Penyakit & Kelainan

Kelainan Tulang Belakang: Penyebab, Gejala dan Cara Mengobati

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Tinjauan Medis : dr. Maria Arlene, Sp.Ak
Kelainan tulang belakang dan nyeri yang disebabkannya telah menjadi masalah medis, sosial, dan ekonomi yang besar karena angka kejadiannya yang tinggi. Adanya keterlambatan antara waktu pertama kali gejala

Apa itu Kelainan Tulang Belakang?

Tulang belakang tersusun atas 24 vertebra (ruas tulang belakang) tunggal dan 2 bagian vertebra yang berfusi (sakrum dan tulang ekor). Tulang belakang berfungsi melindungi dan mendukung korda spinal dan saraf, serta memungkinkan tubuh untuk berdiri dan membungkuk[1, 2].

Kondisi di mana tulang belakang mengalami gangguan disebut kelainan tulang belakang atau penyakit tulang belakang[3].

Sebagian besar orang dewasa mengalami sakit punggung akibat kelainan tulang belakang pada beberapa waktu dalam hidup mereka, terutama saat usia bertambah tua. Sakit punggung dapat terjadi pada pria maupun wanita dan dapat terjadi secara tiba-tiba atau pun berkembang seiring waktu akibat perubahan pada tulang belakang terkait usia[4, 5].

Kelainan tulang belakang dan sakit yang berhubungan merupakan masalah mayor dalam kesehatan dan sosial karena tingginya prevalensi dan jumlah penderita yang terus bertambah[6].

Penyebab Kelainan Tulang Belakang

Kelainan tulang belakang memiliki berbagai penyebab yang bergantung pada jenis kondisi yang berkaitan. Untuk beberapa kondisi, penyebabnya tidak diketahui[1].

Penyebab umum kelainan tulang belakang meliputi[1, 7]:

  • Cedera karena kecelakaan atau jatuh
  • Kelainan kongenital (bawaan sejak lahir)
  • Inflamasi
  • Infeksi
  • Kelainan turunan
  • Keausan degeneratif yang disebabkan oleh penuaan
  • Kondisi kesehatan terkait lainnya

Faktor Risiko Kelainan Tulang Belakang

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kelainan tulang belakang, meliputi[1]:

  • Kelebihan berat badan atau obesitas
  • Teknik mengangkat yang tidak baik
  • Nutrisi dan kebiasaan gaya hidup seperti kurang aktivitas fisik, konsumsi kalsium rendah, atau merokok
  • Kondisi lain seperti osteoartritis, artritis reumatoid, atau penyakit tiroid
  • Postur atau posisi tubuh yang buruk
  • Aktivitas berat berulang

Gejala Kelainan Tulang Belakang

Gejala yang timbul bergantung pada jenis kelainan tulang belakang yang dialami dan sering kali mempengaruhi bagian lain tubuh, bergantung pada bagian tulang belakang yang terdampak[1].

Gejala umum kelainan tulang belakang meliputi[1]:

  • Bahu membulat atau punggung yang abnormal
  • Sakit pada punggung atau leher yang dapat terasa tajam dan menusuk, sakit yang samar, atau sensasi terbakar
  • Disfungsi usus atau kandung kemih
  • Mual dan/atau muntah
  • Sakit menjalar ke lengan atau kaki
  • Kekakuan atau kesesakan
  • Penampilan tidak seimbang, seperti satu bahu atau pinggul menjadi lebih tinggi dari yang lainnya
  • Kelemahan, mati rasa, atau kesemutan pada tangan atau kaki

Jenis Kelainan Tulang Belakang

Berbagai kondisi dapat mempengaruhi pada berbagai bagian tulang belakang mulai dari leher hingga bawah punggung[1].

Berikut beberapa jenis kelainan tulang belakang yang umum terjadi:

Osteoartritis pada Tulang Belakang

Osteoartritis disebut juga sebagai penyakit sendi degeneratif. Kondisi ini ditandai dengan cushion kartilago (tulang rawan) pelindung pada bagian puncak tulang mengalami degenerasi, atau rusak.

Osteoartritis pada tulang belakang ialah kerusakan kartilago pada sendi dan cakram pada leher dan punggung bagian bawah[8].

Umumnya, osteoartritis disebabkan oleh faktor penuaan, namun dapat juga disebabkan oleh cedera pada sendi dan kecacatan genetik terkait kartilago[8].

Gejala yang ditimbulkan osteoartritis meliputi kekakuan atau rasa sakit pada leher atau punggung. Kondisi ini juga dapat menyebabkan kelemahan atau mati rasa pada lengan atau kaki jika kondisi memburuk hingga mempengaruhi saraf tulang belakang[8].

Pada populasi berusia kurang dari 45 tahun, osteoartritis lebih umum di antara pria. Sedangkan pada usia lebih dari 45 tahun, osteoartritis lebih umum di antara wanita.

Kondisi ini lebih umum pada orang-orang yang mengalami kelebihan berat badan dan orang yang melakukan pekerjaan atau olahraga yang menyebabkan tekanan berulang pada sendi tertentu[8].

Spondilitis Ankilosa

Spondilitis ankilosa merupakan penyakit kronis peradangan yang ditandai dengan sakit pada sendi dan kekakuan progresif pada bagian serviks (leher), toraks (tengah punggung), lumbar (bawah punggung) dan sendi sakroiliaka (sakrum)[9].

Kondisi ini ditandai dengan terjadinya peradangan pada bagian penempelan tendon dan ligamen ke tulang atau kapsul sendi. Onset penyakit biasanya terlihat pada usia antara 15 hingga 45 tahun.

Gejala awal dapat menyerupai artritis, yaitu sakit pada punggung bawah dan pantat dan kekakuan yang bertambah buruk pada pagi dan malam hari[9].

Saat penyakit berprogres, mekanisme pertahanan tubuh memproduksi tulang baru (osifikasi). Sehingga dapat tumbuh tulang baru di antara dan di sekitar vertebra, menyebabkan fusi abnormal dan peningkatan risiko fraktur tulang belakang[9].

Penyakit Cakram Degeneratif

Penyakit cakram degeneratif (degenerative disk disease) sebenarnya bukan suatu penyakit, melainkan kondisi di mana muncul rasa sakit akibat cakram yang usang/rusak[10].

Cakram bersifat elastis di antara vertebra berperan penting dalam memungkinkan gerak membungkuk dan memutar. Seiring proses penuaan, cakram mulai usang sehingga dapat menjadi benar-benar rusak pada suatu saat. [10]

Kondisi ini menyebabkan tulang saling bergesekan, mengakibatkan rasa sakit dan kekakuan. Pada kebanyakan orang, degenerasi cakram terjadi setelah usia 40 tahun, tapi tidak selalu menimbulkan rasa sakit[10].

Beberapa faktor penyebab meliputi[10]:

  • Mengeringnya cakram karena penuaan
  • Terjadinya sobek pada bagian terluar cakram akibat aktivitas sehari-hari dan olahraga
  • Cedera

Gejala yang ditimbulkan kondisi ini meliputi[10]:

  • Rasa sakit sedang hingga berat, biasanya mempengaruhi bagian leher dan punggung bagian bawah.
  • Rasa sakit dapat menjalar ke lengan dan tangan serta ke pantat dan paha
  • Sakit bertambah buruk ketika duduk atau setelah membungkuk, mengangkat benda, atau memutar
  • Sakit yang datang dan pergi
  • Menyebabkan kelemahan pada otot kaki atau foot drop, yang dapat menjadi tanda kerusakan akar saraf

Hernia Nukleus Pulposus

Hernia nukleus pulposus (HNP) atau herniated disc ialah kondisi di mana terdapat fragmen dari nukelus cakram/disc yang terdorong keluar dari anulus, ke dalam kanal spinal melalui suatu sobekan atau pecah dalam anulus. Cakram yang mengalami hernia biasanya berada pada fase awal degenerasi[11].

Kanal tulang belakang memiliki ruang yang sempit, tidak cukup untuk saraf spinal dan fragmen cakram hernia yang salah tempat. Akibatnya, cakram menekan saraf spinal sehingga menimbulkan rasa sakit yang sering kali berat.

Kondisi ini dapat terjadi pada semua bagian tulang belakang, tapi lebih umum pada punggung bagian bawah (tulang belakang lumbal) dan leher (tulang belakang serviks)[11].

HNP disebut juga sebagai saraf terjepit dan dapat disebabkan oleh cedera atau tekanan berlebihan. Secara alami, cakram mengalami degenerasi seiring proses penuaan, sehingga pada orang berusia lanjut, tegangan ringan atau gerakan memutar dapat menyebabkan pecahnya cakram[11].

Spinal Stenosis

Spinal stenosis ialah penyempitan ruang di dalam tulang belakang, yang mana dapat menyebabkan tekanan pada saraf yang melalui sepanjang tulang belakang. Spinal stenosis paling sering terjadi pada punggung bagian bawah dan leher[12].

Kondisi ini umumnya disebabkan oleh perubahan akibat keusangan dalam tulang belakang yang berkaitan dengan osteoartritis. Pasien dengan spinal stenosis dapat tidak mengalami gejala. Spinal stenosis biasanya berprogres bertahap dan makin buruk seiring waktu[12].

Gejala yang ditimbulkan meliputi mati rasa, kelemahan otot, kesulitan berjalan atau menjaga keseimbangan, sakit pada bagian yang terdampak, sakit atau kram kaki[12].

Osteoporosis

Osteoporosis adalah penyakit yang secara perlahan dan diam-diam melemahkan tulang dan menjadi rapuh. Seiring progres penyakit, tulang dapat menjadi sangat rapuh sehingga jatuh atau tekanan ringan seperti membungkuk atau batuk dapat menyebabkan fraktur[13].

Tulang merupakan jaringan hidup yang secara terus menerus dirombak dan digantikan. Osteoporosis terjadi ketika pembentukan tulang baru tidak dapat menyamai perombakan tulang lama[13].

Biasanya tidak terdapat gejala pada fase awal osteoporosis. Akan tetapi, setelah tulang menjadi lemah akibat osteoporosis, pasien dapat mengalami gejala seperti sakit punggung, penurunan berat badan seiring waktu, postur membungkuk, dan tulang yang dapat patah dengan lebih mudah[13].

Kondisi ini dapat mempengaruhi pria maupun wanita, tapi wanita memiliki risiko lebih tinggi. Selain itu, risiko juga meningkat bersama dengan usia, riwayat osteoporosis dalam keluarga, dan orang dengan rangka tubuh kecil[13].

Deformitas Tulang Belakang

Tulang belakang normal jika dari tampak samping terlihat berdiri tegak dan sedikit melengkung ke dalam dekat bagian puncak, kemudian melengkung ke arah luar, kemudian ke arah dalam lagi pada bagian dekat pantat. [14]

Bentuk menyerupai “S” ini memungkinkan tulang belakang untuk memberikan dukungan dan keseimbangan pada tubuh, serta mengoptimalkan kegiatan sehari-hari[14].

Tulang belakang yang mengalami deformitas (kelainan bentuk) terlihat berbeda jika dilihat dari tampak samping. Deformitas tulang belakang dapat dibedakan menjadi:[14]

  • Lordosis (membungkuk ke belakang)
  • Kifosis (membungkuk ke depan)
  • Koliosis (membelok ke kanan dan kiri)

Deformitas tulang belakang dapat disebabkan berbagai hal, meliputi kerusakan vertebra atau cakram intervertebral dan proses penyakit seperti osteoporosis. Kondisi ini juga dapat bersifat kongenital atau bawaan lahir akibat kesalahan fungsi gen saat perkembangan embrio[14].

Kondisi ini dapat terjadi pada pria maupun wanita. Orang berusia lanjut memiliki risiko yang lebih besar untuk mengembangkan deformitas tulang belakang akibat adanya kondisi medis atau faktor penuaan[14].

Diagnosis Kelainan Tulang Belakang

Untuk mendiagnosis kelainan tulang belakang dokter perlu melakukan pemeriksaan fisik, mengecek riwayat kesehatan pasien dan keluarga, serta menanyakan mengenai gejala yang dialami pasien. [1]

Jika pasien diduga mengalami cedera saraf, dokter dapat melanjutkan dengan pemeriksaan neurologis. Bergantung dari kasus masing-masing pasien, dokter dapat menganjurkan satu atau beberapa tes berikut[1]:

  • MRI scan

Magnetic resonance imaging (MRI) menggunakan gelombang radio dan magnet kuat untuk menghasilkan gambar tulang belakang mendetail. MRI dapat digunakan untuk mendeteksi cedera dan kelainan pada jaringan-jaringan lunak seperti otot, ligamen, tendon, korda spinal, dan saraf.

  • CT scan

Computed tomography (CT) menggunakan X-ray khusus dengan atau tanpa agen kontras untuk menghasilkan gambar 3D penampang tulang belakang. CT menghasilkan gambar yang lebih detail dibandingkan X-ray biasa untuk pemeriksaan cedera atau kelainan pada tulang.

  • X-ray

X-ray dapat digunakan pada leher atau bagian lain pada punggung untuk mengecek masalah tulang seperti fraktur, cedera lainnya, dan kelainan kronis.

Jika pasien diduga mengalami kanker, dokter bedah saraf perlu mengambil sejumlah sampel jaringan untuk dianalisis dengan mikroskop.

  • Elektromiografi (EMG)

EMG digunakan untuk memeriksa aktivitas elektrik yang dihasilkan oleh otot dan saraf. Melalui tes ini dokter dapat mengamati bagaimana bagian tubuh tertentu bereaksi terhadap rangsangan.

Pengobatan Kelainan Tulang Belakang

Pengobatan yang diberikan bergantung pada kondisi spesifik pasien. Berikut beberapa metode penanganan dan pengobatan untuk kelainan tulang belakang[1, 14]:

  • Penguat punggung, digunakan untuk menahan tulang belakang tetap pada posisi yang semestinya.
  • Terapi panas atau terapi dingin untuk meredakan rasa sakit pada cedera.
  • Injeksi kortikosteroid untuk mengurangi inflamasi pada bagian yang terdampak
  • Pemberian obat anti peradangan, pereda rasa sakit, atau pelemas otot
  • Terapi fisik dan pengubahan gaya hidup dengan meningkatkan aktivitas fisik untuk memperkuat otot-otot punggung
  • Prosedur bedah/operasi untuk menangani fraktur, menghilangkan cakram yang rusak, vertebra yang bergabung tidak sejajar, membuka kanal spinalis, atau untuk memperbaiki saraf

Pencegahan Kelainan Tulang Belakang

Untuk mencegah kelainan tulang belakang, kita perlu membiasakan gaya hidup sehat, meliputi[13, 15, 16]:

  • Mengkonsumsi makanan bergizi

Gizi yang baik penting untuk menjaga kesehatan tubuh dan membantu mencegah kelainan terjadi pada tulang belakang. Beberapa zat gizi yang perlu diperhatikan untuk kesehatan tulang yaitu protein, kalsium, dan vitamin D.

Protein merupakan bahan penyusun sel yang penting, termasuk sel-sel tulang. Protein dapat diperoleh dengan mengkonsumsi daging, telur, produk susu, kedelai, dan kacang-kacangan.

Kalsium diperlukan untuk menjaga struktur tulang. Pria dan wanita di antara usia 18 dan 50 tahun memerlukan 1.000 mg kalsium per hari. Jumlah kebutuhan kalsium meningkat menjadi 1.200 mg per hari saat wanita berusia 50 tahun dan pada pria 70 tahun.

Makanan yang merupakan sumber kalsium meliputi produk susu rendah lemak, sayuran berdaun hijau tua, salmon atau sarden kalengan, olahan kedelai (tahu, tempe, dsb), serta sereal dengan penambahan kalsium.

Vitamin D diperlukan untuk membantu tubuh mengabsorpsi kalsium dan meningkatkan kesehatan tulang. Vitamin D dapat diperoleh dengan terpapar sinar matahari. Namun pada orang yang tidak mendapat cukup paparan sinar matahari, dapat diperoleh dengan mengkonsumsi suplemen.

Berat badan yang sehat berbeda bagi setiap orang. Untuk mengecek apaka berat badan kita termasuk sehat dapat digunakan pengukuran BMI (body mass index), dengan membandingkan berat badan dan tinggi. BMI yang ideal sebesar 18,5 hingga 24,9.

Berat badan yang kurang dari normal meningkatkan risiko kerusakan tulang dan fraktur. Sementara berat badan berlebih dapat memberikan tekanan lebih banyak pada tulang belakang dan disk.

  • Berolahraga secara teratur

Olahraga dapat membantu membangun tulang yang kuat dan memperlambat proses perombakan tulang. Olahraga  yang dianjurkan meliputi kombinasi dari latihan dengan menahan berat dan latihan keseimbangan.

Beberapa olahraga menahan berat yang dapat dilakukan ialah berjalan, jogging, berlari, menaiki tangga, lompat tali. Jenis olahraga yang melatih keseimbangan seperti tai chi, dapat menurunkan risiko terjatuh.

  • Menjaga postur tubuh yang baik

Postur tubuh yang baik menurunkan tekanan pada tulang belakang dan disk. Dianjurkan untuk membiasakan menjaga punggung lurus dan tegap lurus, terutama ketika duduk untuk waktu lama.

Ketika mengangkat beda berat, sebaiknya dilakukan dengan hati-hati dan sebisa mungkin meletakkan berat pada kaki bukan punggung.

Merokok dapat mengganggu aliran darah kaya oksigen yang menutrisi tulang, otot dan sendi. Merokok juga mempengaruhi kemampuan tubuh untuk mengabsorpsi kalsium sehingga dapat menyebabkan densitas tulang rendah dan tulang menjadi lebih lemah.

Selain itu, nikotin yang terkandung di dalam rokok memperlambat produksi sel-sel pembentuk tulang yang penting untuk menjaga kesehatan tulang. Merokok juga diduga menyebabkan perombakan estrogen lebih cepat. Estrogen berperan penting dalam menjaga kesehatan tulang.

1. Anonim. Spine Disorders. University of Texas Southwestern Medical Center; 2020.
2. Jason M. Highsmith, MD. Spinal Anatomy Center. Spine Universe; 2020.
3. Anonim. Understanding Spinal Disorders. SpineOne; 2021.
4. Anonim. Spine Disorders and Back Pain. The University of Texas Health Science Center at Houston; 2020.
5. Anonim. What are the Most Common Spine Conditions? Baylor Scott & White Orthopedic and Spine Hospital Arlington; 2020.
6. Filip Raciborski, Robert Gasik, and Anna Kłak. Disorders of the Spine. A Major Health and Social Problems. Reumatologia; 2016.
7. Anonim. Spinal Conditions. Advanced to Neurosurgery Asssociates; 2020.
8. Anonim, reviewed by David Zelman, MD. Spinal Osteoarthritis (Degenerative Arthritis of the Spine). WebMD; 2019.
9. Eeric Truumees, MD. Ankylosing Spondylitis: A Type of Spinal Inflammatory Arthritis. Spine Universe; 2019.
10. Anonim. Degenerative Disc Disease. Arthritis Foundation; 2020.
11. Anonim. Herniated Disc. America Association of Neurosurgical Surgeons; 2021.
12. Anonim. Spinal Stenosis. Mayo Clinic; 2020.
13. Anonim. Osteoporosis. Mayo Clinic; 2019.
14. Elizabeth Hanes, RN, reviewed by William C.Lloyd III, MD, FACS. Spinal Deformity. Health Grades; 2020.
15. Judy Germany. Bad to the Bones. Rush University Medical Center; 2021.
16. Yvette Brazier, reviewed by Daniel Bubnis, MS, NASM-CPT, NASE level II-CSS. How Much Should I Weigh for My Height and Age? Medical News Today; 2020.

Share