Penyakit & Kelainan

Erotomania : Penyebab – Gejala dan Penanganan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Apa Itu Erotomania?

Erotomania adalah jenis gangguan delusi, yaitu ketika seseorang memiliki keyakinan sangat kuat namun tak nyata mengenai adanya orang lain yang menaksir dan mencintainya [1,2,4,6,9].

Padahal faktanya, orang yang ia kira menyukainya belum tentu benar-benar memiliki perasaan khusus padanya.

Kondisi delusi ini tergolong sangat jarang dijumpai dan seseorang dengan erotomania rata-rata meyakini public figure tertentu sebagai orang yang memiliki perasaan padanya [2].

Mendengar berita, mengkhayal, serta akibat dari menonton TV bisa saja menjadi pemicu seseorang memiliki keyakinan kuat bahwa sesosok selebriti, konglomerat, hingga pejabat menyukai dirinya [3].

Jadi, erotomania bukanlah suatu kondisi delusi yang muncul dari kenyataan, melainkan lebih kepada imajinasi.

Tinjauan
Erotomania adalah sebuah gangguan delusi di mana penderitanya berkeyakinan kuat bahwa seseorang tertarik dan mencintainya, padahal itu hanya khayalannya dan bukan yang sebenarnya terjadi.

Fakta Tentang Erotomania

Prevalensi kasus erotomania belum diketahui jelas hingga kini, namun diperkirakan ada sekitar 15 kasus dari 100.000 populasi yang dilaporkan setiap tahun [1].

Wanita memiliki risiko lebih tinggi mengalami erotomania daripada pria, dengan perbandingan banyaknya kasus 3 : 1 [1].

Erotomania disebut juga dengan istilah lain, yaitu sindrom De Clerambault di mana pada tahun 1980 terdapat seorang wanita dengan kondisi ini dan diteliti hampir 30 tahun lamanya [2,4].

Di Indonesia sendiri tentu terdapat kasus erotomania, namun data prevalensi nasional yang spesifik belum tersedia.

Penyebab Erotomania

Ketika seseorang tanpa sadar memiliki gangguan delusi, maka bahasa tubuh dan ekspresi wajah orang lain dapat dengan mudah dibaca secara keliru.

Gangguan delusi yang sudah ada pada diri seseorang akan membuatnya mampu menyalahartikan sebuah ekspresi dan bahasa tubuh orang lain [2,4].

Orang lain bisa saja sebenarnya bersikap biasa, namun seseorang mampu mengartikannya sebagai tanda bahwa orang tersebut tertarik dan mencoba mendekati.

Para ahli sekalipun belum menemukan jawaban pasti apa yang menyebabkan erotomania dan mengapa hal semacam ini dapat terjadi.

Orang-orang dengan beberapa hal di bawah ini lebih rentan mengalami gangguan delusi yang terus berkembang seiring waktu [2,4,5,6] :

  • Sering menyendiri.
  • Memiliki rasa percaya diri dan citra diri yang rendah (sehingga dengan meyakini sebuah delusi yang diciptakan, perasaannya akan jauh lebih baik).
  • Mengalami stres.
  • Kehilangan kerabat atau teman dekat, sehingga ada kecenderungan untuk mencari rasa aman pada orang lain di mana perhatian dari orang lain tersebut pada akhirnya dapat disalahartikan sebagai sebuah rasa ketertarikan secara romantis.
  • Menggunakan media sosial, karena privasi akan berkurang dan batasan-batasan yang seharusnya ada menjadi hilang. Sebab pada umumnya, orang lain dapat melakukan stalking atau mengintip aktivitas orang lain di media sosial.
  • Mengendalikan rasa trauma dan stres dengan cara yang cenderung tak biasa.

Kondisi Psikologis Terkait Erotomania

Selain gangguan delusi sendiri, terdapat sejumlah jenis gangguan mental lain yang berhubungan erat dengan erotomania.

Perlu diketahui bahwa erotomania dapat menjadi sebuah gejala dari sejumlah kondisi mental di bawah ini :

  • Penyakit Alzheimer, yaitu jenis penyakit otak yang berakibat pada daya ingat menurun, begitu juga dengan kondisi perilaku yang berubah. Kemampuan berpikir dan berbicara juga akan berkurang di mana hal ini lebih rentan terjadi pada lansia [4].
  • Gangguan bipolar, yaitu sebuah kondisi di mana seseorang mengalami perubahan emosi drastis menandakan bahwa ia mengalami gangguan mental. Perubahan drastis tersebut adalah ketika emosi senang dan sangat sedih yang dapat terjadi tanpa waktu yang lama [2,4].
  • Skizoafektif, yaitu sebuah kondisi gangguan kejiwaan di mana seseorang mengalami kombinasi gejala gangguan mood dan gejala skizofrenia. Pada kondisi ini, penderita akan sering mengalami delusi dan halusinasi [7].
  • Skizofrenia, yaitu jenis ganggua mental yang ditandai dengan delusi, halusinasi, berubahnya perilaku penderita, serta pikiran yang semakin kacau. Penderita skizofrenia memiliki kesulitan dalam membedakan pikirannya sendiri dengan realita yang ada [2,4].
  • Gangguan depresi mayor dengan gejala psikotik [2].

Faktor Risiko Erotomania

Erotomania walau tergolong sebagai kasus yang langka, risikonya jauh lebih tinggi dialami oleh wanita [1].

Tak menutup kemungkinan seorang laki-laki juga dapat mengalaminya; hanya saja, kasus erotomania pada pria lebih sedikit daripada wanita.

Kondisi seperti ini dapat timbul setelah masa pubertas, namun ada pula yang dialami pada usia dewasa muda [4].

Erotomania dikaitkan pula dengan faktor genetik karena delusi pada dasarnya dapat menjadi hal yang diturunkan di keluarga [1,2,4].

Jika anggota keluarga ada yang memiliki riwayat delusi, maka hal ini meningkatkan risiko seseorang di keluarga yang sama mengalaminya juga.

Tinjauan
Penyebab pasti erotomania belum diketahui, namun ada banyak faktor yang meningkatkan risikonya. Faktor genetik, usia (remaja), dan memiliki riwayat gangguan mental tertentu mampu menjadi peningkat potensi seseorang memiliki kondisi erotomania.

Gejala Erotomania

Gejala utama erotomania adalah keyakinan kuat yang salah dan tak nyata bahwa orang lain memiliki perasaan khusus dan romantis terhadap diri seseorang.

Awalnya, keyakinan kuat tersebut akan meningkatkan rasa percaya diri, citra diri dan suasana hati seseorang.

Hanya saja ketika suatu saat penderita erotomania mengetahui dan menyadari bahwa semuanya tak benar, ia akan merasa sangat kecewa.

Selain perasaan yakin bahwa orang tertentu menyukai penderita, beberapa gejala di bawah ini juga timbul dan sangat nampak pada penderita erotomania adalah [2,8] :

  • Memiliki obsesi untuk selalu menemui seseorang yang dianggap tertarik padanya.
  • Membicarakan terus-menerus sosok yang diyakini memiliki ketertarikan dan perasaan romantis padanya.
  • Mencoba berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang yang diyakini memiliki ketertarikan padanya.
  • Memiliki obsesi untuk mengikuti setiap hal dan kabar mengenai public figure yang diyakini memiliki ketertarikan padanya.
  • Memiliki semangat hanya ketika membicarakan sosok yang diyakini mencintainya; jika tak membicarakan orang tersebut, maka penderita tidak bersemangat dalam menjalani aktivitasnya.
  • Meyakini dan menyebut bahwa ia tengah diikuti atau dikuntit oleh seseorang, padahal tidak ada yang mengikuti maupun menguntitnya.
Tinjauan
Gejala utama erotomania adalah keyakinan kuat bahwa seseorang menyukai dan begitu mencintai penderita padahal hal tersebut tidak nyata. Terobsesi dengan sosok yang dianggap tertarik dengannya juga merupakan gejala erotomania yang dapat semakin buruk.

Pemeriksaan Erotomania

Dokter dalam memeriksa kondisi pasien dengan gejala erotomania biasanya akan menanyakan lebih dulu berbagai riwayat medis pasien [9].

Dokter perlu mengumpulkan informasi mengenai apa saja penyakit yang pernah atau sedang diderita oleh pasien.

Biasanya, pertanyaan seputar riwayat kondisi mental pasien juga diajukan oleh dokter lalu pemeriksaan fisik dilakukan [4,9].

Dari informasi yang didapat, dokter kemudian akan dapat memastikan bahwa gejala mengarah pada erotomania atau bukan.

Setelah itu, dokter juga akan merujukkan pasien kepada psikolog atau psikiater untuk pemeriksaan lebih mendalam sehingga kondisi dapat ditangani dengan benar.

Penanganan Erotomania

Gangguan delusi seperti erotomania dapat diatasi melalui pemberian obat-obatan serta terapi khusus.

Jika cukup berat, maka kondisi pasien perlu ditangani menggunakan kombinasi kedua metode tersebut.

Melalui Obat-obatan

Tergantung dari kondisi keseluruhan pada mental dan fisik pasien serta tergantung alasan yang mendasari erotomania pada pasien, berikut ini adalah obat-obatan yang umumnya diresepkan [11,13] :

Melalui Psikoterapi

Selain obat-obatan, metode psikoterapi adalah suatu cara yang efektif dan banyak digunakan untuk menangani masalah delusi serta gangguan mental atau kejiwaan lainnya [13].

Berikut ini adalah beberapa metode psikoterapi yang umumnya direkomendasikan oleh dokter bagi pasien erotomania.

  • Terapi Bicara dan Terapi Perilaku Kognitif

Terapi bicara atau talk therapy kemungkinan akan direkomendasikan oleh dokter [12].

Terapi perilaku kognitif juga termasuk di dalam metode terapi bicara yang akan membantu pasien dalam membenahi pikiran dan perilaku negatif.

Terapis profesional dalam hal ini akan membantu pasien dalam mengenali lebih dulu pola pikir dan perilakunya yang bermasalah.

Selanjutnya, terapis akan membimbing pasien untuk mengubahnya menjadi lebih positif untuk mengatasi ketidaknyamanan yang selama ini dialami.

  • Psikoterapi Individual

Jenis terapi ini digunakan agar pasien mampu mengenali pemikiran-pemikiran yang mengganggunya.

Jika sudah mengenalinya, terapis akan membantu mengubah gangguan pada pemikiran penderita.

  • Terapi Keluarga

Pada metode terapi ini, keluarga perlu terlibat dalam membantu pasien erotomania menjadi lebih baik [12].

Kontribusi keluarga dalam pemulihan kondisi pasien sangat penting dan diharapkan pihak keluarga mampu membawa dampak yang jauh lebih positif bagi perubahan dan pembenahan diri pasien.

Melalui Kombinasi Obat dan Terapi

Pada beberapa kasus gangguan mental, kombinasi obat-obatan dan psikoterapi perlu diterapkan [1,13].

Umumnya, pasien erotomania tidak memiliki masalah yang besar dalam beraktivitas sebab mereka dapat beraktivitas normal.

Bahkan dalam aktivitas sosialnya, pasien erotomania cenderung baik-baik saja tanpa masalah.

Hanya saja ketika gejala sudah dianggap lebih parah, obat dan psikoterapi adalah kombinasi pengobatan yang lebih dianjurkan.

Tinjauan
Penanganan erotomania adalah melalui pemberian obat-obatan pereda gejala dan peningkat suasana hati, psikoterapi, serta kombinasi kedua metode.

Komplikasi Erotomania

Erotomania bukanlah gangguan delusi biasa sebab walau kasus seperti ini jarang dijumpai, bila dibiarkan maka penderitanya dapat mengembangkan perilaku agresif [4].

Pada beberapa kasus erotomania, penderita dapat melakukan hal-hal berlebihan yang berakibat menjerumuskan diri sendiri hingga tertangkap dan dipenjara.

Penderita dengan gejala erotomania yang semakin buruk dan berkembang akan melakukan pelecehan hingga penguntitan yang tak masuk akal dan dapat melawan hukum [10].

Pada beberapa kasus yang sangat langka, erotomania dapat mengakibatkan kematian pada penderita atau justru orang lain yang dianggap penderita memiliki ketertarikan padanya.

Selain itu, beberapa risiko komplikasi yang dapat terjadi antara lain adalah [2,4] :

Tinjauan
Perilaku yang semakin agresif, gangguan makan, insomnia, gangguan kecemasan, hingga penyalahgunaan alkohol dan narkoba dapat menjadi deretan bahaya kondisi erotomania yang tak segera ditangani.

Pencegahan Erotomania

Erotomania sulit untuk dicegah, terutama bila hal ini berkaitan dengan faktor genetik.

Hanya saja, untuk meminimalisir risiko penderita mengalami komplikasi serta hal buruk lainnya karena kondisi ini, deteksi dan penanganan dini sangat diperlukan.

Keluarga atau sahabat penderita dapat segera membawa ke psikolog atau psikiater untuk proses pemeriksaan apabila mendapati gejala-gejala delusi yang mengarah pada kondisi erotomania.

Tinjauan
Pencegahan erotomania menjadi lebih buruk dapat dilakukan dengan menangani segera kondisi gejala-gejala penderita yang mulai nampak.

1. Brendan D Kelly. Erotomania : epidemiology and management. CNS Drugs; 2005.
2. Harold W. Jordan, MD; Edna W. Lockert, PhD; Marjorie Johnson-Warren, MD; Courtney Cabell, MD; Tiffany Cooke, MD; William Greer, MD; & Gary Howe, EdD. Erotomania Revisited: Thirty-Four Years Later. Case Report - Journal of the National Medical Association; 2006.
3. Helena M. McAnally, Tamara Young, & Robert J. Hancox. Childhood and adolescent television viewing and internalising disorders in adulthood. Physical Medicine & Rehabilitation; 2019.
4. Maria Teresa Tavares Rodrigues Tomaz Valadas & Lucilia Eduarda Abrantes Bravo. De Clérambault’s syndrome revisited: a case report of Erotomania in a male. BioMed Central Psychiatry; 2020.
5. Jordan Calabrese & Yasir Al Khalili. Psychosis. Psychosis. National Center for Biotechnology Information; 2020.
6. Mary V Seeman. Erotomania and Recommendations for Treatment. The Psychiatric Quarterly; 2016.
7. M Rudden & J Sweeney, A Frances. Diagnosis and clinical course of erotomanic and other delusional patients. The American Journal of Psychiatry; 1990.
8. Carolyn I. Rodriguez, M.D., Ph.D., Cheryl Corcoran, M.D., & Helen Blair Simpson, M.D., Ph.D. Diagnosis and Treatment of a Patient With Both Psychotic and Obsessive-Compulsive Symptoms. HHS Public Access; 2013.
9. Shawn M. Joseph & Waquar Siddiqui. Delusional Disorder. National Center for Biotechnology Information; 2020.
10. R B Harmon & R Rosner, H Owens. Obsessional harassment and erotomania in a criminal court population. Journal of Forensic Sciences; 1995.
11. Jess G. Fiedorowicz, M.D., Ph.D., Del D. Miller, Pharm.D., M.D., Jeffrey R. Bishop, Pharm D, M.S., Chadi A. Calarge, M.D., Vicki L. Ellingrod, Pharm.D., & William G. Haynes, M.D. Systematic Review and Meta-analysis of Pharmacological Interventions for Weight Gain from Antipsychotics and Mood Stabilizers. HHS Public Access; 2012.
12. Blair Ritchie, MD, FRCPC. Erotomania in an Adolescent Male with Concomitant Gender Identity Issues. Journal of the Canadian Academy of Child and Adolescent Psychiatry; 2009.
13. Wade C Myers & Rafael Ruiz. Aripiprazole and psychotherapy for delusional disorder, erotomanic type. Journal of the American Academy of Child and Adolescent Psychiatry; 2004.

Share