Penyakit & Kelainan

Bell’s Palsy – Penyebab – Gejala dan Pengobatan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Tinjauan Medis : dr. Angelia Chandra
Bell’s Palsy atau idiopathic facial paralysis (IFP) adalah suatu kondisi kelumpuhan (dapat bersifat ringan atau berat) pada satu sisi wajah yang terjadi secara tiba-tiba. Kondisi kelumpuhan ini muncul

Apa Itu Bell’s Palsy?

Bell’s Palsy ( img : Health Essentials Cleveland Clinic )

Bell’s palsy adalah kondisi kelumpuhan pada wajah yang terjadi karena saraf wajah mengalami cedera atau kerusakan [1,2,3,4,5,6,7,8].

Kelemahan pada otot wajah ini sebenarnya dapat terjadi secara tiba-tiba dan berlangsung sementara di mana hal ini ditandai dengan satu sisi wajah yang melorot.

Siapapun dapat mengalami Bell’s palsy karena kondisi ini dapat terjadi pada usia berapapun.

Tinjauan
Otot wajah yang lemah atau lumpuh karena gangguan pada saraf wajah disebut dengan Bell's palsy di mana hal ini ditandai dengan menurunnya salah satu sisi wajah.

Fakta Tentang Bell’s Palsy

  1. Di Amerika, kurang lebih 40.000 penduduk dapat terkena Bell’s palsy [1].
  2. Bell’s palsy dapat diderita baik oleh pria maupun wanita segala usia, hanya saja pada usia di atas 60 tahun serta di bawah 15 tahun tergolong jarang [2].
  3. Umumnya, penderita Bell’s palsy membutuhkan waktu 2-3 minggu untuk mulai pulih bahkan pada beberapa kasus penderitanya sembuh tanpa penanganan khusus [3].
  4. 70-85% penderita Bell’s palsy menunjukkan tanda-tanda pulih sepenuhnya hanya dalam waktu 2-3 bulan [3].
  5. Risiko Bell’s palsy lebih tinggi pada wanita yang sedang hamil [2].
  6. Bell’s palsy diambil dari Charles Bell seorang ahli anatomi yang pertama kali mendeskripsikan kondisi kelumpuhan wajah ini. [3,6]

Perbedaan Antara Bell’s Palsy dan Stroke

Penyakit stroke adalah kondisi gangguan suplai darah menuju otak, baik itu disebabkan oleh penyumbatan pada aliran darah atau pembuluh darah yang pecah [4].

Karena otak tidak memperoleh pasokan darah yang memadai, maka otomatis pasokan nutrisi dan oksigen pun berkurang. Hal inilah yang menyebabkan matinya sel-sel sebagian area otak.

Penderita stroke akan mengalami penurunan kemampuan kognitif, kemampuan bicara, hingga massa otot sehingga akan kesulitan untuk bicara hingga berdiri dan berjalan.

Bell’s palsy adalah suatu kondisi di mana mendadak kelemahan terjadi pada otot salah satu sisi wajah saja.

Penyebab dari kelemahan atau kelumpuhan otot pada wajah ini rata-rata adalah peradangan pada saraf wajah berasal dari otak.

Pada seseorang yang mengalami stroke, dirinya dapat menderita Bell’s palsy, namun pada penderita Bell’s palsy tidak akan mengalami kesulitan berjalan, berdiri maupun berjalan seperti yang dialami oleh penderita stroke.

Tinjauan
Bell's palsy dan stroke adalah dua kondisi berbeda di mana Bell's palsy dapat terjadi sebagai bagian dari penyakit stroke, namun tidak sebaliknya. Bila penyakit stroke berkaitan langsung dengan otak, Bell's palsy lebih kepada gangguan saraf pengendali otot wajah.

Penyebab Bell’s Palsy

Penyebab utama Bell’s palsy adalah terjadinya peradangan, pembengkakan, atau tekanan pada saraf wajah.

Jika saraf pengendali otot wajah mengalami gangguan, maka sebagai efeknya otot wajah akan melemah atau bahkan mengalami kelumpuhan.

Hanya saja, faktor yang menyebabkan kerusakan saraf wajah ini belumlah diketahui secara pasti.

Diyakini oleh para ilmuwan bahwa infeksi viruslah yang berkemungkinan mampu menyebabkan kerusakan saraf, termasuk virus herpes simplex hingga virus meningitis [6].

Ketika infeksi terjadi, sebagai reaksi dari saraf wajah, pembengkakan pun terjadi.

Saat timbul bengkak, facial canal memperoleh tekanan sehingga darah dan oksigen yang seharusnya mengalir ke sel-sel saraf terhambat dan tidak maksimal.

Berikut ini adalah beberapa jenis virus yang dikaitkan dengan penyakit Bell’s palsy [6,7,8] :

  • Rubella
  • Adenovirus
  • Coxsackievirus
  • Epstein-Barr
  • Influenza B
  • Virus cacar
  • Infeksi Cytomegalovirus
  • Herpes zoster
  • Herpes simplex

Faktor Risiko Bell’s Palsy

Bell’s palsy dapat berisiko lebih tinggi terjad pada orang-orang tertentu seperti di bawah ini [1,3,6,7,8] :

  • Seseorang dengan usia antara 15-60 tahun.
  • Seseorang yang memiliki migrain atau sakit kepala sebelah
  • Wanita dengan usia kehamilan trimester ketiga.
  • Wanita yang baru saja melahirkan dan belum mencapai 1 minggu dari waktu persalinan
  • Seseorang dengan penyakit pernafasan
  • Seseorang dengan penyakit diabetes
Tinjauan
Saraf wajah yang mengalami kerusakan atau gangguan mampu melumpuhkan otot wajah pada satu sisi saja. Gangguan pada saraf wajah dapat disebabkan oleh infeksi virus maupun cedera.

Gejala Bell’s Palsy

Saraf wajah utamanya mengatur gerakan mata dalam membuka dan menutup, mata berkedip, produksi air liur, produksi air mata, wajah mengerut, serta bibir yang tersenyum.

Maka ketika saraf ini dalam kondisi terganggu, beberapa gejala yang muncul antara lain adalah [1,3,5,6,7,8] :

  • Salah satu sisi wajah mengalami kelemahan dan cenderung lumpuh
  • Kesulitan dalam mengekspresikan wajah
  • Sakit kepala
  • Bagian depan atau belakang telinga terasa sakit
  • Perubahan pada indera perasa
  • Jumlah air mata berkurang
  • Mata iritasi karena mata cenderung lebih sering dalam kondisi terbuka dan menjadi kering
  • Salah satu sisi wajah nampak menurun atau melorot
  • Salah satu kelopak mata menutup
  • Penglihatan buram
  • Mata terasa nyeri
  • Bagian pipi atau mulut terasa kesemutan
  • Air liur keluar tanpa terkendali namun hanya dari salah satu sisi mulut saja
  • Produksi air liur berkurang
  • Sensitivitas pendengaran terhadap suara meningkat pada salah satu sisi telinga
  • Pada kasus yang jarang, saraf pada kedua sisi wajah dapat terganggu sehingga gejala dialami pada kedua sisi.
Tinjauan
Gejala utama Bell's palsy adalah menurunnya salah satu sisi wajah karena kelemahan otot, namun hal ini seringkali disertai dengan produksi air mata dan air liur yang berubah, kesemutan pada area pipi atau mulut, hingga sakit kepala maupun telinga.

Pemeriksaan Bell’s Palsy

Ketika beberapa kondisi gejala yang telah disebutkan mulai dialami, maka penting untuk memeriksakan diri ke dokter.

Umumnya, tidak ada metode diagnosa khusus untuk mendeteksi Bell’s palsy karena dokter biasanya akan memeriksa bagian wajah pasien secara langsung.

Dokter akan meminta pasien untuk misalnya mengangkat alis, menutup dan membuka mata, mengerutkan wajah, tersenyum, dan gerakan wajah lainnya untuk melihat ada tidaknya masalah pada otot wajah [7].

Karena kelumpuhan wajah tidak selalu berkaitan dengan Bell’s palsy, dokter perlu mengeliminasi berbagai kemungkinan gangguan kesehatan lain seperti tumor, penyakit Lyme, infeksi dan stroke dengan meminta pasien menempuh beberapa tes lanjutan.

Bila gejala fisik tidaklah cukup bagi dokter untuk mengonfirmasi Bell’s palsy maupun menentukan penyebabnya, maka beberapa tes lain inilah yang perlu dijalani lebih lanjut oleh pasien :

  • Tes Pemindaian : CT scan dan MRI scan adalah metode pemeriksaan yang dokter akan lakukan untuk mengetahui penyebab gejala-gejala yang dialami pasien. Dengan tes pemindaian, dokter akan mengetahui ada tidaknya keberadaan patah tulang hingga tumor [1,3,6,7,8].
  • Otoskopi Pneumatik : Pemeriksaan ini dilakukan melalui pemberian tekanan pada membran timpani untuk mengecek mobilitas atau gerakan membran tersebut sebagai reaksi [5].
  • EMG/Elektromiografi : Pemeriksaan ini perlu ditempuh oleh pasien supaya dokter dapat mendeteksi kerusakan saraf sekaligus menentukan sudah seberapa buruk kerusakan tersebut [1,5,7].

Pengobatan Bell’s Palsy

Banyak penderita Bell’s palsy yang bahkan dapat sembuh secara total tanpa penanganan atau perawatan apapun.

Namun bila pun penderita memang memerlukan perawatan tertentu, beberapa metode pengobatan secara medis dan non medis di bawah inilah yang umumnya diterapkan.

Penanganan Medis

1. Obat-obatan

Ada beberapa jenis obat yang kemungkinan besar diresepkan oleh dokter untuk mengatasi gejala Bell’s palsy seperti [1,3,5,6,7,8] :

Prednisolone adalah obat jenis steroid yang umumnya diberikan bagi pasien dengan masalah peradangan.

Dokter meresepkan obat jenis ini bertujuan agar saraf yang terganggu dapat lebih cepat pulih.

Obat ini pun biasanya mampu menjadi pencegah pelepasan zat leukotrien dan prostaglandin penyebab radang.

  • Air Mata Buatan

Bila gejala yang dialami pasien salah satunya adalah produksi air mata yang berkurang, dokter biasanya akan memberi resep obat tetes mata untuk air mata buatan [1,3,5,6].

Ada pula obat dalam bentuk salep yang diberikan bila pasien tidak dapat berkedip dengan benar.

Namun bila gejala pada mata memburuk, maka datanglah ke dokter dan meminta bantuan medis segera.

  • Antivirus

Obat antivirus umumnya dapat dikombinasi bersama dengan prednisolone walaupun tingkat efektivitasnya tidak cukup besar dalam mengatasi gejala Bell’s palsy [2,3,5,6,7,8].

Antivirus yang biasanya diresepkan adalah valacyclovir walau memang manfaat antivirus sendiri untuk Bell’s palsy masih memerlukan bukti lebih banyak.

2. Terapi Fisik

Otot-otot yang mengalami kelumpuhan memerlukan terapi atau latihan khusus untuk kembali pulih [6,7,8].

Terapis profesional akan membantu pasien untuk menjalani terapi fisik melalui olahraga dan pijatan untuk otot-otot wajah.

Terapi fisik pun adalah jenis perawatan yang dapat mencegah gejala Bell’s palsy berulang.

3. Operasi

Opsi operasi direkomendasikan dokter kepada pasien bila memang diperlukan dan obat maupun terapi fisik tidak efektif.

Operasi dekompresi atau pengurangan tekanan umumnya dianjurkan bagi pasien dengan cedera saraf wajah hingga pasien yang mengalami kehilangan pendengaran permanen [1,5,7].

Sementara itu, bagi pasien dengan masalah saraf wajah yang sudah cukup serius, operasi plastik kemungkinan besar dibutuhkan oleh pasien untuk memperbaiki otot wajahnya [1].

Penanganan Non-Medis

1. Akupuntur

Pengobatan alternatif dengan menggunakan jarum-jarum khusus yang ditempatkan pada kulit penderita Bell’s palsy layak dicoba.

Akupuntur dapat membantu menstimulasi otot dan saraf agar tekanan berkurang [1,7,8].

2. Obat Pereda Nyeri

Tanpa resep dari dokter, penderita gejala Bell’s palsy dapat menggunakan obat pereda nyeri seperti acetaminophen, ibuprofen, dan aspirin supaya gejala nyeri pada wajah atau sekitar telinga dan mata dapat berkurang [1,6,7,8].

3. Pelindung Mata

Penggunaan pelindung mata seperti kacamata ataupun penutup mata baik siang maupun malam hari bertujuan untuk memberikan perlindungan bagi mata [6,7].

Penggunaan pelindung mata ini adalah agar mata tidak mudah terkena aktivitas tangan saat berada di wajah.

Tinjauan
Penanganan Bell's palsy dapat berupa tindakan medis (obat-obatan, terapi fisik, atau operasi) serta tindakan perawatan mandiri dengan menggunakan pelindung mata, obat pereda nyeri tanpa resep dokter, atau pengobatan alternatif seperti akupuntur.

Komplikasi Bell’s Palsy

Banyak penderita Bell’s palsy yang dapat sembuh baik itu dengan pertolongan medis maupun tidak.

Walau risiko komplikasi tergolong sangat kecil, beberapa kondisi komplikasi ini pun tetap berbahaya, khususnya bila penderita mengalami Bell’s palsy yang lebih buruk.

  • Kebutaan pada sebagian atau seluruh mata, di mana hal ini dapat disebabkan oleh kekeringan pada mata karena keterbatasan gerakan mata serta kesulitan dalam kemampuan menutup mata [6,7].
  • Kerusakan saraf wajah, di mana hal ini menandakan bahwa saraf pengontrol otot wajah rusak secara permanen [6,7].
  • Synkinesis, yaitu sebuah kondisi ketika wajah bergerak abnormal tanpa disadari oleh penderitanya seperti misalnya mata menutup ketika sedang tersenyum [6].
Tinjauan
Kerusakan saraf wajah permanen, kebutaan pada sebagian atau seluruh mata, dan synkinesis adalah risiko komplikasi dari Bell's palsy walau sangat jarang kasus komplikasi Bell's palsy.

Pencegahan Bell’s Palsy

Karena tak diketahui secara pasti apa faktor penyebab gangguan pada saraf wajah yang membuat otot wajah bermasalah, maka cukup sulit dan tergolong mustahil untuk mencegah Bell’s palsy [3].

Meski sulit untuk mencegah Bell’s palsy, saat kondisi ini terjadi, sangat jarang gejala berkembang menjadi komplikasi yang lebih serius.

Kemungkinan Bell’s palsy untuk menjadi kondisi permanen atau bahkan kembali terulang saat penderita sudah sembuh itu sangat kecil.

Namun bila terjadi tanda-tanda Bell’s palsy, segera hubungi dokter untuk penanganan yang lebih cepat.

Tinjauan
Tidak ada cara mencegah Bell's palsy karena penyebab pasti kondisi ini pun belum diketahui.

1) Anonim. 2020. National Institute of Neurological Disorders and Stroke. Bell's Palsy Fact Sheet.
2) N. Julian Holland & Jonathan M. Bernstein. 2014. US National Library of Medicine National Institutes of Health. Bell's palsy.
3) Shahram Lotfipour, MD & Melissa Conrad Stöppler, MD. 2019. eMedicineHealth. Bell's Palsy.
4) Rod Brouhard, EMT-P & Claudia Chaves, MD. 2019. Verywell Health. The Difference Between Bell's Palsy and Stroke.
5) Danette C Taylor, DO, MS, FACN, Sally B Zachariah, MD, & Selim R Benbadis, MD. 2019. Medscape. Bell Palsy.
6) April Khan, Marijane Leonard & Seunggu Han, MD. 2017. Healthline. Bell’s Palsy: What Causes It and How Is It Treated?
7) Mayo Clinic Staff. 2018. Mayo Clinic. Bell's palsy.
8) Anonim. Brain Facts. Bell's Palsy.

Share