Abrasi Kornea – Penyebab – Gejala dan Pengobatan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by redaction team, read our quality control guidelance for more info

Tinjauan Medis : dr. Vina Yolanda Ikhwin Putri, MD
Abrasi kornea adalah goresan, kikisan, atau terpotongnya permukaan kornea. Penyebab tersering adalah kuku, kuas makeup, ranting pohon, dan partikel kecil seperti debu atau pasir. Gejala yang muncul dapat... berupa sensasi benda yang mengganjal di mata, mata merah, perih, dan berair, pandangan kabur dan buram, serta sensitif terhadap cahaya. Apabila mata mengalami gejala tersebut dan ada riwayat cedera pada mata karena kuku atau pasir, hindari mengucek/menggosok mata dan segera periksaan mata anda ke dokter. Pemeriksaan mata dengan tetesan flourescein dapat menunjukkan bagian kornea yang mengalami abrasi. Dengan penanganan yang tepat, gejala abrasi kornea dapat hilang dalam 24-48 jam sejak gejala muncul. Read more

Apa Itu Abrasi Kornea?

Abrasi Kornea
Abrasi Kornea (img : All About Vision)

Abrasi kornea adalah suatu kondisi ketika permukaan kornea mata mengalami goresan [1,2,3,4,5,6]

Goresan dapat berasal dari masuknya debu ke dalam mata, kuku saat mengucek mata, kuas makeup untuk mata, atau benda asing lainnya [4].

Kornea sendiri adalah bagian mata yang tidak memiliki pembuluh darah serta merupakan selaput bagian depan mata yang jernih dan transparan melapisi pupil dan iris mata [5].

Karena berada di bagian depan mata, kornea adalah yang paling kerap terkena benda-benda asing dan tergores.

Tinjauan
Ketika permukaan kornea yang bening mengalami goresan secara tak sengaja oleh benda asing, inilah yang disebut dengan kondisi abrasi kornea.

Fakta Tentang Abrasi Kornea

Abrasi kornea di Amerika Serikat merupakan kondisi mata yang paling umum, khususnya dialami oleh anak-anak [1].

Anak laki-laki usia 5-15 tahun adalah yang paling berisiko mengalami abrasi kornea daripada anak perempuan dengan usia yang sama [1].

Abrasi kornea memang menyebabkan rasa tak nyaman dan sakit pada mata, namun rata-rata tidaklah berakibat pada masalah mata permanen [1].

Perlu diketahui bahwa pada kornea terdapat beberapa lapisan yang terdiri dari (terluar-terdalam) :

  • Lapisan epitel
  • Membran bowman
  • Stroma
  • Membran descemet’s
  • Endotel

Dan bagian kornea yang paling sering terlibat dalam abrasi kornea adalah lapisan epitel dan membran bowman, karena keduanya membentuk hampir 10% kornea.

Jika abrasi kornea terjadi hanya pada lapisan epitel, peluang sembuh lebih cepat dan tanpa efek jangka panjang.

Sedangkan jika abrasi kornea menembus membran bowman bahkan lebih dalam lagi, peluang sembuh akan lama.

Hal ini berisiko timbulnya jaringan parut permanen dan berdampak pada penglihatan normal.

Di Indonesia prevalensi abrasi kornea masih terbatas, namun terdapat penelitian pada tahun 2011 di RS Mata Cicendo Bandung yang menunjukkan bahwa ada 188 anak dengan rentang usia 0-14 tahun yang mengalami trauma mata [7].

Penyebab Abrasi Kornea

Abrasi kornea adalah cedera mata yang paling umum sebab hal ini merupakan goresan pada kornea mata akibat masuknya benda asing.

Seperti disebutkan sebelumnya, hasil kucekan mata sehingga mata terkena kuku, kuas makeup untuk mata yang tak sengaja mengenai kornea, lalu debu yang masuk ke mata dapat menjadi penyebab abrasi terjadi.

Hanya saja, selain dari debu, kuku, dan kuas makeup, masih ada faktor lainnya yang tentu saja meningkatkan risiko abrasi kornea terjadi [1,2,3,5] :

  • Atlet yang tidak mengenakan perlindungan mata sehingga mata terkena cedera dari serangan tak sengaja dari pemain lain. Atlet sepakbola dan juga bisbol adalah yang paling rentan terhadap abrasi kornea.
  • Ranting pohon yang kecil hingga asap dan abu rokok yang masuk ke mata saat sedang berada di luar atau jalan pun dapat menjadi penyebab.
  • Penggunakan lensa kontak yang tidak hati-hati saat memasangnya, serta lensa kontak yang jarang dibersihkan.
  • Penggunaan lensa kontak yang berlebihan atau terlalu lama.
  • Risiko pekerjaan yang sering terkena paparan benda asing, yaitu seperti para pekerja konstruksi dan pertanian atau orang-orang yang lebih banyak bekerja di luar ruangan.
  • Pemilik hobi yang suka mengerjakan pekerjaan tangan atau kerajinan tertentu sehingga mata dapat dengan mudah terkena benda tajam. Aktivitas berkebun, mengukir kayu dan menjahit adalah yang paling rentan mengalami abrasi kornea.
  • Anak-anak sekolah yang kemungkinan bermain dengan benda yang runcing pada ujungnya semacam pulpen, kertas, dan pensil.
  • Radiasi ultraviolet dari lampu penerangan jalan hingga kilatan cahaya dari las yang biasanya terjadi pada tukang las dapat pula meningkatkan risiko abrasi kornea.
  • Pasien operasi yang tidak mengenakan alat pelindung bagi mata dapat juga berisiko terkena abrasi kornea.
Tinjauan
Penyebab utama dari abrasi kornea adalah masuknya benda asing ke mata lalu memicu goresan pada permukaan kornea. Goresan tersebut dapat berasal dari kuku saat mengucek mata, penggunaan lensa kontak, efek operasi, radiasi ultraviolet, debu, dan paparan bahan kimia atau benda lainnya.

Gejala Abrasi Kornea

Pada beberapa kasus abrasi kornea, gejala-gejalanya tidaklah langsung dirasakan sehingga saat menyadari gejala sedang dialami, penderitanya sudah lupa apa yang pernah terjadi pada matanya.

Berikut inilah beberapa gejala abrasi kornea yang dapat dirasakan ketika goresan sudah terjadi [1,2,3,4,5] :

  • Mata berair
  • Mata terasa perih dan sakit
  • Mata kemerahan
  • Terasa ada yang mengganjal atau seperti ada yang terjebak di mata
  • Pandangan atau penglihatan menjadi buram
  • Tingkat sensitivtas terhadap cahaya bertambah
  • Rasa sakit umumnya terasa saat membuka maupun menutup mata
  • Sakit kepala
  • Kornea dapat membengkak di mana inilah yang mampu membuat fungsi penglihatan menurun
  • Mual-mual (namun sangat jarang terjadi)
  • Abrasi kornea pada anak membuat anak menjadi lebih gampang dan sering rewel

Kapan seharusnya memeriksakan ke dokter?

Saat kemerahan pada mata tak kunjung memudar dan rasa mengganjal tak kunjung reda, segera periksakan ke dokter, terutama bila sudah diobati dengan tetes mata namun tak efektif [2].

Kondisi gejala dari abrasi kornea dapat disalahartikan sebagai kondisi gangguan mata lainnya, maka perlu diperiksa secara mendetil.

Beberapa penyakit yang mirip dengan abrasi kornea adalah erosi kornea berulang, infeksi herpes simpleks, serta infeksi acanthamoeba.

Tinjauan
Gejala abrasi kornea mirip dengan iritasi mata pada umumnya, mata akan memerah, terasa sakit, berair, terasa mengganjal hingga penglihatan buram.

Pemeriksaan Abrasi Kornea

Ada beberapa metode pemeriksaan yang dokter utamanya akan lakukan pada pasien untuk mengonfirmasi bahwa gejala yang dirasakan pasien adalah positif abrasi kornea.

  • Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik adalah yang paling utama diterapkan oleh dokter kepada pasien dengan gejala yang diduga gejala abrasi kornea [1,2,5].

Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik pada mata menggunakan senter khusus untuk mengecek keberadaan benda asing, pasir, debu, atau bentuk cedera tertentu.

  • Tetes Mata

Cara pemeriksaan lain yang dokter dapat lakukan adalah memberi tetes mata untuk supaya otot mata dapat lebih rileks.

Tetes mata ini pun diberikan dengan tujuan memperbesar pupil mata pasien supaya dapat diperiksa secara lebih seksama.

Pemberian Fluorescin pun biasanya diberikan sebagai bagian dari pemeriksaan untuk diteteskan ke mata pasien [2,4,5].

Tujuan pemberian tetes mata ini adalah untuk memperjelas permukaan kornea yang terkena goresan dari benda asing.

  • Pemberian Anestesi Kornea

Dokter pun kemungkinan besar akan memberikan anestesi kornea supaya rasa nyeri pada mata dapat berkurang sementara kemudian dokter akan melanjutkan pemeriksaan mendalam pada mata [2,5].

Terkadang setelah memberi anestesi tersebut, dokter akan menggunakan pula sejenis kaca pembesar untuk dapat melihat goresan pada permukaan kornea.

Tinjauan
Pemeriksaan gejala abrasi kornea meliputi pemeriksaan fisik pada mata, pemberian tetes mata hingga anestesi untuk mata.

Pengobatan Abrasi Kornea

Untuk menangani abrasi kornea, terdapat dua metode, yakni metode penanganan mandiri serta penanganan medis oleh dokter setelah memeriksakan mata.

Penanganan mandiri adalah bentuk pertolongan pertama yang bisa dilakukan ketika mata tiba-tiba terasa tak nyaman akibat goresan secara tidak sengaja.

Penanganan Secara Mandiri

Ada beberapa cara untuk menangani abrasi kornea yang bisa dilakukan sendiri sebagai bentuk pertolongan pertama saat gejala sakit, merah dan mengganjal pada mata mulai dirasakan.

  • Mengedip Beberapa Kali

Kedip-kedipkanlah mata beberapa kali untuk dapat menghilangkan benda-benda asing dalam ukuran kecil yang masuk ke mata dan membuat mata terasa mengganjal [5,6].

Biasanya, jika pun ada debu atau pasir yang masuk ke mata, cara ini cukup membantu untuk mengembalikan kondisi mata.

  • Menggunakan Air Bersih untuk Membilas Mata

Sediakan kurang lebih secangkir atau segelas air bersih untuk membilas mata yang terasa mengganjal dan perih [1,6].

Atau, bisa juga mata yang rasanya tak nyaman dicelupkan ke air tersebut dan kedip-kedipkan agar partikel-partikel benda asing dapat keluar dari mata.

Sebagai alternatif dari air bersih, air saline atau air garam untuk membilas mata dengan baik yang bertujuan supaya kotoran pada mata bisa dikeluarkan secara alami [5,6].

  • Tidak Menyentuh Mata

Hindari mengucek dan menyentuh mata yang terasa tidak nyaman atau goresan yang sudah ada pada kornea dapat menjadi lebih buruk [5,6].

Hindari juga memberikan apapun ke mata selain air bersih untuk membilas maupun air garam.

  • Mengenakan Kacamata Hitam

Saat gejala abrasi kornea terjadi, umumnya mata perih dan mengganjal disertai dengan tingkat sensitivitas tinggi terhadap sumber cahaya [1,6].

Maka dari itu, setiap kali hendak pergi ke luar ruangan di siang hari, pastikan untuk mengenakan kacamata hitam untuk melindungi mata.

  • Tidak Mengenakan Lensa Kontak

Para pemakai lensa kontak, sebaiknya hindari dulu penggunaannya sampai dokter benar-benar memperbolehkan untuk mengenakannya lagi [1,2,3,5,6].

Konsultasikanlah dengan dokter mengenai penggunaan lensa kontak ini selama abrasi kornea belum sembuh benar.

Penanganan Medis

Usai memeriksa secara detil kondisi kornea mata pasien, dokter mata biasanya akan memberikan beberapa solusi perawatan seperti berikut.

  • Obat Tetes Penenang Mata

Akan ada resep obat tetes mata yang umumnya dokter berikan untuk melembabkan mata [4].

Tak hanya memberikan kelembaban pada mata, ada efek tenang dan rileks yang diberikan oleh obat tetes mata ini pada lapisan permukaan kornea.

  • Tetes Mata Antibiotik

Obat tetes antibiotik umumnya pun diresepkan oleh dokter yang tujuannya adalah agar mata terhindar dari infeksi [1,2,3,4,5].

  • Perban untuk Mata

Ada kalanya dokter mata akan memberikan perlindungan bagi mata pasien dengan menutupnya menggunakan perban [4].

Pada bagian mata yang cedera ditutup agar pasien tidak sembarang menyentuh mata atau melakukan aktivitas lain di area mata yang berisiko memperburuk kondisi abrasi kornea.

  • Lensa Kontak Khusus

Pada pengguna lensa kontak, konsultasikan dengan dokter mengenai apa yang harus dilakukan sementara mata sedang cedera dan tak boleh mengenakan lensa kontak sementara waktu [4].

Biasanya, dokter akan memberikan lensa kontak khusus bagi pasien di mana dengan penggunaannya diharapkan pemulihan mata lebih cepat.

Biasanya lensa kontak ini juga diresepkan oleh dokter supaya rasa nyerinya berkurang.

Potensi kesembuhan dan pemulihan abrasi kornea kurang lebih hanya 1-2 hari saja tanpa adanya bekas luka jika goresannnya ringan dan kecil [3].

Namun bila kondisi abrasinya cukup besar, masa pemulihan dapat terjadi kurang lebih 1 minggu yang bahkan bisa saja sampai 3 bulan.

Tinjauan
Penanganan abrasi kornea terdiri dari dua metode, yakni penanganan mandiri (melalui pembilasan mata menggunakan air bersih atau air garam, tidak menyentuh mata, dan menghindari pemakaian lensa kontak) serta penanganan medis (obat tetes mata antibiotik dan lensa kontak khusus resep dokter).

Komplikasi Abrasi Kornea

Walau abrasi kornea bukanlah masalah kesehatan mata yang serius dan dapat pulih dengan cepat, risiko komplikasi tetaplah ada, yaitu antara lain seperti :

  • Uveitis : Lapisan tengah mata atau uvea yang mengalami peradangan karena kondisi abrasi kornea yang tidak kunjung ditangani dengan benar [2].
  • Infeksi : Goresan pada kornea mata yang tidak segera mendapatkan penanganan dapat berkembang menjadi infeksi, terlebih jika luka goresan cukup dalam [3].
  • Bekas Luka : Goresan pada kornea mata yang ringan tak akan menimbulkan bekas pada lapisan bening mata, namun jika goresan cukup dalam, maka risiko bekas luka pun bisa saja terjadi [2,3].
Tinjauan
Bila abrasi kornea adalah kondisi goresan yang cukup dalam atau tidak segera ditangani, maka kondisi seperti bekas luka, infeksi, dan uveitis adalah komplikasi yang paling mungkin terjadi.

Pencegahan Abrasi Kornea

Karena abrasi kornea merupakan kondisi goresan pada mata, maka hal ini selalu dapat dicegah, yaitu dengan melakukan beberapa hal seperti berikut [1,2,5] :

  • Kenakan selalu alat pelindung untuk mata, terutama sedang melakukan aktivitas yang dapat membahayakan mata; baik itu olahraga, berkebun, menjahit, atau melakukan kegiatan lainnya.
  • Memotong kuku secara rutin, khususnya bayi ataupun balita karena merekalah yang paling rentan mengucek mata dan akhirnya menyebabkan abrasi kornea pada matanya.
  • Mendatangi dokter spesialis mata, khususnya bagi para atlet untuk mendapatkan solusi perlindungan mata ketika bertanding dan berlatih.
  • Membersihkan tangan setiap kali hendak memasang lensa kontak dan pasanglah dengan hati-hati dan juga tepat; tidak ketinggalan, bersihkan juga lensa kontak dengan baik.
Tinjauan
Abrasi kornea adalah goresan yang berasal dari benda-benda asing yang masuk ke mata selama beraktivitas baik di dalam maupun di luar ruangan, maka memberikan perlindungan bagi mata adalah langkah utama pencegahan.
fbWhatsappTwitterLinkedIn

Add Comment