Jenis-Jenis Penyakit Syaraf Pada Anak

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by redaction team, read our quality control guidelance for more info

Otak adalah salah satu organ paling penting sekaligus lembut yang ada dalam tubuh manusia. Gangguan syaraf adalah masalah yang disebabkan oleh disfungsi otak atau sistem syaraf yang menyebabkan timbulnya gejala-gejala psikologis maupun fisik tergantung dari bagian otak yang mengalami kerusakan.

Sistem syaraf adalah sistem yang kompleks dan luar biasa yang bertugas mengatur dan menyelaraskan aktivitas seluruh bagian tubuh. Sistem ini terdiri dari 2 bagian utama:

  • Sistem syaraf pusat, yang terdiri dari otak dan sumsum tulang belakang.
  • Sistem syaraf peripheral, yang terdiri dari elemen-elemen syaraf selain yang ada di pusat.

Otak manusia mulai berkembang sejak masih berada dalam kandungan dan terus berkembang hingga masa remaja. Sel-sel otak sebagian besar terbentuk sebelum lahir, meskipun sambungan-sambungan syaraf masih belum berkembang hingga di tahap usia selanjutnya.

Gangguan atau penyakit syaraf memiliki spektrum yang luas selain juga berbagai sebab, komplikasi, gejala, dan dampak. Semua penyakit syaraf adalah gangguan yang terjadi pada sistem syaraf yang terdiri dari otak dan tulang belakang.

Sistem syaraf bekerja mengendalikan semua yang ada di tubuh manusia termasuk kemampuan bergerak, melihat dan mendengar. Gejala-gejala dan dampak dari suatu penyakit syaraf tergantung dari bagian otak mana yang mengalami kerusakan. [1, 2, 3, 4]

Penyakit syaraf bisa terjadi pada orang dari semua jenjang usia, tetapi, beberapa gangguan syaraf hanya muncul saat tahun-tahun pertama perkembangan sistem syaraf. Berikut adalah yang umum dialami oleh anak-anak.

Autisme

Autisme adalah gangguan perkembangan syaraf yang sekarang sudah semakin dipahami di seluruh dunia. Penyakit ini umumnya muncul sebagai gangguan interaksi sosial, gangguan kemampuan berkomunikasi baik secara verbal maupun non-verbal, gangguan emosional yang disertai tingkah laku yang berulang-ulang dengan keterikatan pada rutinitas atau ketertarikan atas suatu hal yang spesifik. [1]

Anak-anak yang menderita autisme melihat hal-hal di sekeliling mereka dengan cara yang berbeda dari anak-anak lain seusia mereka.

Tidak ada penyebab spesifik dari autisme, tetapi, sejumlah faktor lingkungan, tingkah laku dan genetik bisa menyebabkan kondisi ini berkembang pada anak-anak.

Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)

Salah satu penyakit syaraf paling umum pada anak-anak yang bahkan bisa terus berlanjut hingga usia remaja adalah ADHD. Anak-anak usia sekolah dengan kondisi ini seringkali tidak terdiagnosa dan bahkan malah dianggap nakal karena gejala-gejala yang ditunjukkannya.

ADHD membuat penderitanya sulit berkonsentrasi dan tidak bisa mengendalikan dorongan-dorongan untuk melakukan sesuatu (impulsif). Anak dengan ADHD sulit menyelesaikan suatu tugas dan perhatiannya sering terpecah. [1, 2]

Kondisi ini bisa disebabkan oleh faktor keturunan, kurang gizi, penggunaan narkoba atau cedera otak. ADHD perlu diperiksa secara menyeluruh oleh dokter spesialis karena gangguan ini memiliki kriteria khusus. Tidak semua anak yang hiperaktif mengalami ADHD.

Dyspraxia

Penyakit syaraf ini cukup umum dialami anak-anak tetapi masih jarang diketahui. Dyspraxia adalah suatu kondisi yang membuat penderitanya kesulitan untuk mengkoordinasikan gerakan tubuh.

Anak dengan kelainan ini seringkali sulit untuk menjaga postur dan keseimbangan tubuhnya. Masih belum ada sebab pasti dari penyakit ini karena diketahui bahwa sel-sel pengontrol gerakan otot pada masing-masing anak berkembang dengan cara yang berbeda. [1]

Epilepsi

Epilepsi adalah penyakit syaraf yang umum pada semua jenjang usia. Kondisi ini bersifat kronis dan ditandai dengan munculnya kejang berulang. Kejang terjadi karena gangguan sementara pada sel-sel otak. [1, 2]

Epilepsi bisa disebabkan oleh faktor-faktor genetik, gangguan perkembangan, infeksi, serta cedera pada otak yang terjadi sebelum lahir. Tingkat keparahan kejang bisa berbeda pada masing-masing penderita.

Sakit Kepala

Sebagian besar jenis sakit kepala bukanlah gejala dari penyakit syaraf, tetapi, pada beberapa kasus bisa disebabkan oleh masalah kesehatan yang serius. Sakit kepala bisa disebabkan oleh perubahan di otak atau tubuh yang bertugas mengirimkan pesan berupa rasa nyeri yang muncul sebagai sakit kepala. [1, 2]

Penting bagi orang tua untuk memeriksakan kondisi anak yang sering mengeluh kepalanya sakit terutama bila disertai oleh gejala-gejala lain seperti muntah, ceroboh, menurunnya kewaspadaan, dan sebagainya.

Dyslexia

Dyslexia adalah suatu bentuk kesulitan belajar yang umum dan bisa menyebabkan anak mengalami masalah dalah membaca, menulis dan mengeja. Tetapi, berbeda dari disabilitas belajar, kecerdasan penderita dyslexia tidak terpengaruh.

Tanda-tanda dyslexia biasanya mulai terlihat jelas ketika anak mulai bersekolah dan fokus pelajarannya meliputi membaca dan menulis. Anak yang mengalami dyslexia mungkin mengalami hal-hal berikut:

  • Sangat lambat saat membaca dan menulis
  • Bingung menyusun huruf-huruf yang benar dalam kata
  • Menulis huruf terbalik (misalnya “b” ditulis “d” san sebaliknya)
  • Kesulitan mengeja kata
  • Bisa memahami informasi yang disampaikan secara verbal, tetapi tidak dalam bentuk tertulis
  • Kesulitan membuat rencana serta menyusun sesuatu

Tetapi, penderita dyslexia seringkali memiliki keahlian yang baik di bidang lain, misalnya berpikir kreatif serta memecahkan masalah.

Penyebab pasti dari dyslexia masih belum diketahui dengan pasti, tetapi seringkali bersifat keturunan. Diduga beberapa gen yang diwariskan dari kedua orangtua bisa mempengaruhi perkembangan beberapa bagian otak pada tahun-tahun pertama kehidupan anak. [2, 5]

Cerebral Palsy

Kondisi ini mempengaruhi kemampuan motorik anak dan disebabkan oleh kerusakan otak yang terjadi sebelum atau saat persalinan atau di tahun pertama kehidupannya. Ini adalah salah satu gangguan perkembangan syaraf paling umum pada anak-anak yang kemudian dibagi-bagi lagi menjadi beberapa jenis tergantung dari gejala-gejala kelainan syaraf yang muncul. [1]

Cerebral palsy menyebabkan anak kesulitan berkoordinasi dan bergerak seperti saat berdiri, berjalan, makan, berbicara, atau mengendalikan buang air besar dan kecil.

Kondisi ini tidak bersifat progresif dan tidak akan semakin berat seiring pertambahan usia.

Tidak ada penyebab pasti dari kondisi ini, tetapi diketahui terjadi saat bayi masih berada dalam kandungan ketika janin tidak tumbuh dengan normal atau mengalami kerusakan pada otak. Akibatnya, komunikasi antara otak dan otot terganggu sehingga menyebabkan gerakan dan postur tubuh tidak selaras. [1, 2]

Kondisi ini tidak bisa disembuhkan, tetapi bisa dikurangi keparahannya melalui pengobatan dan terapi. [1, 3]

fbWhatsappTwitterLinkedIn

Add Comment