Penyakit & Kelainan

Mulut Kering (Xerostomia) : Penyebab – Gejala dan Penanganan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Apa Itu Mulut Kering (Xerostomia)?

Mulut kering atau xerostomia adalah sebuah kondisi yang dapat terjadi ketika air liur tidak terproduksi secara cukup oleh kelenjar air liur [1,2,3,4,5,6,7].

Padahal, kecukupan air liur di dalam mulut penting untuk [1,3] :

  • Mendukung aktivitas berbicara, mengunyah serta menelan.
  • Melindungi mukosa mulut.
  • Membersihkan sisa-sisa makanan yang ada di dalam mulut.
  • Mendukung fungsi mulut sebagai indera perasa.
  • Melindungi tenggorokan, gigi dan mulut secara menyeluruh dari serangan infeksi virus, jamur dan bakteri.
  • Mencegah gigi dari kerusakan dengan memberikan perlindungan.
  • Menetralisir asam yang bakteri produksi di dalam mulut.
  • Menghambat pertumbuhan bakteri.

Mulut kering karena kadar air liur yang berkurang mungkin kerap dianggap sebagai kondisi biasa yang ringan.

Sebenarnya, hal ini bahkan dapat berdampak buruk bagi kondisi kesehatan gusi dan gigi serta kesehatan tubuh secara menyeluruh.

Tinjauan
Mulut kering atau yang juga disebut dengan istilah xerostomia adalah kondisi air liur yang terproduksi dalam kadar rendah oleh kelenjar air liur.

Fakta Tentang Mulut Kering (Xerostomia)

  1. Data secara jelas mengenai prevalensi xerostomia masih sangat terbatas dan belum jelas di Indonesia, namun menurut laporan, persentase kasus secara global adalah antara 0,9% – 64,8% [1].
  2. Data prevalensi xerostomia tersebut mayoritas diambil dari pasien dengan usia di atas 50 tahun (hasil studi di Skandinavia) [2]
  3. Pada usia 50 tahun, risiko dan kasus xerostomia mengalami peningkatan 6% dan pada usia 65 tahun sebanyak 15% [1].
  4. Ada kurang lebih 30% pasien xerostomia usia 65 tahun yang harus menempuh pengobatan jangka panjang, khususnya mereka yang menggunakan obat untuk kelainan ginjal, obat antihipertensi, serta obat psikiatri [1].
  5. Pasien yang didiagnosa sindrom Sjogren serta pasien yang menempuh terapi radiasi untuk kanker kepala dan leher 100% mengalami mulut kering [2].

Penyebab Mulut Kering (Xerostomia)

Tidak maksimalnya kinerja kelenjar air liur dalam memroduksi air liur secara cukup untuk menjaga mulut tetap basah dan lembab dapat disebabkan oleh sejumlah faktor, yaitu antara lain :

1. Penuaan

Seiring bertambahnya usia, khususnya ketika usia semakin lanjut, mulut kering sangat mudah terjadi [2,5,6].

Faktor yang paling umum menjadi pemicunya adalah lansia yang sering menggunakan obat-obatan.

Padahal, semakin tua tubuh kita kemampuannya dalam memroses obat-obatan yang masuk ke dalam tubuh tidak lagi sama seperti dulu.

Jika hal ini diimbangi pula dengan masalah kesehatan jangka panjang serta asupan nutrisi yang tidak maksimal, risiko mulut kering dapat lebih tinggi dan jauh lebih serius.

2. Penggunaan Obat-obatan Tertentu

Beberapa jenis obat dapat menyebabkan mulut kering sebagai efek sampingnya, terutama obat-obatan tanpa resep dokter.

Berikut ini adalah deretan obat yang dimaksud dan mampu meningkatkan risiko xerostomia [2,4,5,6,7] :

Obat yang biasanya digunakan untuk mengatasi depresi, kecemasan dan hipertensi jauh lebih rentan memberi efek mulut kering.

2. Kerusakan Saraf

Saraf yang rusak baik itu karena efek operasi atau penggunaan teknologi laser atau cedera dapat menjadi pemicu mulut kering [2,5,6,7].

Hal ini berisiko lebih besar ketika kerusakan saraf terjadi pada area leher dan kepala.

3. Terapi Kanker

Pasien kanker yang menjalani kemoterapi tak hanya dapat mengalami kerontokan rambut sebagai efek sampingnya [2,3,4,5,6,7].

Obat-obat yang diberikan selama kemoterapi dapat mengubah kadar air liur yang diproduksi kelenjar air liur.

Walau tidak bersifat permanen, selama pasien menjalani kemoterapi maka selama itu juga mulut kering akan dialami.

Terapi radiasi adalah jenis pengobatan kanker lainnya yang juga akan mengurangi produksi air liur karena area kepala dan leher yang merusak kelenjar air liur.

Dosis radiasi yang terlalu besar dan jangka panjang berpotensi menjadi penyebab produksi air liur terus menurun dan bahkan berisiko bersifat permanen.

4. Penggunaan Kafein, Alkohol dan Tembakau

Mengonsumsi alkohol dan kafein serta memiliki kebiasaan merokok (tembakau) akan meningkatkan risiko mulut kering [2,5].

Rokok dan alkohol dapat memberikan efek dehidrasi yang juga berkaitan dengan kekeringan pada mulut.

Bahkan iritasi pada mulut jauh lebih mudah terjadi karena kebiasaan merokok, mengonsumsi alkohol, dan mengonsumsi kafein berlebihan.

5. Kebiasaan Bernafas

Kebiasaan buruk seperti bernafas bukan melalui hidung melainkan melalui mulut tentu akan berdampak pada keringnya mulut [2,4,5,7].

6. Penyakit Lainnya

Beberapa jenis penyakit lain dapat menjadi penyebab mulut kering, seperti deretan penyakit berikut [1,2,4,5,6] :

Tinjauan
Kebiasaan bernafas lewat mulut, faktor bertambahnya usia, penggunaan obat tertentu, terapi radiasi, kondisi medis tertentu dan beberapa kebiasaan buruk dapat menjadi penyebab mulut kering. 

Gejala Mulut Kering (Xerostomia)

Saat kelenjar air liur tidak menghasilkan air liur seperti normalnya, maka beberapa gejala atau keluhan seperti berikut dapat menjadi hal utama yang dialami [2,4,5,6,7] :

  • Bau mulut
  • Lidah terasa kering
  • Suara parau
  • Tenggorokan kering
  • Kesulitan menelan
  • Air liur lebih kental dari biasanya
  • Ada sensasi lengket di dalam mulut disertai rasa kering
  • Perubahan sensasi rasa
  • Sulit berbicara
  • Sulit mengunyah dan menelan
  • Masalah penggunaan gigi palsu
  • Pada wanita, ada kemungkinan penggunaan lipstik justru menempel di gigi

Kapan sebaiknya memeriksakan diri ke dokter?

Saat mulut terasa kering berkelanjutan dan tidak kunjung membaik, segera periksakan diri ke dokter [4].

Keringnya mulut secara persisten ditambah sensasi terbakar pada mulut dapat menjadi tanda bahwa kesehatan tubuh sedang tidak beres.

Melalui diagnosa secara dini, masalah mulut kering dan penyebabnya dapat ditangani juga lebih mudah.

Pemeriksaan Mulut Kering

Dalam mengonfirmasi mulut kering pada pasien dan menentukan penyebab sekaligus penanganan yang paling sesuai, beberapa metode pemeriksaan di bawah ini akan dilakukan oleh dokter.

  • Pemeriksaan Fisik

Ketika kelenjar air liur bermasalah, maka sebagai tandanya akan terjadi pembesaran pada area tersebut [2,3,4,5,6,7].

Atau selain pembesaran kelenjar air liur, saat disentuh area kelenjar akan terasa lunak dan terlalu lembut yang akan dapat diketahui dengan pemeriksaan fisik.

Dokter juga mencatat jumlah serta kualitas kondisi air liur pasien, termasuk mukosa mulut yang kemerahan dan kering.

Ada tidaknya kerusakan gigi pun dilihat melalui pemeriksaan fisik.

  • Pemeriksaan Riwayat Kesehatan

Dalam pemeriksaan ini, dokter akan menanyakan seputar gejala yang dialami selama ini oleh pasien [2,3,4,5,6,7].

Berapa lama gejala terjadi, frekuensi terulangnya gejala, serta tingkat keparahan menjadi pertimbangan dokter dalam menegakkan diagnosa.

Selain kekeringan pada mulut, dokter perlu mendeteksi apakah kekeringan dialami pula pada kulit, hidung, mata, vagina dan tenggorokan.

  • Tes Darah

Pemeriksaan darah dilakukan untuk mengetahui kadar gula dalam darah pasien serta mendeteksi keberadaan infeksi mikroorganisme tertentu [4,6].

Tes darah menjadi pemeriksaan penunjang bila diperlukan saja.

  • Tes Pemindaian dan Pengukuran Kadar Saliva

Jika dari hasil pemeriksaan fisik masih belum terlalu jelas, dokter akan meminta pasien menempuh tes pemindaian untuk melihat kondisi kelenjar air liur [2,3,4,5,6,7].

Tes pengukuran kadar air liur juga mungkin tak boleh dilewatkan oleh pasien sebagai metode identifikasi xerostomia.

Pengambilan sampel jaringan kelenjar air liur diperlukan apabila dokter mencurigai adanya kondisi sindrom Sjogren yang menjadi penyebab utama mulut kering [2,4,5,7].

Sampel lalu dianalisa di laboratorium untuk mendeteksi adanya kandungan air liur yang berpotensi mengalami perubahan.

Tinjauan
Pemeriksaan fisik dan riwayat medis, tes darah, pemindaian dan tes kadar saliva, serta biopsi adalah langkah-langkah diagnosa yang umumnya pasien perlu tempuh.

Pengobatan Mulut Kering (Xerostomia)

Pengobatan mulut kering tergantung dari penyebab dan tingkat keparahannya.

Kondisi kesehatan pasien secara menyeluruh pun menjadi pertimbangan dokter sebelum menentukan perawatan yang terbaik.

Namun, beberapa metode pengobatan berikut—baik melalui perubahan pola hidup maupun penanganan medis—ini adalah yang umumnya diperlukan oleh pasien.

Melalui Perubahan Pola Hidup

Untuk kasus mulut kering yang disebabkan oleh gaya hidup dan faktor yang tidak terlalu serius, maka penanganan mandiri dan alami seperti berikut dapat coba ditempuh [2,3,5,6,7] :

  • Minum air putih lebih banyak. Ini agar mulut, bibir dan tenggorokan yang kering karena dehidrasi dapat kembali terhidrasi.
  • Menghindari minuman bergula maupun makanan berpemanis buatan karena gula dapat meningkatkan risiko bertambah keringnya kondisi mulut dan tenggorokan.
  • Menghindari kafein, alkohol dan penggunaan tembakau, sebab ketiganya adalah faktor yang mampu menjadikan tubuh dehidrasi serta mulut lebih mudah kering.
  • Melembabkan bibir, yaitu dengan menggunakan bahan alami seperti potongan buah berry atau produk kecantikan seperti lip balm/lip gloss.
  • Memasang alat pelembab ruangan (room humidifier) khususnya pada malam hari.
  • Bagi orang-orang yang terbiasa bernafas melalui mulut, mulailah membiasakan diri untuk bernafas melalui hidung.
  • Menggunakan pasta gigi berfluoride setiap menyikat gigi serta tidak lupa flossing sebab kandungan betaine di dalam pasta gigi siap menjadi penetralisir asam yang disebabkan oleh bakteri dalam mulut.
  • Menggunakan produk gigi berbahan xylitol, seperti semprotan khusus mulut yang berfungsi melembabkan. Selain mengandung xylitol, dapat juga memilih produk dengan kandungan carboxymethylcellulose atau hydroxyethyl cellulose.

Melalui Penanganan Medis

Jika penanganan secara mandiri kurang memberikan efektivitas pada gejala mulut kering atau xerostomia, datanglah ke dokter untuk memperoleh penanganan yang lebih tepat seperti berikut.

  • Produk Pelembab Mulut

Ada beberapa jenis produk pelembab mulut yang umumnya diresepkan oleh dokter, yaitu obat kumur yang mengandung xylitol [3,5].

Produk ini dapat dibeli tanpa resep dokter, namun jika ingin lebih aman, konsultasikan lebih dulu penggunaannya dengan dokter atau gunakan sesuai resep dokter.

  • Ganti Obat

Jika salah satu jenis obat yang tengah dikonsumsi menjadi faktor dibalik timbulnya mulut kering, segera konsultasikan hal ini dengan dokter [1.

Tanyakan pada dokter mengenai obat pengganti yang aman agar pasien dapat berhenti menggunakan obat sebelumnya [5].

  • Pelindung Gigi

Pada kasus mulut kering yang sangat serius, dokter kemungkinan akan menganjurkan fluoride tray sebagai upaya mencegah gigi berlubang [8].

Atau, chlorhexidine pun akan direkomendasikan oleh dokter untuk penggunaan secara mingguan [9].

  • Stimulan Air Liur

Untuk meningkatkan produksi air liur, kemungkinan dokter harus memberikan resep stimulan saliva seperti cevimeline atau pilocarpine [3,5,7].

Stimulan ini biasanya hanya akan diberikan ketika kondisi mulut kering pasien tergolong sangat parah.

Tinjauan
Penanganan mulut kering dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu perubahan gaya hidup yang lebih sehat serta penanganan secara medis.

Komplikasi Mulut Kering

Jika kondisi mulut kering sampai berkepanjangan tanpa memperoleh penanganan apapun, beberapa kondisi komplikasi berikut dapat terjadi pada penderita [2,3].

  • Gizi buruk karena sulitnya mengunyah dan menelan menjadikan tubuh kekurangan asupan makanan.
  • Infeksi jamur pada mulut.
  • Penyakit gusi, gusi berdarah, gigi berlubang, hingga pembentukan karang gigi.
  • Bau mulut.
  • Erosi enamel.
  • Sariawan dan bibir pecah-pecah.
  • Depresi dan kecemasan akibat ketidaknyamanan yang dirasakan terus-menerus selama mulut kering belum diatasi.
Tinjauan
Mulai dari kekurangan nutrisi, gangguan kesehatan mulut yang lebih serius, hingga depresi karena ketidaknyamanan akibat mulut kering dapat terjadi sebagai komplikasinya.

Pencegahan Mulut Kering (Xerostomia)

Agar mulut tidak mudah kering, beberapa upaya pencegahan berikut dapat dilakukan [2,5,6] :

  • Batasi atau hindari minuman beralkohol, minuman berkafein, maupun kebiasaan merokok.
  • Ubah kebiasaan bernafas lewat mulut dengan bernafas lewat hidung.
  • Batasi konsumsi makanan asin, manis, pedas dan asam.
  • Rutin mengecek kesehatan, terutama cek gula darah.
  • Segera hentikan penggunaan obat yang ditengarai sebagai penyebab mulut kering dan konsultasikan dengan dokter mengenai ganti obat yang paling tepat.
  • Segera ke dokter memeriksakan diri bila mengalami gejala penyakit yang menjadi faktor penyebab mulut kering.
Tinjauan
Dalam menghindari mulut kering, menghindari makanan dan minuman pemicu, rutin cek kesehatan, memiliki kebiasaan makan dan bernafas yang tepat dan sehat, serta menghentikan penggunaan obat pemicu dapat dilakukan.

1. Peri Zuliani, Busjra M. Nur, & Rohman Azzam. Pengaruh Pemberian Permen Karet Xylitol Terhadap Kesehatan Mulut (Xerostomia) pada Pasien Chronic Kidney Disease (CKD). Jurnal Keperawatan Silampari; 2019.
2. Bilal Talha & Suman A. Swarnkar. Xerostomia. National Center for Biotechnology Information; 2019.
3. Alessandro Villa, Christopher L Connell, & Silvio Abati. Diagnosis and management of xerostomia and hyposalivation. Therapeutics and Clinical Risk Management; 2015.
4. V Sankar, N Rhodus & the AAOM Web Writing Group. Xerostomia. The American Academy of Oral Medicine; 2015.
5. Department of Scientific Information, ADA Science Institute. Xerostomia (Dry Mouth). American Dental Associatian; 2019.
6. Anonim. Dry Mouth. National Institute of Dental and Craniofacial Research; 2018.
7. Bernard J. Hennessy , DDS. Xerostomia. Merck Manual; 2020.
8. J B Epstein, E H van der Meij, R Lunn, & P Stevenson-Moore. Effects of Compliance With Fluoride Gel Application on Caries and Caries Risk in Patients After Radiation Therapy for Head and Neck Cancer. Oral Surgery, Oral Medicine, Oral Pathology, Oral Radiology, and Endodontics; 1996.
9. J B Epstein, R Loh, P Stevenson-Moore, B C McBride, & J Spinelli. Chlorhexidine Rinse in Prevention of Dental Caries in Patients Following Radiation Therapy. Oral Surgery, Oral Medicine, Oral Pathology, Oral Radiology, and Endodontics; 1989.

Share