Covid-19 Pada Penderita Kanker

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by redaction team, read our quality control guidelance for more info

Sebagian besar negara-negara di dunia masih menghadapi pandemi Covid-19 yang menyebabkan infeksi saluran pernafasan berat. Kematian akibat penyakit ini terutama terjadi pada pasien yang termasuk golongan bersiko tinggi.

Orang-orang yang termasuk dalam kelompok ini adalah mereka yang berusia lanjut atau memilki penyakit penyerta yang kronis serta sistem kekebalan tubuh yang lemah. Penderita kanker ada dalam kelompok berisiko tinggi, dan bila terinfeksi Covid-19 bisa menyebabkan sakit yang parah bahkan kematian. [1, 3, 4, 5]

Mengapa Penderita Kanker Lebih Mudah Terkena Infeksi

Penderita kanker memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena infeksi karena tubuhnya mengalami penurunan sistem imun yang bertugas mengendalikan pertahanan tubuh terhadap penyakit. [1, 2, 3, 7, 8]

Kanker serta pengobatannya bisa mempengaruhi cara kerja tubuh, termasuk sistem imun. Penderita kanker lebih mudah terkena infeksi karena:

  • Penyakit kanker itu sendiri
  • Jenis pengobatan kanker yang dijalani
  • Gizi tidak seimbang
  • Masalah kesehatan lain serta obat-obatan tambahan yang dikonsumsi

Pengobatan kemoterapi serta beberapa terapi lainnya yang ditujukan untuk kanker bisa menyebabkan neutropenia, suatu kondisi yang menyebabkan berkurangnya sel darah putih sistem imun yang bisa memerangi infeksi. [2, 4]

Pasien yang menerima transplantasi stem cell sumsum tulang atau terapi CAR-T untuk pengobatan kanker darah biasanya menjalani kemoterapi yang cukup kuat. Jenis kemoterapi seperti ini bisa menyebabkan respon kekebalan tubuh menjadi berlebih dan berakhir pada peradangan yang bisa memperparah infeksi Covid-19 pada pasien kanker. [2, 4]

Jika risiko disebabkan oleh pengobatan kanker, biasanya hanya berlangsung sementara karena sistem kekebalan tubuh akan kembali naik beberapa waktu setelah pengobatan selesai, namun ini tergantung juga dari kondisi tiap-tiap pasien. [2, 5]

Pengobatan Covid-19 Pada Pasien Kanker

Gejala awal infeksi Covid-19 mirip dengan selesma dan flu. Sama dengan penyakit lain yang disebabkan oleh virus, Covid-19 juga bisa menjadi serius bila sistem imun pasien lemah. Jika pasien kanker sedang menjalani pengobatan atau terapi untuk kanker yang dideritanya, maka ada kemungkinan sistem imunnya melemah. [7, 8]

Bila dalam kondisi ini pasien kanker mengalami gejala-gejala yang berhubungan dengan infeksi Covid-19, maka harus segera menghubungi dokter atau tenaga kesehatan yang biasa menangani pengobatan dan terapinya. [4]

Pasien kanker yang diduga terinfeksi virus corona harus ditangani berdasarkan protokol khusus yang dibuat berdasarkan pengobatan dan terapi yang sedang dijalaninya serta kondisi kesehatannya pada saat itu. [2, 4]

Berhubungan dengan pengobatan kanker, tenaga kesehatan harus membuat skema perawatan individual berdasarkan jenis kanker pasien dan tingkat keparahannya.

Penundaan pelaksanaan operasi, jika memungkinkan, harus dilakukan di daerah-daerah dengan tingkat penularan tinggi. Terapi radiasi bisa terus dilanjutkan menurut rencana pengobatan yang telah berjalan namun harus ditambah perlindungan dan pengawasan yang intensif. [4]

Karena Covid-19 masih terus dipelajari, ada beberapa hal yang masih terus diteliti, termasuk apakah pasien kanker tahap awal perlu menunda terapi mereka atau tidak.

Pasien kanker yang positif terinfeksi Covid-19 harus ditunda terapinya hingga seluruh gejala Covid-19 telah hilang. Kemoterapi yang bertujuan menjaga kondisi tubuh pasien (maintenance) bisa diberhentikan untuk sementara, dan kemoterapi yang bersifat intravenous di klinik harus dikurangi frekuensinya jika memungkinkan. [1]

Tenaga kesehatan harus mempertimbangkan rasio risiko dan manfaat saat melakukan perawatan terhadap pasien Covid-19 yang juga memiliki kanker. Menunda atau melakukan modifikasi atas perawatan kanker mungkin bisa mempengaruhi pengendalian penyakit dan tingkat survival pasien dalam jangka panjang. [1]

Mencegah Pasien Kanker Tertular Covid-19

Langkah pencegahan penularan pada pasien kanker secara umum sama seperti yang disarankan untuk semua orang lainnya: [1, 4, 8]

  • Hindari kontak langsung, jaga jarak minimal satu meter dari orang lain terutama yang menunjukkan gejala seperti batu atau sesak nafas.
  • Hindari kerumunan orang.
  • Tidak keluar rumah jika tidak ada keperluan yang penting.
  • Rajin membersihkan permukaan yang sering disentuh dengan menggunakan cairan disinfektan.
  • Rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir secara menyeluruh selama kurang lebih 20 detik.
  • Gunakan hand-sanitizer berbahan dasar alkohol 70% jika air dan sabun tidak tersedia.
  • Hindari menyentuh mata, hidung dan mulut.
  • Gunakan masker bila keluar rumah.

Jika sedang sakit:

  • Batuk atau bersin ke tissue atau lengan, jangan ke tangan, lalu segera buang tissue ke tempat sampah.
  • Hindari kontak dengan orang lain.
  • Diam di rumah kalau sedang sakit atau tidak enak badan.
  • Jika merasa telah terpapar virus corona, segera hubungi fasilitas kesehatan terutama jika mulai mengalami gejala seperti demam, batuk atau kesulitan bernafas.
  • Sebelum pergi ke klinik atau rumah sakit, lebih baik telepon dulu agar petugas bisa memberikan arahan serta melakukan antisipasi terutama bagi pasien dengan risiko tinggi.
  • Gunakan masker agar droplet tidak menyebar dan menulari orang lain.

Selain itu, secara khusus, pasien kanker yang masih harus menjalani perawatan atau terapi di rumah sakit perlu menjalani manajemen khusus agar terhindar dari penularan selama berada di fasilitas kesehatan. [1, 6]

  1. Pasien dan keluarganya harus diedukasi mengenai bahaya infeksi Covid-19 pada penderita kanker serta pentingnya untuk “stay at home” pada masa pandemi ini.
  2. Pasien yang melakukan rawat jalan mungkin perlu melakukan pengaturan ulang jadwal terapi dan pemeriksaan di faskes, atau menunda konsultasi kedua bagi pasien yang sudah melakukan perawatan pertama.
  3. Petugas kesehatan memberikan pengarahan mengenai tata cara minum obat serta konsultasi melalui telepon sebisa mungkin.
  4. Kondisi darurat, kanker yang agresif, serta pembedahan pasca kemoterapi harus tetap menjadi prioritas dan dilaksanakan sesingkat mungkin untuk mencegah atau mengurangi efek immunosuppressive pasien akibat durasi pembedahan yang terlalu lama.
  5. Semua tenaga kesehatan yang menangani perawatan pasien kanker harus negatif Covid-19 berdasarkan bukti tes, serta selalu menggunakan APD.
fbWhatsappTwitterLinkedIn

Add Comment