Penyakit & Kelainan

Polimiositis : Penyebab – Gejala dan Pengobatan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Apa Itu Polimiositis?

Polimiositis merupakan kondisi radang yang terjadi pada beberapa otot dengan tanda utama otot melemah [1,2,5,13].

Berbeda dari arthritis yang hanya berpengaruh pada fungsi sendi tertentu pada tubuh, polimiositis berdampak pada fungsi otot seluruh tubuh, seperti pinggul, paha, dan bahu.

Polimiositis dapat ditangani, namun tujuan perawatan hanya meningkatkan fungsi serta kekuatan otot saja bukan untuk menyembuhkan.

Hingga kini belum diketahui cara menyembuhkan polimiositis sama sekali.

Tinjauan
Radang yang terjadi pada sejumlah otot ditandai dengan kelemahan pada otot-otot tersebut dikenal dengan istilah polimiositis di mana hingga kini belum diketahui cara menyembuhkannya.

Fakta Tentang Polimiositis

  1. Prevalensi polimiositis diperkirakan 5-22 per 100.000 populasi yang kemungkinan akan terus bertambah per tahun [1].
  2. Setiap tahunnya, terdapat 1,2-19 juta orang yang memiliki risiko terkena polimiositis [1].
  3. Polimiositis lebih berisiko dialami orang-orang dengan usia 50-60 tahun dan tergolong langkah pada usia anak [1].
  4. Polimiositis pun lebih berpotensi dialami oleh wanita daripada pria dengan perbandingan kasus 2:1 [1,13].
  5. Di Indonesia sendiri, data prevalensi polimiositis belum tersedia secara spesifik.

Penyebab Polimiositis

Penyebab pasti polimiositis belum diketahui sampai saat ini, namun diketahui bahwa penyakit ini memiliki tanda-tanda yang menyerupai kondisi penyakit autoimun [1,2,5].

Kondisi kelainan autoimun adalah ketika sistem imun atau sistem daya tahan tubuh justru menyerang jaringan otot sehat karena kekeliruan.

Karena sistem imun keliru menyerang jaringan otot sehat, radang pun kemudian terjadi; meski demikian, hal ini masih memerlukan penelitian lebih jauh untuk pembuktian.

Selain berkaitan dengan penyakit autoimun, faktor lainnya yang diduga menyebabkan polimiositis adalah faktor keturunan.

Tak hanya itu, seseorang dengan beberapa kondisi berikut juga memiliki risiko lebih tinggi terkena polimiositis [1,3,4,5] :

  • Artritis reumatoid
  • Sindrom Sjogren
  • Skleroderma
  • Penyakit Lupus
Tinjauan
Hingga kini belum diketahui penyebab pasti polimiositis, namun penyakit autoimun menjadi salah satu kondisi yang mampu meningkatkan risikonya. Seorang penderita penyakit Lupus, sindrom Sjogren, artritis reumatoid atau skleroderma juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami polimiositis.

Gejala Polimiositis

Polimiositis dapat terjadi dengan menimbulkan sejumlah keluhan gejala yang umumnya langsung dirasakan pada bagian otot.

Beberapa bagian tubuh yang dapat terserang adalah panggul, paha, punggung, bahu dan leher.

Gejala-gejala yang sangat memungkinkan terjadi antara lain [1,2] :

  • Otot nyeri dan membengkak.
  • Otot melemah pada sisi kanan dan kiri tubuh.
  • Otot bagian atas tubuh adalah yang paling berpotensi mengalami kelemahan.
  • Nyeri pada sendi.
  • Sulit menelan.
  • Berat badan turun.
  • Demam
  • Disfonia
  • Tubuh cepat lelah.
  • Sesak nafas yang dapat disebabkan oleh masalah di paru dan jantung.
  • Fenomena Raynaud, aliran darah terganggu yang menyebabkan jari kaki dan tangan memucat dan dingin.
  • Kebiruan atau kemerahan pada kulit (dermatomiosis).

Kapan sebaiknya memeriksakan ke dokter?

Jika gejala-gejala yang tidak wajar mulai terjadi seperti yang telah disebutkan, segera ke dokter untuk memeriksakan diri, terutama saat otot melemah secara tiba-tiba tanpa alasan.

Apabila seseorang memiliki riwayat penyakit autoimun, maka penting untuk mengontrol kondisi ke dokter secara rutin.

Tinjauan
- Otot bengkak, lemah, dan nyeri adalah tanda utama yang paling kerap dirasakan saat polimiositis melanda.
- Selain itu, dermatomiosis, fenomena Raynaud, disfonia, sulit menelan, tubuh lelah, nyeri sendi, dan berat badan menurun juga menjadi gejala yang perlu dikenali dan diwaspadai.

Pemeriksaan Polimiositis

Gejala yang timbul pada kondisi polimiositis kurang lebih menyerupai distrofi otot, sehingga seringkali gejala dianggap mengarah pada distrofi otot.

Untuk memastikan bahwa gejala yang dialami pasien benar-benar adalah polimiositis, maka beberapa metode diagnosa berikut akan diterapkan oleh dokter.

1. Pemeriksaan Riwayat Gejala dan Kesehatan

Dokter perlu mengetahui apakah pasien memiliki penyakit autoimun atau kondisi medis lainnya.

Dokter juga perlu tahu apa saja keluhan pasien, sejak kapan gejala dirasakan dan sebagainya.

Maka dari itu, dokter akan memberikan sejumlah pertanyaan untuk memastikan kondisi riwayat medis serta gejala yang pasien miliki.

2. Pemeriksaan Fisik

Selain memeriksa kondisi riwayat kesehatan pasien, dokter juga akan memeriksa kondisi fisik pasien [1,2].

Pemeriksaan fisik meliputi pengecekan kekuatan otot pasien.

Menurut The Medical Research Council, terdapat sistem yang menentukan tingkat kekuatan otot pada saat pemeriksaan fisik pasien, yaitu [2] :

  • Tahap 0 : Sama sekali tak terdeteksi atau terlihatnya kontraksi otot.
  • Tahap 1 : Terlihat adanya kontraksi otot, namun tidak terdapat tanda-tanda pergerakan anggota tubuh yang memungkinkan.
  • Tahap 2 : Gerakan anggota tubuh terlihat, namun gravitasinya tidak ada.
  • Tahap 3 : Gerakan tubuh berlawanan dengan gravitasi namun tanpa adanya perlawanan tambahan.
  • Tahap 4 : Terdapat gerakan otot namun disertai resistensi.
  • Tahap 5 : Kekuatan otot normal melawan resistensi.

3. Tes Darah

Pemeriksaan darah adalah tes penunjang yang perlu ditempuh pasien agar dokter dapat memeriksa seberapa peningkatan enzim creatine phosphokinase untuk mengetahui kondisi kerusakan jaringan otot [1,2,6].

Umumnya, tes darah juga direkomendasikan oleh dokter supaya kadar antibodi tertentu di dalam tubuh pasien dapat ditingkatkan.

4. Elektromiografi

Untuk mendeteksi tingkat aktivitas listrik pada otot pasien, dokter perlu memasukkan elektroda jarum tipis ke otot melalui kulit [1,2].

Aktivitas listrik akan berhasil diperiksa ketika pasien menegangkan dan merilekskan otot secara bergantian.

Penyakit otot akan dapat teridentifikasi ketika terdapat pola aktivitas listrik yang berubah dan untuk mengetahui apakah otot-otot lain di seluruh tubuh juga terpengaruh, maka dokter perlu melakukan pengujian pada otot-otot tersebut.

5. MRI Scan

Tes pemindaian dengan pemeriksaan MRI adalah cara dokter dalam mengetahui kondisi otot yang dikeluhkan pasien [1,2].

Melalui pemeriksaan MRI akan dapat diketahui ada tidaknya keberadaan radang pada otot dengan memanfaatkan gelombang radio dan medan magnet.

6. Biopsi

Biopsi merupakan metode pengambilan sampel jaringan yang kemudian sampelnya dibawa ke laboratorium lalu tim medis akan menganalisanya di bawah mikroskop.

Pada pemeriksaan gejala polimiositis, dokter akan mengambil jaringan otot sedikit untuk kemudian dianalisa [1,2].

Melalui biopsi, biasanya beberapa kondisi abnormal dapat terdeteksi, mulai dari kerusakan, radang, hingga defisiensi protein atau enzim.

Tinjauan
Untuk mendeteksi dan mengonfirmasi kondisi polimiositis pasien sekaligus mengeliminasi adanya kemungkinan penyakit lain yang berhubungan dengan otot, pemeriksaan fisik, riwayat kesehatan, biopsi, MRI scan, elektromiografi, dan tes darah perlu ditempuh oleh pasien.

Pengobatan Polimiositis

Sampai saat ini belum diketahui obat yang ampuh dalam menyembuhkan polimiositis sebab perawatan yang diberikan oleh dokter umumnya bertujuan utama sebagai pereda gejala.

Tujuan lain dari perawatan yang diberikan pada penderita polimiositis adalah untuk memperkuat otot.

Namun pengobatan tentu akan disesuaikan dengan gejala yang timbul, kondisi menyeluruh pasien, serta usia pasien.

Ada beberapa metode yang umumnya digunakan untuk mengatasi polimiositis pada pasien.

Pemberian obat-obatan dan sejumlah terapi khusus kemungkinan diperlukan oleh pasien untuk memulihkan otot.

Melalui Obat-obatan

Beberapa jenis obat di bawah ini umumnya diberikan oleh dokter untuk meredakan radang dan gejala lain yang ditimbulkan [1,2] :

  • Intravenous of Immunoglobulins : Bila dokter merasa perlu, obat ini akan diresepkan dengan tujuan agar aktivitas sistem imun yang menjadi pengganggu jaringan otot hingga rusak dapat dihambat.
  • Imunosupresan : Sistem imun perlu dihambat dengan jenis obat golongan imunosupresan seperti methotrexate dan azathioprine.
  • Rituximab : Umumnya obat ini memang digunakan untuk mengobati artritis reumatoid, namun obat ini juga mampu membantu supaya gejala polimiositis lebih terkendali.
  • Kortikosteroid : Prednisone adalah contoh obat golongan kortikosteroid yang dapat meredakan gejala-gejala polimiositis secara efektif. Namun biasanya, dokter memberikan obat ini dengan resep berkadar rendah karena resep kadar tinggi atau penggunaan jangka panjang mampu menimbulkan efek samping berbahaya bagi pasien.

Melalui Terapi Khusus

Selain penggunaan obat-obatan, pasien juga kemungkinan besar dianjurkan dokter untuk menjalani sejumlah terapi seperti :

  • Terapi Bicara : Polimiositis mampu menyebabkan otot melemah sehingga pasien mengalami kesulitan bahkan hanya untuk menelan. Maka terapi bicara adalah salah satu bentuk penanganan yang diperlukan agar tubuh pasien mengalami kemajuan [7].
  • Terapi Fisik : Terapi fisik meliputi beberapa olahraga tertentu perlu ditempuh pasien dengan didampingi oleh ahlinya. Tujuan terapi ini adalah meningkatkan fleksibilitas dan kekuatan otot sehingga fungsi otot dapat kembali seperti semula [8].
  • Diet Khusus : Diet khusus yang akan memudahkan pasien dalam mengonsumsi dan menelan makanan namun tetap menutrisi tubuh juga akan direkomendasikan oleh dokter [9].
Tinjauan
Pengobatan polimiositis umumnya dibagi menjadi dua metode, yaitu terapi obat (intravenous of immunoglobulins, rituximab, imunosupresan, dan kortikosteroid) serta terapi khusus (terapi bicara, terapi fisik, dan diet khusus jika diperlukan).

Komplikasi Polimiositis

Ketika polimiositis ditangani secara terlambat atau kurang tepat, maka sebagai risikonya beberapa kondisi komplikasi berikut dapat terjadi.

  • Kesulitan menelan : Otot kerongkongan dapat terkena dampak dari kondisi polimiositis ini sehingga berakibat pada disfagia (kesulitan menelan) sehingga membuat penderitanya tidak selera makan hingga mengalami berat badan turun [10].
  • Masalah jantung : Pada beberapa kasus polimiositis, penderitanya dapat mengalami gagal jantung, perikarditis, gangguan irama jantung, hingga serangan jantung [11].
  • Masalah pernafasan : Gangguan pada paru seperti pneumonia aspirasi, fibrosis paru dan penyakit paru interstitial dapat terjadi sebagai komplikasi dari polimiositis [12].
  • Kanker : Penderita polimiositis rata-rata memiliki risiko lebih tinggi mengalami kanker [13].
Tinjauan
Kesulitan menelan atau disfagia dapat terjadi berkepanjangan ketika polimiositis tidak segera ditangani. Selain itu, kanker, masalah pernafasan, dan gangguan pada jantung adalah bentuk komplikasi lain dari polimiositis yang perlu diwaspadai.

Pencegahan Polimiositis

Karena penyebab polimiositis belum diketahui secara pasti hingga kini, maka bentuk pencegahan penyakit ini pun belum diketahui pula secara pasti.

Namun bagi penderita penyakit autoimun, ada baiknya untuk rutin kontrol kesehatan agar dapat meminimalisir polimiositis.

Tinjauan
Polimiositis tidak diketahui cara pencegahannya karena penyebab pastinya pun belum diketahui hingga kini.

1. Apoorva Cheeti, Lawrence H. Brent, & Sreelakshmi Panginikkod. Autoimmune Myopathies (Dermatomyositis And Polymyositis). Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2020.
2. Kathy Hunter & Michael G Lyon. Evaluation and Management of Polymyositis. Indian Journal of Dermatology; 2012.
3. E Martínez-Cordero, D E León, & L A Ortega. Association of polymyositis with rheumatoid arthritis. Rheumatology International; 2001.
4. Michail P. Migkos, Ioannis Sarmas, George A. Somarakis, Paraskevi V. Voulgari, Konstantinos I. Tsamis, & Alexandros A. Drosos. Sjögren Syndrome Associated with Inflammatory Muscle Diseases. Mediterranean Journal of Rheumatology; 2018.
5. Joana Cochicho, João Madaleno, Emília Louro, Adélia Simão, & Armando Carvalho. Polymyositis and the Spectrum of Scleroderma Disorders. European Journal of Case Reports in Internal Medicine; 2016.
6. Rita Volochayev, Gyorgy Csako, Robert Wesley, Lisa G Rider, & Frederick W Miller. Laboratory Test Abnormalities are Common in Polymyositis and Dermatomyositis and Differ Among Clinical and Demographic Groups. The Open Rheumatology Journal; 2012.
7. Asma Malik, Ghazala Hayat, Junaid S. Kalia, & Miguel A. Guzman. Idiopathic Inflammatory Myopathies: Clinical Approach and Management. Frontiers in Neurology; 2016.
8. Anna Van Thillo, Jean-Baptiste Vulsteke, Dieter Van Assche, Patrick Verschueren, & Ellen De Langhe. Physical therapy in adult inflammatory myopathy patients: a systematic review. Clinical Rheumatology; 2019.
9. Simone Barsotti, MD & Ingrid E. Lundberg, MD, PhD. Current Treatment for Myositis. Current Treatment Options in Rheumatology; 2018.
10. Terry H Oh, Kathlyn A Brumfield, Tanya L Hoskin, Kathryn A Stolp, Joseph A Murray, & Jeffrey R Bassford. Dysphagia in inflammatory myopathy: clinical characteristics, treatment strategies, and outcome in 62 patients. Mayo Clinic proceedings; 2007.
11. Pramod Theetha Kariyanna, Apoorva Jayarangaiah, Abdullah Mahmood, Mitchell Hare, Nicholas Taklalsingh, & Isabel M. McFarlane. Rapid Progression of Heart Failure in a Patient with Idiopathic Inflammatory Myopathy. HHS Public Access; 2018.
12. M Fathi, M Dastmalchi, E Rasmussen, I Lundberg, & G Tornling. Interstitial lung disease, a common manifestation of newly diagnosed polymyositis and dermatomyositis. Annals of the Rheumatic Diseases; 2004.
13. Michał Jakubaszek, Brygida Kwiatkowska, & Maria Maślińska. Polymyositis and dermatomyositis as a risk of developing cancer. Reumatologia; 2015.

Share