Apa Itu Battered Woman Syndrome? – Tanda, Tahap dan Penanganan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by redaction team, read our quality control guidelance for more info

Battered woman syndrome atau sindrom wanita babak belur mungkin masih terlalu asing di telinga masyarakat kita.

Namun untuk penggambaran dari istilah ini sendiri dijamin sangat familiar di mana pun, yakni sebuah kondisi psikologis wanita yang tetap ingin bertahan dan hidup bersama pasangannya sekalipun telah menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) [1,2,3,4].

KDRT bukan hal asing bahkan di negara kita, karena sebagian besar korban KDRT pun adalah wanita dan kasus seperti ini dapat terjadi baik di kalangan menengah ke bawah hingga kalangan menengah ke atas [1,2,3,4].

Wanita yang mengalami KDRT dalam jangka panjang dan tetap memilih hidup bersama pasangannya bisa jadi merasa bahwa diri mereka tidak berdaya, merasa bahwa mereka pantas menerima kekerasan, dan merasa mereka tidak akan dapat menghindari itu [1,2,3,4].

Battered woman syndrome juga masih tergolong sebagai sub-kategori PTSD (post-traumatic stress disorder/gangguan stres pasca trauma) [5].

Tanda-tanda Battered Woman Syndrome

Pada wanita-wanita dengan battered woman syndrome umumnya akan menampakkan beberapa tanda atau ciri sebagai berikut [1,3].

  • Menganggap bahwa kekerasan yang terjadi memang berkaitan dengan kesalahan mereka.
  • Merasa takut hampir setiap waktu karena tidak tahu sama sekali pasangannya akan bertindak seperti apa pada hari itu (bisa tiba-tiba lembut dan baik, tapi juga bisa tiba-tiba marah dan melakukan kekerasan).
  • Meyakini bahwa pasangannya yang menyakiti mereka mengetahui dan mengawasi mereka.
  • Merasa tidak aman setiap saat.
  • Menyembunyikan pengalaman kekerasan dalam rumah tangga mereka dari anggota keluarga maupun teman-teman terdekatnya.

Bagi para anggota keluarga dan teman-teman dekat dari seorang wanita yang sudah menikah dan mencurigai adanya ketidakwajaran merujuk pada battered woman syndrome, perhatikan ciri-ciri ini untuk segera menolong mereka dari hubungan pernikahan yang tidak sehat [1,3].

  • Wanita yang memiliki pasangan pemarah atau mudah emosi.
  • Wanita yang memiliki pasangan yang sangat posesif.
  • Wanita yang memiliki pasangan yang cemburuan.
  • Wanita yang mengenakan pakaian-pakaian lengan panjang, bahkan ketika berada di cuaca panas (ketahui ini sebagai tanda bahwa ia sedang menyembunyikan memar atau luka-luka kekerasan).
  • Wanita yang terlalu sering mendapat panggilan telpon dari pasangannya bahkan di saat sedang bertemu anggota keluarga dan teman, lalu setelah mendapat telpon ia akan merasa gelisah.
  • Wanita yang memiliki keterbatasan akses terhadap transportasi dan uang.
  • Wanita yang terlihat sering memar-memar dan tidak dapat menjelaskan penyebabnya.
  • Wanita yang terlihat tidak nyaman atau gelisah saat berada bersama dengan pasangannya.
  • Wanita yang tiba-tiba suka menarik diri dan menghindar dari pertemuan bersama keluarga dan teman-temannya.

Faktor Berkembangnya Battered Woman Syndrome

Berikut ini merupakan sejumlah faktor yang meningkatkan risiko berkembangnya battered woman syndrome [3] :

  • Menyangkal bahwa pasangannya adalah pasangan yang melakukan kekerasan.
  • Memercayai bahwa pasangan mereka begitu mencintai mereka dan meyakini bahwa suatu saat pasangannya akan berubah menjadi lebih baik.
  • Mengalami depresi sehingga terus-menerus berpikir bahwa mereka bersalah sehingga pantas mendapatkan kekerasan.
  • Mengingini sebuah keluarga yang lengkap dan tidak ingin pergi demi anak mereka.
  • Tergantung pada pasangan, khususnya dalam hal finansial.

Tahap-tahap Battered Woman Syndrome

Rata-rata penderita battered woman syndrome tidak sadar bahwa dirinya sedang berada di dalam lingkaran hubungan yang tidak sehat sekalipun sudah babak belur sering mendapat kekerasan [1,2,3].

Terdapat tahap-tahap battered woman syndrome pada wanita yang mengalami KDRT, yaitu antara lain [3] :

  • Denial, yakni sebuah tahap penyangkalan atau penolakan kenyataan bahwa dirinya mendapat kekerasan dari pasangannya sendiri.
  • Guilt, yakni sebuah tahap rasa bersalah sehingga wanita menganggap ia pantas dianiaya karena ia salah.
  • Enlightment, yakni sebuah tahap ketika korban sudah menyadari bahwa ia memiliki pasangan yang kasar dan ia tidak pantas dianiaya.
  • Responsibility, yakni sebuah tahap ketika korban tahu betul bahwa pasangannya adalah pelaku tindak kekerasan terhadap dirinya dan yang bertanggung jawab atas kekerasan tersebut. Pada tahap ini, wanita akan berada pada dua pilihan, yakni bertahan atau meninggalkan pasangannya.

Cara Menangani Battered Woman Syndrome

Battered woman syndrome biasanya muncul bertahap dan seiring waktu dengan kekerasan yang terus terjadi maka sindrom ini akan berkembang [3,4].

Bagi orang-orang yang mungkin memiliki kerabat atau teman wanita yang berada di posisi tidak berdaya dalam pernikahan mereka dan menampakkan tanda-tanda battered woman syndrome, cara-cara ini dapat diperhatikan sebagai bentuk penanganannya [3,4] :

  • Menyiapkan waktu luang agar bisa mendengarkan kisahnya secara langsung.
  • Tidak menghakimi dan justru mencoba berempati.
  • Mendukung dengan menanyakan apa yang bisa kita lakukan untuk menolongnya.
  • Memberi tahu dirinya bahwa kita khawatir mengenai apa yang selama ini ia alami.
  • Bila ia setuju, buat bersama rencana untuk menyelamatkannya.
  • Menawarkan bantuan seperti memberi tempat bersembunyi atau setidaknya membantu mengasuh anak.
  • Melaporkan kepada pihak berwajib atas persetujuannya dan dampingi supaya ia berani mengungkapkan tindak kekerasan pasangannya.
  • Bila ia memutuskan tetap ingin bersama pasangannya, beri tahu pertimbangan-pertimbangan kita tentang sisi buruk ke depannya.

Battered woman syndrome dapat berdampak buruk bagi kesehatan fisik maupun mental korbannya, baik saat menerima kekerasan dalam jangka pendek maupun panjang [3].

Sebagai langkah bantuan lainnya, kita juga bisa membujuk korban untuk mendatangi psikolog atau psikiater untuk melakukan konseling.

fbWhatsappTwitterLinkedIn

Add Comment