Obat

Antibiotik: Manfaat, Penggunaan, dan Efek Samping

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Anda pasti pernah minum antibiotik setidaknya satu kali dalam hidup. Mulai dari pengobatan untuk radang tenggorokan hingga infeksi kulit, antibiotik adalah salah satu jenis obat yang paling banyak digunakan dalam dunia medis.

Apa itu antibiotik?

Antibiotik adalah jenis obat-obatan untuk melawan infeksi oleh bakteri pada manusia dan hewan. Obat ini akan membunuh bakteri atau membuat bakteru sulit untuk tumbuh dan berkembang biak. [1, 2, 3, 4]

Antibiotik bisa diberikan melalui beberapa cara: [2, 4]

  • Secara oral (melalui mulut). Bisa berupa pil, kapsul, atau cairan.
  • Secara topikal. Bisa berupa krim, semprot, atau salep yang dioleskan ke kulit. Jenis ini juga bisa berupa tetes mata atau telinga.
  • Melalui suntikan atau infus, biasanya untuk jenis infeksi yang lebih serius.

Tidak ada satu macam antibiotik yang bisa menyembuhkan segala macam infeksi. Tiap infeksi membutuhkan antibiotik khusus.

Antibiotik secara spesifik digunakan untuk mengobati infeksi yang disebabkan oleh bakteri, seperti Staphylococcus, Streptococcus, atau E. Coli. Antibiotik tidak bisa digunakan untuk menyembuhkan infeksi akibat virus. Tetapi, kadang-kadang, infeksi virus yang berkembang menjai infeksi bakteri juga perlu diobati menggunakan antibiotik. [1, 2, 3, 4]

Kapan antibiotik dibutuhkan?

Antibiotik harus dipilih secara spesifik untuk jenis bakteri yang akan dilawan dan, secara umum, tidak bisa digunakan pada infeksi lainnya. Bila antibiotik digunakan dengan benar, biasanya aman dan hanya menimbulkan beberapa efek samping. [1]

Namun, seperti juga sebagian besar obat, antibiotik bisa menyebabkan efek samping yang beragam mulai dari ringan hingga mengancam keselamatan jiwa. Pada bayi dan orang lanjut usia, pada pasien dengan gangguan ginjal atau hati, pada wanita hamil atau menyusui, dan pada kelompok pasien lainnya, dosis antibiotik perlu disesuaikan berdasarakan karakter khusus dari pasien yang membutuhkannya. [1]

Beberapa jenis infeksi bakteri mungkin tidak membutuhkan antibiotik. Misalnya, jika pasien mengalami infeksi sinus atau infeksi telinga tertentu. Menggunakan antibiotik bila tidak dibutuhkan tidak akan membantu menyembuhkan dan malah akan menimbulkan efek samping. [2, 4]

Berikut beberapa poin penting mengenai antibiotik:

  • Antibiotik biasanya hanya diresepkan untuk infeksi yang cukup serius yang disebabkan oleh bakteri dan beberapa jenis parasit.
  • Jika infeksi bakteri hanya bersifat ringan, maka sistem kekebalan tubuh sudah cukup untuk melawan infeksi tersebut. Jadi, jangan kaget bila dokter tidak menyarankan atau meresepkan antibiotik untuk penyakit yang Anda alami.
  • Tetapi, Anda akan membutuhkan antibiotik jika mengalami beberapa jenis infeksi serius yang disebabkan oleh bakteri, misalnya meningitis atau radang paru-paru (pneumonia). Pada situasi ini, antibiotik seringkali bisa menyelamatkan nyawa.

Infeksi saluran kemih juga biasanya membutuhkan antibiotik agar infeksi tidak menyebar ke ginjal. Antibiotik juga bisa diresepkan untuk mengobati jerawat, yang sebagian besar dari kita anggap bukan suatu kondisi yang serius. Untuk jerawat, antibiotik bisa diberikan melalui mulut atau langsung ke kulit. [4]

Sepuluh jenis infeksi yang paling umum diobati menggunakan antibiotik adalah:

  1. Jerawat
  2. Bronkitis
  3. Konjungtivitis (sakit mata)
  4. Otitis media (infeksi telinga)
  5. Penyakit menular seksual
  6. Infeksi kulit atau jaringan lunak
  7. Radang tenggorokan akibat infeksi Streptococcus
  8. Infeksi perut dan usus
  9. Infeksi saluran nafas atas
  10. Infeksi saluran kemih

Jenis-jenis antibiotik

Antibiotik bisa dikelompokkan menjadi beberapa kelas. Kelas antibiotik adalah pengelompokan beberapa jenis obat yang berbeda namun memiliki kandungan kimia dan farmakologi yang serupa. Obat-obatan yang berada dalam kelas yang sama mungkin bisa membunuh jenis bakteri yang sama atau saling berhubungan. [1]

Tetapi, antibiotik tidak boleh digunakan untuk mengatasi suatu infeksi kecuali dokter secara spesifik meresepkannya. Tiap bakteri hanya bisa dilawan menggunakan antibiotik yang spesifik untuk infeksi yang disebabkannya. Selain itu, tiap infeksi membutuhkan satu rangkaian pengobatan agar bisa sembuh secara efektif, jadi tidak bisa diobati menggunakan antibiotik sisa.

Berikut adalah kelas-kelas antibiotik yang paling umum dan obat-obatan yang masuk ke dalam masing-masing kelas tersebut: [1, 4]

1. Penisilin

Nama lain untuk kelas ini adalah antibiotik beta-laktam, yang merujuk pada formula struktur obat. Kelas penisilin terdiri dari lima kelompok antibiotik: aminopenisilin, penisilin antipseudomonal, inhibitor beta-laktam, penisilin natural, dan penisilin untuk penisilin resistan.

Antibiotik umum dalam kelas ini termasuk:

2. Tetrasiklin

Tetrasiklin adalah obat spektrum luas untuk melawan banyak jenis bakteri dan mengobati berbagi kondisi seperti jerawat, infeksi saluran kemih, infeksi saluran usus, infeksi mata, penyakit menular seksual, periodontitis, dan infeksi bakteri lainnya.

Obat-obatan yang termasuk dalam kelas ini misalnya:

3. Cephalosporin

Ada lima generasi cephalosporin dengan penambahan kemampuan obat pada tiap generasi. Generasi yang lebih baru dengan struktur yang telah diperbarui dibuat untuk mengatasi jenis bakteri tertentu.

Cephalosporin bersifat membunuh bakteri dan cara kerjanya sama seperti penisilin. Cephalosporin bisa mengobati berbagai jenis infeksi, termasuk radang tenggorokan, infeksi telinga, infeksi saluran kemih, infeksi kulit, dan meningitis.

Obat-obatan umum yang termasuk dalam kelas ini diantaranya:

4. Quinolone

Dikenal juga dengan nama fluoroquinolone, quinolone adalah kelas antibakterial sintetis dengan aktivitas spektrum luas. Quinolone bisa digunakan untuk infeksi saluran kemih yang sulit diobati bila pilihan pengobatan lainnya tidak efektif, radang paru-paru, prostatitis bakteri, dan bahkan anthrax atau pes.

Obat-obatan dalam kelas ini memiliki efek samping yang kuat, sehingga harus digunakan dengan sangat hati-hati. Beberapa obat yang termasuk kelas ini diantaranya:

5. Lincomycins

Kelas ini memiliki aktivitas melawan aerob dan anaerob (bakteri yang bisa hidup tanpa oksigen) gram positif, serta juga beberapa anaerob gram negatif.

Derivatif dari lincomycins bisa digunakan untuk mengobati beberapa infeksi serius seperti penyakit radang panggul, infeksi intra-abdomen, infeksi saluran nafas bawah, dan infeksi tulang dan sendi. Beberapa bentuk antibiotik ini juga digunakan secara oles untuk mengobati jerawat.

Obat-obatan yang termasuk kelas ini diantaranya clindamycin dan lincomycin.

6. Macrolide

Macrolide bisa digunakan untuk mengobati radang paru-paru, pertusis (batuk rejan), atau untuk infeksi kulit yang tidak terlalu rumit. Ketolide adalah antibiotik generasi baru yang dikembangkan untuk mengatasi bakteri yang resistan terhadap macrolide.

Obat-obatan yang paling sering diresepkan dari kelas ini adalah azithromycin, clarithromycin, dan erythromycin.

7. Sulfonamide

Sulfonamide efektif untuk mengatasi beberapa jenis bakteri gram positif dan banyak bakteri gram negatif, tetapi resistansi terhadap obat ini juga luas. Penggunaan sulfonamide termasuk untuk infeksi saluran kemih, pengobatan atau pencegahan radang paru-paru pneumocystik, atau infeksi telinga.

Nama-nama obat yang umum dari kelas ini termasuk:

8. Antibiotik glikopeptide

Anggota kelompok antibiotik ini bisa digunakan untuk mengobati infeksi akibat staphylococcus aureus yang resistan terhadap methicillin, infeksi kulit yang kompleks, diare akibat C. Difficile, dan infeksi enterococcal seperti endocarditis yang resistan terhadap beta-laktam dan antibiotik lainnya.

Nama-nama obat yang umum digunakan dari kelas ini termasuk:

9. Aminoglikoside

Aminoglikoside menghentikan sintesis bakteri dengan mengikat pada 30s ribosome dan bekerja secara cepat sebagai pembunuh bakteri. Obat-obatan ini biasanya diberikan melalui infus. Contoh-contoh obatnya termasuk gentamicin, tobramycin, amikacin.

10. Carbapenem

Anibiotik beta-laktam yang diberikan melalui suntukan ini memiliki spektrum luas untuk membunuh bakteri dan bisa digunakan untuk infeksi bakteri menengah hingga yang membahayakan nyawa seperti infeksi perut, radang paru-paru, infeksi ginjal, infeksi yang tidak bisa diobati antibiotik lain, dan banyak lagi.

Obat dalam kelas ini seringkali diberikan sebagai “cara pengobatan terakhir” untuk membantu mencegah terjadinya resistansi terhadap antibiotik. Obat-obatan dari kelas ini termasuk:

Hati-hati menggunakan antibiotik

Antibiotik penting untuk mengobati infeksi dan sudah menyelamatkan banyak sekali nyawa. Tetapi, bila tidak digunakan dengan benar, ia bisa menyebabkan efek samping dan berkontribusi terhadap terjadinya resistansi antibiotik.

Resistansi antibiotik terjadi bila bakteri berubah dan kemudian menjadi tahan terhadap serangan antibiotik. Ini artinya bakteri tidak mati dan malah terus berkembang biak. [2, 3]

Bila antibiotik memang dibutuhkan, manfaatnya akan lebih besar dibanding risiko efek samping atau resistansi yang mungkin ditimbulkannya. Tetapi, terlalu banyak antibiotik yang diresepkan secara tidak perlu dan bahkan salah digunakan, sehingga akhirnya malah menyebabkan manfaat obat-obatan penting ini menjadi rusak.

Pemberian antibiotik yang salah biasanya berupa: [3]

  • Jenis antibiotik yang diresepkan tidak tepat
  • Dosis yang diresepkan tidak tepat
  • Antibiotik diresepkan untuk digunakan dalam jangka waktu yang tidak tepat

Antibiotik harus digunakan dengan benar. Jika tidak, maka bisa mengurangi efektivitasnya. Misalnya, ada antibiotik yang harus diminum bersamaan dengan makanan dan yang lainnya harus diminum saat perut dalam keadaan kosong. Jika antibiotik tidak diminum dengan benar, maka akan mempengaruhi penyerapannya oleh tubuh dan kemudian juga mempengaruhi efektivitasnya. [4]

Hal-hal yang harus diperhatikan saat menggunkan antibiotik adalah: [2, 3, 4]

  • Selalu ikuti petunjuk penggunaan dengan hati-hati. Habiskan obat meskipun gejala-gejala sudah hilang atau tubuh sudah terasa lebih enak. Jika antibiotik berhenti diminum sebelum habis, maka bakteri yang masih tersisa bisa bertahan hidup dan kembali menginfeksi tubuh.
  • Jangan simpan antibiotik untuk digunakan di kemudian hari
  • Jangan berbagi antibiotik dengan orang lain
  • Jangan gunakan antibiotik yang diresepkan untuk orang lain karena bisa memperlambat pengobatan yang sebetulnya lebih tepat, bisa membuat Anda tambah sakit, atau menimbulkan efek samping.

Salah satu pemikiran yang salah di kalangan masyarakat awam adalah bahwa antibiotik bisa menyembuhkan penyakit dengan lebih cepat, sehingga seringkali mereka memintanya pada dokter padahal tidak perlu. Biarkan dokter yang menentukan apakah Anda perlu antibiotik atau tidak.

Efek samping yang bisa ditimbulkan oleh antibotik

Seperti juga semua jenis obat, ada beberapa efek samping yang sudah dilaporkan terjadi bersamaan dengan penggunaan tiap-tiap antibiotik. Baca baik-baik selebaran yang terdapat pada kemasan obat untuk mendapatkan informasi yang spesifik mengenai obat yang akan digunakan.

Sebagian besar efek samping antibiotik tidak bersifat serius. Efek samping yang umum termasuk tinja menjadi lembek, daire, atau sakit perut ringan dan mual. Yang kurang umum, beberapa orang bisa mengalami reaksi alergi terhadap antibiotik dan beberapa bahkan meninggal akibat reaksi alergi yang parah, tetapi ini sangat jarang. [2, 3, 4]

Antibiotik juga bisa membunuh bakteri baik yang hidup di usus dan vagina. Hal ini kemudian bisa menyebabkan bakteri buruk untuk tumbuh.

Bila sedang menggunakan antibiotik terjadi hal-hal berikut, maka segera hubungi fasilitas kesehatan atau dokter: [2, 3, 4]

  • Diare yang sangat cair bersamaan dengan kram perut. Ini adalah tanda infeksi bakteri yang serius di usus: infeksi Clostridium difficile.
  • Sesak nafas, muncul ruam, bentol-bentol, pembengkakan (di bibir, wajah, atau lidah), pingsan. Ini adalah tanda-tanda reaksi alergi.
  • Vagina terasa gatal atau mengeluarkan cairan.
  • Muncul bercak-bercak putih di lidah.
  • Mual dan muntah

Beberapa antibiotik bisa berinteraksi dengan obat lain yang diminum bersamaan. Hal ini bisa menyebabkan reaksi, atau mengurangi efektivitas salah satu pengobatan. Jadi, jika Anda diresepkan antibiotik, beritahu dokter obat apa yang sedang rutin Anda minum untuk mencegah terjadinya interaksi yang tidak diharapkan.

1. Leigh Ann Anderson, PharmD. Antibiotics Guide. Drugs; 2019.
2. Medline Plus Team. Antibiotics. U. S. National Library of Medicine.
3. Division of Healthcare Quality Promotion. Antibiotic Use Questions and Answers; What Everyone Should Know. Centers for Disease Control and Prevention; 2019.
4. Dr Hayley Willacy, Dr Colin Tidy. Antibiotics. Patient Info; 2020.

Share