Penyakit & Kelainan

Mual di Malam Hari : Penyebab dan Cara Mengatasi

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Rasa mual memang bisa dialami kapan saja tanpa kenal waktu, terlebih karena mual sendiri bisa disebabkan oleh berbagai macam faktor.

Salah satu yang paling mengganggu adalah ketika mual terasa di malam hari pada saatnya tidur dan beristirahat.

Untuk menangani rasa mual di malam hari secara tepat, maka perlu untuk mengetahui penyebabnya lebih dulu.

Penyebab Mual di Malam Hari

Terdapat sejumlah faktor yang memungkinkan menjadi penyebab mual di malam hari.

Berikut ini adalah kondisi-kondisi yang berpotensi menyebabkan mual tanpa penderita sadari.

1. Sindrom Muntah Siklik

Jika mual di malam hari dialami oleh anak-anak, ada kemungkinan hal ini disebabkan oleh sindrom muntah siklik [1,2,3].

Bila mual dan muntah terjadi berulang, maka kondisi ini perlu segera memperoleh penanganan dokter.

Anak-anak usia 3-7 tahun adalah yang paling rentan mengalami sindrom muntah siklik yang ditandai dengan mual terus-menerus dan muntah dalam waktu lama [3].

Anak bisa muntah selama berjam-jam atau bahkan bisa sampai beberapa hari pada kondisi ini; dan beberapa gejala lainnya yang perlu diketahui adalah [1,2,3] :

  • Kulit pucat
  • Perut terasa nyeri
  • Demam tinggi
  • Sering mengeluarkan air liur
  • Sering meludah
  • Sakit kepala
  • Diare
  • Sensitivitas terhadap suara maupun cahaya meningkat

Ketika gejala-gejala ini terjadi, maka biasanya pemicu sindrom ini pada anak adalah kecemasan atau kelelahan di malam hari.

2. Efek Penggunaan Obat Tertentu

Mual yang dialami di malam hari juga bisa disebabkan oleh efek obat tertentu [1].

Jika mengonsumsi beberapa obat penurun tekanan darah, obat anti-inflamasi nonsteroid, aspirin, atau antibiotik, maka sebagai efek sampingnya mual bisa terjadi [1,4].

Jika meminum obat-obat ini di malam hari, efek samping seperti mual tak lama kemudian dapat dirasakan.

Biasanya tak hanya mual, ada beberapa gejala lain yang menandakan tubuh mengalami efek samping dari obat yang diminum.

3. Kecemasan

Memiliki kecemasan berlebih juga dapat menjadi salah satu alasan mengapa mual sering dirasakan di malam hari.

Kecemasan memang tidak selalu hadir di malam hari, namun pada saat hendak tidur, sebagian orang memiliki kebiasaan overthinking dan mencemaskan sejumlah hal secara berlebihan [1,5].

Kecemasan juga seringkali bisa memburuk di malam hari karena pagi hingga sore hari pikiran terdistraksi oleh berbagai macam kegiatan [1].

Mual termasuk gangguan pencernaan yang dapat dialami karena berbagai jenis kecemasan yang melanda [1,6].

Selain mual, tanda kecemasan mulai berlebihan diantaranya adalah [1,7] :

  • Memikirkan segala sesuatu tanpa henti
  • Susah tidur (insomnia)
  • Kesulitan dalam berkonsentrasi
  • Tubuh lebih banyak mengeluarkan keringat
  • Serangan panik
  • Jantung berdebar
  • Sering gelisah

Gejala-gejala ini dapat berkembang semakin serius hingga akhirnya aktivitas sehari-hari mulai terhambat.

Jika demikian, segera periksakan diri ke dokter, khususnya jika memiliki riwayat depresi, gangguan panik, atau masalah kesehatan mental lainnya [7].

4. Gastroparesis

Gastroparesis merupakan masalah yang menyerang otot lambung sehingga makanan yang seharusnya masuk lalu terdorong ke usus bergerak lebih lambat [1,8].

Mual adalah salah satu gejala dari gastroparesis ini yang kerap disertai rasa penuh di perut dan muntah-muntah [1,8].

Belum diketahui pasti apa yang menyebabkan gastroparesis, namun ketika saraf pengendali otot lambung terganggu, gastroparesis dapat terjadi lebih mudah [1,8].

Selain dari beberapa keluhan tersebut, gejala lain yang menandakan gastroparesis adalah [1,8,9] :

  • Penurunan nafsu makan
  • Perut terasa sakit
  • Cepat kenyang walau makan dengan porsi kecil
  • Berat badan turun
  • Perut terasa begah
  • Area dada terasa panas yang biasanya menyertai nyeri pada ulu hati

Gejala-gejala ini berpotensi menjadi lebih buruk, seperti nyeri perut yang terus-menerus, kram perut hebat, muntah darah, demam tinggi, muntah dalam waktu lama, sesak nafas hingga hampir pingsan [9].

Bila beberapa di antara gejala tersebut mulai terjadi, jangan ragu untuk segera ke dokter dan memeriksakan diri.

5. Tukak Lambung

Tukak lambung adalah jenis gangguan pencernaan pada lambung berupa luka yang timbul pada lambung, bagian bawah kerongkongan, atau usus 12 jari [10].

Luka tersebut bukan secara langsung disebabkan oleh asupan makanan pedas dan asam [10].

Luka ditimbulkan oleh infeksi bakteri Helicobacter pylori yang menyerang bagian lapisang lambung [10].

Selain itu, konsumsi obat anti-inflamasi nonsteroid juga merupakan penyebab lain dari timbulnya luka [10].

Meloxicam, diclofenac, dan ibuprofen adalah obat golongan anti-inflamasi nonsteroid yang jika digunakan berlebihan tak sesuai resep dokter mampu menyebabkan radang atau iritasi [11].

Peradangan atau iritasi ini yang kemudian menyebabkan luka di jaringan lambung [10,11].

Sementara itu, makanan pedas, makanan asam dan sejumlah faktor berikut adalah pemicu rasa sakit dan gejala-gejala tukak lambung lainnya [10].

  • Konsumsi kafein
  • Konsumsi minuman alkohol
  • Stres berat
  • Aktivitas merokok

Mual di malam hari dapat timbul karena adanya luka pada lapisan lambung, yang artinya penderita sedang mengalami tukak lambung [1,10].

Selain rasa mual dan rasa sakit di lambung atau ulu hati, keluhan lain yang mengarah pada tukak lambung adalah [1,10,11] :

  • Muntah-muntah
  • Perut terasa penuh dan cepat kenyang walau hanya makan sedikit
  • Nafsu makan menurun
  • Sering sendawa
  • Sesak nafas
  • Berat badan menurun
  • Tubuh lemas

Jika mengalami nyeri perut parah ditambah dengan perut yang disentuh terasa keras, segera periksakan diri ke dokter.

Terlebih tukak lambung mampu menyebabkan feses hitam saat buang air besar serta gejala syok yang sudah tergolong serius.

Meski tidak selalu terjadi di malam hari, mual yang terlalu sering timbul baik di malam, pagi maupun saat antara waktu makan perlu mendapatkan penanganan segera.

6. GERD (Gastroesophageal Reflux Disease)

GERD juga dikenal dengan istilah penyakit asam lambung, yakni kondisi saat asam lambung naik hingga kerongkongan dan menyebabkan dada serasa terbakar [1,12].

Heartburn atau sensasi panas terbakar dan nyeri di bagian dada serta ulu hati adalah gejala utama GERD [1,12].

Meski demikian, berikut ini adalah sejumlah gejala-gejala lain yang bisa menandakan GERD sedang terjadi [1,12] :

  • Mual yang dapat memburuk di malam hari
  • Muntah-muntah
  • Mulut bagian belakang terasa asam
  • Perut terasa penuh dan lebih mudah kenyang walau makan dengan porsi kecil
  • Sulit menelan karena di kerongkongan seperti ada yang mengganjal
  • Batuk kering kronis yang biasanya dialami di malam hari
  • Sering sendawa
  • Suara berubah lebih parau
  • Mulut berbau tak sedap
  • Sakit tenggorokan

Ketika dibiarkan saat gejala-gejala ini terjadi berulang, lama-kelamaan penderita dapat mengalami gangguan tidur dan menjalar hingga terhambatnya aktivitas sehari-hari [12].

Segera memeriksakan diri ke dokter dan memperoleh penanganan yang tepat akan membantu meredakan gejala.

7. Kehamilan

Kehamilan adalah alasan lain mengapa mual di malam hari cukup sering terjadi [1,13].

Walaupun memiliki istilah morning sickness, mual dan muntah tak hanya bisa dialami di malam hari [1,13].

Peningkatan hormon dalam tubuh menjadi penyebab utama seorang wanita mengalami rasa mual, terutama pada trimester pertama [1,13].

Kehamilan di minggu ke-6 hingga ke-12 sangat rentan akan rasa mual sehingga ibu hamil perlu mengonsultasikannya dengan dokter, termasuk berhati-hati mengenai asupan makanan sehari-hari [1,13].

8. Gastroenteritis

Gastroenteritis atau flu perut kemungkinan menjadi alasan rasa mual timbul di malam hari.

Istilah lain untuk gastroenteritis ini adalah muntaber, sehingga tanda utama kondisi ini adalah diare serta muntah [14].

Rotavirus dan Norovirus adalah dua jenis virus yang menyebabkan gastroenteritis, sekaligus juga Astrovirus dan Adenovirus walaupun infeksi virus keduanya lebih jarang [14].

Beberapa gejala yang patut diwaspadai sebagai gastroenteritis adalah [14] :

  • Sakit kepala
  • Demam
  • Tubuh menggigil
  • Nyeri pada sendi dan otot
  • Perut sakit
  • Turunnya nafsu makan

Bila demam semakin tinggi, penderita juga mengalami dehidrasi, BAB berdarah, muntah terus-menerus bahkan disertai darah, dan mengalami kegelisahan, sudah saatnya untuk memeriksakan diri ke dokter [14].

Cara Mengatasi Mual di Malam Hari

Cara menangani rasa mual yang sering dirasakan pada malam hari perlu disesuaikan dengan kondisi yang mendasarinya.

Berikut ini adalah bentuk-bentuk pengobatan mual tergantung dari penyebabnya.

  • Pada kasus sindrom muntah siklik, biasanya menghindari pemicu serta penggunaan beberapa obat (antimual, antikonvulsan/antikejang, dan antimigrain) cukup untuk meredakan gejala [1,2,3].
  • Pada kasus mual karena penggunaan obat tertentu, hal ini perlu dikonsultasikan langsung dengan dokter dan jangan memutuskan sendiri untuk mengganti obat yang tengah dikonsumsi. Bahkan ketika hendak berhenti mengonsumsi obat pemicu mual, hal ini harus dilakukan atas persetujuan dokter, lalu tanyakan mengenai obat yang lebih aman sebagai penggantinya [1].
  • Pada kasus kecemasan, mual dan gejala lainnya dapat dikendalikan dengan psikoterapi. Terapi perilaku kognitif adalah salah satunya, berikut juga penggunaan obat anticemas dan diimbangi dengan perubahan pola hidup. Pasien perlu mengurangi asupan kafein dan alkohol serta lebih sering berolahraga [1,7].
  • Pada kasus gastroparesis, dokter dapat memberikan resep obat untuk mempermudah pergerakan otot perut; jika tak efektif, dokter akan merekomendasikan prosedur bedah. Pasien juga sebaiknya mengubah pola makan, seperti makan makanan bertekstur lembut agar mudah dicerna dan makan dalam porsi yang kecil namun sering [1,8,9].
  • Pada kasus tukak lambung, dokter akan meresepkan antibiotik, antasida, dan menyarankan pasien mengubah pola hidup lebih sehat. Perubahan pola hidup ini sama seperti yang perlu dilakukan oleh pasien GERD (menghindari asupan makanan dan minuman pemicu gejala serta berhenti merokok) [1,10].
  • Pada kasus GERD, perubahan pola makan sangat penting, seperti menghindari makanan berlemak, makanan pedas, makanan asam, kafein dan alkohol. Penderita juga diharapkan menghindari aktivitas merokok dan tidak berbaring setiap usai makan. Sementara untuk obat yang perlu dikonsumsi, antasida adalah yang paling tepat sebagai pereda asam lambung [1,12].
  • Pada kasus kehamilan, mual dapat diredakan dengan lebih banyak istirahat, makan sedikit-sedikit namun sering, mengonsumsi air jahe hangat, mengonsumsi teh kamomil, mengenakan pakaian nyaman dan hangat, dan tidak berbaring setiap usai makan. Pastikan juga ibu hamil menghindari aroma-aroma yang diketahui mampu menjadi penyebab mual [1].
  • Pada kasus gastroenteritis atau muntaber, dokter akan meresepkan antibiotik apabila infeksi bakteri menjadi penyebabnya dan antijamur apabila infeksi jamur. Untuk meredakan diare, loperamide adalah obat yang akan dokter berikan [14].

Bila mual di malam hari terjadi berulang dan sudah lebih dari 1 minggu, ditambah berat badan turun tanpa sebab yang jelas, sakit kepala dan muntah-muntah berat, ke dokter secepatnya agar gejala bisa ditangani.

1. Kevin Martinez, M.D. & Erica Hersh. Feeling Nauseous at Night? Possible Causes and Remedies. Healthline; 2020.
2. Amy Davis; Carrie J. Nichols; & Joe H. Bryant. Cyclic Vomiting Syndrome. National Center for Biotechnology Information; 2021.
3. Ajay Kaul & Kanwar K. Kaul. Cyclic Vomiting Syndrome: A Functional Disorder. Pediatric Gastroenterology, Hepatology & Nutrition; 2015.
4. Harvard Health Publishing. What to do when your medication causes nausea. Harvard Health Publishing; 2019.
5. Bonnie N. Kaiser, Emily E. Haroz, Brandon A. Kohrt, Paul A. Bolton, Judith K. Bass, & Devon E. Hinton. “Thinking too much”: A Systematic review of a common idiom of distress. HHS Public Access; 2016.
6. Tone Tangen Haug, Arnstein Mykletun, & Alv A Dahl. The prevalence of nausea in the community: psychological, social and somatic factors. General Hospital Psychiatry; 2002.
7. Suma P. Chand & Raman Marwaha. Anxiety. National Center for Biotechnology Information; 2021.
8. Anil Kumar Reddy Reddivari & Parth Mehta. Gastroparesis. National Center for Biotechnology Information; 2021.
9. William L. Hasler, MD. Gastroparesis – Current Concepts and Considerations. The Medscape Journal of Medicine; 2008.
10. Talia F. Malik; Karthik Gnanapandithan; & Kevin Singh. Peptic Ulcer Disease. National Center for Biotechnology Information; 2021.
11. Musa Drini. Peptic ulcer disease and non-steroidal anti-inflammatory drugs. Australian Prescriber; 2017.
12. Danisa M. Clarrett, MD & Christine Hachem, MD. Gastroesophageal Reflux Disease (GERD). Missouri Medicine; 2018.
13. Anne Matthews, David M Haas, Dónal P O'Mathúna, Therese Dowswell, & Cochrane Pregnancy and Childbirth Group. Cochrane Library; 2015.
14. Nancy S. Graves, MD. Acute Gastroenteritis. Primary Care: Clinics in Office Practice; 2013.

Share