5 Cara Mendeteksi OCD pada Anak Sejak Dini

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by redaction team, read our quality control guidelance for more info

OCD atau Obsessive-Compulsive Disorder merupakan salah satu jenis kondisi gangguan mental yang ditandai dengan tindakan tertentu penderita secara berulang [1,2,3].

Dorongan untuk melakukan tindakan berulang kali tersebut biasanya bertujuan untuk membuat rasa cemas dalam pikirannya berkurang [1,2,3].

Faktanya, OCD adalah kondisi yang dapat dialami siapapun, baik anak-anak maupun remaja dan orang dewasa [1,2,3].

Namun umumnya, penderita OCD ada pada rentang usia 7-17 tahun di mana mereka menyadari bahwa tindakan mereka cenderung berlebihan, namun mereka kesulitan untuk menghentikan atau setidaknya melawan dorongan tersebut [2].

Sebuah hasil penelitian tahun 2014 menunjukkan bahwa 0,25-4% anak-anak mengembangkan kondisi OCD dan baru benar-benar terdiagnosa pada usia sekitar 10 tahun [3].

Bagi para orang tua yang khawatir apakah anak-anaknya berpotensi mengembangkan OCD, berikut adalah beberapa cara mendeteksi OCD pada anak sejak dini supaya tidak terlambat menanganinya.

1. Anak Perfeksionis

Di usia balita atau bahkan di atas usia 5 tahun, anak-anak yang sangat perfeksionis dapat dicurigai mampu mengembangkan OCD [2].

OCD adalah sebuah gangguan ketika seseorang selalu melakukan segala sesuatu secara sempurna dan sangat meminimalisir kesalahan [1,2,3].

Jika anak sedari dini memiliki sifat seperti ini, ada kalanya hal ini berkaitan dengan kondisi OCD [2,3,4].

Salah satu contoh perfeksionisme pada anak adalah ketika ia selalu memiliki kecenderungan untuk merapikan mainan atau buku-bukunya secara ekstrem, termasuk menghitung jumlahnya berkali-kali [4,5].

Penataan mainan atau buku oleh anak-anak dengan bakat OCD adalah dengan mengurutkan sesuai ukuran, ketebalan, warna, hingga abjad [2,4,5].

Anak yang memiliki risiko OCD pun seringkali tidak akan mau keluar rumah atau pergi ke sekolah apabila tali sepatunya tidak terikat sempurna atau kaos kakinya tidak dikenakan sejajar atau simetris [4,5].

Anak-anak yang suka kerapian memang baik, namun orang tua sebaiknya juga memerhatikan apakah hal tersebut sudah sampai pada tahap berlebihan [4,5].

Ketika anak melakukan penataan suatu hal sampai berulang kali, maka ini bisa jadi berkembang menjadi OCD [4,5].

Tak jarang anak kemudian memiliki tekanan terhadap dirinya sendiri untuk selalu sempurna dalam segala hal yang berujung pada depresi [2,3,4,5].

2. Anak Mudah Merasa Jijik

Mendeteksi OCD pada anak sejak dini juga dapat dilakukan oleh para orang tua dengan mengamati apakah anak-anak mereka mudah merasa jijik [2,4,5].

Sebenarnya, anak tidak suka kotor dan gampang jijik adalah suatu hal yang normal, khususnya bila orang tuanya pun demikian sehingga sifat tersebut bersifat menurun.

Namun perhatikan kembali, orang tua perlu mengetahui apakah anak gampang jijik karena memiliki kecemasan berlebih terhadap bakteri dan kuman [2,4,5].

Anak-anak yang terlalu takut terkontaminasi kotoran serta kuman bisa jadi berhubungan dengan risiko OCD [2,4,5].

Anak yang takut kotor dan gampang jijik disertai dengan suka mencuci tangan secara lebih sering berkemungkinan mengidap OCD [2,4,5].

Perhatikan pula apakah anak juga cenderung berlebihan dalam membersihkan tubuh, membersihkan pakaian, maupun membersihkan benda di sekelilingnya secara berulang-ulang [2,4,5].

Kecemasan berlebihan seperti ini pada anak-anak bukan hal yang sebaiknya diwajarkan, melainkan perlu segera diperiksakan ke dokter supaya teridentifikasi secara dini apakah anak memiliki OCD [2,4,5].

3. Anak Menghindari Keramaian

Tanda OCD pada anak juga dapat dideteksi sejak dini ketika anak cenderung menghindari keramaian; bukan sekali atau dua kali, namun hampir setiap waktu [6].

Penderita OCD umumnya tidak suka berada di tengah keramaian karena risiko adanya banyak hal yang terjadi tiba-tiba [6].

Penderita OCD suka memegang kendali penuh atas segala situasi, maka ketika terdapat hal-hal yang terjadi mendadak dan di luar kendalinya, hal ini dapat memicu timbulnya kecemasan berlebih [6].

Bila penderita OCD merasa cemas secara berlebihan dan sulit mengontrol kecemasan ini, rasa frustrasinya pun akan semakin besar [6].

Jika anak memiliki kecenderungan menghindari keramaian, maka biasanya kemampuan interaksi sosial anak akan ikut terpengaruh dalam masa tumbuh kembangnya [6].

4. Anak Merasa Insecure

Anak merasa insecure yang berlebihan dan terlalu sering juga dapat menjadi pertanda anak dapat mengembangkan OCD [4].

Ketika anak insecure, biasanya ia akan lebih sering memeriksa sesuatu untuk memastikan benda atau hal tersebut sudah sempurna atau dalam keadaan yang sesuai dengan ekspektasinya [4].

Salah satu contohnya adalah ketika anak membuka dan menutup pintu berulang kali hanya untuk mengecek apakah keadaan sudah aman [4].

Atau, anak mengecek berkali-kali mainan atau benda kesukaannya sudah tertata rapi atau belum walaupun sudah ditata dan sudah dalam kondisi tertata baik [4].

Ketika sesuatu hal tidak terjadi seperti yang diinginkan atau menurut ekspektasinya, penderita OCD biasanya akan merasa bersalah dan cenderung menyalahkan diri [4].

5. Anak Bertoleransi Rendah Terhadap Ketidakpastian

Mendeteksi dini anak memiliki OCD atau tidak juga dapat dilakukan dengan memerhatikan apakah toleransi anak terhadap ketidakpastian tinggi atau rendah [2,4,5].

Bila anak memiliki risiko mengalami OCD, maka biasanya anak akan memiliki gangguan kecemasan berlebih [2,4,5].

Gangguan kecemasan ini ditunjukkan melalui toleransi yang rendah terhadap hal-hal terjadi tidak sesuai dengan keinginan atau harapannnya [2,4,5].

Ketidakpastian adalah hal yang tidak disukai penderita OCD sehingga kecemasan lebih besar saat menghadapi berbagai hal di luar kendali [2,4,5].

Rutinitas yang sama dan berulang setiap hari adalah suatu hal yang lebih diharapkan oleh penderita OCD [2,4,5].

Maka ketika anak lebih nyaman seperti ini dan tidak menoleransi adanya perubahan tiba-tiba atau ketidakpastian, maka anak berpotensi mengalami OCD [2,4,5].

Walaupun terdapat cara-cara mendeteksi OCD pada anak sejak dini, para orang tua sebaiknya tetap membawa anak ke dokter, psikolog atau psikiater untuk pemeriksaan dan penanganan lebih tepat.

fbWhatsappTwitterLinkedIn

Add Comment