Hindari 4 Bahan Sabun yang Tidak Aman untuk Bayi

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by redaction team, read our quality control guidelance for more info

Dibandingkan orang dewasa pada umumnya, tubuh bayi jauh lebih rentan. Sistem kekebalan tubuh mereka masih begitu lemah dan belum sepenuhnya berkembang sehingga relatif mudah untuk diserang oleh kuman; terutama bayi-bayi yang baru lahir [1]. Kulit bayi seringkali menjadi perhatian khusus karena begitu rapuh terhadap banyak hal. Kulit bayi dikenal sangat sensitif sehingga memerlukan perawatan khusus dan ekstra hati-hati agar tidak mengalami gangguan [2].

Gangguan kulit yang dialami bayi, contohnya: iritasi kulit, kulit kering, lecet, kulit mengelupas, ruam, milia, bercak kasar, dsb. Ada beberapa faktor yang memengaruhi kulit bayi, seperti: udara panas, udara dingin, jamur, bakteri, air liur mereka sendiri, alergi, kelembaban, bahan kimia, dan lain sebagainya. [3, 4]

Tidak sebatas produk kimia umum seperti pewangi baju dan deterjen rumah tangga saja, bahkan sejumlah produk yang jelas-jelas dikhususkan untuk bayi pun terkadang diketahui mampu menghadirkan iritasi kulit pada beberapa bayi yang baru lahir. Untuk itulah mengapa orang tua disarankan agar tidak sembarangan memilih produk perawatan kulit bagi sang buah hati. [3]

Sabun untuk Bayi

Salah satu produk perawatan bayi yang perlu diperhatikan secara khusus adalah sabun. Sabun merupakan bahan olahan bersifat basa dengan pH ±10 [6]. Sedangkan bayi yang baru lahir memiliki pH sekitar 6.34-7.5 dan akan turun seiring waktu menjadi pH ±5 [5].

Sabun jenis biasa diketahui dapat mengganggu pH kulit bayi. Sabun dengan pH sebesar itu beresiko menimbulkan masalah kulit karena sifat basanya yang dapat menghilangkan minyak serta pelembab alami dari permukaan kulit [9]. Sejumlah ahli bahkan menyarankan agar tidak menggunakan sabun ketika memandikan bayi, cukup dengan air biasa paling tidak pada bulan-bulan pertama setelah kelahiran [6, 7].

Walau begitu, tidak semua sabun berdampak buruk bagi kesehatan kulit bayi. Dalam beberapa artikel ilmiah, disebutkan bahwa sabun cair ringan bisa dijadikan alternatif baik untuk orang tua yang lebih suka memandikan bayi mereka dengan sabun. [8]

Sabun jenis ini biasanya bersifat netral/asam lemah dengan pH 5.5-7 sehingga akan membantu menyeimbangkan pH kulit bayi. Sabun tesebut juga seringkali mengandung bahan-bahan khusus yang mampu menjaga kulit bayi, seperti emolien [8]. Tapi, beberapa sabun cair bayi terkadang berisi bahan-bahan khusus yang ternyata tidak aman bayi bayi. Berikut adalah bahan sabun yang perlu dihindari pemakaiannya untuk bayi.

Bahan Sabun yang Tidak Aman untuk Bayi

  • Sulfat

Sulfat adalah salah satu bahan kimia yang berperan sebagai agen pembersih dan pembuat busa. Sulfat biasanya ditemukan di produk-produk rumah tangga yang menghasilkan busa bila dicampur dengan air, seperti: sabun mandi, sampo, sikat gigi, sabun cuci muka, dll [9]. Jenis sulfat yang sering ditemukan di produk-produk perawatan tubuh, yaitu sodium lauryl sulfate (SLS) [10].

Sodium lauryl sulfate (SLS) merupakan sejenis surfaktan atau deterjen yang biasanya dipakai untuk produk-produk pembersih. Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika (FDA) melabelinya sebagai bahan yang aman [11]. Walau begitu, SLS memiliki sejumlah efek yang tidak begitu baik bila digunakan terus menerus oleh bayi atau orang dengan kulit yang sangat sensitif [10].

SLS diketahui dapat menyebabkan iritasi kulit karena sifatnya yang mengurangi kandungan air di kulit [12]. Selain itu, produk mengandung SLS beresiko tinggi menyebabkan iritasi mata, kulit, mulut, serta paru-paru; terutama untuk penggunaan jangka panjang. Sulfat juga mampu menyumbat pori-pori yang akhirnya menyebabkan jerawat pada pemilik kulit sensitif [10].

Beberapa perusahaan telah mengurangi konsentrasi SLS pada produk mereka, namun tetap saja semakin lama Anda menggunakannya, semakin besar pula kemungkinan terkena iritasi. Dengan demikian, orang tua sebaiknya memilih sabun bayi bebas sulfat untuk buah hati mereka. [10]

  • Pengharum

Kebanyakan orang suka bila bayi beraroma wangi. Hal ini menjadi kesempatan bagi para pengusaha produk bayi untuk menambahkan bahan pewangi di dalam sabun bayi. Faktanya, bahan pengrahum dapat menyebabkan reaksi alergi pada bayi, seperti: rasa tidak nyaman, kemerahan, ruam, kulit kering, gatal-gatal, dan masalah pernapasan [14, 15]. FDA bahkan menyebut pengahrum sebagai salah satu bahan penyebab alergi dalam kosmetik [13].

Efeknya akan semakin tampak pada bayi dengan kulit yang rawan eksim atau terlalu sensitif [15]. Kebanyakan sabun bayi memuat pengaharum di dalamnya, sehingga pastikan Anda mengambil yang berlabel bebas pewangi. Atau, bila memungkinkan, sebaiknya hindari kemasan yang memuat kata: aroma, wangi, parfum, essential oil, fragrance, atau amyl cinamal. [14]

  • Paraben

Paraben umumnya dipakai sebagai pengawet dan agen anti-mikroba pada kosmetik serta produk-produk perawatan tubuh [17]. Paraben bisa ditemukan di sabun, sampo, produk make-up, pelembab, deodoran, krim pencukur, dll [16]. FDA sebenarnya melabeli paraben sebagai produk yang aman. Namun akhir-akhir ini muncul kekhawatiran mengenai efek paraben terhadap kesehatan kulit [19].

Produk-produk mengandung paraben diyakini menyebabkan iritasi kulit pada mereka yang berkulit sensitif, khususnya bayi dan anak kecil [14]. Selain itu, melalui sebuah penelitian, ditemukan bahwa penggunaan paraben dalam jangka panjang dapat memengaruhi sistem hormon dan metabolisme seseorang [20]. Beberapa perusahan telah menghadirkan program bebas paraben pada sejumlah produk mereka [19].

  • Formaldehida

Formaldehida biasanya digunakan pada poduk perawatan kulit, termasuk tisu bayi dan sabun bayi cair. Formaldehida betugas mencegah pertumbuhan bakteri di dalam produk-produk tesebut. Sayangnya, bahan ini diketahui mampu menyebabkan iritasi dan reaksi alergi pada orang berkulit sensitif, khususnya bayi. [14]

Fomaldehida yang digunakan berulang-ulang dan dalam jangka yang panjang juga beresiko menimbulkan gangguan kesehatan, seperti asma dan kanker. Kebanyakan perusahan kosmetik telah menghilangkan bahan yang satu ini dari produk mereka, tapi beberapa produk bayi masih saja menggunakan formaldehida. Oleh karena itu, para ibu perlu lebih waspada. [14]

fbWhatsappTwitterLinkedIn

Add Comment