Penyakit & Kelainan

Disestesia : Penyebab – Gejala – Pengobatan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Apa Itu Disestesia?

Disestesia atau dysesthesia merupakan gangguan saraf/neurologis yang ditandai dengan sensasi nyeri atau tidak nyaman ketika kulit tersentuh [1,2,3].

Indera peraba pada disestesia mengalami sensasi tak normal dan hal ini dapat dialami oleh seluruh bagian tubuh meskipun kulit kepala, mulut, dan kaki adalah bagian-bagian tubuh paling umum yang mengalami disestesia [1,2,3].

Sensasi abnormal pada disestesia adalah timbulnya rasa panas, gatal dan bahkan sakit pada kulit ketika ada kontak dengan kulit atau benda [1,2,3].

Istilah dysesthesia berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari kata ‘dys’ yang berarti tidak normal atau abnormal dan ‘aesthesis’ yang memiliki makna sensasi abnormal [1].

Timbulnya kondisi disestesia dapat berkaitan dengan gangguan neurologis lainnya. Bahkan diketahui pula bahwa 12-28% penderita multiple sclerosis akan mengalami disestesia dalam bentuk nyeri, kesemutan dan panas pada kulitnya [11].

Jenis-jenis Disestesia

Disestesia terklasifikasi menjadi beberapa jenis kondisi dengan sensasi abnormal berbeda dan di bagian kulit tubuh berbeda, yaitu sebagai berikut.

Disestesia Kulit Kepala

Permukaan kulit kepala yang tersentuh dan terasa tak nyaman atau cenderung nyeri merupakan jenis disestesia kulit kepala [1,2,3].

Kulit kepala tidak hanya terasa nyeri, tapi juga timbul sensasi gatal berlebihan yang sangat mengganggu.

Disestesia kulit kepala ini biasanya terjadi karena timbulnya penyakit tulang belakang yang didasari oleh ketegangan otot kronis di perikranium [1,2,3,4].

Disestesia Kulit

Disestesia kulit adalah jenis disestesia di mana kulit setiap terkena kontak apapun atau tersentuh akan merasa nyeri dan tidak nyaman [1,2,3].

Bahkan pakaian yang dikenakan sehari-hari pun bisa terasa mengganggu dan menyebabkan rasa sakit di kulit karena kulit terlampau sensitif.

Sensasi tidak nyaman yang umumnya timbul pada disestesia kulit adalah kulit terasa kesemutan.

Namun, ada pula beberapa kasus di mana tingkat rasa nyeri bisa sangat tinggi sampai menghambat aktivitas sehari-hari.

Disestesia Terbakar

Pada disestesia jenis terbakar, penderita akan mengalami sensasi panas terbakar [1,2,3].

Rasa nyeri yang terjadi pada kulit adalah seperti terbakar api.

Disestesia Oklusal

Pada disestesia jenis oklusal, kondisi ini terjadi lebih kepada area mulut atau jaringan oral [1,2,3].

Rasa tak nyaman atau nyeri pada disestesia jenis ini berupa sensasi seperti tergigit.

Orang-orang yang memiliki riwayat operasi gigi berisiko lebih tinggi mengalami disestesia oklusal karena menderita ilusi gigitan.

Penyebab Disestesia

Disestesia dapat disebabkan oleh berbagai faktor, namun sebab umum yang terjadi pada rata-rata penderita disestesia adalah adanya kerusakan atau lesi di jaringan sistem saraf [1,2,3].

Ketika sistem saraf mengalami kerusakan, saraf sensorik, saraf perifer, atau sensor dapat terpengaruh secara negatif dan tak dapat berfungsi sebagaimana mestinya [1,2].

Seperti halnya lengan yang terasa tidak nyaman, ini biasanya disebabkan oleh gangguan pada saraf penghubung lengan dengan otak [1,2].

Tidak hanya kerusakan pada jaringan sistem saraf, beberapa faktor lain yang juga meningkatkan risiko disestesia adalah [1,2,3] :

  • Penggunaan obat tertentu
  • Efek berhenti dari penggunaan obat terlarang
  • Penyakit Lyme
  • Sindrom Gullain-Barre
  • Multiple sclerosis
  • Efek alkohol dan obat terlarang
  • Cedera saraf
  • Penyakit stroke
  • Penyakit HIV
  • Penyakit diabetes

Penyakit Lyme adalah penyakit yang ditandai dengan kemerahan dan ruam pada kulit karena infeksi bakteri Borrelia burgdorferi yang ditularkan melalui gigitan kutu [5].

Kutu yang menularkan penyakit ini adalah Ixodes pacificus dan Ixodes scapularis [5].

Penyakit Lyme terdiri dari 3 stadium dan pada stadium akhir, sistem saraf dapat terpengaruh karena gejala pada stadium 1 dan 2 yang kemungkinan terlambat ditangani [5].

Ketika sistem saraf terkena, disestesia adalah salah satu kondisi yang terjadi bersama dengan meningkatnya risiko ensefalopati dan artritis [1,2,3,6].

Sementara itu, Sindrom Guillain-Barre adalah suatu kondisi saat sistem saraf tepi yang terserang oleh sistem imun dan menyebabkan kerusakan mielin (selaput saraf pelindung sistem saraf tepi) [7].

Sindrom ini mampu menyebabkan disestesia yang umumnya akan berawal dari bagian wajah lalu menjalar hingga bagian tubuh lain. [7]

Gejala yang dapat timbul pada sindrom Guillain-Barre adalah rasa nyeri, kesemutan, kelemahan otot, mati rasa, hingga gangguan keseimbangan tubuh [7,8].

Pada banyak kasus disestesia, multiple sclerosis menjadi penyebab paling umum, yakni kondisi ketika saraf otak, mata dan tulang belakang mengalami gangguan [1,2,3,9].

Kulit yang terpengaruh akan tergantung dari saraf bagian tubuh mana yang terkena [9].

Namun secara umum, multiple sclerosis menyebabkan gangguan penglihatan dan gangguan gerakan tubuh dikarenakan mielin rusak akibat kondisi autoimun (seperti kasus sindrom Guillain-Barre) [1,2,3,9].

Gejala Disestesia

Disestesia menyebabkan gejala yang berbeda-beda pada tiap penderitanya [1,2].

Hanya saja, gejala disestesia akan selalu memengaruhi bagian kulit kepala, kulit, mulut, wajah, tungkai, dan lengan [9].

Berikut ini merupakan gejala yang umum terjadi pada kasus disestesia [1,2,3,9] :

  • Bagian tubuh tertentu terasa sulit bergerak / keterbatasan gerak tubuh.
  • Sensasi gatal sekaligus nyeri panas terbakar pada kulit bagian tubuh yang terpengaruh.
  • Sensasi kesemutan.
  • Sensasi rasa sakit seperti ditusuk-tusuk.
  • Sensasi nyeri yang terkadang tak dapat dijelaskan dengan kata-kata namun dapat menyebar dari satu bagian tubuh ke bagian tubuh lainnya.
  • Kerontokan rambut (apabila disestesia menyerang kulit kepala).
  • Tubuh terasa sakit dan pegal.
  • Kulit merasakan nyeri seperti iritasi walau tersentuh secara ringan atau bahkan akan terasa tak nyaman walau tidak kontak dengan apapun.
  • Sensasi nyeri dan tak nyaman seperti tersengat listrik.
  • Sensasi nyeri dan tak nyaman yang menyerupai efek pukulan pada tulang.
  • Sensasi seperti sedang berada di tengah-tengah api.

Sensasi yang dirasakan oleh satu penderita dan penderita disestesia lainnya bisa berbeda dan memiliki tingkat keparahan yang juga tidak sama [1,2,3].

Tergantung dari kondisi yang menyebabkan atau memicunya, sensasi nyeri dapat berada pada tahap akut (terjadi tiba-tiba namun hanya sebentar dan kemudian hilang sendiri) hingga tahap kronis (rasa nyeri bersifat persisten dan dalam waktu yang lama) [1,2].

Gejala disestesia tak jarang bersifat progresif sehingga dapat terus berkembang sampai benar-benar memburuk, terutama bila gejala awal tidak segera terdeteksi dan tertangani [1,2].

Kapan sebaiknya memeriksakan diri ke dokter?

Ketika disestesia menyebabkan nyeri persisten dan aktivitas sehari-hari menjadi terhambat karena kondisi-kondisi di bawah ini, sudah saatnya untuk ke dokter [2].

  • Iritasi kulit dan kulit kepala.
  • Sering menggosok dan menggaruk kulit hingga luka dan terjadi infeksi.
  • Luka dan keterbatasan gerak tubuh menjadi penghambat dalam berkegiatan.
  • Mengisolasi diri karena ingin menghindari interaksi sosial.
  • Timbul kecemasan berlebih dan depresi.

Pemeriksaan Disestesia

Sekalipun disestesia dapat pulih dengan sendirinya pada beberapa kasus, seringkali gejala tak mudah untuk dikendalikan.

Untuk itu, demi memastikan bahwa seseorang mengalami disestesia, dokter perlu melakukan pemeriksaan fisik dan riwayat kesehatan pasien [3,10].

Gejala-gejala yang pasien laporkan serta yang nampak oleh pengecekan dokter menjadi hasil diagnosa disestesia pada umumnya [3,10].

Walaupun sensasi nyeri bisa bermacam-macam, terutama pada kasus multiple sclerosis, dokter akan melakukan analisa lebih dalam [3].

Dokter pun perlu mengetahui penyebab gejala disestesia sehingga dapat memberikan penanganan terbaik sesuai dengan kondisi yang mendasari disestesia.

Pengobatan Disestesia

Penanganan gejala disestesia perlu disesuaikan dengan penyebabnya dan beberapa metode pengobatan yang dokter berikan kepada penderita disestesia adalah :

Melalui Penanganan Medis

  • Penggunaan obat antikejang, seperti phenytoin, carbamazepine, pregabalin, dan gabapentin yang bertujuan mengubah aktivitas saraf [1,2,3,11].
  • Penggunaan obat oles berupa krim capsaicin atau lidocaine yang berguna meredakan rasa sakit [1,2,11].
  • Penggunaan antihistamin, khusus bagi penderita multiple sclerosis yang mengalami sensasi panas terbakar dan gatal-gatal pada kulit [1,2,11].
  • Penggunaan opioid tramadol (jarang diresepkan oleh dokter karena hanya diperuntukkan bagi pasien dengan nyeri parah [1,2,11].
  • Penggunaan antidepresan tertentu, seperti amitriptyline, desipramine dan nortriptyline untuk membantu reaksi tubuh berubah terhadap rasa sakit yang timbul [1,2,3,11].
  • Prosedur bedah untuk mengatasi saraf yang rusak pada kasus disestesia yang sudah sangat parah dan tak lagi dapat diredakan dengan obat [1,2,11].

Ketika berkonsultasi dengan dokter, pastikan untuk bertanya mengenai obat apa saja yang diperlukan untuk memulihkan gejala disestesia [1,2].

Tanyakan pula apakah penggunaan obat resep terdapat efek samping jangka pendek maupun jangka panjang agar mampu mewaspadainya [1,2].

Beri informasi kepada dokter mengenai obat apa saja (termasuk suplemen, vitamin, dan herbal) yang sedang digunakan supaya tidak terjadi interaksi obat yang berakibat mengancam jiwa [1,2].

Melalui Penanganan Alami dan Mandiri

Dalam upaya meredakan rasa sakit pada kulit secara alami, beberapa cara mandiri ini bisa coba dilakukan oleh pasien [1,2,3].

  • Kompres dingin atau hangat pada area kulit yang mengalami disestesia.
  • Minum air putih banyak dan menjaga tubuh terhidrasi dengan baik.
  • Menghindari stres dan mengelolanya dengan cara positif.
  • Memperoleh istirahat dan tidur cukup setiap hari.
  • Mengenakan sarung tangan, celana panjang, pakaian lengan panjang, atau kaos kaki untuk menghindari keinginan menggaruk sekaligus melindungi kulit.
  • Menggunakan losion atau sabun dengan bahan ringan (sangat dianjurkan menggunakan produk berkandungan aloe atau calamine).
  • Mandi air hangat yang sudah dicampur dengan garam Epsom.
  • Menghindari lingkungan bersuhu panas.
  • Melakukan meditasi agar kesehatan mental tetap terjaga dengan baik.
  • Mengenakan pakaian dari bahan katun atau bahan nyaman lainnya agar tidak memperburuk gejala disestesia.

Jika diperlukan, penderita disestesia dapat menjalani terapi akupresur, akupunktur, hipnosis, chiropractic, pijat, biofeedback, atau hidrotherapy untuk meredakan gejala [1,2].

Sesuaikan metode penanganan dengan kondisi yang mendasari disestesia supaya manfaat dari terapi bisa dirasakan.

1. Nancy Hammond, M.D. & Jennifer Huizen. All you need to know about dysesthesia. Medical News Today; 2019.
2. Heidi Moawad, M.D. & Ann Pietrangelo and Laura Goldman. Everything You Need to Know About Dysesthesia. Healthline; 2021.
3. By Julie Stachowiak, PhD & Nicholas R. Metrus, MD. An Overview of Dysesthesia in Multiple Sclerosis. Verywell Health; 2021.
4. Laura A Thornsberry & Joseph C English 3rd. Scalp dysesthesia related to cervical spine disease. JAMA Dermatology; 2013.
5. Gwenn L. Skar & Kari A. Simonsen. Lyme Disease. National Center for Biotechnology Information; 2021.
6. Daniel J. Cameron. Proof That Chronic Lyme Disease Exists. Interdisciplinary Perspectives on Infectious Diseases; 2010.
7. Thy P. Nguyen & Roger S. Taylor. Guillain Barre Syndrome. National Center for Biotechnology Information; 2021.
8. Brian Pentland & Stewart M Donald. Pain in the Guillain-Barré syndrome: a clinical review. Pain; 1994.
9. A. Truini, P. Barbanti, C. Pozzilli & G. Cruccu. A mechanism-based classification of pain in multiple sclerosis. Journal of Neurology; 2012.
10. The National Multiple Sclerosis Society. Pain & Itching. The National Multiple Sclerosis Society; 2022
11. Kayla L. Murphy, John R. Bethea, & Roman Fischer. Chapter 4Neuropathic Pain in Multiple Sclerosis—Current Therapeutic Intervention and Future Treatment Perspectives. Multiple Sclerosis: Perspectives in Treatment and Pathogenesis. Brisbane (AU): Codon Publications; 2017.

Share