Penyakit & Kelainan

Kardiomiopati Hipertrofi : Penyebab – Gejala dan Pengobatan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Apa Itu Kardiomiopati Hipertrofi?

Kardiomiopati hipertrofi ( img : News Medical )

Kardiomiopati hipertrofi adalah sebuah kondisi di mana miokardium atau otot jantung mengalami penebalan dengan tingkat ketebalan lebih dari normal [1,2,3,4].

Proses pemompaan darah oleh jantung menjadi terhambat karena otot jantung yang menebal [1,2,3,4].

Hanya saja, umumnya kondisi kardiomiopati hipertrofi adalah asimptomatik atau tidak bergejala [1,2,3,4].

Bahkan penderita penyakit ini seringkali masih dapat beraktivitas normal seperti biasa; namun, gejala dapat berkembang menjadi lebih buruk baik secara bertahap maupun tiba-tiba [1].

Tinjauan
Kardiomiopati hipertrofi adalah sebuah kondisi di mana otot jantung (miokardium) menebal sehingga mengganggu proses pemompaan darah.

Fakta Tentang Kardiomiopati Hipertrofi

  1. Menurut hasil studi ekokardiografi, prevalensi global kardiomiopati hipertrofi adalah 0,2% di mana kasus ini terjadi pada 1 dari 500 orang dewasa [1].
  2. Kardiomiopati hipertrofi jauh lebih rentan dialami oleh laki-laki daripada perempuan dan pewarisan genetik tak berdasar pada predileksi jenis kelamin karena kondisi penyakit ini adalah dominan autosom [1].
  3. Di Amerika, jumlah kasus kardiomiopati hipertrofi diperkirakan mencapai 600.000 hingga 1,5 juta di mana jumlah tersebut lebih banyak dibandingkan kasus multiple sclerosis [1].
  4. Di Indonesia belum terdapat data prevalensi kardiomiopati hipertrofi secara spesifik.

Penyebab Kardiomiopati Hipertrofi

Mutasi gen atau gen abnormal menjadi faktor kondisi utama yang kerap dikaitkan dengan timbulnya kardiomiopati hipertrofi [1,2,3,4].

Pada penderita penyakit ini, septum atau dinding otot di antara dua ventrikel bawah jantung mengalami penebalan [1,2,4].

Sebagai akibatnya, aliran darah dari jantung terhambat sehingga menyebabkan kardiomiopati hipertrofi obstruktif [1,2,3,4].

Namun ketika aliran darah baik-baik saja tanpa adanya sumbatan, kondisi ini merupakan kardiomiopati hipertrofi non-obstruktif meski kekakuan dapat terjadi pada ventrikel kiri [2].

Ventrikel kiri jantung merupakan ruang pompa utama jantung yang bila kaku maka akan berakibat pada jumlah darah yang berkurang untuk dipompa dan diedarkan ke seluruh tubuh pada setiap detak jantung.

Berikut ini adalah sejumlah faktor yang mampu menjadi penyebab utama kardiomiopati hipertrofi :

  • Genetik

Kardiomiopati hipertrofi merupakan sebuah kondisi yang diwariskan, yaitu mutasi gen atau gen abnormal yang mampu memengaruhi kondisi otot jantung hingga menebal [1,2,3,4].

Terdapat peluang 50% mewarisi gen abnormal dari orang tua, terutama bila salah satu saja dari kedua orang tua mengalami kardiomiopati hipertrofi maupun membawa gen abnormal tersebut [1,3,4].

Mewarisi gen abnormal tersebut tidak selalu menandakan bahwa seseorang akan mengalami gejala kardiomiopati hipertrofi [3,4].

Ada pula pada beberapa kasus di mana seseorang mewarisi gen abnormal namun hanya sebagai pembawa gen saja dan tidak mengalami gejala apapun [3,4].

Faktor usia yang semakin bertambah tua maupun kondisi hipertensi mampu menjadi faktor lain yang memicu kardiomiopati hipertrofi [1,2,3,4].

Tinjauan
Faktor genetik, usia (penuaan), serta tekanan darah tinggi mampu meningkatkan risiko kardiomiopati hipertrofi).

Gejala Kardiomiopati Hipertrofi

Beberapa gejala yang dapat ditimbulkan oleh kardiomiopati hipertrofi antara lain adalah [1,2,3,4] :

  • Bising jantung (heart murmur).
  • Nyeri pada dada yang akan lebih dapat dirasakan sewaktu berolahraga.
  • Sesak napas yang juga lebih dirasakan ketika berolahraga.
  • Palpitasi atau detak jantung yang lebih cepat dari normalnya.
  • Kehilangan kesadaran/pingsan, terutama selama atau sesudah melakukan aktivitas fisik.

Kapan sebaiknya memeriksakan diri ke dokter?

Bila terasa nyeri pada dada, sesak napas hingga detak jantung lebih cepat, segera ke dokter dan memeriksakan diri.

Deteksi dan penanganan dini akan meningkatkan peluang bagi pasien untuk lebih cepat pulih.

Tinjauan
Beberapa gejala yang dapat timbul karena kondisi kardiomiopati hipertrofi adalah bising jantung (heart murmur), nyeri dada, sesak napas, palpitasi, dan pingsan.

Pemeriksaan Kardiomiopati Hipertrofi

Untuk memastikan kondisi gejala mengarah pada kardiomiopati hipertrofi, berikut ini adalah sejumlah metode diagnosa yang pasien perlu tempuh :

  • Pemeriksaan Fisik dan Riwayat Kesehatan

Dokter seperti pada umumnya akan mengawali prosedur diagnosa dengan pemeriksaan gejala fisik [1,2,3,4].

Dokter perlu mengecek apakah detak jantung pasien bermasalah, seperti bising jantung dengan memanfaatkan stetoskop [5].

Selanjutnya, dokter juga akan bertanya kepada pasien mengenai riwayat medis pasien sekaligus riwayat kesehatan keluarga pasien [1,2,3,4].

Pengukuran aktivitas listrik jantung juga diperlukan sebagai salah satu cara menegakkan diagnosa oleh dokter [1,2,3,4].

Elektrokardiogram adalah prosedur medis yang dapat menunjukkan hasil abnormal ketika memang aktivitas jantung pasien sedang bermasalah [1,2,3,4].

  • Ekokardiogram

Tes diagnostik ini perlu dokter terapkan untuk mengetahui kondisi jantung pasien melalui gambar yang dihasilkan dari pemanfaatan gelombang suara [1,2,3,4].

Dari prosedur pemeriksaan ini akan dapat diketahui adanya gerakan abnormal pada jantung pasien [1].

Pemeriksaan MRI jantung juga kemungkinan dianjurkan oleh dokter untuk mengecek lebih detail kondisi jantung pasien [4].

Pasien perlu menempuh metode diagnosa ini agar gambar kondisi jantung terlihat spesifik.

  • Holter Monitor / Elektrokardiogram Portabel

Holter monitor atau elektrokardiogram portabel adalah alat yang bisa dikenakan oleh pasien sepanjang hari untuk memantau perubahan detak jantung dalam berbagai kegiatan yang dilakukan [3].

Dokter dapat mengetahui perkembangan detak jantung pasien melalui alat portabel ini dalam waktu 24-48 jam [6].

Kateterisasi jantung adalah sebuah metode pemeriksaan tekanan aliran darah pada jantung [1,2,3].

Metode diagnosa ini juga umumnya digunakan untuk mendeteksi adanya sumbatan [1].

Pada prosedur ini, dokter memasang kateter pada arteri lengan pasien atau dekat dengan paha dalam.

Dokter memasukkan kateter secara hati-hati melalui arteri ke jantung dan jika sudah sampai pada jantung, dokter akan menyuntikkan pewarna sebelum mengambil gambar sinar-X.

  • Studi Elektrofisiologi

Beberapa pasien dengan gejala kardiomiopati hipertrofi yang mengarah pula pada aritmia dapat diminta untuk menjalani studi elektrofisiologi [1,3].

Guna pemeriksaan ini adalah agar dokter dapat menentukan asal aritmia terjadi [1].

Tinjauan
Metode diagnosa yang umumnya perlu pasien tempuh untuk memastikan kondisi kardiomiopati hipertrofi adalah pemeriksaan fisik, pemeriksaan riwayat kesehatan, elektrokardiogram, ekokardiogram, MRI jantung, holter monitor, kateterisasi jantung, dan studi elektrofisiologi.

Pengobatan Kardiomiopati Hipertrofi

Tujuan pengobatan kardiomiopati hipertrofi adalah sebagai pereda gejala dan penurun risiko komplikasi.

Tingkat keparahan gejala menentukan pengobatan apa yang sesuai diberikan oleh dokter.

Pengobatan kardiomiopati hipertrofi dapat diatasi melalui dua metode, yaitu obat-obatan maupun prosedur operasi.

Melalui Obat-obatan

Dalam meredakan gejala, dokter biasanya akan meresepkan sejumlah obat yang dapat mengurangi kekakuan dan penebalan pada otot jantung.

Ada pula jenis obat yang diberikan untuk memperlambat detak jantung sehingga proses pemompaan darah dapat terjadi lebih baik dan normal.

Berikut ini merupakan jenis-jenis obat yang dokter umumnya resepkan untuk pasien kardiomiopati hipertrofi :

Melalui Prosedur Operasi

Pada beberapa kasus, gejala kardiomiopati hipertrofi tidak dapat ditangani secara efektif hanya dengan penggunaan obat.

Bila gejala sudah cukup serius, dokter akan merekomendasikan sejumlah jenis prosedur bedah seperti berikut :

  • Ablasi Septal

Tindakan medis ini adalah proses menghancurkan otot jantung yang menebal dengan menggunakan alkohol [1,2,3,4].

Dokter akan menyuntikkan alkohol melalui kateter ke bagian pembuluh arteri yang berfungsi utama mengedarkan darah pada area tersebut [1,2,3,4.

Sistem kelistrikan jantung dalam hal ini dapat mengalami gangguan; jika hal tersebut terjadi, implantasi alat pacu jantung (pacemaker) harus dilakukan [1,3].

  • Miektomi Septal

Operasi jantung terbuka ini direkomendasikan oleh dokter untuk mengangkat bagian otot jantung yang menebal, seperti dinding antara ruang jantung [2,3,4].

Penerapan prosedur ini diharapkan dapat mendukung aliran darah keluar dari jantung dengan lebih baik [2,3,4].

Tergantung dari lokasi penebalan otot jantung, dokter akan menerapkan miektomi septal dengan pendekatan yang berbeda-beda [2,3,4].

Salah satu metode miektomi septal adalah miektomi apikal, yakni prosedur pengangkatan otot jantung yang menebal dari area dekat ujung jantung [2,3].

Pada prosedur ini, dokter juga kemungkinan memperbaiki katup mitral jika katup ini diketahui mengalami gangguan [2,3].

  • ICD (Implantable Cardioverter-Defibrillator)

Alat berukuran kecil yang disebut dengan ICD ini dapat diimplantasikan oleh dokter sebagai pemantau detak jantung pasien [1,2,3,4].

Implantasi dilakukan pada dada pasien yang akan menjadi alarm apabila aritmia mengancam jiwa terjadi [3].

ICD tak hanya sebagai alat pemantau dan alarm, tapi juga memberikan kejutan listrik untuk mengembalikan ritme jantung menjadi normal kembali [3].

ICD adalah alat yang juga dapat meminimalisir risiko kematian jantung mendadak yang walaupun jarang terjadi pada penderita kardiomiopati hipertrofi tapi tetap dapat berakibat fatal [2,4].

Prognosis Kardiomiopati Hipertrofi

Angka kematian penderita kardiomiopati hipertrofi adalah sekitar 1-4% yang mengalami peningkatan dalam waktu 20 tahun terakhir [1].

Rata-rata penderita kardiomiopati hipertrofi tidak menunjukkan gejala apapun, namun juga bisa berbahaya, terutama pada orang-orang berusia muda [1].

Tingkat kematian orang-orang berusia muda cukup tinggi akibat aritmia maligna walau tidak mengalami gejala kardiomiopati hipertrofi [1].

Diagnosa awal sangat berpengaruh pada baik tidaknya prognosis dari kebanyakan kasus kardiomiopati hipertrofi [1].

Melalui diagnosa dini, dokter dapat meresepkan obat atau menyarankan aktivitas fisik yang aman untuk dilakukan sehari-hari [1].

Meski demikian, diagnosa dini tak berpengaruh pada sejumlah kasus kardiomiopati hipertrofi tanpa gejala, sebab penderitanya dapat mengalami kematian mendadak [1,2,3].

Tinjauan
Pengobatan kardiomiopati hipertrofi adalah melalui obat-obatan pereda gejala dan operasi (bila memang gejala tak dapat diatasi dengan obat resep dokter).

Komplikasi Kardiomiopati Hipertrofi

Pada rata-rata penderita kardiomiopati hipertrofi, mereka tak memiliki masalah kesehatan lain yang signifikan.

Hanya saja, ketika kardiomiopati terlambat ditangani atau bahkan tak ditangani dengan benar, sejumlah risiko komplikasi berikut bisa terjadi :

  • Penyumbatan Aliran Darah

Penebalan otot jantung yang tak segera diatasi mampu menjadi penghambat aliran darah untuk keluar dari jantung [2,3].

Bila aliran darah terhalang, hal ini akan menyebabkan penderitanya mengalami pusing, nyeri dada, sesak napas, hingga kehilangan kesadaran [1,2,3,4].

  • Fibrilasi Atrium

Penebalan otot jantung ditambah dengan ketidaknormalan struktur sel jantung mampu menyebabkan gangguan pada sistem kelistrikan jantung [1,2,3,4].

Detak jantung pada kasus ini menjadi tak teratur dan cenderung lebih cepat dari normalnya.

Jika kondisi ini tak segera memperoleh penanganan, pembekuan darah bisa terjadi yang jika pindah sampai ke otak, akibatnya penderita mengalami stroke [3,4].

Penebalan otot jantung menyebabkan otot jantung menjadi lebih kaku dan menurunkan fungsi jantung.

Hal ini mengganggu proses pemompaan darah oleh jantung sehingga darah yang terpompa tidak memadai untuk mendukung fungsi tubuh [1,2,3,4].

  • Gangguan Katup Mitral

Penebalan otot jantung membuat aliran darah terhalang untuk keluar dari jantung, katup antara atrium kiri dan ventrikel kiri (katup mitral).

Katup tersebut kemungkinan tidak menutup dengan benar sehingga dapat berakibat pada kebocoran darah atau regurgitasi katup mitral [1,2,3,4].

  • Kardiomiopati Dilatasi

Kardiomiopati dilatasi adalah risiko komplikasi yang jarang terjadi, namun pada sebagian kecil penderita kardiomiopati hipertrofi, penebalan jantung akan melemahkan jantung [2,4].

Fungsi jantung tak lagi maksimal dan efektif karena ventrikel pun berpotensi mengalami pembesaran [2,4].

Hal ini kemudian berakibat pada proses pemompaan darah yang kurang kuat.

  • Kematian Jantung Mendadak

Selain komplikasi-komplikasi di atas, kematian jantung mendadak dapat terjadi walau risiko komplikasi ini jarang terjadi [1,2,3,4].

Kematian jantung mendadak dapat menjadi risiko komplikasi yang perlu diwaspadai oleh siapa saja, baik orang-orang berusia muda maupun tua.

Pola hidup tak sehat sejak muda mampu mengakibatkan kematian jantung mendadak pada penderita kardiomiopati hipertrofi tanpa gejala.

Bahkan orang-orang berusia muda yang sekalipun tampak sehat dan baik-baik saja dapat mengalami kematian jantung mendadak karena tak menyadari bahwa dirinya tengah mengalami kardiomiopati hipertrofi.

Tinjauan
Sejumlah risiko komplikasi kardiomiopati meliputi penyumbatan aliran darah, fibrilasi atrium, gagal jantung, kardiomiopati dilatasi, hingga kematian jantung mendadak.

Pencegahan Kardiomiopati Hipertrofi

Tidak terdapat cara untuk mencegah kardiomiopati hipertrofi karena kondisi ini dapat bersifat asimptomatik atau tanpa gejala.

Orang-orang berusia muda, sehat dan aktif sekalipun mampu mengalaminya tanpa keluhan apapun yang berpotensi berakibat pada kematian jantung mendadak [1].

Namun untuk kasus kardiomiopati hipertrofi dengan gejala, pastikan untuk memeriksakan gejala sedini mungkin.

Deteksi dan penanganan kondisi dini akan meningkatkan peluang kesembuhan dan pemulihan maksimal pada penderitanya.

Tinjauan
Belum diketahui cara terbaik dalam mencegah kardiomiopati hipertrofi, namun memeriksakan diri ketika gejala awal muncul akan sangat membantu meningkatkan peluang untuk pulih.

1. Hajira Basit; Daniel Brito; & Saurabh Sharma. Hypertrophic Cardiomyopathy. National Center for Biotechnology Information; 2020.
2. Murillo de Oliveira Antunesa & Thiago Luis Scudeler. Hypertrophic cardiomyopathy. International Journal of Cardiology Heart & Vasculature; 2020.
3. Cordula Maria Wolf. Hypertrophic cardiomyopathy: genetics and clinical perspectives. Cardiovascular Diagnosis & Therapy; 2019.
4. Ali J. Marian, M.D. & Eugene Braunwald, M.D. Hypertrophic Cardiomyopathy: Genetics, Pathogenesis, Clinical Manifestations, Diagnosis, and Therapy. HHS Public Access; 2018.
5. Raymond L. Watrous, PhD, Julius Bedynek, MD, PhD, Taragay Oskiper, PhD, & Deborah M. Grove, PhD. Computer-Assisted Detection of Systolic Murmurs Associated with Hypertrophic Cardiomyopathy. Texas Heart Institute Journal; 2004.
6. Adaya Weissler-Snir, Raymond H Chan, Arnon Adler, Melanie Care, Vijay Chauhan, Michael H Gollob, Tomer Ziv-Baran, Dana Fourey 7, Waseem Hindieh, Harry Rakowski & Danna A Spears. Usefulness of 14-Day Holter for Detection of Nonsustained Ventricular Tachycardia in Patients With Hypertrophic Cardiomyopathy. The American Journal of Cardiology; 2016.
8. Ingegerd Östman-Smith. Beta-Blockers in Pediatric Hypertrophic Cardiomyopathies. Reviews on Recent Clinical Trials; 2014.
9. C Fielder Camm & A John Camm. Atrial Fibrillation and Anticoagulation in Hypertrophic Cardiomyopathy. Arrhythmia & Electrophysiology Review; 2017.

Share