Makanan, Minuman dan Herbal

Ranti : Manfaat, Efek Samping dan Tips Konsumsi

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Tinjauan Medis : dr. Katya Saphira, M.Gizi
Ranti memilki kandungan vitamin C dan magnesium yang cukup tinggi. Hal ini menyebabkan ranti bermanfaat sebagai antioksidan, mencegah terjadinya penyakit kronis, berperan sebagai anti bakteri, dan membantu

Sekilas tentang Ranti

Ranti (Solanum nigrum) atau biasa dikenal dengan leunca merupakan tanaman jenis terong-terongan (Solanaceae). Ranti biasa dibudidayakan di beberapa negara seperti Afrika dan Indonesia.

Ranti

Ranti dapat tumbuh di ladang atau kebun terbuka. Buah ranti mempunyai bentuk bulat kecil dengan diameter kurang dari 1 cm [1].

Ranti yang masih muda berwarna hijau, dan ketika tua berwarna ungu. Ranti mengandung antosianin, yang menyebabkan buah ranti berwarna ungu [2].

Antosianin adalah senyawa larut dalam air yang merupakan pigmen warna alami tumbuhan. Warna yang dapat dihasilkan dari antosianin adalah ungu, biru, dan merah [3].

Ranti biasa dimanfaatkan sebagai sayuran dan obat. Ranti diketahui mengandung senyawa fitokimia seperti alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan glikosida [4].

Kandungan Gizi Ranti

Kandungan gizi Ranti per 100 gram adalah sebagai berikut [5,6] :

Name AmountUnit
Energi73,98kcal
Karbohidrat5,12gram
Protein5,5gram
Lemak3,5gram
Serat1,5gram
Natrium6,18mg
Magnesium182,3mg
Kalium34,41mg
Kalsium73mg
Besi3,8mg
Tembaga10mg
Seng14mg
Vitamin A1,71mg
Vitamin B110,91mg
Vitamin C23,38mg
Asam Folat8,13mg
Vitamin E5,71mg
Kadar Air60,3gram
Kadar Abu1,5gram

Ranti diketahui kaya akan magnesium dan vitamin C. Magnesium pada ranti diperlukan tubuh untuk proses metabolisme karbohidrat yang berfungsi untuk mempengaruhi pelepasan dan pembentukan insulin sebagai pengontrol kandungan gula dalam darah [7].

Insulin merupakan hormon yang diproduksi oleh pankreas yang berfungsi untuk mengubah glukosa menjadi energi [8].

Selain diperlukan untuk proses metabolisme karbohidrat, magnesium juga bermanfaat untuk memelihara kesehatan jantung, obat diabetes, memelihara kesehatan tulang, dan menyembuhkan migrain [9].

Sedangkan Vitamin C dalam ranti berperan sebagai antioksidan yang dapat menghambat radikal bebas yang masuk ke dalam tubuh [10].

Manfaat Ranti untuk Kesehatan

Ranti diketahui memiliki banyak manfaat untuk kesehatan. Berikut ini manfaat Ranti :

  • Obat Diabetes

Diabetes merupakan penyakit gangguan metabolisme akibat kurangnya kinerja hormon insulin yang mengakibatkan hiperglikemia. Hiperglikemia merupakan kelebihan kadar gula dalam darah [11].

Penyakit diabetes dapat diobati dengan mengontrol konsumsi gula maupun dengan mengonsumsi makanan yang mempunyai efek anti diabetes tinggi seperti ranti.

Menurut penelitian Felicen M. Kasali di Universitas Bukavu, Ranti mampu mengobati diabetes yang diteliti menggunakan kelinci percobaan. Hasilnya, ekstrak ranti memiliki aktivitas hipoglikemik yang tinggi [12].

Aktivitas Hipoglikemik merupakan serangkaian proses untuk menurunkan kadar gula dalam darah [12].

Ekstrak ranti diketahui menunjukkan penurunan signifikan kadar gula darah pada kelinci percobaan. Hal ini menunjukkan bahwa ranti merupakan obat diabetes yang efektif [12,13].

Ranti diketahui memiliki kandungan magnesium yang tinggi. Magnesium diketahui mampu mengontrol besarnya kandungan gula darah dengan mempengaruhi pembentukan insulin [7].
  • Anti Kanker

Kanker merupakan penyakit akibat pertumbuhan sel yang tidak normal. Kanker dapat disembuhkan dengan mengonsumsi makanan yang mengandung antioksidan yang tinggi [14].

Antioksidan dapat melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas atau dari spesies oksigen reaktif yang mengakibatkan pertumbuhan kanker [15].

Spesies oksigen reaktif merupakan senyawa pengoksidasi hasil dari turunan oksigen yang mempunyai sifat sangat reaktif sehingga memicu pertumbuhan sel kanker [15].

Aktivitas antikanker tanaman ranti diteliti dengan menggunakan ekstrak metanol ranti. Diketahui bahwa ekstrak metanol ranti mampu menghambat pertumbuhan sel Hela [16].

Sel Hela merupakan sel kanker yang ditemukan pada serviks yang menyebabkan kanker serviks [16].

Buah Ranti secara signifikan mempunyai efek sitotoksik terhadap pertumbuhan garis sel hela [16]. Selain buahnya, daun ranti juga diketahui dapat mengobati sel-sel kanker payudara [17].

Efek sitotoksik adalah segala aktivitas senyawa yang mempunyai efek beracun atau merusak terhadap sel kanker [16].

Ranti diketahui memiliki kandungan fitokimia seperti vitamin A, vitamin C, vitamin E, vitamin K, karotenoid, terpenoid, flavonoid, polifenol, alkaloid, tanin, saponin, pigmen, enzim, dan mineral yang diketahui mempunyai aktivitas antioksidan yang kuat [14].
  • Anti Mikroba

Mikroba merupakan organisme berukuran kecil yang hidup bebas berdampingan dengan manusia. Terdapat dua macam mikroba yaitu bakteri gram positif dan bakteri gram negatif [18].

Ranti merupakan tanaman yang mengandung berbagai jenis senyawa fitokimia. Ekstrak metanol dari ranti diketahui memiliki aktivitas antimikroba yang kuat [18].

Ranti mampu menghambat pertumbuhan tiga spesies bakteri gram positif yaitu Micrococcus varians, Micrococcus luteus, dan Staphylococcus aureus [18].

Selain itu, ranti juga mampu menghambat pertumbuhan bakteri gram negatif yaitu Salmonella Typhi, Pasteurella maltocida, Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, dan Vibrio cholerae [18].

Akan tetapi, ekstrak buah ranti diketahui lebih potensial untuk menghambat pertumbuhan bakteri gram positif. Hal ini menunjukkan bahwa buah ranti berpotensi sebagai antimikroba [18].

Bakteri gram positif merupakan bakteri dengan dinding sel multilapis yaitu membran tunggal yang dilapisi peptidoglikan tebal [19]. Bakteri gram negatif merupakan bakteri dengan dinding selnya terdiri dari lipopolisakarida [19].
  • Menjaga Kesehatan Liver

Liver atau hati merupakan organ yang sangat penting bagi manusia karena fungsinya sebagai pendorong metabolisme, imunitas, proses pencernaan, dan detoksifikasi [20]. Detoksifikasi merupakan proses pengeluaran racun dari dalam tubuh [20].

Ranti diketahui memiliki aktivitas hepatoprotektif terhadap peradangan hati yang disebabkan oleh etanol dan merupakan penangkal radikal bebas yang dapat melindungi hepatosit [21].

Hepatosit merupakan sel parenkimal utama dalam hati yang berfungsi dalam berbagai proses metabolisme [21].

Ranti juga diketahui dapat melindungi hati dari kerusakan oksidatif yang disebabkan oleh CCl4 yang diteliti menggunakan tikus percobaan [22].

Efek hepatoprotektif dari ranti ini juga diketahui dapat mendetoksifikasi enzim dan antioksidan dari sisa-sisa radikal bebas [22].

Hepatoprotektif merupakan aktivitas dari suatu senyawa yang dapat mencegah kerusakan hati (liver) [22].
  • Menyembuhkan Epilepsi

Epilepsi merupakan kelainan fungsi otak yang ditandai dengan kejang secara periodik yang tidak terduga [23].

Kejang mengacu pada perubahan sementara perilaku karena hentakan yang tidak teratur. Kejang karena epilepsi terjadi tanpa penyebab yang jelas [23].

Daun ranti diketahui telah digunakan untuk pengobatan epilepsi di Nigeria. Ranti telah diujikan pada hewan percobaan dan memiliki aktivitas antikonvulsan [23].

Ekstrak daun ranti menunjukkan aktivitas antikonvulsan tergantung dosis yang digunakan yang diinduksi secara elektrik pada hewan percobaan [23].

Pemberian dosis ekstrak daun ranti yang tinggi (30-60 mg/kg) diteliti dapat mencegah terjadinya kejang sepenuhnya [23].

Antikonvulsan merupakan aktivitas pengobatan yang digunakan untuk mengatasi kejang dengan cara mengembalikan kestabilan rangsangan sel [24].

Efek Samping Mengonsumsi Ranti

Selain mempunyai banyak manfaat, Ranti diketahui memiliki beberapa efek samping. Barikut efek samping mengonsumsi Ranti :

  • Nefritis Interstisial Akut

Nefritis interstisial akut merupakan penyakit kerusakan ginjal yang terjadi akibat infeksi karena proses pengobatan seperti analgesik dan antibiotik [25].

Analgesik merupakan pengobatan untuk mengurangi rasa nyeri [26]. Sedangkan antibiotik adalah pengobatan untuk mencegah infeksi bakteri [27].

Ranti diketahui dapat digunakan sebagai obat herbal berbagai penyakit salah satunya diabetes. Namun, mengonsumsi ranti secara tidak benar sebagai obat herbal dapat mengakibatkan kerusakan ginjal [25].

Kasus nefritis interstisial akut akibat mengonsumsi ranti pernah terjadi pada seorang pria Korea berusia 72 tahun. Pria tersebut memiliki riwayat penyakit diabetes [25].

Ranti digunakan oleh pria tersebut sebagi obat herbal diabetes. Namun, penggunaannya terlalu berlebihan yaitu dua kali sehari selama dua bulan penuh [25].

Setelah dilakukan pemeriksaan, kedua ginjal pasien menunjukkan peningkatan ekogenisitas parenkim dan berukuran lebih kecil dari ginjal normal [25].

Ekogenisitas parenkim adalah kemampuan jaringan parenkim untuk memantulkan suara berfrekuensi tinggi saat diperiksa menggunakan alat ultrasonografi [25].

Penyebab Nefritis interstisial akut adalah kandungan senyawa beracun dalam Ranti yaitu solanin. Konsumsi solanin secara berlebihan dapat memberikan efek kejang, koma, hingga kematian [28].

  • Kerusakan Syaraf

Ranti diketahui mempunyai aktivitas antikonvulsan, namun tidak berpotensi sebagai antiepilepsigenetik. Akibatnya, terjadi pelepasan glutamat secara berlebihan ke neuron [23].

Antiepilepsigenetik merupakan obat yang digunakan untuk menyembuhkan penyakit epilepsi [23].

Glutamat merupakan neurotransmitter utama di otak dan berperan penting pada proses kejang. Paparan neuron pada konsentrasi glutamat yang tinggi secara terus menerus dapat menyebabkan kerusakan syaraf [23].

Neurotransmitter merupakan senyawa organik yang berfungasi sebagai pembawa sinyal untuk neuron berkomunikasi satu sama lain [29].

Neuron merupakan satuan sel syaraf yang berfungsi sebagai penghantar impuls yang terbentuk akibat adanya stimulus [30].
  • Keracunan

Sebagian besar spesies dalam famili Solanaceae termasuk ranti beracun bagi manusia maupun hewan. Hal ini dikarenakan adanya kandungan solanin [28].

Solanin apabila dikonsumsi dalam jumlah besar dapat berakibat buruk bagi manusia. Gejala yang ditimbulkan akibat mengonsumsi solanin yaitu mual, muntah, diare, sakit kepala, pusing, demam, kebutaan, gangguan mental, koma, hingga kematian [28].

Kandungan solanin dalam ranti tergantung pada iklim, musim, jenis tanah, dan kematangan. Buah yang masih mentah lebih beracun daripada yang matang [28].

Mengolah ranti dengan cara direbus diketahui mampu menghancurkan komponen beracun pada ranti [28].

Solanin merupakan senyawa jenis glikoalkaloid beracun yang terdapat pada tanaman famili Solanaceae

Tips Memilih Ranti

  1. Pilihlah ranti yang sudah matang, ciri-cirinya buah berwarna ungu permukaan yang mengkilap.
  2. Jangan mengonsumsi ranti yang masih mentah karena memiliki kandungan racun yang lebih besar [28].
  3. Pilihlah ranti yang masih masih keras, karena jika sudah lunak kemungkinan sudah busuk.

Tips Mengonsumsi Ranti

Mengonsumsi ranti perlu dilakukan dengan metode yang tepat agar tidak terkena efek sampingnya. Berikut tips mengolah dan mengonsumsi ranti [31] :

Cara Mengolah Ranti

  1. Pilihlah ranti yang sudah matang.
  2. Cuci ranti dengan air mengalir hingga bersih.
  3. Rebus ranti selama 10 menit untuk menghilangkan racunnya [28].
  4. Ranti siap diolah menjadi aneka makanan lezat.

Ranti diketahui dapat dimakan secara langsung maupun diolah. Berikut ini aneka tips membuat olahan dari Ranti :

  • Dimakan secara langsung

Ranti bisa dimakan secara langsung dengan memperhatikan cara mengonsumsinya agar tidak keracunan.

Pilihlah ranti yang sudah matang, karena ranti yang matang mengandung kadar solanin yang rendah [28]. Pastikan juga untuk membersihkan permukaan ranti dari kotoran maupun insektisida.

Agar lebih lezat, ranti mentah dapat dimakan bersama dengan makanan lain sebagai lalapan.

  • Tumis Ranti

Ranti dapat dijadikan lauk pauk yang lezat seperti tumis ranti. Cara membuat tumis ranti adalah sebagai berikut :

  1. Siapkan alat dan bahan yang diperlukan.
  2. Iris bawang merah, bawang putih, cabai, dan tomat sesuai selera. Lalu tumis hingga layu.
  3. Masukkan Ranti yang telah dibersihkan kemudian tambahkan air secukupnya.
  4. Tambahkan garam dan gula sesuai selera.
  5. Tunggu hingga tumis Ranti matang dan siap untuk dimakan bersama nasi.
  • Sambal Ranti

Cara membuat sambal ranti antara lain :

  1. 2 genggam leunca cuci hingga bersih, lalu tiriskan
  2. Ulek bahan sambal antara lain cabe merah keriting, cabe rawit merah, bawang putih, bawang merah, Tomat, terasi, dan garam.
  3. Tumis bahan sambal sampai harum.
  4. Masukkan ranti dan aduk dengan sambal hingga rata.
  5. Tunggu hingga ranti matang.
  6. Ranti siap dihidangkan.

Tips Penyimpanan Ranti

Penyimpanan ranti yang benar perlu dilakukan agar ranti dapat tahan lama. Berikut tips penyimpanan ranti [32] :

  1. Pilihlah ranti yang baik yaitu buah berwarna ungu dengan permukaan mengkilap.
  2. Cuci ranti hingga bersih agar terhindar dari kotoran.
  3. Keringkan ranti dari sisa sisa air menggunakan lap.
  4. Masukkan ranti ke dalam plastik, kemudian dimasukkan ke dalam kulkas.
  5. Ranti yang berada di dalam kulkas akan tahan selama 10 hari.
Ranti merupakan tanaman yang kaya akan manfaat namun juga mempunyai efek samping. Manfaat mengonsumsi ranti akan dirasakan dengan baik apabila memerhatikan tips mengonsumsinya. Kesalahan cara mngonsumsi ranti dapat menimbulkan efek samping yang serius.

1). T.S. Mohamed Saleem, C. Madhusudhana Chetty, S. Ramkanth, M. Alagusundaram, K. Gnanaprakash, V.S. Thiruvengada Rajan, S. Angalaparameswari. 2009. Pharmacognocy Reviews 3(6) : 342-345. Solanum nigrum Linn. – A Review.
2). Shaoli Wang, Zhaohui Chu, Mingxing Ren, Ru Jia, Changbao Zhao, Dan Fei, Hao Su, Xiaoqi Fan, Xiaotian Zhang, Yang Li, Yingzi Wang, and Xinhua Ding. 2017. Molecules 22(6): 876. Identification of Anthocyanin Composition and Functional Analysis of an Anthocyanin Activator in Solanum nigrum Fruits
3). Yongjin Shang , Julien Venail, Steve Mackay, Paul C Bailey, Kathy E Schwinn, Paula E Jameson, Cathie R Martin, Kevin M Davies. 2011. New Phytol 189(2) : 602-15. The Molecular Basis for Venation Patterning of Pigmentation and Its Effect on Pollinator Attraction in Flowers of Antirrhinum.
4). Zemali Djaafar and Ouahrani M. Ridha. International Letters of Chemistry, Physics and Astronomy ISSN: 2299-3843, 20 : 25-30. Phytochemical Study of Selected Medicinal plant, Solanum Nigrum, the Algerian Desert.
5). Hemen Sarma and Aniruddha Sarma. 2011. International Conference on Environment and BioScience 21 : 105-109. Solanum nigrum L., a Nutraceutical Enriched Herb or Invasive Weed?.
6). I.E. Akubugwo, A.N. Obasi and S.C. Ginika. 2007. Pakistan Journal of Nutrition 6 (4): 323-326. Nutritional Potential of the Leaves and Seeds of Black Nightshade Solanum nigrum L. Var virginicum from Afikpo-Nigeria.
7). L Garfinkel, D Garfinkel. 1985. Magnesium 4(2-3):60-72. Magnesium Regulation of the Glycolytic Pathway and the Enzymes Involved.
8). Elizabeth Vargas; Neena V. Joy; Maria Alicia Carrillo Sepulveda. 2020. StatPearls Publishing. Biochemistry, Insulin Metabolic Effects.
9). Anonym. 2020. National Institutes of Health. Magnesium Fact Sheet for Consumers.
10). Anonym. 2020. National Institutes of Health. Vitamin C.
11). Mpiana PT, Masunda TA, Longomba BF, Tshibangu DST, Ngbolua KN. 2013. European Journal of Medicinal plants 3(2):233-240. Anti-hyperglycemic activity of Raphia gentiliana De Wild. (Arecaceae).
12). Félicien M Kasali, Adrien T Masunda, Justine K Madarhi, Archimède B Matambura, Damien ST Tshibangu, Koto-Te-Nyiwa Ngbolua, Justin N Kadima and Pius T Mpiana. 2016. International Journal of Herbal Medicine 4(6) : 14-19. Assessment of antidiabetic activity and acute toxicity of leaf extracts from Solanum nigrum L. (Solanaceae) in guinea-pigs.
13). MS Umamageswari, TM Karthikeyan, and Yasmeen A Maniyar. 2017. Journal of Clinical & Diagnostic Research 11(7): FC16–FC19. Antidiabetic Activity of Aqueous Extract of Solanum nigrum Linn Berries in Alloxan Induced Diabetic Wistar Albino Rats.
14). Prajapati, N.D.S.S Purohit, A.K. Sharma, and T. Kumar. 2003. Agrobisnis Publisher Jodhpur, India. A Handbook of Medicinal Plants.
15). Manish Mittal, Mohammad Rizwan Siddiqui, Khiem Tran, Sekhar P. Reddy, and Asrar B. Malik. 2014. Antioxid Redox Signal. 2014 Mar 1; 20(7): 1126–1167. Reactive Oxygen Species in Inflammation and Tissue Injury.
16). Ehssan H.O. Moglad, Omer M. Abdulla, W.S. Koko, and A.M. Saadabi. 2014. International Journal of Cancer Research 10(2) : 74-80. In Vitro Anticancer Activity and Cytotoxicity of Solanum nigrum on Cancers and Normal Cell Lines.
17). Ying-Jang Lai, Chen-Jei Tai, Chia-Woei Wang, Chen-Yen Choong , Bao-Hong Lee, Yeu-Ching Shi, and Cheng-Jeng Tai . 2016. Molecules 21(553) : 2-11. Anti-Cancer Activity of Solanum nigrum (AESN) through Suppression of Mitochondrial Function and Epithelial-Mesenchymal Transition (EMT) in Breast Cancer Cells.
18). Khizar Abbas, Uzma Niaz , Talib Hussain , M. Asif Saeed, Zeeshan Javaid, Arfat Idrees And Shahid Rasool. 2014. Acta Poloniae Pharmaceutica-Drug Research 71(3) : 415-421. Antimicrobial Activity of Fruits of Solanum Nigrum and Solanum Xanthocarpum .
19). Thomas J. Silhavy, Daniel Kahne, and Suzanne Walker. 2010. Cold Spring Harbor Perspectives in Biology 2(5): a000414. The Bacterial Cell Envelope.
20). Arjun Kalra, Faiz Tuma. 2020. StatPearls. Physiology, Liver.
21). Fang-Ping Liua, Xin Ma, Min-MinLi, Zhi Lia. Qing Han, Rui Li, Chang-Wen Li, Yi-Cong Chang, Chang-Wei Zhao, Yue-Xia Lin. 2016. Journal of the Chinese Medical Association 79(2) : 65-71. Hepatoprotective effects of Solanum nigrum Against Ethanol-Induced Injury in Primary Hepatocytes and Mice with Analysis of Glutathione S-transferase A1.
22). Hui-Mei Lina, Hsien-Chun Tseng, Chau-Jong Wang, Jin-Jin Lin, Chia-Wen Loa, Fen-Pi Chou. 2008. Chemico-Biological Interactions 171(3) : 283-293. Hepatoprotective Effects of Solanum nigrum Linn Extract Against CCl4-Iduced Oxidative Damage in Rats.
23). Noel N Wannang, Joseph A Anuka, Helen O Kwanashie, Steven S Gyang, and Asa Auta. 2008. African Health Sciences 8(2): 74–79. Anti-Seizure Activity of the Aqueous Leaf Extract of Solanum nigrum linn (solanaceae) in Experimental Animals.
24). C E Stewart. 2001. Emergency Medical Services 30(7) : 56-66. Anticonvulsant Medications.
25). Sung Sik Oh, Myung Woo Choi, Mi Rim Choi, Jong Hwa Lee, Hyun Ju Yang, Yeong Jin Choi, A Young Cho, Kwang Young Lee, In O Sun. 2016. Kidney Research and Clinical Practice 35 : 252-254. Acute Interstitial Nephritis Induced by Solanum nigrum.
26). Roman Cregg, Giovanna Russo, Anthony Gubbay, Ruth Branford, and Hiroe Sato. 2013. British Journal of Pain 7(4): 189–208. Pharmacogenetics of Analgesic Drugs.
27). Chara Calhoun; Gregory A. Hall. 2020. StatPearls. Antibiotics
28). Ramya Jain, Anjali Sharma, Sanjay Gupta, Indira P Sarethy, Reema Gabrani. 2011. Alternative Medicine Review : a Journal of Clinical Therapeutic 16(1) : 78-85. Solanum Nigrum: Current Perspectives on Therapeutic Properties.
29). Zachary M. Sheffler, Leela Sharath Pillarisetty. 2020. StatPearls. Physiology, Neurotransmitters.
30). Anonym. 2020. National Institute of Mental Health. Section on Neural Function (SNF).
31). Asma Naz, Kumesha, GR Smitha, M Chandre Gowda. 2011. Journal of Medicinal and Aromatic Plant Sciences 33(4) : 435-438. Standardization of Post Harvest Practices in Makoi (Solanum nigrum L.).
32). Jennifer M. Edmonds and James A. Chweya. 1997. International Plant Genetic Resource Institutes. Black nightshades Solanum nigrum L. and Related Species.

Share