Penyakit & Kelainan

Neurofibromatosis : Jenis – Gejala dan Pengobatan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Tinjauan Medis : dr. Maria Arlene, Sp.Ak
Neurofibromatosis adalah kelompok gangguan genetik yang menyebabkan tumbuhnya tumor pada jaringan saraf. Tumor ini dapat muncul dimana saja seperti otak, medula spinalis, dan jaringan saraf lainnya. Tumor

Apa Itu Neurofibromatosis?

Neurofibromatosis merupakan suatu kondisi tumbuhnya tumor pada jaringan saraf yang disebabkan oleh sekelompok kelainan genetik [1,2],.

Saraf, sumsum tulang, hingga otak dapat menjadi lokasi-lokasi tempat pertumbuhan tumor tersebut [1,2].

Walaupun rata-rata tumor bersifat jinak, pada beberapa kasus tumor ini dapat berkembang menjadi semakin ganas [1,2].

Tinjauan
Neurofibromatosis adalah pertumbuhan tumor di jaringan saraf karena sekelompok kelainan genetik.

Fakta Tentang Neurofibromatosis

  1. Neurofibromatosis terdiri dari 3 jenis kondisi, yakni neurofibromatosis tipe 1, tipe 2 dan schwannomatosis [1].
  2. Dari seluruh kasus neurofibromatosis, 96% diantaranya adalah neurofibromatosis tipe 1 dengan prevalensi 1 per 3.000 kelahiran [1].
  3. Neurofibromatosis dapat terjadi pada siapa saja tanpa memandang ras dan jenis kelamin [1].
  4. Mutasi gen spontan menjadi penyebab dari neurofibromatosis pada sekitar 50% pasiennya, sedangkan 50% sisanya adalah mutasi yang diturunkan [1].
  5. Dari seluruh kasus neurofibromatosis, hanya terdapat sekitar 2% neurofibromatosis tipe 2 dengan prevalensi antara 1 dari 33.000 kelahiran dan 1 dari 87.410 kelahiran [1].
  6. Friedrich Daniel von Recklinghausen, seorang ahli patologi dari Jerman pada tahun 1882 pertama kalinya mendeskripsikan kondisi neurofibromatosis di mana untuk tipe 1 (NF1) kemudian dinamakan penyakit Recklinghausen, sebelum kemudian terdapat neurofibromatosis tipe 2 [2].
  7. Dengan prevalensi kasus 1 dari 3.500 individu, neurofibromatosis tipe 1 dianggap sebagai salah satu kelainan genetik paling umum pada manusia [2].
  8. Di Indonesia, prevalensi neurofibromatosis tipe 1 dan tipe 2 belum diketahui karena data epidemiologinya belum tersedia.

Jenis-jenis Neurofibromatosis

Neurofibromatosis memiliki 3 jenis kondisi yang perlu dikenali dan diwaspadai, yaitu sebagai berikut.

NF1 (Neurofibromatosis Tipe 1)

Istilah lain untuk NF1 ini adalah penyakit von Recklinghausen atau juga kerap disebut dengan neurofibromatosis perifer dan von Recklinghausen NF [1,2,3].

NF1 adalah jenis neurofibromatosis yang paling banyak dijumpai di mana kondisi ini ditandai utamanya oleh tanda lahir yang muncul di berbagai bagian tubuh berbeda [3].

Seiring anak tumbuh semakin besar, tumor atau lesi akan semakin nampak, dari mulai beberapa hingga ribuan [3].

Tumor ini bersifat jinak, namun tetap ada potensi menjadi ganas walau sangat jarang terjadi [1,2].

Sayangnya, tumor pada NF1 hampir tidak terlihat atau tidak terlalu nampak sehingga kerap kali diabaikan yang pada akhirnya berkembang menjadi komplikasi serius [2].

NF2 (Neurofibromatosis Tipe 2)

NF2 atau neurofibromatosis bilateral adalah hasil mutasi dari gen NF2 yang kemudian menyebabkan tumbuhnya tumor pada sistem saraf [1,2,4].

Tumor yang tumbuh karena penyakit ini umumnya terdapat pada tulang tengkorak sehingga disebut juga dengan tumor intrakranial [2,4].

Sementara itu, di kanal tulang belakang pun dapat menjadi lokasi pertumbuhan tumor intraspinal [4].

Pada saraf kranial kedelapan, neuroma akustik dapat timbul dan hal ini umum terjadi pada kasus NF2 [5].

Vestibulokoklea adalah sebutan bagi saraf kranial kedelapan tersebut yang memiliki fungsi utama menjaga fungsi pendengaran serta keseimbangan tubuh [4].

Maka ketika terjadi gangguan pada saraf tersebut, penderita dapat mengalami kehilangan keseimbangan maupun kehilangan pendengaran [4,5].

Tumor pada NF2 berpeluang menjadi ganas dan gejala biasanya timbul pada usia remaja akhir atau awal usia 20-an [4,5].

Schwannomatosis

Jenis neurofibromatosis satu ini jauh lebih langka daripada NF1 dan NF2 karena hanya kurang dari 1 dari 40.000 orang yang dapat mengalaminya [7].

Tumor pada kasus schwannomatosis tumbuh pada jaringan di sekitar saraf dan dapat menyebar di bagian tubuh mana saja.

Namun, tumor jenis ini justru tidak menyerang saraf dekat telinga seperti saraf vestibulokoklea [6,7].

Berbeda dari NF1 dan NF2, neurofibroma tidak ada pada schwannomatosis.

Tinjauan
Terdapat 3 jenis kondisi neurofibromatosis, yaitu neurofibromatosis tipe 1 (NF1), neurofibromatosis tipe 2 (NF2), dan schwannomatosis.

Penyebab Neurofibromatosis

Mutasi atau cacat gen adalah penyebab utama neurofibromatosis terjadi, baik itu terjadi secara spontan atau diwariskan [1,2].

Gen yang mengalami mutasi pun berbeda-beda pada tiap jenis neurofibromatosis [1,2].

Penyebab NF1

Mutasi pada gen NF1 (neufibromin 1) yang ada pada kromosom 17 mampu menyebabkan neurofibromatosis tipe 1 [1,2,3].

Gen ini memiliki fungsi sebagai penghasil neurofibromin, protein yang mengatur pertumbuhan sel tubuh [1,2,3].

Ketika gen tersebut bermutasi, produksi neurofibromin menjadi berkurang sehingga sel-sel tubuh tumbuh secara tidak terkendali [1,2,3].

Penyebab NF2

Mutasi pada gen NF2 yang ada pada kromosom 22 menjadi penyebab neurofibromatosis tipe 2 [1,2,4,5].

Gen ini berfungsi utama sebagai penghasil merlin, protein yang seharusnya mampu menekan tumor [1,2,4,5].

Namun ketika gen bermutasi, produksi merlin berkurang lalu mengakibatkan pertumbuhan sel yang tak terkontrol [1,2,4,5].

Penyebab Schwannomatosis

Berbeda dari NF1 dan NF2 di mana mutasi terjadi pada satu gen saja, schwannomatosis disebabkan oleh mutasi pada dua gen [6,7].

LZTR1 dan SMARCB1 adalah gen yang seharusnya menekan tumor, namun karena gen bermutasi, neurofibromatosis jenis ini terjadi [6,7].

Tinjauan
Mutasi atau keabnormalan gen yang diturunkan dari orang tua menjadi penyebab utama neurofibromatosis. Namun untuk penyebab dari mutasi gen itu sendiri belum diketahui dengan jelas.

Faktor Risiko Neurofibromatosis

Faktor utama peningkat risiko neurofibromatosis adalah faktor genetik, yakni anggota keluarga (khususnya orang tua) yang memiliki riwayat neurofibromatosis [3,4,6].

Salah satu atau kedua orang tua yang memiliki gen cacat dapat diturunkan kepada sang anak [3,4,6].

Anak kemudian berpotensi lebih besar dalam mengalami NF1 dan NF2 [3,4,6].

NF1 dan NF2 sendiri juga merupakan kelainan genetik dengan sifat dominan autosom yang artinya satu orang tua saja yang memiliki gen abnormal berpotensi 50% mewariskan gen tersebut kepada sang anak [1,4].

Namun untuk kasus schwannomatosis, pola warisan gen abnormal masih belum jelas diketahui.

Gejala Neurofibromatosis

Gejala neurofibromatosis tergantung dari tipe kondisinya karena setiap tipe menimbulkan gejala yang berbeda.

Gejala NF1

Pada kasus NF1, gejala-gejalanya tampak dari saat bayi lahir atau bahkan tak lama setelah bayi lahir hingga usianya menginjak 10 tahun [3].

Tingkat keparahan gejala umumnya mulai dari ringan hingga sedang, namun tak menutup kemungkinan gejala bisa memburuk walaupun jarang terjadi.

Berikut adalah gejala NF1 yang perlu dikenali dan segera ditangani [3,8] :

  • Bercak atau bintik berwarna coklat terang namun rata yang disebut dengan cafe au lait spots. Walau bintik ini tidak membahayakan dan tergolong umum, bintik ini dapat menjadi tanda NF1 apabila jumlahnya lebih dari 6 di tubuh dan timbul dari lahir atau di masa kanak-kanak.
  • Freckles pada area paha dalam dan ketiak; biasanya gejala ini mulai timbul ketika anak berusia 3-5 tahun dan ukurannya pun lebih kecil dari bercak cafe au lait spots.
  • Nodul Lisch atau benjolan kecil pada iris mata yang sebenarnya tidak berbahaya dan tidak berpengaruh buruk pada fungsi penglihatan.
  • Kelainan tulang yang disebabkan oleh kekurangan kepadatan mineral tulang sehingga tungkai bawah bengkok atau anak mengalami skoliosis.
  • Neurofibroma, yaitu tumor jinak yang tumbuh di bawah kulit atau di dalam tubuh; neurofibroma walau tidak bersifat kanker tetap dapat berkembang menjadi lebih banyak seiring bertambahnya usia.
  • Postur tubuh pendek pada anak di bawah rata-rata.
  • Ukuran kepala lebih besar dari normalnya ukuran kepala anak-anak seusia penderita; hal ini disebabkan oleh peningkatan volume otak.
  • Gangguan belajar (membaca atau belajar matematika) karena anak penderita NF1 mengalami gangguan kemampuan berpikir meski tergolong ringan.
  • ADHD (attention-deficit/hyperactivity disorder) yang disertai dengan keterlambatan kemampuan bicara.
  • Glioma optik atau tumor pada saraf optik yang dapat dialami oleh anak usia sekitar 3 tahun. Walau jarang dijumpai, tumor ini dapat muncul pada usia anak yang lebih tua maupun usia remaja, tapi tak pernah terjadi pada orang dewasa.

Gejala NF2

Neurofibromatosis tipe 2 pada dasarnya tidak sebanyak kasus neurofibromatosis tipe 1 dan gejala yang ditimbulkan oleh NF2 ini umumnya merupakan akibat dari perkembangan tumor jinak yang tumbuh secara lambat pada kedua telinga [4,5,10].

Tumor ini juga disebut dengan neuroma akustik yang berpotensi menyebabkan penderitanya kehilangan pendengaran [4,5].

Schwannoma vestibular adalah istilah lain untuk tumor yang tumbuh pada saraf pembawa suara dan informasi keseimbangan menuju otak dari telinga bagian dalam [4,5,10].

Usia remaja dan awal usia dewasa merupakan saat-saat di mana gejala mulai nampak dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda [4,5,10].

Selain gejala-gejala tersebut, ada pula beberapa gejala lain yang muncul saat tumor tumbuh di saraf lainnya (saraf perifer, saraf optik, saraf tulang belakang dan saraf kranial) [4,5,10].

  • Tungkai atau lengan mengalami mati rasa atau kelemahan
  • Nyeri pada area tumbuhnya tumor
  • Gangguan penglihatan (termasuk katarak)
  • Wajah menurun

Gejala Schwannomatosis

Schwannomatosis adalah tipe neurofibromatosis yang lebih langka daripada NF1 dan NF2 di mana penderitanya berusia di atas 20 tahun [7].

Kemunculan gejala umumnya timbul di usia antara 25-30 tahun yang ditandai dengan tumor pada saraf perifer, saraf tulang belakang dan saraf kranial [6,7].

Namun berbeda dari NF2, tumor ini justru tidak berada di saraf dekat telinga bagian dalam yang berfungsi pendengaran dan pengatur keseimbangan tubuh [6,7].

Sejumlah gejala yang perlu diwaspadai sebagai tanda schwannomatosis antara lain adalah [6,7] :

  • Kehilangan otot
  • Beberapa bagian tubuh mengalami kelemahan atau mati rasa
  • Nyeri kronis pada beberapa bagian tubuh sehingga tak dapat berfungsi dengan baik
Tinjauan
Gejala neurofibromatosis tergantung dari tipe kondisinya, namun masa timbulnya gejala pada tiap tipe berbeda menurut usia. NF1 cenderung timbul dari bayi sejak lahir hingga anak berusia 10 tahun. NF2 menimbulkan gejala yang nampak ketika anak berusia lebih besar dan berada di awal maupun akhir remaja. Sedangkan schwannomatosis menimbulkan gejala ketika penderitanya berusia 20 tahun ke atas. 

Pemeriksaan Neurofibromatosis

Ketika memeriksakan diri ke dokter, beberapa metode diagnosa yang perlu pasien tempuh untuk memastikan neurofibromatosis, tipe dan tingkat keparahannya adalah :

  • Pemeriksaan Fisik dan Riwayat Kesehatan

Dokter akan lebih dulu memeriksa fisik pasien untuk mengidentifikasi apa saja gejala fisik yang dialami [3,4,5,6,9].

Pemeriksaan fisik meliputi pengecekan kondisi kulit untuk menemukan apakah pasien mengalami cafe au lait spots.

Hal ini kemudian dilanjutkan dengan mengajukan beberapa pertanyaan kepada pasien terkait riwayat medis pasien sekaligus riwayat kesehatan keluarga pasien [3,4,5,6,9].

  • Pemeriksaan Mata

Dokter spesialis mata perlu mengecek kondisi mata pasien untuk mendeteksi keberadaan nodul Lisch [3].

Melalui pemeriksaan mata, dokter juga akan dapat menentukan apakah pasien mengalami katarak dan penurunan fungsi penglihatan [3].

  • Tes Pemindaian

MRI scan, CT scan, dan sinar-X atau rontgen adalah tes pemindaian yang berguna bagi dokter dalam mengetahui kelainan tulang pada tubuh pasien [1,3,4,6,7,8,9,10].

Keberadaan tumor sekecil apapun dapat terdeteksi melalui tes ini, termasuk tumor pada sumsum tulang dan otak.

Sebagai pengidentifikasi glioma optik, dokter akan menggunakan MRI scan sebagai prosedur pemeriksaannya.

  • Tes Pendengaran dan Keseimbangan Tubuh

Audiometri adalah tes pengukur tingkat fungsi pendengaran yang pasien perlu tempuh [13].

Begitu juga dengan elektronistagmografi di mana dokter akan memasang elektroda pada area mata untuk merekam gerakan mata [14].

Tes lainnya yang kemungkinan dokter anjurkan adalah tes mengukur pesan listrik pembawa suara menuju otak dari telinga bagian dalam.

Tes yang terakhir dapat membantu dokter dalam mendiagnosa apakah pasien mengalami NF2 dan bermasalah dengan keseimbangan tubuhnya.

  • Tes Genetik

Tes genetik adalah prosedur pemeriksaan yang bisa ditempuh oleh ibu hamil dalam mengidentifikasi NF1 dan NF2 pada calon bayinya [1,3,7,8,9,10].

Hanya saja, tes dan konseling genetik tidak selalu dapat mendeteksi schwannomatosis.

Tinjauan
Pemeriksaan fisik, pemeriksaan riwayat kesehatan, pemeriksaan mata, tes pemindaian, tes pendengaran, tes keseimbangan tubuh, serta tes genetik merupakan metode-metode pemeriksaan neurofibromatosis.

Pengobatan Neurofibromatosis

Belum terdapat metode pengobatan khusus untuk neurofibromatosis yang mampu menyembuhkan sepenuhnya.

Namun melalui beberapa metode penanganan medis berikut, gejala dapat lebih mudah dikendalikan.

Melalui Pemantauan

Pada kasus anak yang lahir dengan kondisi NF1, biasanya dokter menyarankan orang tua pasien untuk membawa anak untuk pemeriksaan tahunan rutin [1,8,9].

Hal ini bertujuan memantau kondisi perubahan pada kulit pasien, tumbuh kembang pasien, kadar tekanan darah, dan tanda-tanda pubertas dini [1,8,9].

Selain itu, pemantauan rutin dapat mendeteksi neurofibroma baru, gangguan pada penglihatan, gangguan kemampuan belajar anak, dan kelainan tulang [1].

Melalui Operasi

Prosedur operasi umumnya dapat pasien tempuh untuk mengangkat tumor sekalipun tumor bersifat jinak.

  • Stereotactic Radiosurgery : Dokter mengirimkan radiasi langsung ke target tumor yang hendak diangkat; biasanya, opsi tindakan medis ini lebih diperuntukkan bagi penderita NF2 dengan neuroma akustik yang juga bermanfaat menjaga fungsi pendengaran pasien [11].
  • Operasi Pengangkatan Tumor : Dokter mengangkat seluruh atau sebagian tumor untuk meredakan gejala; berbeda dari radiosurgery, operasi ini dilakukan dengan dokter membuat sayatan terlebih dulu [11].
  • Implan Koklea dan Batang Otak Auditory : Untuk meningkatkan fungsi pendengaran pasien NF2, implan kedua alat tersebut akan sangat membantu [11].

Melalui Obat Pereda Nyeri

Untuk penderita schwannomatosis, terdapat beberapa golongan obat yang kemungkinan akan dokter resepkan [6,11,12].

Melalui Kemoterapi dan Radioterapi

Selain prosedur bedah, tumor yang berkembang menjadi ganas biasanya diatasi dengan terapi radiasi maupun kemoterapi [1,9].

Tingkat harapan hidup pasien lebih tinggi ketika tumor terdeteksi dini dan segera mendapatkan penanganan medis yang tepat.

Tinjauan
Pengobatan neurofibromatosis umumnya meliputi proses pemantauan, operasi, obat pereda nyeri, maupun kemoterapi dan radioterapi.

Komplikasi Neurofibromatosis

Risiko komplikasi neurofibromatosis bervariasi, tergantung efek yang ditimbulkan oleh tumor pada jaringan saraf ataupun organ tubuh lainnya.

Komplikasi NF1

NF1 dapat meningkatkan risiko komplikasi berupa [9] :

  • Gangguan pada penampilan fisik karena neurofibroma yang muncul pada area wajah.
  • Gangguan kecemasan dan depresi karena penampilan fisik yang terganggu oleh neurofibroma.
  • Gangguan saraf, seperti penumpukan cairan di otak secara berlebihan maupun epilepsi.
  • Perubahan hormonal yang berhubungan dengan kehamilan atau pubertas sehingga mampu memicu neurofibroma.
  • Gangguan penglihatan karena glioma optik.
  • Gangguan tulang, termasuk osteoporosis dan bengkoknya tungkai yang tak bisa ditangani.
  • Feokromositoma atau tumor kelenjar adrenal jinak yang dapat ditangani dengan prosedur bedah untuk mengangkatnya karena mampu menyebabkan tekanan darah tinggi.
  • Gangguan pernapasan karena neurofibroma plexiform dapat menekan dan menghambat saluran pernapasan.
  • Gangguan kardiovaskular yang berpotensi meningkatkan risiko gangguan pembuluh darah dan tekanan darah tinggi.
  • Kanker, yaitu kondisi perkembangan tumor jinak (namun kasus ini umumnya tak sampai 5%.

Komplikasi NF2

Sementara itu, risiko komplikasi yang dapat terjadi pada penderita neurofibromatosis tipe 2 adalah [4,5,10] :

  • Gangguan penglihatan
  • Meningioma atau tumor tulang belakang dan beberapa tumor otak yang bersifat jinak.
  • Kelemahan otot dan tubuh ekstrem.
  • Gangguan saraf wajah.
  • Kehilangan pendengaran sebagian atau menyeluruh.
  • Tumor kulit berukuran kecil yang bersifat jinak.

Komplikasi Schwannomatosis

Schwannomatosis dapat mengakibatkan nyeri yang cukup mengganggu pada penderitanya [6,7].

Tubuh penderita bahkan dapat semakin lemah karena rasa nyeri yang dirasakan sehingga pasien perlu menempuh prosedur operasi sebagai solusinya [6].

Atau setidaknya, konsultasikan dengan dokter untuk penanganan terbaik dalam meredakan nyeri tersebut.

Tinjauan
Komplikasi neurofibromatosis bervariasi, hal ini tergantung dari tipe kondisi neurofibromatosis yang diderita dan efek tumor terhadap jaringan saraf maupun organ tubuh lain.

Pencegahan Neurofibromatosis

Kelainan genetik atau penyakit karena mutasi gen seperti neurofibromatosis belum diketahui cara pencegahannya.

Namun, para ibu hamil dapat melakukan tes dan konseling genetik untuk memantau kondisi pertumbuhan janin dan mendeteksi apakah terjadi kelainan seperti neurofibromatosis.

Tinjauan
Neurofibromatosis tak dapat dicegah karena merupakan jenis kondisi kelainan genetik. Namun, ibu hamil dapat melakukan tes genetik untuk pemantauan tumbuh kembang janin.

1. Cuong Le & Paul M. Bedocs. Neurofibromatosis. National Center for Biotechnology Information; 2020.
2. PA Gerber, AS Antal, NJ Neumann, B Homey, C Matuschek, M Peiper, W Budach, & E Bölke. Neurofibromatosis. European Journal of Medical Research; 2009.
3. Kevin P. Boyd, MD, Bruce R. Korf, MD, PhD, & Amy Theos, MD. Neurofibromatosis type 1. HHS Public Access; 2010.
4. Ruchi Tiwari & Achint K. Singh. Neurofibromatosis Type 2. National Center for Biotechnology Information; 2020.
5. D Evans, M Sainio, & M. Baser. Neurofibromatosis type 2. Journal of Medical Genetics; 2000.
6. Radhika Dhamija, MD, Scott Plotkin, MD, PhD, Ashok Asthagiri, MD, Ludwine Messiaen, PhD, & Dusica Babovic-Vuksanovic, MD. Schwannomatosis. GeneReviews; 2018.
7. Hildegard Kehrer-Sawatzki, Said Farschtschi, Victor-Felix Mautner, & David N. Cooper. The molecular pathogenesis of schwannomatosis, a paradigm for the co-involvement of multiple tumour suppressor genes in tumorigenesis. Human Genetics; 2017.
8. Abdullah Adil & Achint K. Singh. Neurofibromatosis Type 1. National Center for Biotechnology Information; 2020.
9. Christina Bergqvist, Amandine Servy, Laurence Valeyrie-Allanore, Salah Ferkal, Patrick Combemale, Pierre Wolkenstein, & NF France Network. Neurofibromatosis 1 French national guidelines based on an extensive literature review since 1966. Orphanet Journal of Rare Diseases; 2020.
10. D Gareth R Evans. Neurofibromatosis type 2 (NF2): A clinical and molecular review. Orphanet Journal of Rare Diseases; 2009.
11. Tess E Cooper,corresponding author Philip J Wiffen, Lauren C Heathcote, Jacqui Clinch, Richard Howard, Elliot Krane, Susan M Lord, Navil Sethna, Neil Schechter, Chantal Wood, and Cochrane Pain, & Palliative and Supportive Care Group. Antiepileptic drugs for chronic non‐cancer pain in children and adolescents. Cochrane Library; 2017.
12. Vera Espírito Santo, João Passos, Hipólito Nzwalo, Inês Carvalho, Filipa Santos, Carmo Martins, Lucília Salgado, Conceição E Silva, Sofia Vinhais, Miguel Vilares, Duarte Salgado & Sofia Nunes. Selumetinib for plexiform neurofibromas in neurofibromatosis type 1: a single-institution experience. Journal of Neuro-oncology; 2020.
13. Georgios Kontorinis, Jaya Nichani, Simon R Freeman, Scott A Rutherford, Samantha Mills, Andrew T King, Deborah Mawman, Sue Huson, Martin O'Driscoll, D Gareth Evans & Simon K W Lloyd. Progress of hearing loss in neurofibromatosis type 2: implications for future management. European Archives of Oto-rhino-laryngology; 2015.
14. Anonim. Neurofibromatosis. NCH Healthcare System; 2021.

Share