Penyakit & Kelainan

Hipertiroid – Penyebab – Gejala dan Pengobatan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Tinjauan Medis : dr. Shinta Pradyasti
Kelenjar tiroid atau yang biasa dikenal sebagai kelenjar gondok adalah kelenjar kecil berbentuk kupu-kupu yang terdapat di leher bagian tengah. Tugas utama dari kelenjar tiroid ini adalah membuat dan menyalurkan

Apa Itu Hipertiroid?

Hipertiroid ( img : Shutterstock )

Hipertiroid adalah salah satu jenis gangguan tiroid di mana kelenjar tiroid menghasilkan kelebihan hormon tiroid [1,2,3,5,6,7].

Tiroid sendiri merupakan kelenjar yang ada di bagian leher dengan bentuk menyerupai kupu-kupu dan berukuran kecil.

Hormon tiroid yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid dalam tubuh manusia berfungsi utama sebagai pengatur tingkat pembakaran kalori, suhu tubuh, detak jantung, kontraksi otot, dan laju perpindahan makanan di sistem pencernaan [1,4].

Normalnya, kelenjar pituitari pada otak mengirimkan thyroid stimulating hormone (TSH) kepada kelenjar tiroid di mana TSH inilah yang digunakan oleh kelenjar tiroid dalam menghasilkan hormon tiroid T3 dan T4.

Ketika kelenjar tiroid terlalu aktif, maka sebagai dampaknya hormon T3 dan T4 yang dihasilkan bisa sangat berlebihan.

Tinjauan
Hipertiroid terjadi saat kelenjar tiroid yang seharusnya memroduksi hormon tiroid secara memadai untuk kelangsungan fungsi tubuh yang baik justru menghasilkan hormon yang terlalu banyak.

Fakta Tentang Hipertiroid

  1. 1 dari 20 orang pasti pernah mengalami gangguan kelenjar tiroid di mana salah satunya adalah hipertiroid [3].
  2. 1 dari 100 orang atau sekitar 1,2% orang di Amerika dapat memiliki kondisi hipertiroid di mana hal ini menandakan bahwa hipertiroid sangat jarang [2].
  3. Gejala hipertiroid cukup sulit terdiagnosa atau terdeteksi di awal karena perkembangannya sanga bertahap dan tak spesifik [4].
  4. Wanita jauh lebih rentan mengalami hipertiroid dengan risiko 2-10 kali lebih tinggi daripada pria [2,3].
  5. Pada lansia dengan hipertiroid biasanya gejala disalahartikan sebagai demensia ataupun depresi karena gejala yang berbeda dari umumnya [2].

Penyebab Hipertiroid

Penyebab utama hipertiroid, setidaknya yang dialami oleh kurang lebih 70% orang dengan hipertiroid adalah hormon tiroid yang terproduksi secara berlebihan di dalam tubuh [5].

Istilah lain untuk kondisi ini adalah penyakit Graves di mana pertumbuhan dan sekresi hormon tiroid terlalu banyak karena antibodi dalam darah mengaktifkan kelenjar tiroid untuk proses produksinya.

Namun selain kondisi penyakit Graves, ada pula faktor-faktor kondisi lainnya yang mampu menyebabkan hipertiroid, yaitu:

  • Gondok Multinodular

Gondok multinodular atau nodular toksik adalah kondisi ketika terdapat nodul satu atau lebih pada kelenjar tiroid [2,5,6,7,8].

Nodul ini adalah benjolan di mana bila terdapat satu atau lebih maka ada kemungkinan benjolan yang timbul secara bertahap cukup banyak sehingga aktivitas produksi hormon tiroid meningkat secara berlebihan.

  • Tiroiditis

Tiroiditis adalah suatu kondisi peradangan pada kelenjar tiroid yang bisa dipicu oleh infeksi virus sehingga terjadilah bocornya hormon tiroid dari dalam kelenjar tiroid [2,3,5,6,7,8].

Tak hanya infeksi virus, kondisi sistem kekebalan tubuh yang bermasalah pun dapat menyebabkan hal serupa.

Faktor lain yang mampu menyebabkan tiroiditis adalah periode postpartum, paparan radiasi, hingga cedera.

  • Penggunaan Hormon Tiroid

Penambahan hormon tiroid yang dilakukan dengan mengonsumsi tablet atau suplemen dapat juga membuat hormon tiroid menjadi berlebihan dalam tubuh [5,8].

Baik itu resep dokter ataupun bukan, hal ini dapat berisiko tinggi meningkatkan kadar hormon tiroid terlalu berlebihan.

  • Asupan Yodium Berlebihan

Kekurangan mineral yodium dapat menjadi penyebab kelenjar tiroid tidak berfungsi secara maksimal dalam menghasilkan hormon tiroid sehingga dapat memicu gondok maupun hipotiroid.

Namun  yodium yang juga diperoleh tubuh secara berlebihan mampu memicu hipertiroid karena otomatis kelenjar tiroid akan menghasilkan terlalu banyak hormon tiroid [8].

Bukan hanya beberapa faktor tersebut yang perlu dikenali dan diwaspadai dapat meningkatkan potensi terkena hipertiroid, melainkan beberapa faktor berikut juga [7,11] :

  • Stres
  • Kebiasaan merokok.
  • Faktor jenis kelamin, di mana wanita jauh lebih berisiko tinggi menderita hipertiroid.
  • Riwayat kesehatan keluarga, di mana bila ada anggota keluarga dengan kondisi penyakit Graves maka seseorang dari keluarga tersebut berpotensi besar mengembangkan hipertiroid.
  • Riwayat medis tertentu, di mana seseorang dengan riwayat diabetes tipe 1, insufisiensi adrenal primer, dan anemia pernisosa lebih berisiko dalam mengembangkan hipertiroid.

Hipertiroid dan Kehamilan

Para wanita yang sedang hamil setidaknya tidak perlu terlalu khawatir mengenai hipertiroid karena kadar hormon tiroid yang meningkat selama hamil umumnya tidak berbahaya [2].

Namun demikian, bila gejala tak wajar yang mengarah pada hipertiroid timbul, segera ke dokter untuk memeriksakan diri dan menanganinya.

Ini karena hipertiroid yang dibiarkan dapat memengaruhi kondisi janin serta kesehatan sang ibu sendiri.

Bagi para wanita yang pernah mengalami hipertiroid, sebelum merencanakan kehamilan ada baiknya konsultasikan hal ini lebih dulu dengan dokter.

  • Konsultasi dengan dokter dapat dilakukan dengan topik perencanaan kehamilan dengan kondisi hipertiroid [10].
  • Bila kondisi hipertiroid yang dialami ada kaitannya dengan penyakit Graves, lakukan penundaan perencanaan kehamilan sampai penyakit ini terkontrol dengan lebih baik.
  • Tunggu setengah sampai satu tahun sebelum merencanakan kehamilan bila baru saja atau sedang menjalani yodium radioaktif.
Tinjauan
Hormon tiroid yang produksinya berlebihan oleh kelenjar tiroid merupakan penyebab utama hipertiroid. Namun, gondok multinodular, tiroiditis, penggunaan suplemen penambah hormon tiroid, hingga kelebihan yodium.

Gejala Hipertiroid

Hipertiroid seringkali tidak menunjukkan gejala yang begitu berarti apalagi terlalu menonjol sehingga seseorang dengan hipertiroid tidak menyadari dirinya tengah mengalami kondisi ini.

Bahkan dokter saja akan merasa kesulitan dalam mendeteksi hipertiroid karena gejala-gejalanya yang tak terlalu nampak atau bahkan mirip dengan gejala gangguan kesehatan lain.

Pada beberapa kasus hipertiroid, berikut ini adalah serangkaian gejala yang kemungkinan bisa dikeluhkan [3,6,7,8] :

  • Aritmia atau detak jantung tidak beraturan
  • Penipisan kulit
  • Takikardia atau detak jantung terlalu cepat di atas 100 detak per menit.
  • Kelemahan otot
  • Tubuh kelelahan
  • Gondok atau pembesaran di bagian leher
  • Frekuensi buang air besar meningkat sehingga jadi lebih sering
  • Siklus menstruasi berubah
  • Keringat keluar secara tidak normal
  • Tremor atau tangan maupun jari dapat bergetar sendiri
  • Mudah tersinggung
  • Suasana hati mudah berubah
  • Kegugupan
  • Kecemasan
  • Tingkat sensitivitas terhadap panas meningkat
  • Palpitasi atau detak jantung berdebar lebih kencang daripada biasanya
  • Selera makan meningkat
  • Berat badan turun tanpa alasan jelas sementara nafsu makan bertambah
  • Gangguan tidur
  • Diare
  • Kerapuhan rambut
  • Konsentrasi menurun

Pada lansia, hipertiroid dapat menimbulkan gejala yang berbeda dari umumnya sehingga terkadang dapat dicurigai sebagai gejala demensia ataupun depresi [2].

Gejala yang dimaksud adalah turunnya nafsu makan yang juga disertai dengan penarikan diri dari kehidupan sosial.

Tinjauan
Gejala hipertiroid sangat mirip dengan gejala penyakit lain pada umumnya, seperti detak jantung lebih cepat, tubuh lelah, sering buang air kecil, dan perubahan suasana hati. Namun bila nafsu makan meningkat justru disertai dengan penurunan berat badan, penting untuk menemui dokter dan memeriksakan diri.

Pemeriksaan Hipertiroid

Ketika gejala-gejala yang terasa tidak nyaman dan tidak wajar muncul namun ragu apakah hal tersebut mengarah pada hipertiroid, ada baiknya segera temui dokter.

Beberapa metode pemeriksaan inilah yang umumnya dokter terapkan untuk mengetahui penyebab gejala [2,3,4,5,6,7,8],.

  • Pemeriksaan Fisik : Dokter biasanya akan memeriksa kondisi kulit pasien, adanya pembesaran bagian leher, hingga adanya kondisi tremor pada tangan pasien. Selain itu pemeriksaan fisik akan disertai dengan tes detak jantung serta pengajuan pertanyaan seputar riwayat medis pasien maupun keluarga.
  • Tes Pemindaian : Dokter dapat meminta pasien menempuh scan tiroid atau yodium radioaktif maupun ultrasound supaya dokter sendiri mampu menentukan apakah gondok multinodular ataupun penyakit Graves merupakan penyebab hipertiroid.
  • Tes Darah : Tes darah sangat berguna dalam mengukur kadar hormon tiroid (T4 dan T3) dan TSH sehingga dokter dapat mengonfirmasi apakah gejala mengarah pada hipertiroid. Untuk pasien lansia, tes ini sangat diperlukan apalagi jika pasien tak menunjukkan gejala umum dari hipertiroid.
Tinjauan
Pemeriksaan fisik, pertanyaan seputar riwayat medis, tes pencitraan/pemindaian, serta tes darah adalah metode diagnosa yang dokter lakukan untuk mendeteksi penyebab dan tingkat keparahan hipertiroid pasien.

Pengobatan Hipertiroid

Hipertiroid dapat diobati, namun pengobatannya biasanya diberikan oleh dokter berdasarkan tingkat keparahan serta penyebab utama dari hipertiroid tersebut, seperti :

1. Beta Blockers

Jika umumnya beta blockers digunakan sebagai obat hipertensi atau tekanan darah tinggi, namun obat ini rupanya memiliki manfaat lain, yakni meredakan gejala hipertiroid yang dikeluhkan pasien [5,7].

Gejala-gejala hipertiroid yang dapat diatasi dengan beta blockers umumnya adalah palpitasi, tremor dan takikardia.

Dokter berkemungkinan besar memberi resep obat ini sampai kadar tiroid normal, namun dokter tak akan meresepkannya bagi yang memiliki disfungsi seksual, kelelahan, dan asma.

2. Yodium Radioaktif

Yodium radioaktif dalam bentuk cairan ataupun pil dapat diberikan oleh dokter untuk mengatasi produksi hormon tiroid berlebihan oleh kelenjar tiroid [2,3,5,6,7,8].

Pengobatan ini berbeda dari yodium radioaktif dalam bentuk scan karena scan hanya untuk mengonfirmasi hipertiroid saja.

Pengobatan ini sangat efektif bagi 80% pasien hipertiroid untuk sembuh selama kurang lebih 8-12 minggu penggunaan obat ini [8].

3. Antitiroid

Obat antitiroid umumnya tidak memberikan kesembuhan total yang permanen bagi pasien hipertiroid, namun setidaknya produksi hormon tiroid yang berlebihan dapat ditekan [2,3,5,6,7,8].

Pemberian obat antitiroid berupa methimazole adalah yang paling umum, namun bagi wanita hamil (khususnya di trimester awal) dokter akan meresepkan propylthiouracil karena efek samping methimazole dapat mengancam janin [2,10].

4. Tiroidektomi

Operasi tiroid atau tiroidektomi sangat jarang diterapkan, namun umumnya dokter akan merekomendasikan kepada pasien wanita hamil dan anak-anak yang memiliki alergi terhadap obat antitiroid.

Selain itu, tiroidektomi lebih direkomendasikan bagi orang-orang yang kelenjar tiroidnya membesar cukup ekstrem disertai gejala sesak nafas, suara parau hingga susah menelan [8].

Tiroidektomi dapat berupa tindakan pengangkatan kelenjar tiroid sebagian atau seluruhnya, tergantung dari seberapa parah hipertiroid pasien [2,3,5,6,7,8].

Tiroidektomi parsial adalah metode bedah paling umum yang pasien hipertiroid tempuh untuk mengangkat jaringan tiroid sebagian saja, khususnya yang menghasilkan hormon tiroid terlalu banyak.

5. Operasi Otot Mata

Pada kasus hipertiroid yang berkaitan dengan penyakit Graves, ada kalanya operasi otot mata diperlukan oleh pasien karena otot salah satu atau kedua mata dapat terlalu pendek karena jaringan parut oleh oftalmopati [3].

Penglihatan ganda adalah gejala dari otot mata yang terlalu pendek dan operasi ini akan memperbaikinya.

6. Operasi Dekompresi Orbita

Pada kasus hipertiroid yang berhubungan dengan penyakit Graves, langkah pengobatan lain yang kemungkinan direkomendasikan oleh dokter adalah operasi dekompresi orbita [3].

Pembedahan ini bertujuan mengangkat tulang yang ada diantara sinus dan rongga mata. Umumnya, pembedahan ini dapat menyelamatkan kembali fungsi penglihatan pasien.

7. Diet

Pola makan atau diet dari pasien hipertiroid juga sangat perlu diperhatikan.

Ada sejumlah makanan yang benar-benar wajib menjadi pantangan sementara agar tiroid kembali normal dalam menjalankan fungsinya [9].

  • Jika memiliki alergi makanan, maka alergen dalam bentuk apapun itu perlu dihindari lebih dulu, seperti pada umumnya meliputi jagung, produk olahan susu, kedelai, gluten, dan pengawet makanan.
  • Agar tetap memperoleh mineral kalsium yang cukup, gantilah produk susu biasa dengan susu almond serta asupan dari makanan laut.
  • Selain itu, ubi jalar, nasi merah, dan oatmeal bebas gluten juga tergolong aman bagi penderita hipertiroid yang memiliki alergi makanan.
  • Makanan goitrogenik perlu dihindari oleh pasien hipertiroid yang menjalani perawatan yang mampu berdampak pada timbulnya hipotiroid, seperti kubis, brokoli, jawawut, dan kembang kol.
  • Sayuran nongoitrogenik yang bisa secara aman dikonsumsi antara lain adalah paprika, selada, bawang putih, bawang merah, kacang-kacangan berwarna hijau, asparagus, serta wortel.
  • Daging merah, daging olahan dan daging yang digoreng juga termasuk pantangan pasien hipertiroid supaya dapat mengatasi tiroid yang terlalu aktif.
  • Makanlah ikan-ikanan, daging unggas atau daging putih tanpa kulit untuk memperoleh asupan protein.
  • Bagi penderita hipertiroid yang berkaitan dengan penyakit diabetes, penting untuk menjadikan makanan-makanan berindeks glikemik tinggi sebagai pantangan, yakni meliputi gandum olahan, jus buah berpemanis, tepung putih, permen, manisan, kentang instan, dan sereal rendah serat.
  • Sumber karbohidrat kaya serat justru sangat dianjurkan, seperti pasta dari gandum, oatmeal, lentil, dan barley.
  • Tetap jaga tubuh terhidrasi dengan baik melalui konsumsi air putih, sayur dan buah segar, sekaligus sup berkaldu yang cukup. Tak lupa juga hindari pula minuman beralkohol dan minuman berkafein.
Tinjauan
Pemberian obat-obatan antitiroid, prosedur pembedahan, dan diet adalah bentuk perawatan bagi pasien hipertiroid agar gejala dapat berkurang.

Komplikasi Hipertiroid

Sejumlah kondisi kesehatan ini dapat menjadi bentuk komplikasi dari hipertiroid yang tak kunjung ditangani atau hipertiroid yang mengalami perburukan [2,7,8,11] :

  • Gangguan Tulang : Kesehatan dan kekuatan tulang dapat dipengaruhi oleh hipertiroid yang terabaikan tanpa penanganan. Tulang dapat menjadi mudah rapuh dan lemah sehingga memicu osteoporosis.
  • Gangguan Jantung : Hipertiroid pun dapat memengaruhi kesehatan jantung karena gejala seperti palpitasi, aritmia hingga takikardia tak teratasi dengan baik. Hal ini pada akhirnya meningkatkan risiko penyakit serius lainnya semacam gagal jantung kongestif dan stroke.
  • Gangguan Kulit : Pada kasus hipertiroid yang berkaitan dengan penyakit Graves, komplikasi dapat berupa gangguan kesehatan kulit, seperti pembengkakan dan kemerahan.
  • Gangguan Penglihatan : Mata pun dapat terkena dampak dari hipertiroid yang disebabkan penyakit Grave, seperti pembengkakan, kemerahan, dan mata yang menonjol. Tingkat sensitivitas terhadap cahaya pun menjadi tinggi ditambah penglihatan ganda yang bila kondisi tak ditangani maka berisiko pada kebutaan permanen.
  • Hipotiroid Permanen : Hipertiroid yang ditangani melalui metode yodium radioaktif oral dapat mengakibatkan efek samping ataupun komplikasi berupa hipotiroid permanen.
  • Krisis Tirotoksik : Hipertiroid yang mampu mengakibatkan kondisi denyut nadi cepat, demam, hingga penurunan konsentrasi hingga kesadaran atau krisis tirotoksik, segera periksakan ke dokter.
Tinjauan
Gangguan tulang, jantung, kulit, penglihatan, serta krisis tirotoksik adalah bentuk komplikasi ketika hipertiroid terlambat ditangani. Sementara hipotiroid permanen dapat terjadi sebagai komplikasi dari pengobataan hipertiroid berupa yodium radioaktif oral.

Pencegahan Hipertiroid

Hipertiroid adalah kondisi kesehatan yang tak dapat dicegah namun dapat diatasi dengan cara meredakan berbagai gejalanya dengan serangkaian pengobatan medis dan non-medis [11].

Hipertiroid dapat mengalami kekambuhan atau kembali terulang sehingga pencegahan bisa dilakukan agar hipertiroid tidak gampang terjadi lagi.

  • Hindari konsumsi minuman alkohol dan kafein terlalu banyak.
  • Kurangi stres dengan cara-cara yang positif dan benar.
  • Berhentilah dari kebiasaan atau aktivitas merokok untuk menurunkan risiko penyakit Graves.
  • Segera ke dokter saat gejala hipertiroid mulai kembali dirasakan agar bisa ditangani secepatnya.
Tinjauan
Pencegahan hipertiroid hanyalah dapat mengurangi risiko kambuhnya kondisi dan karena hipertiroid bukan jenis gangguan kesehatan yang dapat dicegah. Bahkan ada banyak penderita hipertiroid yang harus mengonsumsi obat-obatan dalam jangka panjang agar gejala hipertiroid tidak berujung komplikasi.

1) Healthwise Staff & Kathleen Romito, MD. 2018. Michigan Medicine University of Michigan. Thyroid Hormone Production and Function.
2) Anonim. 2016. The National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. Hyperthyroidism (Overactive Thyroid).
3) Anonim. 2011. Better Health Channel. Thyroid - hyperthyroidism.
4) Jordan Rosenfeld. 2017. Mental Floss. 11 Eye-Opening Facts About the Thyroid.
5) Anonim. American Thyroid Association. Hyperthyroidism (Overactive).
6) Colleen Doherty, MD & Richard N. Fogoros, MD. 2019. Verywell Health. An Overview of Hyperthyroidism.
7) Mayo Clinic Staff. 2020. Mayo Clinic. Hyperthyroidism (overactive thyroid).
8) Melissa Conrad Stöppler, MD, Ruchi Mathur, MD, FRCP(C) & William C. Shiel Jr., MD, FACP, FACR. 2019. MedicineNet. Hyperthyroidism.
9) August McLaughlin & Jill Corleone, RDN, LD. 2018. Live Strong. 6 Types of Foods to Avoid With Hyperthyroidism.
10) Ramon Martinez, M.D., Leslie De Groot, M.D., Jorge Mestman, M.D. 2018. Hormone Health Network. Hyperthyroidism and Pregnancy.
11) Dr. Mary Car-Blanchard, OTD/OTR/L, Valerie K. Clark, Steve Meadows, MD, Ernie F. Soto, DDS, Ronald J. Glatzer, MD, Jonathan Rosenberg, MD, Christopher M. Nolte, MD, David Applebaum, MD, Jonathan M. Tarrash, MD, & Paula Soto, RN/BSN. 2016. Colonial Healthcare. Hyperthyroidism.

Share