3 Perbedaan Antisosial dan Sosiopat

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by redaction team, read our quality control guidelance for more info

Gangguan kepribadian bukan hal asing lagi untuk dipelajari dan dikenali oleh masyarakat kita.

Namun dengan berbagai gangguan kesehatan mental dan jiwa, sebagian orang merasa kesulitan dalam membedakan satu gangguan dengan gangguan lainnya.

Salah dua yang dimaksud adalah antisosial dan sosiopat di mana keduanya sedikit berbeda namun berkemungkinan dianggap betul-betul sama.

Berikut ini adalah sejumlah perbedaan antisosial dan sosiopat yang perlu dipahami.

1. Definisi

Walaupun antisosial dan sosiopat merupakan gangguan kepribadian, pengertian kondisi antisosial dan sosiopat sedikit berbeda.

Antisosial adalah gangguan kepribadian yang ditandai dengan adanya perilaku menyimpang pada penderitanya [1,2].

Seseorang dengan antisosial cenderung tidak menaati norma yang berlaku di mana hal ini akan terus berlanjut dalam waktu lama [1,2].

Tidak hanya berakibat membahayakan diri sendiri, perilaku seorang antisosial akan membahayakan orang lain juga [3].

Antisosial juga menunjukkan perilaku negatif dan menyimpang dari penderitanya dengan membahayakan orang lain untuk kepentingan dan kepuasan diri mereka sendiri [1,2,3].

Sementara itu, sosiopat adalah salah satu nama lain dari antisosial selain psikopat [1,2,4].

Psikopat dan sosiopat adalah istilah yang lebih populer untuk menyebut antisosial [1,2].

Meski demikian, seorang sosiopat digambarkan lebih kepada seseorang yang kurang memerhatikan dan memedulikan hak, emosi serta pengalaman orang lain; seperti sosok tanpa empati [5].

Sosiopat bisa menjadi sosok berbahaya karena mereka cenderung tidak merasa bersalah ketika melakukan suatu hal yang merugikan orang lain [5].

Namun, sosiopat bukan tergolong orang yang kejam atau jahat, sebab sebagian besar dari mereka bahkan aktif dan produktif di tengah masyarakat [5].

Dengan kata lain, sosiopat adalah salah satu bentuk dari antisosial dengan sedikit perbedaan diantaranya [1,2,4,5].

2. Faktor Risiko

Faktor risiko atau kemungkinan penyebab seseorang menjadi antisosial dan sosiopat sedikit berbeda.

Pada antisosial, beberapa faktor risiko bisa terdiri dari beberapa hal, seperti gen, pola asuh, kelainan fungsi otak, gangguan mental atau kepribadian lain, dan faktor interaksi dalam lingkungannya selama ini [1,2].

Kepribadian antisosial dapat terbentuk dalam diri seseorang sejak kecil yang terus berkembang karena faktor-faktor ini [1,2,6] :

  • Terdapat bagian otak yang tidak berkembang sempurna (adanya kelainan atau gangguan).
  • Tumbuh besar di tengah lingkungan keluarga yang tidak harmonis.
  • Mendapat perlakuan kasar atau bahkan kekerasan dari anggota keluarga (khususnya orang tua).
  • Ditelantarkan atau bahkan dieksploitasi pada masa kanak-kanak.
  • Terdapat riwayat gangguan perilaku pada masa kanak-kanak.
  • Anggota keluarga memiliki riwayat gangguan kepribadian antisosial atau gangguan mental dan semacamnya.

Pada kasus antisosial di mana faktor gangguan pada otak adalah faktor risikonya, biasanya hal ini berakibat pada berkembangnya jiwa psikopat [7].

Namun pada antisosial, efek obat terlarang dan skizofrenia tidak termasuk sebagai faktor yang meningkatkan risiko atau menyebabkan kondisi ini.

Sementara pada sosiopat, faktor risiko hampir sama persis dengan yang telah disebutkan di atas, kecuali faktor masalah pada otak [4,8]].

Gen dan lingkungan menjadi faktor utama mengapa seseorang menderita sosiopat [4,8].

3. Ciri dan Tanda

Kepribadian antisosial umumnya menunjukkan sejumlah ciri dan tanda seperti [1,2] :

  • Manipulatif
  • Tidak mawas diri
  • Cenderung tidak peduli pada hak orang lain dan melanggarnya
  • Tidak memiliki rasa bersalah, empati maupun rasa kasihan terhadap orang lain
  • Selalu merasa lebih hebat dari orang lain

Sementara itu, sosiopat ditandai dengan beberapa hal seperti berikut [4,7] :

  • Suka menipu karena memiliki kecenderungan untuk sering berbohong.
  • Berperilaku agresif dan suka berkelahi.
  • Tidak memiliki empati, rasa bersalah, penyesalan, serta rasa kasihan pada orang lain walau sudah jelas menyakiti.
  • Tidak bertanggung jawab.
  • Melakukan berbagai tindakan menyimpang tanpa mempertimbangkan setiap konsekuensinya.
  • Melampaui batas sosial, melanggar hukum, dan cenderung mengabaikan norma.
  • Tidak peduli terhadap keselamaatan diri sendiri maupun orang lain.

Ciri dan tanda sosiopat kurang lebih sama dengan gangguan kepribadian antisosial pada umumnya [4,7].

Namun, yang perlu diketahui adalah bahwa tidak semua penderita kepribadian antisosial adalah psikopat.

Hanya saja semua psikopat sudah pasti antisosial; maka ciri dan tanda antisosial dalam kasus psikopat biasanya jauh lebih berbahaya daripada sosiopat.

Pelanggaran hukum dan normal sosial yang para sosiopat lakukan biasanya masih tergolong ringan atau kecil [9,10].

Pelanggaran-pelanggaran sosiopat tidak menyebabkan bahaya yang terlalu serius seperti yang dilakukan oleh para psikopat [9,10].

Walau sosiopat suka berkelahi dengan orang lain, mereka cenderung hanya suka melanggar aturan; antisosial dalam bentuk psikopat jauh lebih sering melakukan kekerasan fisik dan bisa dengan sengaja membahayakan orang lain [9,10].

Kesimpulan

Sosiopat dapat dikatakan sebagai antisosial, namun antisosial sendiri terdiri dari dua gangguan kepribadian, yakni sosiopat dan psikopat.

Perbedaan psikopat dan sosiopat sendiri diketahui meliputi beberapa hal seperti perilaku, otak, dan kepribadian.

Walau sedari usia kanak-kanak mungkin telah menunjukkan tanda-tanda antisosial, entah itu psikopat atau sosiopat, pengkategorian baru bisa dilakukan apabila anak sudah memasuki usia 18 tahun ke atas.

Namun bila masih berusia di bawah 15 tahun, biasanya anak hanya akan diberi label gangguan kepribadian antisosial saja.

Demikian sedikit perbedaan antisosial dan sosiopat yang perlu diketahui; dan untuk memastikan apakah seseorang menderita kepribadian antisosial, pemeriksaan dan konsultasi dengan psikolog sangat dianjurkan.

fbWhatsappTwitterLinkedIn

Add Comment