Daftar isi
Hipohidrosis adalah kondisi kebalikan dari hiperhidrosis, yakni ketika tubuh tak dapat mengeluarkan keringat secara normal [1,2,3].
Sekalipun cuaca panas dan suhu tinggi, tubuh hanya bisa mengeluarkan sedikit keringat atau bahkan tidak mampu mengeluarkan keringat sama sekali (sudah pada tahap anhidrosis) [1,2,3].
Bila tidak segera mendapat penanganan, dikhawatirkan hipohidrosis mengakibatkan heatstroke pada penderitanya.
Apa perbedaan antara hipohidrosis dan anhidrosis?
Hipohidrosis dan anhidrosis seringkali dianggap sama karena keduanya merupakan kondisi saat tubuh mengeluarkan sangat sedikit keringat [3,4].
Hipohidrosis pada dasarnya adalah kondisi anhidrosis yang lebih ringan karena anhidrosis adalah saat tubuh tidak bisa sama sekali mengeluarkan keringat [3,4].
Hipohidrosis bisa disebabkan oleh berbagai macam faktor, salah satunya adalah penuaan.
Semakin usia bertambah tua, kemampuan tubuh dalam menghasilkan keringat tidak sebaik dulu.
Namun, selain karena faktor usia ada pula beberapa faktor risiko lain yang perlu diketahui, yaitu :
1. Faktor Keturunan
Pada beberapa kasus hipohidrosis, penderita dapat mewarisi gen abnormal dari anggota keluarganya (khususnya orang tua) [1,2,3].
Gen yang rusak menyebabkan kelenjar keringat tak dapat memroduksi keringat seperti normalnya [1,2,3].
Jika gen ini diwarisi oleh anak dari orang tuanya, maka salah satu kemungkinan yang terjadi adalah hipohidrosis [1,2,3].
Displasia ektodermal hipohidrotik adalah istilah bagi kondisi saat seseorang lahir dengan sedikit atau tanpa kelenjar keringat dan kondisi ini juga diturunkan dalam keluarga [1].
2. Efek Obat Tertentu
Penggunaan obat tertentu mampu menyebabkan hipohidrosis pada tubuh sebagai efek sampingnya [1,2,3].
Obat yang dimaksud umumnya adalah antikolinergik, obat yang digunakan untuk mengobati diare, penyakit paru obstruktif kronis, penyakit Parkinson, dan inkontinensia urine [5].
Antikolinergik dikenal sebagai obat yang mampu mengatasi berbagai keluhan medis, namun efeknya pun bisa berbahaya [1,2,3,5].
Selain hipohidrosis, retensi urine (ketidakmampuan buang air kecil), delirium, halusinasi, kejang, hilang ingatan, hipertermia hingga gangguan penglihatan juga dapat terjadi sebagai efek samping obat ini [1,5].
3. Gangguan Kulit
Hipohidrosis juga dapat terjadi sebagai dampak dari kerusakan kulit maupun penyakit kulit [1,2,3].
Kerusakan kulit seringkali berkaitan dengan kerusakan kelenjar keringat, terutama kulit yang rusak karena luka bakar [1,2,3].
Namun selain karena luka bakar, gangguan pada kulit berupa inflamasi/peradangan, infeksi, cedera, dan paparan radiasi juga memungkinkan menyebabkan kelenjar keringat tidak berfungsi sebagaimana mestinya [1,2].
Peradangan pada kulit sendiri dapat pula disebabkan oleh sejumlah kondisi medis berikut :
Harlequin ichthyosis merupakan kelainan bawaan yang dialami oleh bayi di mana kulit sejak lahir terlalu tebal, kering serta bersisik [6].
Kondisi ini terjadi pada seluruh bagian tubuh bayi dan kelainan gen yang diturunkan dari kedua orang tua menjadi sebab utamanya [6].
Karena kulit yang kering secara abnormal ini, seringkali juga dikaitkan dengan risiko hipohidrosis [6].
Selain itu, bayi dengan kondisi ini rentan terhadap dehidrasi, kesulitan bernfas, gangguan pendengaran, dan kelainan bentuk fisik [6].
Skleroderma adalah jenis penyakit autoimun di mana terjadi pengerasan dan penebalan pada jaringan ikat sehingga memengaruhi kulit [7].
Kulit penderita skleroderma akan keras, tebal, licin seperti lilin, dan memiliki warna putih [7].
Skleroderma umumnya dialami pada bagian wajah, tangan atau kaki dan hal ini pun lama-kelamaan bisa turut membatasi gerakan tubuh penderita [7].
Karena merupakan penyakit autoimun, seringkali perkembangan gejala skleroderma tidak terlalu cepat [7].
Hanya saja, pemantauan perlu dilakukan dengan penderita rutin memeriksakan diri ke dokter, terutama bila dari awal tahu memiliki faktor risiko.
Biang keringat atau juga dikenal dengan istilah miliaria dan heat rash ini juga berkaitan dengan sedikitnya keringat yang keluar dari tubuh [1,3].
Biang keringat adalah kondisi saat timbul ruam kemerahan kecil-kecil menonjol yang disertai rasa gatal dengan sensasi sedikit perih [8].
Walau biang keringat tidak menular, kondisi yang timbul saat cuaca panas atau lingkungan lembap ini bisa sangat tidak nyaman [8].
Dermatitis eksfoliatif adalah kondisi lain yang juga berhubungan dengan hipohidrosis, yakni ketika kulit memerah dan mengelupas [1,2,9].
Walau tampaknya ringan, dermatitis eksfoliatif yang juga disebut dengan istilah eritroderma ini dapat mengakibatkan komplikasi berbahaya [9].
Infeksi kulit, dehidrasi, kurang nutrisi, gagal jantung sampai dengan kematian adalah komplikasi-komplikasi yang perlu diwaspadai [9].
Psoriasis adalah kondisi lainnya yang juga turut dikaitkan dengan risiko hipohidrosis [1,2,3].
Psoriasis sendiri merupakan radang kulit yang ditandai dengan kulit tebal, bersisik, dan mengelupas [10].
Psoriasis paling umum dijumpai adalah psoriasis vulgaris yang timbul pada kulit kepala, siku serta lutut [10].
Tanda-tanda utamanya adalah kulit kering, ruam pada kulit yang berwarna merah dengan sisik warna putih, dan kulit pecah-pecah yang bahkan berisiko berdarah [10].
Bila kulit kemudian terasa nyeri dan tampak membengkak, sudah saatnya untuk membawa ke dokter dan memeriksakannya segera [10].
4. Kerusakan Saraf
Selain gangguan kulit, gangguan saraf pun mampu memengaruhi kelenjar keringat sehingga tak dapat bekerja secara maksimal [1,2,3].
Beberapa penyakit atau masalah saraf yang menghambat fungsi kelenjar keringat adalah :
Hipohidrosis ditandai dengan sedikitnya keringat yang keluar walau di cuaca panas sekalipun [1,2,3].
Bahkan ketika beraktivitas fisik seperti olahraga berat, keringat tidak mudah keluar seperti halnya orang lain [1,2,3].
Selain kadar keringat yang kurang, beberapa gejala lain yang menyertai adalah [1,2,3] :
Semakin berat aktivitas yang dilakukan, maka gejala akan semakin terasa atau nampak [1,2,3].
Hipohidrosis terbilang buruk apabila penderita melakukan olahraga atau aktivitas berat sehingga tubuh kepanasan namun tidak berkeringat banyak [1,2,3].
Untuk memastikan bahwa kondisi gejala yang pasien keluhkan merupakan hipohidrosis, rangkaian pemeriksaan ini perlu ditempuh.
Dokter akan memeriksa gejala fisik apa saja yang dialami pasien; pasien juga diharapkan memberi tahu secara lengkap kepada dokter riwayat gejala yang selama ini dialami [1,2,3].
Dokter juga biasanya akan bertanya kepada pasien mengenai riwayat medis, termasuk mengumpulkan informasi riwayat kesehatan keluarga pasien [1,2,3].
Pemeriksaan lanjutan ini diterapkan dengan memasang elektroda kecil yang mampu merangsang kelenjar keringat pasien [1,2,3].
Pengukuran volume keringat yang dihasilkan kelenjar keringat pun dilakukan setelah pemasangan elektroda [1,2,3].
Pengambilan sampel jaringan kulit dan jaringan kelenjar keringat perlu dilakukan untuk mengetahui kondisi sebenarnya dari gejala pasien [1,2,3].
Sampel jaringan keduanya akan dokter bawa ke laboratorium supaya dapat menganalisanya [1,2,3].
Pada tes ini, dokter akan menaburi atau melapisi tubuh pasien dengan bubuk khusus di mana warnanya akan berubah ketika tubuh pasien mengeluarkan keringat [1,2,3].
Setelah dilumuri bedak atau bubuk khusus tersebut, dokter kemudian meminta pasien memasuki ruangan khusus untuk meningkatkan suhu tubuh [1,2,3].
Pengecekan seberapa banyak keringat yang mampu tubuh pasien keluarkan pun dimulai [1,2,3].
Pengecekan area tubuh pasien yang mengeluarkan keringat akan dilakukan melalui tes jejak tetesan keringat silastik [1,2,3].
Hipohidrosis tidak memerlukan penanganan medis secara khusus bila hanya sebagian kecil tubuh saja yang mengalami sedikit berkeringat [1,2,3].
Namun bila hipohidrosis terjadi pada sebagian besar tubuh atau hipohidrosis disebabkan oleh kondisi medis serius, pasien memerlukan penanganan medis [1,2,3].
Penanganan yang diberikan oleh dokter pun biasanya tidak bisa menyembuhkan sepenuhnya, namun lebih kepada meredakan gejala saja [1,2,3].
Bila hipohidrosis terjadi karena efek obat tertentu, dokter akan meminta pasien berhenti mengonsumsi atau menggunakan obat tersebut [1,2,3].
Jika masih tergolong ringan, dokter hanya akan mengurangi dosis obat, dan bila diperlukan dokter akan memberikan obat alternatif yang lebih aman [1,2,3].
Penderita hipohidrosis karena sulit mengeluarkan keringat pada akhirnya tubuh seperti menahan panas dan akan sulit untuk dingin dengan sendirinya [1,2,3].
Beberapa risiko komplikasi yang dapat terjadi pada penderita hipohidrosis bila tak segera memeriksakan diri adalah [3] :
Tidak memungkinkan untuk mencegah hipohidrosis sama sekali, namun penderita dapat meminimalisir risiko komplikasinya [1].
Agar hipohidrosis tidak berakibat pada komplikasi serius, kenakan pakaian tipis dan longgar dengan warna cerah (warna hitam cenderung menyerap panas) [1].
Berada di tempat sejuk dan lebih banyak berada di dalam ruangan dapat menurunkan risiko komplikasi hipohidrosis [1].
1. Daniel Murrell, M.D. & Rachel Nall, MSN, CRNA. Hypohidrosis (Absent Sweating). Healthline; 2018.
2. Elaine K. Luo, M.D. & Charlotte Lillis. What to know about hypohidrosis. Medical News Today; 2018.
3. Lynne Eldridge, MD & Casey Gallagher, MD. What Is Lack of Sweating?. Verywell Health; 2020.
4. Chelsea D. Harper & Rene Bermudez. Anhidrosis. National Center for Biotechnology Information; 2021.
5. Noah Ghossein; Michael Kang; &Anand D. Lakhkar. Anticholinergic Medications. National Center for Biotechnology Information; 2021.
6. Belide Shruthi, B.R. Nilgar, Anita Dalal, & Nehaben Limbani. Harlequin ichthyosis: A rare case. Turkish Journal Of Obstetrics And Gynecology; 2017.
7. Amaka Odonwodo; Talel Badri & Anis Hariz. Scleroderma. National Center for Biotechnology Information; 2021.
8. Melek Aslan Kayiran & Necmettin Akdeniz. Diagnosis and treatment of urticaria in primary care. Nothern Clinics Of Istanbul; 2019.
9. Steve S. Austad & Leela Athalye. Exfoliative Dermatitis. National Center for Biotechnology Information; 2021.
10. Pragya A. Nair & Talel Badri. Psoriasis. National Center for Biotechnology Information; 2021.
11. Zalan Khan & Pradeep C. Bollu. Horner Syndrome. National Center for Biotechnology Information; 2021.
12. Steven E. Carsons & Bhupendra C. Patel. Sjogren Syndrome. National Center for Biotechnology Information; 2021.
13. Maria Nolano, Vincenzo Provitera, Anna Perretti, Annamaria Stancanelli, Anna Maria Saltalamacchia, Vincenzo Donadio, Fiore Manganelli, Bernardo Lanzillo, & Lucio Santoro. Ross syndrome: a rare or a misknown disorder of thermoregulation? A skin innervation study on 12 subjects. Brain; 2006.
14. Syed Rizwan A. Bokhari; Hassam Zulfiqar; & Anis Hariz. Fabry Disease. National Center for Biotechnology Information; 2022.
15. Saman Zafar & Sridhara S. Yaddanapudi. Parkinson Disease. National Center for Biotechnology Information; 2021.
16. Jean G. Bustamante & Syed Rafay H. Zaidi. Amyloidosis. National Center for Biotechnology Information; 2022.
17. Kiren Ubhi, Phillip Low, & Eliezer Masliah. Multiple System Atrophy: A Clinical and Neuropathological Perspective. HHS Public Access; 2012.
18. Neil Basumallik & Manuj Agarwal. Small Cell Lung Cancer. National Center for Biotechnology Information; 2021.
19. Andrew Morris & Gaurav Patel. Heat Stroke. National Center for Biotechnology Information; 2022.
20. Daniel F. Leiva & Ben Church. Heat Illness. National Center for Biotechnology Information; 2021.
21. Angela M. Bell, MD, FACP & Corey Whelan. What Are Heat Cramps?. Healthline; 2021.