syok adalah tubuh yang berkeringat dingin, kulit memucat, tubuh lemas, serta sampai hilang kesadaran.

Selain itu, ada pula beberapa komplikasi yang dapat timbul apabila batuk berdarah tidak segera ditangani atau ditangani namun secara kurang tepat.

  • Cedera di bagian jaringan paru.
  • Abses paru.
  • Gangguan pada jantung
  • Efusi pleura atau cairan yang terakumulasi pada selaput paru.
Tinjauan
Pada kondisi batuk berdarah yang mengeluarkan darah terlalu banyak, penderita dapat mengalami komplikasi berupa syok karena kehilangan darah terlalu banyak. Selain itu, abses paru, cedera jaringan paru, efusi pleura, dan/atau gangguan jantung dapat menjadi komplikasi yang wajib diwaspadai.

Pencegahan Batuk Berdarah

Pencegahan terbaik untuk tidak terkena batuk berdarah adalah dengan mencegah penyakit yang menyebabkannya.

Sejumlah upaya dapat dilakukan, yaitu melalui tindakan-tindakan di bawah ini :

  • Tidak merokok
  • Pastikan sirkulasi udara di rumah baik dan nyaman.
  • Tutup mulut dan hidung atau tidak berdekat-dekatan dengan orang yang sedang sakit batuk.
  • Konsumsi makanan-makanan sehat, yaitu memperbanyak asupan sayur dan buah.
  • Olahraga secara rutin, apapun jenisnya agar tubuh sehat dan bugar.
  • Cucilah tangan dengan rajin, khususnya sebelum menyentuh makanan dan sehabis menggunakan toilet.
  • Hindari lingkungan dengan tingkat polusi tinggi.

Selain itu, segeralah memeriksakan diri ke dokter saat gejala batuk berdarah mulai dialami dan terasa tidak normal.

Memeriksakannya secara dini, mendeteksi penyebabnya, dan menanganinya secepatnya akan mencegah kondisi berujung pada komplikasi berbahaya.

Tinjauan
Pencegahan terbaik agar batuk berdarah tidak terjadi atau tidak menjadi lebih buruk adalah dengan mengonsumsi makanan sehat, menghindari aktivitas merokok, menghindari lingkungan berpolusi tinggi, mencuci tangan dengan rajin, berolahraga, dan memiliki sirkulasi udara yang baik di rumah.

1) Didik Budijanto, Rudy Kurniawan, Nuning Kurniasih, Marlina Indah, Dian Mulya & Sulistyo, SKM, M.Epid. 2018. Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Tuberkulosis.
2) Ralph Corey. 1990. National Center for Biotechnology Information. Clinical Methods: The History, Physical, and Laboratory Examinations. 3rd edition - Chapter 39 Hemoptysis.
3) Harald Ittrich, PD Dr., Maximilian Bockhorn, Prof., Hans Klose, Dr., & Marcel Simon, Dr. 2017. Deutschez Arzteblatt International. The Diagnosis and Treatment of Hemoptysis.
4) Zi Yang Trevor Ong, Hui Zhong Chai, MBBS, MRCP, Choon How How, MMed, FCFP, Jansen Koh, MRCP, FCCP, & Teck Boon Low, MRCPI, FRCPI. 2016. Singapore Medical Journal. A simplified approach to haemoptysis.
5) Anna Rita Larici, Paola Franchi, Mariaelena Occhipinti, Andrea Contegiacomo, Annemilia del Ciello, Lucio Calandriello, Maria Luigia Storto, Riccardo Marano, & Lorenzo Bonomo. 2014. Diagnostic and Interventional Radiology. Diagnosis and management of hemoptysis.
6) John Scott Earwood, MD & Timothy Daniel Thompson, MD. 2015. American Family Physician. Hemoptysis: Evaluation and Management
7) Anonim. 2018. National Health Service. Coughing up blood (blood in phlegm).

Share