Penyakit & Kelainan

Parut Hipertrofik : Penyebab – Gejala dan Penanganan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Apa Itu Parut Hipertrofik?

Parut Hipertrofik ( img : Medical News Today )

Parut hipertrofik adalah jenis bekas luka pada kulit yang lebih lebar dan juga tebal dari bekas luka biasa [1,2,3,4,6].

Parut hipertrofik terbentuk sekitar 4-6 minggu usai cedera atau luka terjadi.

Setelah terbentuk pembentukannya selama 6 bulan akan terjadi dengan cepat, namun biasanya bekas luka tidak akan menyebar dan hanya pada area luka saja.

Tinjauan
Parut hipertrofik merupakan kondisi bekas luka pada kulit yang lebih lebar dan juga tebal dari luka biasa 

Fakta Tentang Parut Hipertrofik

  1. 33-91% risiko terbentuknya parut hipertrofik adalah karena luka bakar, sedangkan 39-68% adalah karena prosedur bedah [1].
  2. Risiko mengalami parut hipertrofik jauh lebih besar pada orang-orang dengan usia 10-30 tahun di mana hal ini diyakini karena elastisitas orang-orang yang masih muda lebih tinggi dengan tingkat produksi kolagen di dalam tubuh yang juga tergolong tinggi [1].
  3. Luka bakar yang cukup besar atau dalam dan tak kunjung membaik dalam waktu 10 hari, rata-rata 4% kasus berpotensi besar berakibat pada timbulnya parut hipertrofik [3].
  4. Luka bakar yang cukup besar atau dalam dan dalam waktu 21 hari tidak ada tanda-tanda membaik, risiko berkembang menjadi parut hipertrofik meningkat hingga 70% [3].
  5. Walau terus terjadi peningkatan pada jumlah penderita bekas luka baik pasca operasi maupun penyakit kulit dan cedera, belum terdapat laporan spesifik mengenai prevalensi parut hipertrofik di Indonesia [2].

Penyebab Parut Hipertrofik

Parut hipertrofik umumnya disebabkan oleh iritasi dan cedera pada kulit, seperti [1,2,3] :

Menggaruk cacar air merupakan salah satu luka sekunder yang akhirnya dapat berakibat pada timbulnya parut hipertrofik.

Sementara itu, faktor lainnya yang mampu menjadi peningkat riisko parut hipertrofik adalah ketidakseimbangan kadar kolagen pada area kulit yang terluka [1,3,4].

Pada kasus luka bakar, peradangan dapat terjadi dalam jangka panjang yang juga cukup mengganggu serta berbahaya bagi kesehatan penderitanya apabila luka cukup dalam atau besar.

Luka bakar ini kemudian dapat berkembang menjadi parut hipertrofik jika tak juga membaik dalam waktu 10 hari [3].

Parut hipertrofik pada dasarnya merupakan kondisi ketika tekanan terjadi pada sekitar luka yang sedang dalam proses kesembuhan.

Parut hipertrofik dapat cukup mengganggu penampilan karena bekas luka ini dapat bertahan lama yang bahkan bisa sampai bertahun-tahun.

Tinjauan
Penyebab parut hipertrofik dapat meliputi produksi kolagen yang tidak seimbang, efek operasi, cedera, hingga infeksi kulit.

Perbedaan Parut Hipertrofik dan Keloid

Bekas luka terdiri dari dua jenis kondisi, yaitu keloid dan parut hipertrofik [2].

Keloid dan parut hipertrofik dapat disebabkan oleh faktor yang sama, namun sebenarnya kedua kondisi ini berbeda [1,2].

Parut hipertrofik umumnya merupakan bekas luka yang disentuh akan terasa timbul sekitar 4 mm tebalnya dari permukaan kulit.

Warna bekas luka pada kondisi parut hipertrofik pun merah muda atau justru merah.

Parut hipertrofik juga dapat terjadi di bagian tubuh mana saja yang berbeda dari kondisi keloid.

Keloid adalah kondisi bekas luka yang jika disentuh akan terasa keras namun lembut.

Hanya saja, ada kemungkinan tumor jinak tumbuh yang menjadi salah satu bentuk jaringan bekas luka yang berkembang namun secara berlebihan pada kulit.

Dari permukaan kulit, tingkat ketebalan keloid memang sama dengan parut hipertrofik, yaitu sekitar 4 mm.

Namun dari segi warna, keloid ditandai dengan bekas luka timbul yang berwarna merah muda hingga keunguan dengan bentuk bulat atau lonjong yang tepiannya tampak rapi.

Biasanya, keloid muncul sebagai efek dari timbulnya luka gores atau sayatan baik karena cedera maupun operasi.

Jika parut hipertrofik dapat timbul di mana saja, keloid umumnya hanya akan timbul pada pipi, bahu, lubang telinga dan dada di atas tulang dada. Selain itu, keloid dapat terus tumbuh seiring waktu.

Perkembangan melebar dan meluasnya keloid lebih cepat dari parut hipertrofik dalam hitungan minggu hingga bulan meski ada pula yang bertahun-tahun.

Namun ketika keloid berhenti berkembang, kondisinya akan stabil tanpa menimbulkan gejala apapun lagi.

Bahkan dari penanganannya, parut hipertrofik diketahui lebih mudah diatasi daripada keloid.

Namun meski demikian, risiko parut hipertrofik untuk kembali muncul secara lebih cepat jauh lebih tinggi daripada keloid.

Gejala Parut Hipertrofik

Parut hipertrofik menimbulkan beberapa gejala yang mudah dikenali dan juga berbeda dari keloid, yaitu [1,2,3,4] :

  • Bekas luka berwarna kemerahan (ada pula yang berwarna merah muda)
  • Bekas luka tebal dengan ketebalan mencapai 4 mm.
  • Terkadang di area bekas luka tersebut akan terasa nyeri atau gatal.
  • Bekas luka dapat semakin besar seiring waktu.
  • Bekas luka setiap disentuh akan terasa lembut.
  • Bekas luka dapat menimbulkan sensasi terbakar.

Berbeda dari keloid yang rata-rata pertumbuhan jaringan bekas lukanya akan menyebar dan semakin meluas secara berlebihan, parut hipertrofik berpotensi membesar namun tidak meluas.

Parut hipertrofik hanya akan berkembang secara terbatas pada area luka saja dan selama 12-24 bulan berpotensi untuk menyusut.

Meski demikian, penyusutan bekas luka pada parut hipertrofik tidak dapat terjadi secara total.

Tinjauan
Bekas luka pada kasus parut hipertrofik tampak timbul dengan ketebalan mencapai 4 mm, warna kemerahan, terkadang nyeri dan gatal, dan ketika disentuh terasa lembut.

Pemeriksaan Parut Hipertrofik

Pemeriksaan fisik adalah metode diagnosa yang paling perlu ditempuh oleh pasien.

Dokter akan mendeteksi apakah gejala yang terjadi pada kulit pasien mengarah pada parut hipertrofik, keloid atau kondisi gangguan kulit lainnya.

Dari hasil pemeriksaan fisik, dokter baru dapat memutuskan bentuk penanganan seperti apa yang paling sesuai.

Penanganan Parut Hipertrofik

Terdapat beberapa metode penanganan atau perawatan untuk parut hipertrofik dan dokter biasanya akan memberikan sejumlah rekomendasi.

Perawatan bertujuan utama menyusutkan bekas luka yang timbul dan meratakannya.

Hanya saja, perawatan yang ditempuh oleh pasien tidak serta-merta mampu mengatasi parut hipertrofik karena biasanya penyembuhan membutuhkan waktu lebih lama.

Penanganan Secara Medis

Beberapa bentuk penanganan medis yang dokter rekomendasikan dan pasien perlu tempuh antara lain adalah :

Untuk bekas luka yang tergolong masih baru, terapi laser jauh lebih efektif dalam mengatasinya daripada pada bekas luka yang sudah lama.

Jaringan bekas luka baru yang ditangani dengan laser akan membakar dan meratakan bekas luka yang timbul.

Terapi laser juga cukup sering diandalkan karena kemampuannya dalam mengubah pigmen warna kulit yang kemerahan karena bekas luka menjadi lebih terang.

Kortikosteroid dalam bentuk suntikan atau injeksi adalah pengobatan parut hipertrofik paling umum.

Penyuntikan kortikosteroid tidak hanya ditempuh sekali oleh pasien karena metode perawatan ini perlu dilakukan setiap 6 minggu.

Proseduer injeksi kortikosteroid rutin akan memaksimalkan pemulihan bekas luka sehingga bekas luka mengempis, rata, dan lembut.

Pada prosedur krioterapi, dokter spesialis kulit akan menggunakan cairan nitrogen yang digunakan sebagai pembeku bekas luka.

Tujuan pembekuan bekas luka adalah untuk meratakan kembali bekas luka yang timbul.

Prosedur krioterapi dikenal aman dengan tingkat keberhasilan cukup tinggi dalam menangani parut hipertrofik sehingga pasien dapat mencobanya.

Bleomycin dikenal sebagai obat yang mampu menghambat tumbuhnya sel-sel abnormal (sel kanker) dalam tubuh.

Walau umum dimanfaatkan sebagai obat berbagai jenis kanker dan penyebaran kanker, bleomycin juga dikenal efektif dalam mengatasi bekas luka, seperti halnya keloid dan parut hipertrofik.

Obat ini akan meredakan rasa nyeri pada bekas luka pasien dan menghilangkan rasa gatalnya; bahkan penampakan bekas luka akan jauh lebih baik daripada sebelumnya.

Tindakan operasi dapat direkomendasikan oleh dokter dengan metode eksisi atau menghilangkan bekas luka timbul pada kulit tersebut, lalu kemudian diakhiri dengan menjahitnya.

Jika pada bekas luka parut hipertrofik pasien mengalami inflamasi/radang hingga infeksi, maka operasi eksisi adalah salah satu cara umum untuk mengatasinya.

Perawatan dengan sinar-X superfisial ini biasanya diterapkan usai pasien menjalani operasi.

Namun, metode ini tidak selalu harus dilakukan karena juga masih cukup jarang.

5-FU atau pemberian injeksi intralesi dengan takaran 50 mg/mL kini sudah cukup umum dan menjadi penanganan modern untuk keloid maupun parut hipertrofik.

Terkadang dokter kemungkinan akan mengombinasikan 5-FU 50 mg/mL dengan TCA 10-40 mg/mL (rasio 9:1) [2].

Walau efektivitasnya tergolong tinggi, pasien supresi sumsum tulang dan para wanita hamil tidak dianjurkan mengambil prosedur ini.

Beberapa efek samping yang juga wajib diwaspadai adalah trombositopenia, leukopenia dan anemia.

Penanganan Secara Mandiri

Selain dengan metode medis, pasien parut hipertrofik juga dapat melakukan upaya perawatan secara mandiri di rumah dengan beberapa metode berikut.

Setelah luka akibat cedera sembuh, penutup luka silikon dapat digunakan untuk mengatasi parut hipertrofik.

Penutup luka silikon biasanya tersedia dalam bentuk kain, namun ada pula yang busa, semprotan, maupun gel dan dapat dibeli di toko obat terdekat.

Pemakaian umumnya antara 2-3 bulan dengan menggunakannya setiap hari selama 12-24 jam; jika dalam bentuk gel atau semprot, maka terapkan pada bekas luka sering-sering dalam sehari.

Obat topikal atau oles lainnya yang dapat digunakan di rumah adalah ekstrak bawang merah (terdapat produk obat yang bisa dicari di toko obat terdekat).

Penggunaan krim ini diketahui efektif dalam mengatasi penampilan kulit akibat parut hipertrofik.

Salah satu perawatan alternatif untuk parut hipertrofik yang dapat ditempuh penderitanya adalah pressure and massage (terapi tekan dan pijat), yaitu metode yang akan membantu menyembuhkan bekas luka.

Tekanan serta pijatan perlu diterapkan langsung pada area kulit yang mengalami parut hipertrofik.

Tinjauan
Penanganan parut hipertrofik dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu secara medis (obat, terapi laser hingga operasi) serta secara mandiri (terapi tekan, krim ekstrak bawang merah, dan penutup luka silikon).

Komplikasi Parut Hipertrofik

Pruritus atau kondisi gatal yang disertai ruam adalah risiko komplikasi parut hipertrofik, begitu juga dengan kemungkinan rasa nyeri yang bertahan lama [1],.

Selain itu, bekas luka yang terdapat pada area tubuh mudah terlihat akan menimbulkan stres serta depresi karena mengurangi rasa percaya diri.

Pada beberapa kasus, parut hipertrofik juga berdampak pada gerakan tubuh penderitanya yang menjadi lebih terbatas.

Risiko infeksi bakteri juga cukup tinggi pada bekas luka kasus parut hipertrofik yang menyebabkan rasa nyeri serta gatal [5].

Tinjauan
Rasa nyeri jangka panjang, pruritus, stres dan depresi karena penampilan kulit, terbatasnya gerakan tubuh, hingga infeksi bakteri adalah risiko komplikasi parut hipertrofik.

Pencegahan Parut Hipertrofik

Parut hipertrofik adalah kondisi yang dapat dicegah, bahkan bagi yang mengalami cedera seperti luka bakar yang tidak dapat dihindari sekalipun.

Bagi pasien pasca operasi pun sebenarnya risiko parut hipertrofik dapat diminimalisir, yaitu dengan cara [1,12] :

  • Meminta dokter menyuntikkan kortikosteroid setelah menjalani operasi.
  • Membersihkan luka bakar, luka bekas operasi atau luka cedera apapun dengan benar.
  • Merawat luka yang terjadi pada kulit dengan obat dan cara yang tepat, seperti mengobati lalu menutupnya untuk mencegah infeksi.
  • Untuk luka bakar, menggunakan kompres air dingin lalu menerapkan minyak pohon teh dapat membantu agar pemulihan kulit terjadi lebih optimal selain memberi efek tenang pada luka tersebut.
Tinjauan
Sebagai upaya pencegahan parut hipertrofik, penyuntikan kortikosteroid, perawatan luka dengan benar agar tidak kena infeksi, serta kompres air dingin untuk luka bakar dapat dilakukan.

1. Lindsey Carswell & Judith Borger. Hypertrophic Scarring Keloids. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2020.
2. Linda Sinto. Scar Hipertrofik dan Keloid: Patofisiologi dan Penatalaksanaan. Jurnal Cermin Dunia Kedokteran; 2018.
3. Rei Ogawa. Keloid and Hypertrophic Scars Are the Result of Chronic Inflammation in the Reticular Dermis. International Journal of Molecular Sciences; 2017.
4. Felipe Bettini Rabello, Cleyton Dias Souza, & Jayme Adriano Farina Júnior. Update on hypertrophic scar treatment. Clinics (Sao Paulo); 2014.
5. Brian Berman, MD, PhD, Francisco Talavera, PharmD, PhD, Steven R Feldman, MD, PhD, Dirk M Elston, MD, Sadegh Amini, MD, Martha H Viera, MD, Arash Taheri, MD, & Andrea D Maderal, MD. Keloid and Hypertrophic Scar Clinical Presentation. MedScape; 2020.
6. Zrinka Bukvić Mokos, Anamaria Jović, Lovorka Grgurević, Ivo Dumić-Čule, Krešimir Kostović, Romana Čeović, & Branka Marinović. Current Therapeutic Approach to Hypertrophic Scars. Frontiers in Medicine; 2017.
7. T S Alster & C Handrick. Laser treatment of hypertrophic scars, keloids, and striae. Seminars on cutaneous medicine and surgery; 2000.
8. Jing Xu, Elan Yang, Nan-Ze Yu, & Xiao Long. Radiation Therapy in Keloids Treatment: History, Strategy, Effectiveness, and Complication. Chinese Medical Journal; 2017.
9. Iris Westra, MSC, MD, Hth Pham, MSC, MD, & Frank B. Niessen, MD, PHD. Topical Silicone Sheet Application in the Treatment of Hypertrophic Scars and Keloids. The Journal of Clinical and Aesthetic Dermatology; 2016.
10. Zoe D. Draelos, MD, Leslie Baumann, MD, Alan B. Fleischer, JR., MD, Stefan Plaum, MD, Edward V. Avakian, MA, PhD, & Bhushan Hardas, MD, MBA. A New Proprietary Onion Extract Gel Improves the Appearance of New Scars. The Journal of Clinical and Aesthetic Dermatology; 2012.
11. Anna I. Arno, Gerd G. Gauglitz, Juan P. Barret, & Marc G. Jeschke. Up-to-date approach to manage keloids and hypertrophic scars: A useful guide. HHS Public Access; 2014.
12. Vanesa Andreu, Gracia Mendoza, Manuel Arruebo, & Silvia Irusta. Smart Dressings Based on Nanostructured Fibers Containing Natural Origin Antimicrobial, Anti-Inflammatory, and Regenerative Compounds. Materials (Basel); 2015.

Share