Penyakit & Kelainan

Kanker Tiroid Folikuler : Penyebab – Gejala dan Pengobatan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Apa Itu Kanker Tiroid Folikuler?

Kanker tiroid folikuler merupakan jenis kanker tiroid yang di mana tumor tumbuh pada sel folikel tiroid yang dilapisi oleh sel epitel kuboid [1,2,9,10]

Kanker tiroid folikuler sendiri pun merupakan jenis kanker tiroid paling umum dengan kasus yang dijumpai sebanyak 10-15% dari seluruh kasus kanker tiroid [1].

Orang dewasa yang jauh lebih tua (lansia) adalah yang paling berpotensi mengalami jenis kanker tiroid satu ini.

Tinjauan
Kanker tiroid folikuler adalah tumbuhnya tumor di folikel tiroid yang lebih umum terjadi pada wanita lansia.

Fakta Tentang Kanker Tiroid Folikuler

  1. Kanker tiroid adalah salah satu jenis kanker paling umum dengan prevalensi 3,8% dari seluruh kasus kanker baru di Amerika Serikat [1].
  2. Di Amerika Serikat kasus kanker tiroid folikuler sempat tinggi, namun ketika masalah kekurangan yodium diatasi, terjadi penurunan angka kasus penyakit ini [1].
  3. Kasus kanker tiroid pada tahun 2017 pun diketahui dijumpai lebih banyak pada wanita daripada pria [1].
  4. Kanker tiroid folikuler jauh lebih banyak dialami oleh wanita dewasa yang lebih tua sekitar usia 60 tahun dengan perbandingan 3:1 antara wanita dan pria [1,2].
  5. Menurut beberapa hasil studi terdapat sekitar 10% kasus kanker tiroid folikuler di wilayah yang tergolong cukup yodium, sedangkan di wilayah-wilayah yang mengalami kekurangan yodium terdapat sekitar 25-40% kasus [1].
  6. Menurut hasil studi oleh tim Parasmeswaran tahun 2017, kasus penyebaran kanker tiroid folikuler hingga ke kelenjar getah bening diketahui sebesar 8%, penyebaran hingga ke paru-paru 33%, dan penyebaran hingga ke tulang adalah 42% [1].
  7. Prevalensi kasus penyebaran berjarak karsinoma tiroid folikuler adalah sekitar 6% sampai dengan 20% [1].
  8. Peluang kesembuhan bagi penderita kanker tiroid folikuler tergolong besar di mana hal ini terbukti dengan angka kematian terendah pada kasus kanker ini di Amerika Serikat walaupun peningkatan kasus penyakit ini meningkat [1].
  9. Peluang pasien kanker tiroid folikuler untuk dapat bertahan hidup bahkan hingga 10 tahun adalah di atas 80% [1].

Penyebab Kanker Tiroid Folikuler

Kanker tiroid folikuler dapat disebabkan oleh sejumlah faktor, seperti :

  • Asupan Yodium

Yodium menjadi salah satu faktor yang diperkirakan dapat meningkatkan risiko kanker tiroid, termasuk kanker tiroid folikuler [1,2,3].

Sempat terdapat kontroversi mengenai penyebab kanker tiroid yang sesungguhnya, kelebihan atau kekurangan yodium.

Menurut hasil beberapa studi oleh tim Knobel tahun 2007, asupan yodium mampu menjadi salah satu faktor yang justru mendukung perkembangan kanker tiroid [1].

Namun pada hasil studi lain oleh tim Fortner J.G, kekurangan yodium menjadi pemicu utama karsinoma sel epitel tiroid.

  • Paparan Radiasi

Paparan radiasi menjadi salah satu penyebab kanker tiroid folikuler terbukti dari lama [1,2,4].

Kasus kanker tiroid folikuler adalah salah satu dari banyak jenis kanker yang terjadi usai ledakan Chernobyl tahun 1986 [1].

Melalui pengamatan yang dilakukan kala itu, diketahui bahwa radiasi mampu meningkatkan risiko kanker tiroid, terutama pada orang-orang yang usianya masih muda.

Paparan radiasi yang berasal dari terapi radiasi atau tindakan medis tertentu juga dapat meningkatkan risiko kanker tiroid, termasuk jenis kanker tiroid folikuler.

Kedua faktor ini saling berhubungan dalam memicu kanker tiroid, termasuk kanker tiroid folikuler.

Obesitas dan juga penyakit diabetes umumnya mampu meningkatkan risiko kanker tiroid pada orang dewasa, terutama kanker tiroid folikuler dan kanker tiroid papiler [1,5].

Penyakit Hashimoto adalah sebuah kondisi di mana kelenjar tiroid mengalami peradangan sebagai akibat dari sistem imun yang menyerang sel serta jaringan tiroid [1,6].

Hipotiroidisme merupakan suatu kondisi yang juga seringkali disebabkan oleh penyakit Hashimoto ini.

Hormon tubuh yang mengatur fungsi-fungsi tubuh diproduksi oleh kelenjar tiroid sehingga ketika penyakit Hashimoto timbul, kadar hormon tiroid akan mengalami penurunan.

  • Penempuhan Diet Tertentu

Diet tertentu juga dapat meningkatkan risiko kanker tiroid, terutama jika mengasup makanan-makanan seperti daging ayam, brokoli, kubis, daging babi, daging ayam, dan daging unggas [1].

Sementara itu, konsumsi buah jeruk dan kesemek tidak akan menimbulkan peningkatan risiko kanker tiroid folikuler.

Diet dengan mengonsumsi multivitamin juga tidak terlalu baik, khususnya jika berkandungan yodium tinggi [1,7].

Hati-hati terhadap penggunaan multivitamin ini karena risiko kanker tiroid dapat meningkat, termasuk asupan makanan bernitrit dan bernitrat tinggi.

  • Paparan Bahan Kimia Tertentu

Seseorang dengan pekerjaan yang berhubungan dengan pestisida dan hal-hal serupa dapat meningkatkan risiko kanker tiroid [1,4].

Begitu pula dengan risiko bekerja di bidang tekstil, paparan bahan-bahan kimianya mampu memperbesar peluang pekerja terkena kanker tiroid tanpa banyak disadari.

Hormon estrogen eksogen dapat meningkatkan risiko kanker tiroid folikuler, terutama pada terapi hormon [1,8].

Meski pada wanita estrogen eksogen diketahui efektif dalam mengurangi keluhan vasomotor, meningkatnya risiko kanker tiroid, termasuk kanker tiroid folikuler juga terjadi.

Tinjauan
Beberapa faktor diketahui menjadi penyebab dan pemicu terbentuknya kanker tiroid folikuler, yaitu yodium, diet tertentu, terapi hormon estrogen eksogen, penyakit Hashimoto tiroiditis, paparan radiasi, paparan bahan kimia, obesitas, dan diabetes.

Gejala Kanker Tiroid Folikuler

Kanker tiroid folikuler umumnya tidak menimbulkan gejala di awal atau bersifat asimtomatik.

Namun ketika sel kanker semakin tumbuh besar, gejala utama yang akan dirasakan dan nampak adalah benjolan pada depan leher.

Gejala-gejala lain dari kanker tiroid adalah sebagai berikut [9] :

  • Benjolan ketika disentuh tidak bergerak.
  • Benjolan ketika disentuh tidak terasa sakit, terasa kencang, dan cenderung lebih cepat besar.
  • Leher terasa nyeri
  • Batuk
  • Sulit menelan
  • Kelenjar getah bening membengkak (khususnya di leher)
  • Suara serak dalam waktu yang lama
  • Tenggorokan sakit
  • Sesak napas

Selain mengenali gejala-gejala kanker tiroid folikuler, beberapa karakteristik kanker tiroid folikuler ini juga perlu diketahui [1,2,10].

  • Wanita dengan usia antara 40-60 tahun adalah yang paling rentan mengalami puncak onset gejala ini.
  • Tumor dengan ukuran kurang dari 1 cm tergolong sebagai prognosis yang baik.
  • Penyebaran kanker hingga kelenjar getah bening memang memungkinkan, namun kondisi ini jarang dijumpai.
  • Paparan radiasi dapat menjadi salah satu penyebab kanker tiroid folikuler, namun kasus paparan radiasi sebagai penyebab utama ini sangat jarang terjadi.
  • Penyebaran berjarak kanker tiroid folikuler sampai ke tulang dan paru adalah kasus yang langka, namun umum terjadi pada kanker tiroid papiler.
  • Pada kanker tiroid folikuler, adalah hal yang wajar dan umum ketika terjadi invasi ke struktuer vaskular seperti arteri dan bena dalam kelenjar tiroid.
  • Tingkat peluang kesembuhan kanker tiroid folikuler tergolong tinggi, khususnya pada kasus stadium awal yang terjadi pada pasien-pasien berusia muda.
Tinjauan
Timbul benjolan dapat menjadi gejala paling nampak pada kondisi kanker tiroid folikuler yang tidak sakit, tidak mudah bergerak, dan akan membesar. ketika disentuh tidak bergerak. Sulit menelan, sesak napas, sakit tenggorokan, suara serak dan pembesaran kelenjar getah bening dapat menjadi tanda lainnya yang perlu diwaspadai.

Pemeriksaan Kanker Tiroid Folikuler

Pemeriksaan tetap dapat dilakukan pada penderita kanker tiroid folikuler tanpa gejala (asimptomatik).

Umumnya, kanker tiroid folikuler justru terdiagnosa saat seseorang memeriksakan diri untuk kondisi lain.

Terdiagnosanya kanker tiroid folikuler biasanya terjadi secara tidak sengaja, khususnya saat wanita memeriksakan kesehatan rutin ke dokter.

Dalam mendiagnosa kanker tiroid folikuler, dokter umumnya menerapkan beberapa metode sebagai berikut :

  • Pemeriksaan Fisik dan Riwayat Kesehatan

Pemeriksaan fisik adalah langkah pemeriksaan utama pada hampir setiap proses diagnosa penyakit, termasuk kanker tiroid folikuler [1,10].

Dokter perlu mengecek gejala fisik yang terjadi pada pasien lebih dulu secara detail.

Kemudian, pemeriksaan riwayat kesehatan juga dilakukan oleh dokter melalui sejumlah pertanyaan yang diajurkan kepada pasien.

Dokter perlu tahu riwayat gejala kanker tiroid folikuler yang dialami pasien selama ini.

Dokter juga akan menanyakan riwayat kesehatan pasien dan juga keluarga pasien di mana informasi ini akan menguatkan diagnosa yang dibuat oleh dokter.

  • Tes Pemindaian

USG, MRI scan, PET scan, dan CT scan adalah bentuk tes pemindaian yang pasien perlu tempuh untuk mengetahui letak tumor sekaligus mengetahui tahap perkembangannya [1,2,9,10].

Sinar-X atau USG perlu dilakukan pada area leher pasien untuk mengetahui kondisi suplai darah menuju otak sekaligus arteri karotis (pembuluh nadi kepala).

  • Tes Darah

Selain pemeriksaan fisik dan tes pemindaian, dokter biasanya merekomendasikan tes darah untuk mengecek kadar hormon tiroid dalam tubuh pasien [2].

Melalui pemeriksaan darah, hasilnya juga akan membantu dokter dalam menentukan pengobatan yang tepat untuk pasien, termasuk apakah pasien memerlukan terapi hormon.

Pengambilan sampel jaringan melalui jarum aspirasi perlu dilakukan untuk dianalisa di laboratorium di bawah mikroskop [1,2,9,10].

Dokter dapat mengonfirmasi kanker tiroid folikuler melalui biopsi, namun perlu diketahui bahwa nodul tiroid hanya dapat diambil melalui pengangkatan total massa tiroid.

Tahap Kondisi Kanker Tiroid Folikuler

Pada prosedur diagnosa, dokter juga akan mencari tahu tahapan kanker tiroid folikuler, yaitu sudah seberapa luas kanker menyebar di dalam tubuh pasien.

Dengan mengetahui tahap kanker tiroid folikuler, dokter dapat memberikan pengobatan kepada pasien sesuai dengan tingkat keparahannya.

TNM adalah sistem tahap kondisi kanker tiroid folikuler yang juga digunakan untuk menglasifikasikan perbedaannya dari karsinoma tiroid [1,2].

  • T adalah deskripsi ukuran tumor di mana T ini terbagi menjadi lima jenis kondisi, yaitu T0 (tumor tidak teraba), T1 (ukuran tumor tidak sampai 1 cm), T2 (ukuran tumor antara 1-4 cm), T3 (ukuran tumor lebih dari 4 cm), dan T4 (berapapun ukuran tumor dengan invasi ekstrapiramidal).
  • N adalah tanda bahwa kanker menyebar hingga kelenjar getah bening terdekat di mana N ini juga terbagi menjadi empat jenis kondisi, yaitu N0 (tidak terdapat adenopati serviks yang teraba), N1 (adenopati servikal ipsilateral), N2 (adenopati servikal kontralateral atau bilateral), dan N3 (nodul serviks tetap).
  • M adalah tanda metastasis atau penyebaran kanker tiroid folikuler di mana M ini terbagi menjadi dua kondisi, yaitu M (metastasis berjarak) dan M0 (indikasi metastasis tanpa jarak).
Tinjauan
Pemeriksaan fisik, pemeriksaan riwayat kesehatan, tes pemindaian, tes darah dan biopsi adalah serangkaian metode diagnosa yang digunakan untuk kondisi kanker tiroid folikuler.

Pengobatan Kanker Tiroid Folikuler

Penanganan kanker tiroid folikuler pada dasarnya disesuaikan oleh dokter dengan tahap kanker atau tingkat keparahannya.

Namun pada umumnya, prosedur operasi adalah penanganan utama yang biasanya direkomendasikan oleh dokter.

Bila metastasis telah terjadi hingga ke bagian paru, maka lobektomi perlu ditempuh oleh pasien [1,2,11].

Pasien karsinoma tiroid folikuler dengan karakteristik invasif minimal lebih baik ditangani dengan prosedur lobektomi dan ismektomi.

Lobektomi sendiri adalah operasi pengangkatan satu bagian besar dari organ paru pasien (khusus bagi pasien dengan kasus metastasis kanker sudah sampai ke paru).

  • Tiroidektomi Total

Tiroidektomi terbagi menjadi dua jenis prosedur, yaitu tiroidektomi subtotal atau sebagian dan tiroidektomi total [1,2,9].

Pada kasus kanker tiroid folikuler, jauh lebih dianjurkan untuk pasien menempuh tiroidektomi total, yaitu mengangkat kelenjar tiroid secara menyeluruh [1].

Hanya saja, prosedur ini lebih direkomendasikan oleh dokter bagi penderita karsinoma folikuler invasif.

  • Radioiodine Ablasi

Prosedur ini merupakan tindakan medis standar dalam menangani karsinoma tiroid [1].

Pasien kanker tiroid folikuler dan papiler jauh lebih membutuhkan penanganan ini [1,2,12].

Tujuan radioiodine ablasi adalah sebagai penghancur sisa jaringan tiroid, terutama bila pasien sudah menempuh tindakan operasi.

  • Obat Penekan Tirotropin

Usai menjalani prosedur bedah, pasien juga akan dianjurkan dokter untuk menggunakan obat penekan tirotropin [1,13].

Selain efektif mengatasi kanker tiroid, obat ini juga sering digunakan untuk menangani penyakit gondok serta hipotiroidisme.

  • Radioterapi

Pada pasien dengan kondisi di mana kanker tiroid folikuler telah menyebar hingga jaringan lunak dan tulang, kemoterapi atau radioterapi sangat dibutuhkan sebagai penanganan utama [1,14].

Hanya saja keduanya jauh lebih direkomendasikan usai penempuhan prosedur tiroidektomi total [1].

  • Kemoterapi

Cabozantinib, vandetanib, lenvatinib, dan sorafenib adalah penghambat tirosin kinase yang juga tergolong sebagai terapi obat pada prosedur kemoterapi [1,2,14].

Kemoterapi usai proses bedah akan membantu mengendalikan perkembangan tumor, mencegah tumor kembali tumbuh, dan memperbesar peluang pasien bertahan hidup.

Tinjauan
Pengobatan kanker tiroid folikuler umumnya meliputi lobektomi ismektomi, tiroidektomi total, radioiodine ablasi, penekan tirotropin, radioterapi dan kemoterapi.

Komplikasi Kanker Tiroid Folikuler

Metastasis atau penyebaran yang semakin luas merupakan risiko komplikasi paling utama dan paling mungkin terjadi pada kasus kanker tiroid folikuler [1,2].

Beberapa hasil studi menunjukkan bahwa penyebaran kanker hingga paru, tulang dan kelenjar getah bening merupakan kondisi paling sering dijumpai.

Selain metastasis, komplikasi yang dapat terjadi berhubungan dengan tindakan operasi, seperti [1] :

  • Di dekat kelenjar getah bening, terdapat saraf laring eksternal dan rekuren yang secara tak sengaja berpotensi mengalami kerusakan selama prosedur operasi dilakukan.
  • Suara parau dapat terjadi sebagai efek dari rusaknya saraf laring eksternal dan rekuren.
  • Terbentuknya keloid dan hematoma pada beberapa pasien, terutama pasca operasi.
  • Hipotiroidisme dapat terjadi pada pasien kanker tiroid folikuler yang menjalani tiroidektomi total sehingga terapi pengganti tiroksin dalam hal ini sangat dibutuhkan.
Tinjauan
Metastasis kanker, kerusakan saraf laring, suara parau, hematoma dan keloid, hingga hipotiroidisme adalah risiko komplikasi yang sebaiknya diwaspadai.

Pencegahan Kanker Tiroid Folikuler

Kanker tiroid folikuler dapat diminimalisir risikonya melalui beberapa upaya sebagai berikut :

  • Memiliki pola makan sehat dengan mengasup makanan-makanan beryodium secukupnya dan tidak berlebihan.
  • Mengonsultasikan penggunaan multivitamin beryodium dengan dokter sebelum benar-benar melakukannya.
  • Menghindari paparan bahan kimia tertentu dan radiasi penyebab timbulnya kanker tiroid folikuler.
  • Menghindari obesitas dengan menjaga berat badan dan kadar gula darah tetap stabil agar juga dapat meminimalisir risiko diabetes.
  • Secepatnya mengatasi penyakit-penyakit tiroid yang berpotensi meningkatkan risiko kanker tiroid folikuler.
  • Melakukan konsultasi secara rinci mengenai terapi hormon estrogen eksogen dengan dokter dan risiko kanker tiroid folikuler sebagai akibatnya.
  • Segera memeriksakan diri ketika timbul benjolan mencurigakan pada area tubuh tertentu untuk meminimalisir metastasis kanker tiroid folikuler.
Tinjauan
Upaya pencegahan kanker tiroid dapat dilakukan dengan menghindari faktor-faktor yang menyebabkannya. Ketika timbul gejala awal, segera konsultasikan dengan dokter untuk meminimalisir risiko komplikasi.

1. Damilola Ashorobi & Peter P. Lopez. Follicular Thyroid Cancer. National Center for Biotechnology Information; 2020.
2. Anonim. Follicular Thyroid Cancer. Clayman Thyroid Center; 2020.
3. Meyer Knobel & Geraldo Medeiros-Neto. Relevance of iodine intake as a reputed predisposing factor for thyroid cancer. Arquivos Brasileiros de Endocrinologia e Metabologia; 2007.
4. Maria Fiore, Gea Oliveri Conti, Rosario Caltabiano, Antonino Buffone, Pietro Zuccarello, Livia Cormaci, Matteo Angelo Cannizzaro, & Margherita Ferrante. Role of Emerging Environmental Risk Factors in Thyroid Cancer: A Brief Review. International Journal of Environmental Research and Public Health; 2019.
5. Briseis Aschebrook-Kilfoy, Mona M. Sabra, Alina Brenner, Steven C. Moore, Elaine Ron, Arthur Schatzkin, Albert Hollenbeck, & Mary H. Ward. Diabetes and Thyroid Cancer Risk in the National Institutes of Health-AARP Diet and Health Study. Thyroid; 2012.
6. Christina Resende de Paiva, Christian Grønhøj, Ulla Feldt-Rasmussen, & Christian von Buchwald. Association between Hashimoto’s Thyroiditis and Thyroid Cancer in 64,628 Patients. Frontiers in Oncology; 2017.
7. Alessandro Prete, Rosa Maria Paragliola, & Salvatore Maria Corsello. Iodine Supplementation: Usage “with a Grain of Salt”. International Journal of Endocrinology; 2015.
8. Mariacarla Moleti, Giacomo Sturniolo, Maria Di Mauro, Marco Russo, & Francesco Vermiglio. Female Reproductive Factors and Differentiated Thyroid Cancer. Frontiers in Endocrinology (Lausanne); 2017.
9. Kenny Lee & Sebastiano Cassaro. Thyroid Cancer. National Center for Biotechnology Information; 2020.
10. James Norman MD, FACS, FACE. Thyroid Cancer: Follicular Cancer. EndocrineWeb; 2016.
11. C Skilbeck, A Leslie, & R Simo. Thyroid isthmusectomy: a critical appraisal. The Journal of Laryngology and Otology; 2007.
12. Nicholas S. Andresen, John M. Buatti, Hamed H. Tewfik, Nitin A. Pagedar, Carryn M. Anderson, & John M. Watkins. Radioiodine Ablation following Thyroidectomy for Differentiated Thyroid Cancer: Literature Review of Utility, Dose, and Toxicity. European Thyroid Journal; 2017.
13. D S Cooper, B Specker, M Ho, M Sperling, P W Ladenson, D S Ross, K B Ain, S T Bigos, J D Brierley, B R Haugen, I Klein, J Robbins, S I Sherman, T Taylor, & H R Maxon 3rd. Thyrotropin suppression and disease progression in patients with differentiated thyroid cancer: results from the National Thyroid Cancer Treatment Cooperative Registry. Thyroid; 1998.
14. W J Simpson. Radioiodine and radiotherapy in the management of thyroid cancers. Otolaryngologic Clinics of North America; 1990.

Share