Clubfoot : Penyebab – Gejala dan Penanganan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by redaction team, read our quality control guidelance for more info

Apa Itu Clubfoot?

Club Foot (img : Dr Foot)

Clubfoot adalah suatu kondisi cacat bawaan lahir pada tulang dan otot kaki bayi [1,2,3,5,6,7,8]. Clubfoot disebut juga dengan Congenital Talipes Equinovarus (CTEV).

Pada kondisi clubfoot, salah satu atau kedua kaki bayi akan membengkok sehingga clubfoot dikenal dengan sebutan kaki pengkor atau bengkok.

Bayi yang mengalami clubfoot memiliki tendon yang sangat pendek dalam menjadi penghubung antar otot kaki.

Tinjauan
Club foot adalah kondisi cacat lahir pada bagian tulang dan otot kaki bayi ditandai dengan kaki bengkok secara tidak normal.

Fakta Tentang Clubfoot

Clubfoot atau kaki pengkor merupakan salah satu kelainan ortopedi bawaan lahir yang sangat umum di mana Hippocrates-lah yang mendeskripsikan pertama kalinya pada tahun 400 SM [1].

Menurut American Academy of Orthopaedic Surgeons, 1 dari 1000 bayi yang lahir mengalami clubfoot dengan risiko lebih besar terjadi pada bayi laki-laki daripada bayi perempuan [3].

Di Amerika Serikat kurang lebih terdapat 10 kasus clubfoot pada bayi yang baru lahir setiap harinya [2].

Sedangkan di Indonesia sendiri dengan 3,5-4 juta angka kelahiran per tahun, per harinya diperkirakan terdapat 1 kasus clubfoot pada bayi baru lahir [2].

Jenis-Jenis Clubfoot

Clubfoot terdiri dari tiga jenis kondisi yang para orangtua perlu kenali dan waspadai, yaitu seperti berikut [4,7].

Sindrom Clubfoot

Pada jenis clubfoot yang disebut dengan sindrom clubfoot ini, tingkat keparahan adalah yang paling serius.

Sindrom clubfoot lebih sulit untuk ditangani dengan potensi kepulihan pada penderitanya yang sangat kecil.

Clubfoot Idiopatik

Jenis clubfoot idiopatik merupakan jenis clubfoot yang paling umum terjadi dengan kasus 1-4 : 1000.

Bayi dengan jenis clubfoot ini akan memiliki bentuk kaki yang sama sejak lahir hingga dewasa apabila tidak diobati sejak dini.

Clubfoot idiopatik dapat memberikan dampak buruk bagi kemampuan berjalan penderitanya di kemudian hari.

Positional Clubfoot

Kondisi jenis clubfoot ini menunjukkan kaki bayi yang fleksibel dalam posisi yang abnormal selama berada di dalam kandungan.

Salah satu atau kedua kaki bayi saat lahir dapat berada dalam posisi istirahat namun nampak tidak wajar.

Risiko clubfoot jenis ini meningkat terutama saat posisi bayi sungsang di dalam rahim.

Namun karena tergolong fleksibel, posisi kaki bayi dapat diubah dengan tangan ke posisi netral.

Tinjauan
Clubfoot memiliki tiga jenis kondisi, yaitu sindrom clubfoot (kondisi clubfoot paling sulit ditangani), clubfoot idiopatik (jenis clubfoot yang paling umum), dan positional clubfoot (kondisi clubfoot yang paling fleksibel). 

Penyebab Clubfoot

Penyebab clubfoot tidaklah diketahui secara pasti, namun faktor genetik menjadi salah satu hal yang dicurigai menjadi penyebab clubfoot pada anak [3,5,7,8].

  • Orangtua yang memiliki anak pertama lahir dengan masalah clubfoot, risiko anak kedua lahir dengan masalah kesehatan yang sama kurang lebih 1:35 kemungkinannya.
  • Salah satu orangtua yang menderita clubfoot akan meningkatkan risiko anaknya lahir dengan masalah yang sama.
  • Risiko clubfoot pada bayi baru lahir lebih besar lagi ketika kedua orangtua memiliki riwayat clubfoot.

Selain faktor genetik, faktor lingkungan pun dapat menjadi hal yang memperbesar potensi bayi lahir dengan cacat bawaan ini.

Berikut ini adalah beberapa faktor risiko lain yang perlu dikenali dan diwaspadai pada kondisi clubfoot.

  • Merokok : Aktivitas merokok selama kehamilan adalah salah satu hal yang memperbesar potensi anak lahir dengan kondisi cacat, termasuk clubfoot.
  • Kondisi Kongenital : Spina bifida atau kondisi cacat lahir pada bayi sebagai dampak dari pembentukan tabung saraf yang mengalami gangguan selama berada dalam kandungan pun bisa menjadi alasan dibalik meningkatnya risiko clubfoot.
  • Tidak Memadainya Air Ketuban : Ketika selama hamil cairan ketuban tidak memadai sehingga janin dikelilingi dengan cairan yang terlalu sedikit, hal ini tak dapat disepelekan karena kaki pengkor pada waktu bayi lahir dapat terjadi. Kondisi jumlah cairan ketuban yang sangat sedikit ini disebut juga dengan istilah oligohidramnion.
Tinjauan
Faktor genetik diduga menjadi penyebab utama dari clubfoot, namun gaya hidup yang buruk, cairan ketuban yang tidak memadai, serta gangguan kongenital lain dapat menjadi pemicu clubfoot pada janin dan bayi.

Gejala Clubfoot

Para calon orangtua yang tengah menantikan kehadiran sang buah hati, pemeriksaan USG prenatal dapat ditempuh untuk mengetahui apakah bayi mengalami suatu kondisi kelainan.

Clubfoot adalah salah satu cacat lahir yang sebenarnya dapat dilihat melalui USG prenatal, atau bisa juga saat bayi baru saja lahir.

Berikut ini adalah gejala clubfoot yang para orangtua perlu kenali pada bayi baru lahir [3,5,7,8] :

  • Kaki bayi cenderung melebar dan juga pendek.
  • Tumit mengarah ke bawah dengan bagian depan kaki membengkok ke dalam.
  • Otot betis pada sisi kaki yang mengalami clubfoot terlihat lebih kecil daripada otot betis normal.
  • Kaki yang mengalami bengkok (clubfoot) nampak lebih pendek dibandingkan kaki lainnya.
  • Terlepas dari tampilan kaki yang tidak normal, tidak terdapat rasa nyeri sama sekali pada kaki yang terpengaruh.
  • Gerakan kaki bayi menjadi sangat terbatas.

Kapan seharusnya memeriksakan diri ke dokter?

Umumnya, dokter akan langsung dapat melihat kondisi clubfoot pada bayi yang baru lahir berdasarkan fisik bayi tersebut [8].

Dokter kemudian akan merujukkan orangtua bayi kepada dokter yang ahli di bidangnya, yaitu dokter spesialis tulang dan otot khusus anak.

Hal ini supaya anak dapat memperoleh penanganan yang tepat dari ahlinya.

Tinjauan
Kaki bengkok secara tidak normal, gerakan kaki yang terbatas, ukuran kaki lebih pendek, serta otot betis yang lebih kecil menjadi gejala yang umumnya ditemukan pada penderita clubfoot, namun tidak disertai rasa nyeri.

Pemeriksaan Clubfoot

Clubfoot umumnya dapat terdeteksi langsung oleh dokter saat dokter melihat bentuk dan posisi kaki bayi yang baru lahir tidaklah seperti pada kaki bayi normalnya [3,5,7,8].

Meski demikian, dokter terkadang perlu memastikan diagnosa dengan melakukan sinar-X atau rontgen pada kaki bayi tersebut [7,8].

Selain untuk mengonfirmasi bahwa kondisi yang diderita sang bayi adalah clubfoot, rontgen bertujuan membantu dokter mengetahui seberapa parah clubfoot tersebut.

Hanya saja, pemeriksaan dengan metode sinar-X tidak selalu diterapkan karena biasanya dokter tidak terlalu memerlukannya.

Pada usia kehamilan 20 minggu, pemeriksaan USG pun dapat ditempuh untuk melihat adanya ketidaknormalan pada tumbuh kembang janin [3,5,6,7,8].

Walau begitu, tak banyak yang dapat dilakukan saat mengetahui bahwa clubfoot terjadi pada janin karena hampir tak memungkinkan untuk mengatasinya.

Namun dengan mengetahuinya pada masa kehamilan, setidaknya para calon orangtua dapat mempelajari dan memahami clubfoot dengan berkonsultasi dengan ahlinya.

Tinjauan
Untuk mendiagnosa clubfoot pada janin, USG perlu ditempuh terutama saat kehamilan berusia sekitar 20 minggu. Untuk mendiagnosa clubfoot pada bayi baru lahir, biasanya dokter cukup melihat langsung kondisi fisik bayi dan melakukan sinar-X bila perlu.

Penanganan Clubfoot

Pada tulang, tendon dan sendi bayi yang baru lahir, fleksibilitasnya sangat tinggi sehingga sangat memungkinkan bagi dokter untuk menangani clubfoot pada bayi saat usianya masih 1-2 minggu.

Penanganan yang diberikan secara medis umumnya bertujuan untuk meningkatkan penampilan fisik kaki bayi sekaligus fungsinya sebelum beranjak balita dan belajar berjalan.

Penanganan juga utamanya bertujuan untuk mencegah cacat fisik jangka panjang.

1. Metode Ponseti

Penanganan paling umum yang diberikan kepada penderita clubfoot adalah peregangan dan gips di mana hal ini disebut dengan metode Ponseti [1,2,3,5,6,7,8].

  • Dokter akan membantu memperbaiki posisi kaki bayi agar normal dan benar, barulah kemudian pemasangan gips dilakukan untuk menahan atau menyangga posisi kaki yang sudah benar tersebut.
  • Gips ulang dan reposisi kaki bayi perlu dilakukan secara rutin, biasanya seminggu sekali namun dalam waktu beberapa bulan.
  • Dokter sekiranya perlu menerapkan prosedur operasi untuk memanjangkan tendon Achilles.
  • Setelah proses posisi ulang pada bentuk kaki bayi, para orang tua perlu melakukan latihan peregangan pada si kecil.
  • Orangtua perlu memberikan brace maupun sepatu khusus bagi si kecil.
  • Orangtua perlu memahami bahwa penggunaan brace serta sepatu khusus pada bayi tidaklah seterusnya. Umumnya, waktu yang dibutuhkan dalam penggunaan kedua alat tersebut hanya sampai 3 bulan dan maksimal 3 tahun untuk penggunaan malam hari saat bayi tidur.

Orangtua bayi pun perlu memerhatikan petunjuk dokter mengenai pemasangan brace dan sepatu khusus agar clubfoot dapat diatasi dengan tepat.

Risiko kegagalan cukup tinggi dalam penggunaan brace dan sepatu khusus karena biasanya orangtua menerapkannya tidak sesuai dengan arahan dokter.

2. Metode Perancis

Pada penanganan dengan metode Perancis, dokter tidak menggunakan gips, tapi memanfaatkan plester khusus untuk membelat kaki bengkok pada bayi [1,3].

Metode ini diterapkan dokter dengan tujuan memperbaiki posisi dan bentuk kaki bayi di mana perawatan ini umumnya dilakukan sampai si kecil berusia 6 bulan atau tergantung keputusan dokter.

Perawatan serupa masih perlu dilakukan di rumah sehingga para orangtua akan diarahkan oleh terapis dalam penerapan metode Perancis ini.

Bila sebelumnya, metode peregangan dilakukan untuk menangani kaki sang bayi, penggunaan brace masih perlu dilakukan dengan memasangkannya pada kaki bayi setiap malam selama kurang lebih 3 tahun.

3. Operasi

Langkah operasi biasanya perlu ditempuh apabila memang clubfoot pada bayi sudah sangat parah dan penanganan non-operasi tidak memberikan hasil yang diharapkan [1,3,5,7,8].

Bedah ortopedi adalah salah satu penanganan yang membantu agar posisi ligamen dan tendon pada kaki berada di posisi yang lebih tepat.

Usai menempuh bedah ortopedi, dokter tetap akan merekomendasikan penggunaan brace pada sang bayi.

Penggunaan brace kurang lebih adalah satu tahun yang bertujuan supaya kaki bengkok tidak kembali terjadi saat sang anak bertumbuh dewasa.

Tinjauan
Metode Ponseti (peregangan dan pemasangan gips) dan metode Perancis (membelat kaki yang menderita clubfoot) adalah langkah penanganan medis yang paling umum. Namun bila metode non-operasi tidak berhasil, langkah operasi akan direkomendasikan oleh dokter.

Komplikasi Clubfoot

Selama clubfoot diatasi sejak dini, bayi yang mengalami kondisi ini umumnya tidaklah sampai menderita komplikasi.

Bahkan bayi-bayi yang lahir dengan clubfoot umumnya tidak mengalami masalah saat belajar berdiri dan berjalan, namun beberapa komplikasi ringan ini kemungkinan tetap bisa terjadi [8] :

  • Tingkat fleksibilitas kaki yang mengalami clubfoot tergolong rendah.
  • Ukuran kaki yang mengalami clubfoot dapat lebih kecil daripada kaki yang tidak terkena.
  • Otot betis pada sisi kaki yang mengalami clubfoot lebih kecil daripada otot betis pada sisi kaki yang tidak terkena.
  • Kaki yang mengalami clubfoot cenderung lebih pendek, namun tidak terdapat masalah ketika harus digerakkan.

Namun selain dari beberapa kondisi ringan tersebut, ada beberapa kondisi komplikasi yang lebih serius, khususnya jika clubfoot tidak mendapatkan penanganan yang tepat.

  • Masalah pada penampilan fisik kaki anak saat tumbuh remaja.
  • Risiko arthritis cukup tinggi saat clubfoot tidak diobati.
  • Pertumbuhan alami otot betis tidak berjalan sempurna.
  • Terdapat luka besar pada kaki, dapat disebut dengan kapalan.
  • Gaya berjalan saat anak bertumbuh besar menjadi cukup canggung.
Tinjauan
Penampilan fisik pada kaki cukup berpengaruh saat anak bertumbuh dewasa. Namun beberapa komplikasi lain seperti gaya berjalan yang canggung, luka besar seperti kapalan pada kaki, pertumbuhan otot betis tidak sempurna, dan arthritis dapat terjadi bila clubfoot tidak ditangani sedari dini.

Pencegahan Clubfoot

Tidak terdapat cara khusus untuk mencegah clubfoot sepenuhnya karena penyebab clubfoot tidak diketahui secara jelas.

Namun, sebagian besar selalu dapat ditangani secara dini, maka beberapa upaya dalam meminimalisir agar bayi tidak lahir dengan clubfoot antara lain adalah [3,8] :

  • Para wanita melakukan pemeriksaan sebelum kehamilan dan memastikan bahwa kondisi kesehatan sangat baik sebelum merencanakan kehamilan.
  • Melakukan pemeriksaan infeksi untuk mengalami kehamilan yang sehat.
  • Melakukan konsultasi dengan dokter (atau konselor genetik) dalam upaya meminimalisir gangguan kesehatan karena faktor genetik.
  • Melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin, salah satunya dengan USG setidaknya pada usia kehamilan 13-20 minggu.
  • Tidak merokok selama hamil.
  • Menghindari paparan asap rokok selama hamil.
  • Tidak mengonsumsi obat-obatan tanpa resep atau pengawasan dokter saat hamil.
  • Tidak mengonsumsi minuman yang mengandung alkohol saat hamil.
Tinjauan
Menjaga gaya hidup sehat selama hamil (tidak merokok, tidak mengonsumsi alkohol, dan tidak mengonsumsi obat tanpa resep dokter) sangat penting. Selain itu, melakukan pemeriksaan rutin sebelum merencanakan kehamilan dan selama masa kehamilan pun dapat meminimalisir clubfoot pada bayi.
fbWhatsappTwitterLinkedIn

Add Comment