Ankylosing Spondylitis : Penyebab – Gejala dan Penanganan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by redaction team, read our quality control guidelance for more info

Apa Itu Ankylosing Spondylitis?

Ankylosing Spondylitis ( img : Health Direct )

Ankylosing spondylitis merupakan sebuah kondisi arthritis atau radang sendi yang terjadi pada bagian punggung sehingga penderita akan mengalami kekakuan dan rasa nyeri di punggung [1,2,3,4,5,6,7].

Radang pada sendi kronis ini menyebabkan peleburan tulang-tulang kecil di tulang belakang sehingga tulang punggung terasa kaku, nyeri dan hilang fleksibilitasnya.

Jika tidak segera ditangani, peradangan sendi ini akan membuat gerakan punggung terbatas dan membuat penderitanya bungkuk.

Tinjauan
Ankylosing spondylitis adalah sejenis peradangan sendi namun terjadi pada bagian punggung (umumnya dari leher ke punggung) yang ditandai dengan rasa kaku dan sakit di area tersebut.

Fakta Tentang Ankylosing Spondylitis

  1. Ankylosing spondylitis umumnya terjadi pada orang-orang yang usianya di bawah 40 tahun [1].
  2. Kurang lebih 80% penderita dengan usia kurang dari 30 tahun mengalami gejala ankylosing spondylitis pertama kali [1].
  3. Pria memiliki risiko lebih tinggi menderita ankylosing spondylitis [1,7].
  4. 40% kasus ankylosing spondylitis memengaruhi mata sehingga memicu iritis akut atau sejenis peradangan mata [7].

Penyebab Ankylosing Spondylitis

Penyebab pasti ankylosing spondylitis belum diketahui hingga kini, namun kelainan gen HLA-B27 diduga berkaitan erat dengan timbulnya ankylosing spondylitis [3].

Menurut hasil penelitian, 9 dari 10 penderita ankylosing spondylitis memiliki gen dalam tubuhnya yang bernama HLA-B27 atau human leukocyte antigen B27.

Namun, orang-orang dengan kelainan gen tersebut bukanlah jaminan mereka pasti akan menderita ankylosing spondylitis.

Kemungkinan seseorang dengan gen HLA-B27 untuk mengalami ankylosing spondylitis pun sangat kecil sehingga diperlukan pemeriksaan genetik.

Selain dugaan kelainan gen HLA-B27, seperti halnya pada gangguan kesehatan secara umum, ada beberapa faktor risiko yang perlu diwaspadai seperti [2] :

  • Faktor Usia : Umumnya, usia remaja dan usia dewasa muda (30 tahun ke atas) adalah yang paling rentan menderita ankylosing spondylitis.
  • Faktor Jenis Kelamin : Pria memiliki tingkat risiko lebih tinggi menderita ankylosing spondylitis daripada wanita, dan hal ini menandakan bahwa tidak menutup kemungkinan bagi wanita untuk juga dapat mengalami ankylosing spondylitis.
  • Faktor Keturunan : Bila seseorang memiliki orangtua dengan riwayat ankylosing spondylitis atau bahkan sedang menderita kondisi medis ini, ia memiliki risiko cukup tinggi untuk menderita kondisi yang sama.
Tinjauan
Kelainan gen HLA-B27 menjadi salah satu dugaan penyebab ankylosing spondylitis, namun beberapa faktor seperti faktor keturunan, faktor jenis kelamin, hingga faktor usia turut menjadi peningkat risiko ankylosing spondylitis.

Gejala Ankylosing Spondylitis

Ada beberapa gejala awal yang umumnya timbul saat seseorang mengalami ankylosing spondylitis [1,2,3,5,6] :

  • Punggung bagian bawah terasa kaku dan sakit.
  • Rasa sakit yang dirasakan pada punggung bawah lebih sering terjadi di pagi hari setidaknya selama 30 menit.
  • Rasa sakit akan hilang setelah beraktivitas, namun keesokan paginya akan kembali timbul.
  • Rasa sakit timbul pada salah satu atau kedua sisi bokong hingga terkadang di bagian belakang paha.
  • Rasa sakit sampai menyebabkan gangguan tidur karena hampir setiap malam penderita akan terbangun karena rasa sakit ini.

Keluhan-keluhan yang dirasakan umumnya hanya dianggap sebagai sakit punggung biasa sehingga tidak segera ditangani dengan tepat.

Sakit punggung biasa dengan ankylosing spondylitis itu berbeda, karena sakit pada punggung biasa umumnya hanya terasa sakit sebenar, namun rasa sakit akibat ankylosing spondylitis dapat bertahan lebih lama.

Berikut ini adalah beberapa kemungkinan gejala lain yang dapat timbul  dan perlu diwaspadai [2] :

  • Timbul rasa nyeri pada jari kaki.
  • Timbul rasa nyeri pada bagian tumit.
  • Kelelahan (yang dapat berasal dari sulit tidur setiap malam karena rasa sakit yang mengganggu).
  • Peradangan pada bagian mata
  • Ketidaknyamanan saat melihat cahaya terang.
  • Kecemasan
  • Depresi
  • Peradangan usus (biasanya ditandai dengan diare selama 2 minggu lebih).
  • Dada terasa sesak dan nyeri.
  • Sulit bernafas, bahkan ketika beraktivitas ringan.
  • Rasa nyeri pada area dada akan sangat terasa ketika bersin ataupun batuk.
  • Dasar panggul akan terasa lebih lembut sehingga terasa tidak nyaman saat harus duduk di kursi atau permukaan yang keras.
Tinjauan
Punggung bawah yang terasa sakit adalah gejala utama ankylosing spondylitis, namun hal ini juga dapat diikuti dengan rasa sakit di bagian tubuh lainnya. Nyeri pada dada, tumit, jari kaki, hingga masalah pencernaan dan kecemasan dapat menjadi gejala lain dari ankylosing spondylitis.

Pemeriksaan Ankylosing Spondylitis

Ketika gejala ankylosing spondylitis mulai timbul dan cukup menjadi penghambat bagi aktivitas sehari-hari, segera periksakan ke dokter.

Berikut ini adalah beberapa metode diagnosa yang dokter terapkan bagi penderita ankylosing spondylitis.

  • Pemeriksaan Fisik dan Riwayat Medis

Dokter akan lebih dulu mengecek kesehatan fisik maupun gejala fisik yang terjadi pada penderita, termasuk mengetahui di mana letak rasa nyeri yang dirasakan, sejak kapan nyeri itu timbul, apa saja gejala yang dialami selain nyeri pada punggung bawah, serta sudah berapa lama gejala ini dialami [2,3,4].

Dokter perlu tahu berapa lama gejala nyeri dirasakan oleh pasien untuk dapat membedakannya dari kondisi sakit punggung biasa.

Karena pada kondisi sakit punggung biasa, istirahat cukup dapat meredakan rasa nyeri dan memulihkan kembali kondisi tubuh.

  • Tes Darah

Bila dokter mencurigai adanya kondisi ankylosing spondylitis setelah pemeriksaan fisik dan riwayat medis pasien, maka untuk memastikannya tes darah perlu ditempuh oleh pasien [2,3,4].

Tujuan penempuhan tes darah adalah untuk mengetahui adanya tanda-tanda peradangan di dalam tubh, khususnya pada tulang belakang dan sendi.

Bila dari hasil pemeriksaan darah dokter menyatakan bahwa pasien benar-benar mengalami peradangan, biasanya dokter akan merujukkan pasien ke dokter ahli reumatologi.

Dokter spesialis reumatologi lebih dapat membantu khususnya bila pasien mengalami gangguan pada tulang, otot, sendi serta jaringan lunak.

  • Tes Pemindaian

Setelah dirujuk ke dokter ahli reumatologi, umumnya dokter akan memeriksa panggul dan tulang belakang pasien melalui rangkaian tes seperti ultrasound, MRI dan CT scan [1,2,3,4].

Setelahnya, dokter kemungkinan masih akan meminta pasien untuk menempuh tes darah lebih lanjut.

  • Tes Genetik

Pemeriksaan genetik diperlukan apabila dokter ingin mendeteksi adanya kelainan gen HLA-B27 di dalam tubuh pasien [3,4].

Namun, tes genetik ini bukanlah metode diagnosa wajib dan sepenuhnya dapat diandalkan.

Ini karena tak semua penderita ankylosing spondylitis memiliki kelainan gen dan tak semua pemilik kelainan gen pasti menderita ankylosing spondylitis.

Tinjauan
Pemeriksaan fisik dan riwayat medis, tes darah, dan tes pemindaian adalah yang paling diperlukan dalam mendiagnosa ankylosing spondylitis. Namun bila dirasa perlu dan terdapat kecurigaan bahwa ankylosing spondylitis disebabkan oleh kelainan gen, maka tes genetik perlu ditempuh.

Pengobatan Ankylosing Spondylitis

Ankylosing spondylitis dapat ditangani dengan sejumlah metode, seperti terapi menggunakan obat-obatan maupun fisioterapi serta olahraga.

Namun bila kondisi sudah terlampau serius sehingga tak dapat ditangani dengan metode non-operasi, operasi menjadi opsi terakhir.

1. Obat-obatan

Ada beberapa jenis obat yang dapat menangani gejala ankylosing spondylitis, yaitu antara lain [1,2,3,4] :

  • Obat pereda nyeri / obat antiinflamasi nonsteroid, seperti diclofenac, meloxicam, serta ibuprofen.
  • Steroid, yang biasanya diberikan kepada pasien melalui metode injeksi ke bagian yang mengalami peradangan. Namun selain injeksi, ada pula steroid dalam bentuk tablet yang dapat diminum, yaitu prednisolone untuk meredakan kaku dan nyeri.
  • DMARD (disease-modifying anti-rheumatic drugs), seperti methotrexate dan sulfasalazine yang umumnya membantu meringankan rasa nyeri dan peradangan di bagian kaki serta lengan. Hanya saja, obat jenis ini kurang begitu efektif dalam mengatasi gejala di bagian tulang belakang.
  • Anti-TNF (anti-tumour necrosis factor), yaitu obat yang akan diberikan dalam bentuk suntikan bila obat pereda nyeri tidak efektif. Tujuan pemberian obat ini adalah untuk mengurangi peradangan pada sendi, namun waspadai efek sampingnya yang mampu mengganggu sistem kekebalan tubuh.

2. Fisioterapi

Terapi fisik atau fisioterapi sangat diperlukan oleh rata-rata penderita ankylosing spondylitis di mana selama menjalani prosedur ini pasien akan dibantu oleh terapis terpercaya untuk memulihkan gerakan sendi dan tulang [1,2,3,4,5].

Program latihan fisik ini pun sangat berguna dalam meningkatkan kekuatan otot pasien, termasuk bagian leher dan punggung.

3. Operasi

Kebanyakan penderita ankylosing spondylitis tidak sampai harus menjalani prosedur operasi [2,3,4,5,7].

Namun langkah ini direkomendasikan oleh dokter apabila pasien memang memerlukan penggantian lutut atau pinggul.

Jika kondisi persendian sudah sangat parah dan tak lagi dapat ditangani dengan obat serta fisioterapi, prosedur operasi adalah yang terbaik.

Tinjauan
Obat-obatan, fisioterapi hingga operasi adalah metode penanganan untuk para penderita ankylosing spondylitis. Namun, operasi ditempuh hanya ketika terjadi kerusakan sendi lutut atau pinggul untuk menggantinya.

Komplikasi Ankylosing Spondylitis

Ankylosing spondylitis dapat memengaruhi fungsi organ tubuh lain, apabila tidak mendapatkan penanganan yang tepat dan cepat.

Beberapa risiko komplikasi inilah yang dapat mengganggu aktivitas harian [1,3].

  • Kerusakan Sendi : Ankylosing spondylitis dapat memicu peradangan pada sendi lutut dan pinggul yang jika menjadi lebih serius, maka kedua bagian tubuh ini tak akan dapat digerakkan lagi. Inilah yang menjadi alasan mengapa opsi operasi direkomendasikan oleh dokter untuk mengganti sendi yang rusak dengan sendi buatan.
  • Fleksibilitas Tubuh Berkurang : Pada bagian punggung atau tulang belakang, gerakan akan semakin terbatas karena penurunan kadar fleksibilitas tubuh. Walau pada banyak kasus komplikasi ini tidak terlalu serius, ada kemungkinan operasi dibutuhkan oleh beberapa penderita.
  • Amiloidosis : Ankylosing spondylitis dapat menyebabkan komplikasi seperti amiloidosis, yaitu kondisi protein amiloid yang menumpuk pada suatu jaringan atau organ tubuh. Hal ini biasanya ditandai dengan penurunan berat badan, kelelahan tanpa sebab yang jelas, edema, sesak nafas, serta kesemutan/mati rasa pada kaki dan tangan.
  • Sindrom Cauda Equina : Sindrom ini terjadi ketika akar-akar saraf pada saraf tulang belakang bagian bawah mendapatkan tekanan yang ditandai dengan kelemahan pada kaki, nyeri pada bokong dan punggung bawah, serta inkontinensi urine. Meski demikian, komplikasi satu ini tergolong jarang terjadi pada penderita ankylosing spondylitis.
  • Penyakit Kardiovaskular : Ankylosing spondylitis pun mampu meningkatkan risiko komplikasi seperti gangguan pada sistem kardiovaskular penderita. Risiko komplikasi ini makin tinggi ketika penderita memiliki kebiasaan merokok, punya masalah dengan obesitas, dan jarang berolahraga.
  • Osteoporosis hingga Patah Tulang : Pengeroposan tulang hingga patah tulang dapat terjadi pada tulang belakang di mana kondisi ini menjadi salah satu komplikasi ankylosing spondylitis yang mengerikan. Pada penderita dengan komplikasi seperti osteoporosis, obat-obatan khusus untuk memperkuat tulang perlu digunakan.
  • Iritis : Iritis adalah uveitis anterior, yaitu kondisi ketika iris mata mengalami peradangan yang ditandai dengan mata memerah dan membengkak. Selain itu, iritis dapat menyebabkan mata lebih sensitif terhadap cahaya dan penglihatan mengabur.
Tinjauan
Ankylosing spondylitis yang semula terjadi pada bagian punggung dapat berkomplikasi lebih serius. Sejumlah risiko komplikasi kesehatan seperti gangguan tulang, gangguan mata, kerusakan sendi, dan gangguan kardiovaskular dapat terjadi.

Pencegahan Ankylosing Spondylitis

Karena penyebab pasti dari ankylosing spondylitis belum diketahui, maka tidak ada cara pencegahan khusus agar kondisi ini tidak terjadi sama sekali [4].

Hanya saja, menjaga pola hidup tetap sehat dengan rajin berolahraga mampu meminimalisir gangguan kesehatan sendi serta tulang [1].

Pola makan sehat, menghindari aktivitas merokok, serta beristirahat dengan cukup setiap hari adalah cara menjaga kesehatan sendi dan cara supaya risiko ankylosing spondylitis dapat berkurang.

Tinjauan
Penyebab ankylosing spondylitis tidaklah diketahui, maka tidak terdapat cara untuk mencegahnya. Namun dengan pola hidup yang sehat, kesehatan sendi dan tulang baru akan dapat terjaga dengan baik.
fbWhatsappTwitterLinkedIn

Add Comment